Dompet Dakwah Media

Akar Islamofobia Barat

Di Eropa hampir siapapun boleh mengkritik apapun dan siapapun bahkan Tuhan sekalipun kecuali kepada Zionis Israel. Karena siapapun yang melakukannya akan otomatis dicap sebagai anti Semit.

Akar Islamofobia Barat
AP
[Ilustrasi] Unjuk rasa anti-rasisme di Stockholm, Swedia, yang memegang tulisan "Jangan sentuh masjid kami".

Terkait

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | RAMSUS PALUDAN, satu nama yang beberapa bulan ini menjadi sorotan dunia, terutama di negeri-negeri Islam. Politikus dan pengacara Denmark pendiri Partai Sayap Kanan Stam Kurs pada tahun 2017 itu mulai dikenal karena membuat video anti-Muslim di channel Youtube, yang mana membakar Al-Quran termasuk konten di dalamnya.

Selain membakar Al Quran, Paludan juga pernah mengunggah video pelecehan kepada Al-Quran yang dibungkus dengan babi. Dia membenarkan tindakannya itu dengan dalih kebebasan berbicara.

Tokoh anti Islam yang pernah dipenjara karena kasus rasisme itu pernah  menggegerkan publik dalam kampanyenya karena berkeinginan untuk membuat kebijakan mendeportasi lebih dari 300.000 Muslim dari Denmark dan melarang Islam jika dia terpilih sebagai anggota Parlemen Denmark.

Dia lah pemicu utama demo anti muslim yang berujung kerusuhan di Swedia dan Norwegia bulan Agustus lalu. Dimana saat itu kitab suci Al-Quran juga turut dilecehkan oleh perusuh pro-Ramsus yang marah karena otoritas setempat mencekal Ramsus masuk ke wilayahnya.

Setali tiga uang dengan tetangganya, Swedia juga memiliki riwayat Islamofobia yang mengakar lama di dalam sejarahnya. Sehingga tidak heran kaum Sayap Kanan Swedia juga berani secara terang-terangan membakar Al Qur’an dalam kerusuhan bulan Agustus lalu.

Pada awal abad 16, wacana ontologis populer di Swedia tentang Islam sebagian besar bersifat negatif. Islam digambarkan sebagai agama yang kasar, kejam, fatalistik, fanatik, dan agresif.

Gambaran ini sangat populer di Swedia hingga termanifestasikan pada sebuah lukisan terkenal dari abad 16 yang menggambarkan Santo Christopher sedang menggendong Yesus sebagai seorang anak di pundaknya untuk menyelamatkannya dari air tempat Paus dan di situ digambarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sedang tenggelam.

Lukisan itu ditujukan untuk umat Katolik, dan menggambarkan Paus dan Nabi Muhammad sebagai nabi palsu.  Orang Turki sering dianggap sebagai gambaran paling nyata dari seorang Muslim, sampai tertera di dalam buku doa Caspar Melissander tahun 1609 yang berbunyi, “Ya Tuhan Yesus Kristus, jauhkan kami dari orang Turki, Tattar, Paus, dan semua sekte.”

Selama abad ke-18, opini publik terhadap dunia Muslim kian meningkat akibat kontak yang terus-menerus dengan Kekaisaran Ottoman. Namun, opini terhadap Islam dan Muslim sekali lagi merosot pada awal abad ke-20 dengan munculnya nasionalisme dan orientalisme di Swedia.

Uskup Agung Nathan Söderblom, guru dan mentor dari beberapa cendekiawan Orientalis Swedia terkemuka, sangat kritis terhadap iman kaum Muslim tersebut. Sikap Söderblom sangat berdampak pada wacana akademis, mengingat hanya sedikit sarjana Swedia pada saat itu yang memiliki hubungan dengan Muslim.

Jonas Otterbeck, sejarawan agama Swedia, mengklaim bahwa sebagian besar sentimen anti-Muslim di negara itu berasal dari oposisi terhadap pakaian tradisional Islam seperti jilbab dan keyakinan bahwa Wahhabisme Saudi (sebuah gerakan yang sangat konservatif dalam Islam) adalah perwakilan dari seluruh agama.

Akibatnya, pada akhir 1980-an, kelompok xenofobia ekstremis mulai menargetkan Muslim sebagai masalah sosial yang parah. Bahkan kaum Muslim di sana dituduh sebagai biang penyebab resesi dalam ekonomi Swedia.

Håkan Hvitfelt melakukan survei pada tahun 1990-an untuk meneliti sikap publik Swedia terhadap Islam. Dia menemukan bahwa mayoritas orang Swedia memiliki “sikap yang agak atau sangat negatif terhadap Islam” dan menganggap Islam “tidak sesuai dengan demokrasi, menindas perempuan, dan bersifat ekspansif”.

