Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Opini

Mendidik Perut dan Nurani di Era Media Sosial

Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayallah.com | KONON suatu hari Jalaludin Rumi ditanya oleh seorang muridnya, “Wahai Guru, suara alat musik apakah yang haram?” Rumi menjawab, “Suara piring dan sendok si kaya yang saling beradu dan terdengar oleh si miskin.”

Di sini kita tak akan membahas masalah halal atau haramnya musik beserta peralatannya secara hukum fikih. Sebab akan panjang lebar mengenai khilaf ulama di dalam pembahasannya.

Yang kita garis bawahi dari pernyataan Rumi di atas adalah sebuah ungkapan sarkasme dalam kritikannya itu kepada kaum Muslimin dalam ranah sosial. Rumi nampak hendak menasihati kaum elite yang dinilainya kurang sensitif kepada saudaranya yang miskin.

Dalam Islam, masalah bermuamalah memang sangat diperhatikan. Lihat bagaimana fikih mengatur mengenai hak dan kewajiban seorang muslim kepada muslim lainnya.  Seorang tetangga memiliki hak dan kewajiban kepada tetangganya yang lain. Seorang pemilik usaha punya hak dan kewajiban kepada pekerjanya. Bahkan ada adab yang diatur oleh Islam tentang bagaimana seorang anak ketika orang tuanya wafat tetap wajib menyambung silaturrahim kepada karib atau teman akrab orang tuanya tersebut semasa hidup.

Di dalam Islam, masalah muamalah yang tak sedikit dibahas salah satunya adalah mengenai hak-hak tetangga.  Demikian besarnya hingga membuat malaikat Jibril As sering mengingatkan Rasulullah Saw akan hak mereka hingga Nabi menyatakan seolah-olah mereka (tetangga) berhak mendapat bagian waris.

الجار قبل الدار

“Pilih tetangga dulu sebelum rumah”

Adalah sebuah perumpamaan dalam bahasa Arab yang sangat populer, yang mengajarkan tentang pentingnya mencari tetangga atau lingkungan yang baik.

Hal itu senada dengan apa yang digambarkan di dalam Al Qur’an mengenai perkataan dari istri Fir’aun (Sayyidah Asiyah Ra) yang sangat indah di dalam doanya yang berbunyi,

إذ قالت رب ابن لي عندك بيتا في الجنة

“Ketika istri Fir’aun berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Surga’.” (QS: Yunus: 11)

Dalam ayat tersebut nampak kata “عندك” didahulukan daripada kata “بيتا”. Seakan-akan istri Fir’aun berkata, “Menjadi dekat dengan Mu lebih penting daripada sekedar menempati sebuah rumah.”

Inilah penjelasan pentingnya memilih tetangga sebelum memilih tempat tinggal.  Lantas apa korelasi pembahasan bab tetangga dengan kalimat bijak Rumi di atas. Keterkaitannya adalah mengenai menjaga perasaan tetangga, terutama yang fakir dan miskin.

Sebab hari ini kita hidup di era tanpa sekat informasi. Dunia maya sudah sangat nyata merubah cara berfikir dan bertindak manusia di akhir zaman. Sesuatu yang dulu dianggap tabu kini perlahan di-wajar-kan di zaman ini.

Hal yang dulu merupakan aib dan mesti ditutup-tutupi sekarang makin bebas diunggah ke seluruh dunia lewat jejaring sosial.  Ditambah lagi makin banyaknya tren yang dimunculkan oleh kaum di luar Islam yang perlahan menjadi trending dan diikuti serta dilakukan manusia di seluruh dunia.

Mulai yang berupa “chalange” aneh-aneh, wisata kulineran, serta tren menyorot diri sendiri dengan kamera kemanapun mereka pergi (Vlog). Satu hal yang jadi catatan kita serta berkolerasi dengan pembahasan kali ini adalah tren wisata kuliner yang lagi marak belakangan ini.

Banyak acara TV serta video pribadi yang menayangkan acara makan-makan di tempat yang selalu berpindah-pindah tiap episodenya. Yang mereka kulik dalam acara itu tak lebih dari makan makanan enak disertai ekspresi wajah yang bervariasi serta kalimat unik untuk menggambarkan betapa nikmatnya sajian yang mereka makan.

Kemiskinan

Ada hal yang luput dari para penghobi kulineran tersebut, yakni sebuah data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 mencapai 26,42 juta jiwa. Dengan demikian, tingkat kemiskinan sebesar 9,78% dari total penduduk Indonesia.  Kepala BPS Suhariyanto mengatakan tingkat kemiskinan itu meningkat 0,56 poin persentase dibanding posisi pada September 2019 sebesar 9,22%.

Adapun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terjadi peningkatan 0,37 poin persentase. “Kenaikan penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak dan adanya pandemi Covid-19 pada Maret 2020,” katanya, Rabu (15/7/2020).

Suhariyanto mengatakan jumlah penduduk miskin yang mencapai 26,42 juta orang tersebut meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019. Angka itu juga meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019. (https://news.ddtc.co.id/duh-jumlah-penduduk-miskin-naik-lebih-dari-1-juta-orang-22369).

Jumlah yang tidak sedikit itu menandakan bahwa tak sedikit saudara kita sesama rakyat Indonesia yang masih berkutat dalam kehidupan yang tidak layak.  Alih-alih untuk berkulineran ria, untuk mencari sesuap nasi saja kadang mereka sampai harus menggadaikan harga diri.

