Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Mubahalah dan Etika Politik: Marzuki Alie dan Nasihat Bang Haji Rhoma

Bagikan:

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Tidak main-main yang dilakukan Marzuki Alie, mantan Sekjen Partai Demokrat dan mantan Ketua DPR-RI, saat menantang Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bermubahalah.

Pak SBY, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, dan Presiden RI ke-6, bisa dipastikan tidak akan menerima tantangannya, mengomentari tantangannya pun tampaknya enggan.

Jadi dipastikan mubahalah itu mustahil bisa dilakukan. Tentu Pak Marzuki Alie sudah memperhitungkan, bahwa mustahil mantan Bosnya itu akan menyambut tantangannya.

Mubahalah yang dimaksud, adalah memohon kutukan dijatuhkan Allah kepada orang yang salah/dusta, sebagai bukti kebenaran atas salah satu pihak.

Baca juga: Cukup Dihadapi Geisz Chalifah Seorang Tampaknya

Pak Marzuki Alie nekat melakukan itu, bisa jadi karena dua kemungkinan. Ia memang tidak berbohong dengan apa yang diucapkannya. Atau ia berhitung, bahwa mustahil Pak SBY akan menerima tantangannya.

Pak SBY menolak tantangannya, itu pun bukan karena ia memang bicara sebagaimana yang dituduhkan Marzuki Alie, tapi lebih pada untuk apa nanggapi hal demikian, mubazir pikirnya.

Apa sih yang dikatakan Marzuki Alie itu? Bobot dari pernyataannya itu dampaknya sebesar apa? Dan apakah etis atau patutkah hal itu disampaikan pada publik?

Etika Politik dan Adu Domba

Marzuki Alie, sebagaimana penuturannya, entah disadari atau tidak, mempermasalahkan itu karena Partai Demokrat, yang di mana ia ikut membesarkan gak ada perhatian terhadap dirinya. Karena itu ia marah. Itu berkenaan dengan permintaan klarifikasi soal tuduhan fitnah, bahwa ia bagian dari mereka yang berencana mengkudeta Partai Demokrat.

Karena tidak ada jawaban, maka ia lalu membuka file lama yang tersimpan dalam ingatannya, dan lalu disebarkan ke publik. Itu terkait cerita di tahun 2004, ia pernah mendengar langsung, bahwa “SBY bilang Megawati kecolongan dua kali”.

Kecolongan pertama, saat dia pindah, mungkin yang dimaksud saat SBY memilih mundur dari kabinet Presiden Megawati. Dan kecolongan kedua, saat saya (SBY) akan berpasangan dengan JK. Itu penuturan SBY padanya.

Sebenarnya apa yang disampaikan Pak SBY itu bukan sesuatu, hal biasa saja. Tapi menjadi seolah luar biasa, karena disampaikan Marzuki Alie, dan tentu digoreng setidaknya oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristianto, berharap berkah bisa jadi konsumsi menghantam balik Partai Demokrat, yang akhir-akhir ini berada dalam tren positif.

Apa yang disampaikan Pak Marzuki itu tidaklah salah, tapi siapa yang mau percaya. Tidak ada saksi yang bisa menguatkan kebenaran bahwa SBY pernah mengatakan, sebagaimana yang disampaikannya itu. Makanya itu ia memakai mubahalah, sebagai sarana agar publik mempercayainya.

Baca juga: Kembalinya Iwan Fals dan Dendang Parau Densi

Pak Marzuki Alie ini tergolong jenis yang nekat, berani menyampaikan hal sensitif tanpa bukti penunjang, lalu mubahalah menjadi andalannya agar publik mempercayainya.

Apa yang dilakukannya, tentu itu laku tidak beretika. Tidak punya etika sebagai politisi. Sebagai mantan politisi senior Partai Demokrat, mestinya meski ia sudah meninggalkan partai itu, namun tetap bisa menjaga marwah partainya, bukan malah melakukan manuver yang, maaf, tidak jelas.

Lalu, bisa-bisanya Pak Marzuki Alie mengatakan, bahwa tidak ada niatan mengadu domba Partai Demokrat dan PDIP. Itu hal aneh. Bukankah apa yang disampaikan itu berimplikasi politik? Dan bahkan akan memunculkan ketegangan baru antara Partai Demokrat dan PDIP.

Ada penuturannya yang lebih aneh lagi dan menggelikan, katanya, “Itu kan urusan saya dengan beliau (SBY). Ngapain semua orang ikut campur,” ujarnya (19/2/2021).

Baca juga: GAR ITB Itu Ngelunjak

Bukankah yang ngajak orang lain untuk ikut turut campur, bukannya Pak Marzuki Alie sendiri. Jika itu urusan berdua dengan Pak SBY, lalu mengapa persoalan itu disebar ke publik?

Mestinya bisa mengingat saat masa bersama-sama dulu, berjuang dalam satu perahu. Dan ingat-ingat juga, bahwa ada jasa tidak kecil Pak SBY menjadikan Pak Marzuki Alie sebagai Ketua DPR-RI.

Meski tidak bermaksud mengadu domba, tapi apa yang dilakukan Pak Marzuki Alie, itu bentuk adu domba. Dalam bahasa agama biasa juga disebut namimah. Punya konsekuensi dosa besar.

Mungkin sesekali Pak Marzuki Alie baik juga jika sudi mendengarkan lagu karya Bang Haji Rhoma Irama. Sebuah lagu penuh nasihat, “Adu Domba” nama lagunya. Berharap setelah itu, Pak Marzuki, dan bahkan kita semua bisa berpikir bijak sebelum mengedepankan nafsu. Ini petikan syairnya…

Adu domba-adu domba… mengadu domba… domba dipertaruhkan

Adu domba-adu domba mengadu domba… domba dipertaruhkan…

Demi keuntungan domba jadi korban diadu domba

Demi keuntungan domba kesakitan diadu domba

Adu domba-adu domba domba dipertaruhkan

Adu domba-adu domba domba dipertaruhkan

Sayang-sayang seribu kali domba-domba tak menyadari

Kasihan aduh hai kasihan domba-domba pun bermusuhan

Hentikanlah hentikan itu kezoliman

Janganlah-janganlah engkau mengadu domba… (*)

 

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Gerakan Pemuda dan Peradaban Indonesia

Gerakan Pemuda dan Peradaban Indonesia

Sejumlah Premis dan Keganjilan “Bom Ulil”

Sejumlah Premis dan Keganjilan “Bom Ulil”

Agama Perspektif Kaum Fasis

Agama Perspektif Kaum Fasis

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Antara Masyumi,  PKS dan Jokowi

Antara Masyumi, PKS dan Jokowi

Baca Juga

Berita Lainnya