Hvitfelt mengklaim bahwa media bertanggung jawab atas sikap negatif. Sikap terhadap Islam dan Muslim pada akhir 1990-an dan awal abad ke-21 telah meningkat, tetapi menurut Otterbeck, “tingkat prasangka dulu dan sekarang masih tinggi.” (https://republika.co.id/berita/qfv3k9385/muslim-dan-akar-islamofobia-di-swedia).

Tentu menjadi sebuah paradoks dalam sebuah peradaban modern ketika melihat Eropa yang selalu mendaku sebagai kiblatnya toleransi dan HAM nyatanya masih memiliki cacat toleransi dalam jejak rekamnya. Terutama kepada Islam dan umatnya.

Dan lebih ironis lagi ketika intoleransi itu terjadi di negara-negara yang selalu masuk dalam deretan negara paling bahagia di dunia seperti Denmark dan Swedia.  Berdasar Laporan terbaru dari World Happiness Report, Denmark ditetapkan dalam tiga besar negara paling bahagia di antara 155 negara yang disurvei. Ini adalah gelar yang diterima Denmark dalam 7 tahun berturut-turut.

Meski definisi kebahagiaan itu relatif bergantung dari worldview apa yang dipakai oleh suatu komunitas (kaum). Bagi penganut kapitalisme Sekuler, kebahagiaan biasanya diukur menggunakan indikator objektif seperti pendapatan, tingkat kriminalitas, dan kesehatan, serta metode subjektif berupa pertanyaan kepada responden tentang seberapa sering mereka mengalami emosi negatif atau positif.

Denmark sendiri selama ini dikenal memiliki pemerintahan yang stabil, angka korupsi yang rendah, dan akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.  Negara Nordik ini memiliki pajak yang tergolong tinggi di dunia, tapi mayoritas warga Denmark merasa tak keberatan membayarnya karena menganggap pajak akan menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Orang Denmark memiliki sebuah konstruksi budaya yang disebut “hygge” (dibaca huge) yang merujuk pada interaksi sosial berkualitas tinggi. Ini adalah sesuatu yang terjadi ketika masyarakat merasa aman, seimbang, dan bisa berbagi pengalaman harmoni. Namun ironisnya harmoni sosial itu tercoreng oleh kesumat mereka kepada Islam. Jyllands Posten yang merupakan surat kabar terbesar di Denmark bisa jadi adalah media yang bisa menggambarkan opini umum masyarakat Denmark bahkan Eropa secara keseluruhan kepada Islam.

Ini terbukti dengan kompaknya beberapa surat kabar ternama di Eropa dalam memuat ulang beberapa karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad Saw yang pertama kali diterbitkan oleh Jyllands Posten pada 30 September 2005 silam.

Sebagian dari kartun tersebut diterbitkan di surat kabar Norwegia, Magazinet, pada tanggal 10 Januari 2006. Koran Jerman, Die Welt, surat kabar Prancis France Soir dan banyak surat kabar lain di Eropa. Dan yang paling terkenal tentu saja tabloid satire Charlie Hebdo di Prancis.

Semua itu mereka lakukan dengan alasan kebebasan berbicara. Ironis ketika hampir semua negara Eropa menjunjung tinggi slogan kebebasan berbicara meski berujung kepada Blasphemy kepada simbol-simbol Islam yang berujung kepada Islamofobia, namun anti kepada kritikan apapun yang menyangkut Zionis Israel.

Di Eropa hampir siapapun boleh mengkritik apapun dan siapapun bahkan Tuhan sekalipun kecuali kepada Zionis Israel. Karena siapapun yang melakukannya akan otomatis dicap sebagai anti Semit. Yang mana hal itu termasuk pelanggaran berat di Eropa. Inilah Hipokrasi khas ala Barat yang masih hidup hingga saat ini.

Jejak Benci Eropa Pada Islam

Blasphemy Barat kepada Islam sebenarnya memiliki akar yang kuat yang secara khusus bisa kita lacak mulai dari era perang Salib. Dan tentunya secara umum kebencian mereka itu adalah watak khas para Kafirin yang sudah dijelaskan di dalam Al Qur’an yang menyatakan,

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118).

Di dalam karyanya yang fenomenal Islam At  The Crossroads (1935), Muhammad Asad menulis satu bab khusus yang berjudul Bayangan Perang Salib. Penulis kelahiran Austria yang bernama asli Leopold Weiss itu dengan sangat apik menjelaskan alasan mengapa Eropa benci kepada Islam.

Permusuhan Eropa kepada Islam adalah warisan dari budaya lama Eropa yang berasal dari Yunani Kuno dan Romawi. Dua peradaban kuno itu memiliki pandangan rasis yang menganggap bahwa hanya mereka sendirilah yang beradab sedangkan bangsa di luar mereka terutama yang berada di timur Laut Tengah adalah barbar atau biadab.

