Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Merdeka Antara Upacara dan Realita

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati HUT RI ke-71 di Sungai Ciliwung, Depok, 17 Agustus 2016.
Bagikan:

Oleh: Imam Nawawi

 

Hidayatullah.com | TANYAKAN kepada sebagian saudara kita yang baru saja dilanda musibah, seperti Masamba atau daerah lain yang sampai saat ini mereka yang terdampak tidak mendapat bantuan memadai dan tidak punya tempat tinggal. Apa kemerdekaan bagi mereka?

Tanyakan kepada anak-anak di desa terpencil, yang listrik baru masuk kampung mereka dan sinyal internet timbul tenggelam, apa arti merdeka?

Dan, tanyakan kepada para intelektual serta ulama yang mereka dibuat ketakutan menyuarakan kebenaran, apa arti merdeka? Seperti ini kah merdeka?

Dari pertanyaan yang sama dengan subjek yang berbeda, kita pasti akan temukan jawaban sama, bahwa kemerdekaan negeri ini belumlah seutuhnya, belumlah sepenuhnya. Kemerdekaan yang ada saat ini cenderung ritual upacara dan belum menyentuh manusianya hingga mengubah realita menjadi seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa.

Terlebih jika melihat beragam ironi yang terus terjadi, mulai dari susahnya rakyat mendapat pekerjaan, dalam situasi seperti itu justru tenaga kerja asing bebas dan diberikan argumen dan pembelaan oleh para pejabat negara, serta beragam kesemerawutan yang terjadi, mulai dari ucapan hingga kebijakan menandakan bahwa kita semua patut merenung, bagaimana sebenarnya negeri ini hari ini, merdeka atau tidak.

Bagi orang awam, merdeka itu adalah kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan yang dapat mereka rasakan dari Sabang sampai Merauke, dari kota hingga pelosok desa. Bagi pemerintah, merdeka itu ketika kebijakan bukan atas tekanan kepentingan, tapi amanah dari suara kebenaran, keadilan, dan perjuangan. Bagi seluruh rakyat Indonesia, kebenaran itu jika putra dan putri bangsa Indonesia dapat dengan bebas mengekspresikan kebenaran, keyakinan, dan kemampuan sebagai wujud pengabdian bagi kemajuan bangsa dan negara.

Tapi, apakah realitas itu telah terjadi? Jika belum kapan kita akan wujudkan? Siapa yang mewujudkan, kapan dan bagaimana caranya?

Jika belajar pada sosok Bilal bin Rabah yang secara status sosial dipandang budak dan karena itu tidak ada hak sebagaimana manusia pada umumnya, maka kemerdekaan itu dapat diraih dengan mendapat pemahaman mendasar yang diwujudkan dalam keyakinan teguh, perihal siapa dirinya sebagai manusia dan siapa yang sejatinya Rabb (Tuhan) yang hak disembah.

Bangsa Indonesia memiliki semangat serupa itu, ketika kemerdekaan dipandang sebagai hak segala bangsa dan menyatakan secara tegas bahwa penjajahan harus dihapuskan dari kehidupan dunia ini. Sayangnya, ini hanya menjadi kalimat heroik, gagah, dan luar biasa dalam lembaran konstitusi, tidak dalam pikiran dan hati para politisi, penegak hukum, pemangku kebijakan, bahkan sebagian besar dari rakyat Indonesia itu sendiri.

Jika belajar pada para pendiri bangsa dan para pahlawan negeri yang berjibaku melawan penjajahan Belanda, maka seharusnya kepala ini tegak dalam melihat bangsa lain, terutama bangsa-bangsa yang menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri.

Tidak ada martabat pada bangsa yang tidak mengakui martabat bangsa lain. Tidak ada kehormatan pada bangsa yang merampas hak-hak dasar bangsa lain. Sayangnya, sikap ini kian jauh dari kebanyakan pejabat negeri ini, dengan sedikit dana pembangunan, mereka tunduk dan patuh pada kepentingan siapapun yang tentu tidak berpikir bagaimana rakyat hidup sejahtera dan bahagia.

Dari renungan atas realitas tersebut, maka sebenarnya kemerdekaan tak harus membuat media sibuk mengupas pelaksanaan upacara, tapi turun memotret keadaan yang dirasakan langsung oleh rakyat jelata.

Narasi dan berita kemerdekaan harus diarahkan pada ketangguhan rakyat Indonesia yang tak pernah mengeluh dan menuntut siapapun. Dalam segala keterbatasan mereka teguh dan yakin Allah Maha Memberikan Pertolongan.

Lebih jauh, sekolah, pondok pesantren, kampus perguruan tinggi, bahkan lingkungan masyarakat dan keluarga harus mulai kembali menyuburkan literasi tentang kemerdekaan, baik secara historis maupun konsep dalam Islam. Hal ini merupakan langkah awal yang jika dilakukan secara sadar dan penuh energi akan melahirkan satu arus kesadaran besar yang insya Allah dapat mengubah keadaan.

Kita ketahui, kemerdekaan bangsa ini hakikatnya tidak diraih oleh senjata, sebab realitasnya Belanda lebih lengkap dan canggih dalam hal ini. Bukan pula karena ada negara asing lain yang investasi untuk itu. Tapi karena kesadaran yang dilandasi iman dan ilmu. Dalam kata yang lain, wajib bagi rakyat dan seluruh pejabat Indonesia serta para pengusaha dan profesional di negeri ini untuk mengerti apa itu hakikat kemerdekaan lalu secara sinergis mewujudkannya.

Sebab kemerdekaan memang bukan seperti piala penghargaan, yang begitu dapat kemudian dipajang. Kemerdekaan adalah perjuangan abadi, meraihnya harus dilandasi iman, dibuktikan dengan kerja keras, pengorbanan, kekompakan, dan juga munajat kepada-Nya.

Dalam bahasa Alquran, jika diri benar-benar ingin merdeka maka setiap waktu harus mampu menjadikan setan sebagai musuh, menjadikan hawa nafsu sebagai tawanan, dan iman sebagai dasar dan tujuan dalam mengisi kehidupan fana ini. Jika tidak, maka selamanya jiwa ini akan terjajah dan menyengsarakan, baik diri maupun orang lain, bahkan bangsa dan negara. Na’udzubillah.*

 

*Penulis Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Rofi' Munawwar

Bagikan:

Berita Terkait

Gurita Cikeas = Skandal Watergate?

Gurita Cikeas = Skandal Watergate?

RUU Intelijen dan Bahaya Sekularisme!

RUU Intelijen dan Bahaya Sekularisme!

Berkurban: Antara Manifestasi Keta’atan dan Tanggungjawab Sosial

Berkurban: Antara Manifestasi Keta’atan dan Tanggungjawab Sosial

Menjustifikasi Kematian “Teroris”

Menjustifikasi Kematian “Teroris”

Penjajahan ‘Israel’ dan Kekayaan Gas dan Minyak di Laut Mediterania Timur

Penjajahan ‘Israel’ dan Kekayaan Gas dan Minyak di Laut Mediterania Timur

Baca Juga

Berita Lainnya