Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Opini

Demagog

Bagikan:

Oleh: Ady Amar

 

Hidayatullah.com | DEMAGOG  tiba-tiba menjadi kata yang dipilih untuk disematkan, atau dilabelkan pada seseorang yang tak disuka oleh sebab-sebab tertentu, lebih pada politis.

Pelabelan itu dengan cara sembarangan, bahkan serampangan semaunya. Suka-suka pada siapa pelabelan itu disematkan, khas mereka yang nangkring pada kekuasaan.

Menstigma negatif pada mereka yang berlawanan, lalu kata demagog diumbar semaunya. Upaya pembusukan tanpa bukti dan argumen memadai.

Demagog  berasal dari Yunani; demos (rakyat) dan agogos (pemimpin). Tapi pemimpin dalam makna negatif, pemimpin menyesatkan. Demagog yang disematkan, itu mestinya bisa dibuktikan. Tidak sekadar umpatan tanpa dasar mampu dipertanggung jawabkan.

Adalah Jendral (purnawiran) A.M Hendropriyono yang memakai kata itu. Ditujukan pada Habib Rizieq Shihab (HRS). Itu ungkapan rasa senangnya, karena Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan. Lalu kata demagog disematkan pada pemimpinnya.

Parameter apa yang digunakan, sehingga kata demagog mesti disematkan pada HRS? Pembuktian perlu diberikan, jika tidak ingin lalu dianggap sebagai penyebar hoaks.

Saat menstigma seseorang dengan demagog, ada hal nyata yang bisa ditampakkan. Tidak sekadar jargon dari mereka yang sedang berkuasa, atau aji mumpung saat dekat dengan kekuasaan.

Jika ditanya pada hal apa demagog disematkan pada HRS, sebagai pemimpin yang menyesatkan, pastilah argumen akan disampaikan, meski pastilah sekadarnya. Bisa jadi tidak memuaskan.

Maka yang tampak itu upaya pembusukan, khas mereka yang mau tunjukkan, bahwa di sini kumpulan orang baik, dan di sana kumpulan orang jahat.

Semua mestilah diuji kebenarannya. Tidak serta merta celometan siapapun, meski mereka yang berpangkat-berkuasa sekalipun, akan jadi jaminan sebuah kebenaran.

Demagog yang disematkan asal-asalan, itu tidaklah patut jadi persoalan. Bahkan tidak patut mampir dipikiran. Biarkan itu menguap dan hilang ditelan waktu.

Baik dan buruk tentu pada saatnya akan terungkap, dan tampak benderang. Bisa jadi akan meminta pertanggungjawaban atas penyematan sebagai “pemimpin yang menyesatkan”.

Semua akan terungkap oleh sebab-sebab tertentu. Bisa karena masih adanya setitik nilai kejujujuran lalu mengungkapkannya, atau harus menunggu rezim berganti. Entah kapan itu waktunya.

Tapi lambat laun waktu itu akan tiba. Penyematan demagog  asal-asalan dan serampangan, itu pastilah akan terkoreksi dengan sendirinya. Sikap jumawah akan sirna seperti debu disapu angin…. Gusti Allah ora sare.*

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Rep: Insan Kamil
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Menjadi Oposisi

Menjadi Oposisi

Jeritan dan Lolongan Tentara Dari Fort Hood

Jeritan dan Lolongan Tentara Dari Fort Hood

Kasus Sampang dan “Panah Beracun” Ketua Ahlul Bait Indonesia

Kasus Sampang dan “Panah Beracun” Ketua Ahlul Bait Indonesia

Pesan Penting Ledakan Brussels: “Senjata Makan Tuan” (1)

Pesan Penting Ledakan Brussels: “Senjata Makan Tuan” (1)

Catatan Untuk Hanung

Catatan Untuk Hanung

Baca Juga

Berita Lainnya