Sejak saat itulah orang-orang Barat percaya bahwa kelebihan ras mereka di atas  segala bangsa manusia lainnya merupakan bukti yang tak terbantah. Dan bersifat rasis kepada bangsa-bangsa selain mereka telah menjadi sifat khas peradaban mereka hingga saat ini.

Tapi ini saja tidak cukup untuk menerangkan perasaan-perasaan Eropa terhadap Islam.  Rasa ketidaksenangan mereka terhadap Islam lebih pekat dari perasaan ketidaksenangan mereka terhadap berbagai agama dan kultur asing lainnya.

Perasaan ini merupakan suatu kebencian yang berakar sangat dalam dan  fanatik dan hal ini tidak bersifat intelektual semata tetapi mengandung warna emosional yang tebal. Tabrakan besar yang pertama antara sekutu Eropa di satu pihak dan Islam di pihak yang lain adalah saat peperangan salib, terjadi bersamaan dengan awal permulaan peradaban Eropa yang pada waktu itu masih dalam persekutuan dengan gereja yang baru saja melihat jalannya sendiri sesudah abad- abad gelap yang telah mengikuti kejatuhan Romawi.

Peperangan salib adalah yang pertama dan paling utama yang menentukan sikap Eropa terhadap Islam untuk abad-abad panjang kemudian. Peperangan salib itu menentukan karena hal itu terjadi pada masa kanak-kanaknya Eropa, suatu masa dimana segala gaya kulturalnya yang khas sedang menegaskan dirinya untuk pertama kalinya dan masih dalam proses pembentukan.

Seperti halnya pada individu perorangan, demikian pula pada bangsa-bangsa, kesan dahsyat dari masa kanak-kanak bertahan dalam sadar atau tidak sadar, sepanjang hidupnya kemudian.  Mereka demikian terserap sehingga mereka hanya dapat dengan susah payah, dan jarang sepenuhnya terlepas dari pengalaman – pengalaman intelektual zaman kemudian yang lebih efektif dan lebih emosional. Demikianlah keadaannya dengan peperangan salib.

Peperangan Salib itu menghasilkan satu dari kesan-kesan Eropa yang paling dalam dan paling permanen dalam psikologi massa Eropa.  Gairah universal yang dibangkitkannya pada masanya tidak dapat dibandingkan dengan segala yang pernah dialami Eropa sebelumnya dan hampir tak dapat dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman sesudah itu.

Suatu gelombang rangsangan  menyapu seluruh benua itu, suatu kegirangan yang melangkah keluar batas-batas negara-negara, bangsa-bangsa dan golongan-golongan, sekurang-kurangnya pada satu waktu. Masa itulah yang pertama-tama dalam sejarahnya Eropa merasa satu dan Itulah persatuan melawan dunia Islam.

Dengan tidak hendak terseret kepada kelebihan-kelebihan yang tidak patut, kita dapat mengatakan bahwa Eropa modern lahir dari semangat peperangan salib. Sebelum waktu itu terdapat Anglo- saxon dan Jerman, Perancis dan Normandia, Italia dan Denmark;  tetapi selama peperangan salib konsep baru dari “Peradaban Eropa” satu tujuan yang sama bagi seluruh bangsa-bangsa Eropa, telah diciptakan; dan kebencian terhadap Islam lah yang tegak seperti Tuhan- Bapak dibalik ciptaan baru itu. (Muhammad Asad, Islam Di Simpang Jalan; Hal. 57-62).

Jika menilik data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islamofobia memiliki akar yang kuat dalam peradaban Eropa bahkan mulai dari masa kanak-kanaknya dalam bahasa Muhammad Asad.  Jejak kebencian itu kian kentara di zaman ini yang  dibuktikan dengan makin maraknya Blasphemy kepada Islam. Baik dalam konten media, film, pemberitaan, karya sastra, pemikiran dan lain-lain.

Faktor Global Penyebab Islamofobia

Musabab kenapa banyak terjadi pelecehan kepada Islam secara global adalah karena makin kuatnya hegemoni peradaban Barat yang mengusung Sekulerisme-Liberalisme.  Menurut Prof. Syed Naquib Al Attas, problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuwan sekular Barat yang mengarah kepada kehancuran umat manusia.

Menurut Syed Naquib Al Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif (relativisme) diterima sehingga tidak ada kepastian.

Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia.  Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. Berbagai problem kemanusiaan akhirnya muncul sebagai hasil dari kacaunya nilai-nilai yang dibawa oleh sekulerisme Barat tersebut. (Adian Husaini; Wajah Peradaban Barat hal. 03).

Sekularisme dan liberalisme memiliki ciri khas utama berupa desakralisasi kepada ajaran agama dan menceraikan antara urusan agama dengan duniawiah. Sehingga pengusungnya akan merasa gerah manakala melihat masih ada pengagungan kepada syiar atau simbol sebuah agama.

