Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Opini

Maunya Mengolok Pigai, Tapi Ruhut Kepeleset Menghinanya

Natalius Pigai (rmOL)
Bagikan:

Oleh: Ady Amar

 

Hidayatullah.com | Ruhut Sitompul, siapa tidak kenal dengannya. Mantan pengacara, yang lalu banting setir jadi politisi. Berawal di Partai Golkar, lalu lompat ke Partai Demokrat, dan lalu ke PDI Perjuangan.

Orang lalu menyebutnya dengan politisi ‘kutu loncat’. Ruhut tampaknya selalu ‘hinggap’ pada partai penguasa. Saat Soeharto berkuasa, dia ada di Partai Golkar. Lalu saat Partai Demokrat menjadikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden, ia ada di partai itu. Dan saat Partai Demokrat tampak terhuyung, Ruhut cekatan melompat meninggalkan partai itu.

Lalu ngenger mengadu peruntungan di PDI Perjuangan. Tapi tampaknya di partai barunya, ia belum mendapat posisi. Tidak jelas Ruhut berkhidmat pada Jokowi selaku presiden, atau pada ibu Megawati, pemilik PDI Perjuangan.

Satu “kelebihan” Ruhut sebagai politisi adalah sikapnya yang tidak punya rasa malu memuji-muji presiden yang sedang berkuasa. Kita masih ingat bagaimana dia memuji-muji SBY setinggi langit, lalu setelah tidak di partai Demokrat, ia beralih memuji-muji presiden Jokowi pun dengan berlebihan.

Sayang sikapnya yang sudah sampai tahap ‘menjilat-jilat’ itu belum juga buahkan hasil buatnya. Sedikit pun tidak dilirik presiden Jokowi, juga ibu Megawati. Entah kenapa… melas juga melihatnya.

Maka untuk memperlihatkan kesungguhannya dalam membela Jokowi, Ruhut acap bersikap di luar azas kepatutan. Menyerang siapa saja yang “mengganggu” presiden dan, atau menteri-menterinya. Tentu ini kreatif yang dibangun semata agar dedikasinya bisa terlihat.

Kreatifitasnya itu tidak dibangun dengan nalar sewajarnya. Terkadang tampak dungu, sebagaimana filsuf Rocky Gerung menjulukinya, dalam berbagai kesempatan talk show di televisi.

Tapi kali ini Ruhut bukan saja melakukan kedunguan, tapi tindakan konyol berupa penghinaan pada anak manusia bernama Natalius Pigai.

Penghinaan Tak Sepantasnya

Ruhut Sitompul gagap menggunakan media sosial, dan karenanya ia menulis asal menulis, tanpa memperhitungkan akibat dari apa yang ditulisnya. Biasa bicara sekenanya, seperti perdebatan di televisi dengan modal nekat asal bicara.

Kebiasaan debat di televisi atau talk show dengan lagak menyerang lawan dengan terkadang banyolan konyol, itu tanpa sadar dibawanya dalam bersosial media. Maka lambat laun akan membuatnya blunder.

Dan itu ditunjukkan saat menanggapi cuitan Natalius Pigai, putra asal Papua dan mantan anggota Komnas HAM. Itu terkait ucapan Natal Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Natalius Pigai sebelumnya (27/12/2020), membagikan tangkapan layar berita berjudul “Menag: Selamat Natal 2020, Rayakan dengan Sederhana dan Terus Berbagi Kasih”.  Natalius Pigai memandang ucapan non kristiani (menteri Agama), itu dianggapnya tidak tulus, berlebihan.

Maka dia tidak butuhkan ucapan selamat Natal dari menteri Agama, Pak Yaqut Cholil Qoumas.  Buatnya itu tradisi berlebihan, tidak semestinya disampaikan non kristiani.  Ia menyarankan agar umat non kristiani sebaiknya menjalankan agamanya dengan benar.

Adalah hak Natalius Pigai menyatakan keberatan atas ucapan selamat Natal dari non kristiani. Ia tidak perlukan ucapan lip service demikian. Tentu tidak ada yang salah dengan keberatannya itu.

Seperti juga hak Muslim, jika memilih tidak patut mengucapkan Selamat Natal pada umat kristiani. Ucapan yang bukan sekadar kata-kata pemanis, yang lalu dikatakan bagian dari toleransi. Bagi muslim itu masalah teologis.

Seorang Natalius Pigai faham akan perbedaan substansial antaragama. Makanya, itu diingatkan olehnya, “… sebaiknya (muslim)  menjalankan agamanya dengan benar”.

Tersirat Natalius Pigai mengajarkan, bahwa agama tidak perlu “dipolitisasi”, dan toleran itu bukan lalu mendegradasi ajaran agama yang diyakininya, lalu dipaksa disandingkan dengan agama lain. “Tiap ucapan Natal dari non-Kristiani jarang saya respons karena itu forum internum (urusan kami), bukan forum externum (urusan kita),” tegas Pigai.

Tapi justru menjadi aneh, saat Ruhut membalas “keberatan” Natalius Pigai, itu lewat Twitter (28/12/2020), dengan perkataan yang menunjukkan kualitasnya. “Jangankan menteri agama, saya saja yang beragama kristiani malas mengucapkan selamat Natal kepada Natalius Pigai”.  Sampai di sini tidak ada masalah dengan respons Ruhut itu.

Tapi lanjutan pernyataannya itu yang bermasalah, yang tidak seharusnya diutarakan. “… kaca saja takut lihat gantengnya Natalius Pigai”.

Ganteng di sana tentu sebagai olok-olok, yang dimaksudkan sebagai perkataan berkebalikan (reverse words). Anak kecil pun faham antonim yang dilepaskan Ruhut itu.

Pernyataan penuh penghinaan yang tidak semestinya terlontar. Pernyataan menghina fisik seseorang, itu tabu disampaikan dalam pergaulan masyarakat beradab.

Maka abaikan saja apa yang disampaikan Ruhut itu, agar kita tidak terjebak pada pertentangan tidak semestinya, bahkan amuk yang menimbulkan kemarahan lebih luas kelompok tertentu.

Para arif biasa menyebut, bahwa pernyataan baik cuma muncul dari nalar dan budi yang baik, begitupun sebaliknya. Dari situ kualitas seseorang bisa dilihat.

Negeri ini butuh seorang Natalius Pigai yang selalu hadir dengan nalar sempurnanya. Tidak perlulah melihatnya dengan cermin/kaca untuk bisa menilainya.

Seorang semacam Ruhut Sitompul pastilah tidak mungkin bisa melihatnya, meski dengan kaca pembesar sekalipun: Natalius Pigai terlalu mewah untuk bisa di lihatnya.*

Kolumnis, tinggal di Surabaya

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Bank Makanan; Sebuah Kepedulian

Bank Makanan; Sebuah Kepedulian

MK,  Tafsir LGBT dan  Komik Jepang

MK, Tafsir LGBT dan Komik Jepang

70 Tahun Piagam Jakarta

70 Tahun Piagam Jakarta

Agama

Agama

Merdeka Antara Upacara dan Realita

Merdeka Antara Upacara dan Realita

Baca Juga

Berita Lainnya