Kritik sosial Rumi di atas hendak menyentil tentang nilai sensitifitas kita yang mulai tergerus hari ini. Ada satu wasiat penting dari Rasulullah ﷺ yang  patut kita renungi di zaman ini. Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepada sahabatnya, “Wahai Abu Dzar! Jika kamu masak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim).

Dan hadis yang serupa yang menyatakan, “Janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan kuah yang direbus di dalam periukmu, kecuali kamu memberi kuah kepada tetanggamu sekedarnya.”

Wasiat Nabi itu melarang kita menyakiti tetangga dengan bau masakan kita. Dan di zaman media sosial ini, hadis tersebut bisa makin terluaskan jangkauannya. Karena di dalam media sosial jangankan seluruh rakyat Indonesia, seluruh dunia pun bisa jadi “tetangga” dalam lingkungan dunia maya.

Artinya secara logika, unggahan tayangan makan-makan ala plesiran kuliner bisa jadi lebih menyakitkan hati si miskin daripada sekedar bau masakan.

Sebab nikmatnya berbagai tayangan sajian makanan beserta ekspresi si penyantap makanan di layar TV dan media sosial lebih nyata dalam menggambarkan kenikmatan sebuah sajian daripada sekedar bau masakan. Dan aneka hidangan nikmat ala tayangan kuliner itu tentunya menjadi sajian utopis bagi para kaum papa (fakir miskin) yang hampir mustahil mereka rasakan melainkan hanya dalam angan.

Dan bisa jadi mereka hanya bisa menelan ludah saat melihat tayangan semacam itu. Di sinilah letak etika dan sensitifitas sesama anak bangsa diuji. Dengan mengesampingkan kredo kebebasan berekspresi, hendaklah sensitifitas nurani bersama-sama kita raba. Apakah kelembutan nurani itu masih ada.

Menarik jika kita membaca kitab Adabul Alim Wal Muta’alim pada bab ke dua mengenai akhlak santri (pelajar) pada dirinya sendiri. Dalam kitab karya KH Hasyim Asy’ari itu, pada bab ke dua pasal ke enam sang pendiri NU itu mewajibkan para pelajar agar mempersedikit makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat.

Salah satu faedah “mempersedikit makan menyebabkan badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh”.  Karena penyebab hinggapnya penyakit adalah terlalu banyak makan dan minum, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair:

فإن الداء أكثر ما تراه # يكون من الطعام والشراب

“Sesungguhnya penyakit yang kau saksikan itu kebanyakan timbul dari makanan dan minuman”.

Sedangkan sehatnya hati itu terhindar dari perbuatan lacur, melampaui batas dan sombong, dan tidak tampak seorangpun dari para kekasih Allah, para pemimpin ummat dan para ulama yang terpilih  yang bersifat atau mempunyai ciri seperti itu; (yakni) banyak makan dan tidak akan terpuji karenanya.  Banyak makan akan menjadikannya (serupa) binatang yang tidak berakal dan (yang hanya) dipersiapkan untuk bekerja semata. (Adabul Alim Wal Muta’alim hal. 26-27).

Terlebih masalah maraknya acara pemanjaan kepada perut itu sebenarnya sudah jauh hari disorot oleh Nabi Muhammad ﷺ lewat sabdanya, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi)

Imam Nawawi rahimahullah juga berkata,

مع أن قلة الأكل من محاسن أخلاق الرجل ، وكثرة الأكل بضده

“Sedikit makan merupakan kemuliaan akhlak seseorang dan banyak makan adalah lawannya.” (Syarh Muslim lin Nawawi 14/25).

Terlepas dari euforia zaman kebebasan berekspresi dan niat baik apa yang mungkin dikampanyekan oleh para pegiat acara kulineran tersebut, tulisan ini hanya sebatas bentuk guratan nasihat bagi kita semua dari satu sisi yang mungkin tak terfikirkan sebelumnya. Yakni masalah etika serta sensitifitas nurani sesama anak bangsa yang kini kian tergerus oleh nafsu besar bernama demi viralitas konten (tayangan) dan rating chanel penayang acara-acara tersebut.

Ingatlah bahwa para pendiri bangsa ini telah mewasiatkan dalam pembukaan UUD 45 agar kita turut serta mencerdaskan anak bangsa. Dan di era milenial ini, wasiat tersebut bisa pula diwujudkan melalui acara-acara atau konten unggahan kita.

Harap diingat bahwa hakikat kecerdasan adalah manakala manusia tahu tujuan diciptakannya dirinya di dunia ini untuk apa. Dan seorang Muslim pasti tahu bahwa tujuan penciptaannya tak lain adalah untuk mentauhidkan Allah Swt.

Manusia memang butuh makan dan minum untuk bertahan hidup namun hidup tidak semata masalah makan dan minum belaka. Sebab, “Barangsiapa yang hanya memikirkan isi perutnya maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya,” kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: Insan Kamil
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Jenderal AH Nasution dan Pelajar Islam Indonesia

Jenderal AH Nasution dan Pelajar Islam Indonesia

Kementerian Persekolahan

Kementerian Persekolahan

Antara Punk, Anarkisme dan Islam

Antara Punk, Anarkisme dan Islam

Remaja Kita Sudah Mandeg Berpikir?

Remaja Kita Sudah Mandeg Berpikir?

Early Warning System dari Alam

Early Warning System dari Alam

Baca Juga

Berita Lainnya