Dan dalam pandangan Barat, satu-satunya kelompok yang paling kuat dalam pengagungan kepada simbol agamanya adalah umat Islam. Sebab mereka sampai hari ini masih istiqomah dalam mengagungkan kitab sucinya, nabinya, dan ajaran agamanya.

Berbeda dengan umat Islam yang diajarkan bahwa Nabi adalah seorang yang maksum alias bebas dari salah dan dosa, bagi pengusung SePILIS agama, Nabi Muhammad ﷺ tak ubahnya sosok manusia biasa.

Para pengusung SePILIS agama dan Orientalis juga paham bahwa kebangkitan Islam berasal dari kecintaannya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sejarah membuktikan bagaimana Salahuddin Al Ayyubi bisa menyatukan barisan umat Islam yang berbeda-beda Mazhab dalam satu shaf lewat pengajaran kembali sirah Nabi Muhammad ﷺ sehingga umat Islam saat itu bisa bersatu dan berjaya dalam Perang Salib.

Sehingga tidak mengherankan jika saat ini berbagai kelompok sayap kanan di Eropa selalu menebarkan fitnah dan ketakutan akan kebangkitan kembali Islam. Islam akan menguasai Eropa, menghapus budaya asli Eropa, menyingkirkan pribumi dan menggusur keyakinan kristiani mereka. Itulah “jualan” yang sering dijajakan para kelompok sayap kanan di Eropa.

Dan itulah salah satu penyebab Islamofobia masih marak di Barat hingga kini. Dan pembunuhan karakter Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu jalan untuk menghadang Islamisasi terhadap masyarakat Eropa.

Sebab titik sentral agama Islam adalah Nabi Muhammad ﷺ. Dan Barat paham akan hal itu. Sehingga berbagai cara digunakan untuk melecehkan Nabi Muhammad ﷺ. Mulai dari mendistorsi sejarahnya (Siroh) hingga membunuh karakternya. Agar masyarakat skeptis kepada beliau.

Seorang mata-mata kafirin kolonialis Belanda terbesar dalam sejarah Islam Indonesia, Snouck Hurgronje mengatakan,” Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang di atas kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada.”

Dan harapan Hurgronje itu terwujud dalam pemikiran Klimovich yang menulis artikel berjudul “Did Muhammad Exist?” Dalam artikel yang terbit tahun 1930 itu, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Nabi Muhammad ﷺ adalah buatan belaka.

Muhammad adalah “fiksi yang wajib” karena selalu ada asumsi “setiap agama harus mempunyai pendiri”. (Adian Husaini, Konfrontasi Intelektual: Wajah Peradaban Barat hal. xxxi). Dan pelecehan kepada Nabi Muhammad ﷺ memuncak dalam karya karikatur Jyllands Posten Denmark , Charlie Hebdo Prancis dll yang merupakan estafet peradaban Barat yang penuh dendam kepada Islam yang diwariskan kepada generasi Eropa hari ini.

Kebencian itu kian menjadi-jadi manakala Eropa melihat tren konversi masyarakat Barat ke dalam agama Islam kian meningkat dan ditambah lagi dengan makin masivnya gelombang imigran Timur Tengah yang masuk ke daratan Eropa yang dalam pandangan para Ultra Nasionalis Sayap Kanan Eropa akan menjadi beban baru bagi ekonomi negara-negara Uni Eropa.  Wal hasil kebencian Barat (Eropa) kepada Islam memang merupakan rahasia umum di dalam sejarah dunia ini. Kebencian itu berangkat dari berbagai sisi, mulai dari negasi budaya, akidah, tradisi dll.

Negara-negara Eropa yang bisa saling beda bahkan saling bermusuhan pada suatu hal tertentu nyatanya bisa saling bersatu dalam memusuhi objek yang sama yakni Islam. Ini sesuai dengan pendapat yang ditulis oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya Clash Of Civillization (Benturan Peradaban),  yang menyatakan bahwa setelah Uni Soviet (The Red Evil) berhasil dilenyapkan, maka musuh bersama Barat selanjutnya adalah Islam yang mereka cap sebagai The Green Enemy.

Inilah fakta yang harus diungkap agar umat Islam bisa memandang Barat dan peradabannya dengan bijak dan proporsional. Jangan mudah silau dengan pemikiran mereka yang hakikatnya ingin melenyapkan Islam seperti yang dilakukan oleh para kaum Liberal yang bertaqlid buta kepada Barat.

Islam adalah yang paling tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Dan sekeras apapun usaha para musuh Islam untuk mengalahkan agama ini maka Islam akan tetap menang sebab Allah sendiri yang sudah menjaminnya lewat firmanNya,

“..Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3). Wallahu A’lam Bis Showab.*

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan; Pembaca Sejarah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !