Dompet Dakwah Media

Perlukah Kita dengan New Normal?

Setiap kata juga memiliki beban kenangannya tersendiri yang sangat besar. Tidak hanya bagi setiap orang tetapi juga bagi seluruh umat manusia

Perlukah Kita dengan New Normal?

Terkait

Oleh: Kholid A.Harras

 

Hidayatullah.com| JURU  bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengakui,  penggunaan diksi new normal dalam penanganan pandemi virus corona selama ini  tidak tepat. Menurutnya, saat mendengar istilah new normal masyarakat hanya terfokus pada kata ’normal’-nya saja,  bukan pada kata ‘new’-nya. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman terhadap istilah tersebut. Oleh karenanya, pihaknya akan   mengganti istilah  new normal dengan  “adaptasi kebiasaan baru”.

Sejak awal, istilah new normal  memang menjadi polemik. Ada yang setuju, tetapi banyak  yang menentangnya. Kritik terhadap istilah ini pun datang dari banyak pihak. Pakar epidemiologi misalnya, mengkritik keras, khususnya saat istilah tersebut jadi  pembenar  melakukan relaksasi aktivitas publik di luar rumah di tengah eskalasi penyebaran Covid-19 yang terus melesat. Penggunaan diksi tersebut bukan hanya tidak tepat tetapi juga  menyesatkan.

Secara semantik-kognitif, penggunaan istilah  new normal memang pontensial  memicu kesalahpahaman persepsi pada masyarakat.  Hal ini antara lain karena kosakata ‘normal’ diserap ke dalam  bahasa Indonesia  dari bahasa Belanda: normaal, dan berfungsi sebagai  kata sifat. Arti kata ini dalam KBBI1) Menurut aturan atau  pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang aturan, norma atau kaidah; sesuai keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan; dan 2) Bebas dari gangguan jiwa.

Berdasarkan uraian di tersebut, maka dalam kantong  memori semantik-kognitif sebagian besar  masyarakat Indonesia, kata ‘normal’  dipahami sebagai “suatu kondisi ideal, tidak menyelisihi norma atau sebagaimana seharusnya”. Selain itu, istilah ini dipersepsi sesuatu yang baik atau positif.

Sebagai istilah, new normal  menimbulkan persoalan manakala istilah ini diberi muatan makna  yang sama sekali baru. Seperti dikemukakan Achmad Yurianto (20/5/2020), new normal  adalah tatacara hidup sehat sesuai protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran  pandemi virus corona. Caranya yakni senantasa  menggunakan  masker saat berada di ruang publik, menjaga jarak fisik, serta menghindari kerumunan.

Istilah baru tersebut  tentu saja bertabrakan dengan konsep ‘normal’ sebagaimana dipahami saat ini oleh khalayak. Masyarakat pun dibuat bingung, karena kondisi yang sejatinya  mahiwal, harus dipahami sebagai hal yang normal. Situasi yang sesungguhnya dapat mengancam nyawa, harus disikapi sebagai kondisi yang biasa-biasa saja.

Boleh jadi menyadari potensi bisa menimbulkan terjadinya kesalahanpahaman persepsi terhadap frasa new normal, sejak awal Pemda Jawa Barat cukup berhati-hati dalam menyerap istilah tersebut. Mereka tidak ikutan latah  menyerap  frasa new normal lewat cara adopsi sehingga menjadi ‘kenormalan baru’ seperti drekomendasikan Badan Bahasa.

Mereka memilih mengkreasikan istilah new normal ini sehingga menjadi AKB  (Adaptasi Kebiasaan Baru), karena begitulah sesungguhnya yang ingin dicapai dari istilah tersebut. Jadi kata ‘normal’ tidak harus diterjemahkan menjadi ‘normal’ lagi.

Sependek pengetahuan penulis, ijtihad bahasa Pemda Jabar ini agaknya  lebih memudahkan masyarakat Jawa Barat dalam memahami pengertian dan konsep new normal.  Untuk ijtihad perkara ini, apresiasi layak diberikan kepada Kang Emil sebagai gubernur Jabar.

Karena istilah AKB atau Adaptasi Kebiasaan Baru akhirnya dijadikan sebagai istilah resmi oleh pemerintah pusat untuk menggantikan istilah new normal yang sejatinya memang tidak normal tersebut. Harus diakui, salah satu dampak penyebaran virus corona ke berbagai belahan dunia, telah mengakibatkan melimpahnya  peristilahan baru.

Setiap hari masyarakat seolah dipaksa berkenalan dengan berbagai istilah  baru dalam bidang covid-19.  Misalnya ada istilah  droplet , specimen , suspect,  social distancing, physical distancing, lockdown, rapid test, swab test, hand sanitizer, thermo gun,  disinfektan/disinfeksi. Sependek pengetahuan penulis, berbagai istilah tersebut masih belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Agar berbagai istilah yang berasal dari bahasa  asing bisa dipahami  masyarakat tentunya proses penyerapannya harus dengan mempertimbangakan faktor. Antara lain, harus cocok konotasinya, lebih singkat dibandingkan  terjemahan Indonesianya, serta lebih mudah dipahami maksudnya.

Modus penyerapannya juga bisa menggunakan bererapa pola: adopsi, adaptasi, penerjemahan, atau kreasi.  Hal ini perlu dilakukan agar fungsi-fungsi bahasa seperti alat berinteraksi antarmanusia, alat untuk berfikir, serta  sarana dalam menyalurkan arti kepercayaan di masyarakat dapat tercapai.

Ihwal pentingnya memilih kosakata yang tepat dalam  proses komunikasi, penting kita memperhatikan pernyataan  Heinrich Theodor Böll, pemenang Hadiah Nobel Sastra dari Jerman pada 1972: Di balik setiap kata, tersimpan makna ‘muatan dunia’ (whole world), yang harus dibayangkan para penggunanya.

Setiap kata juga memiliki beban kenangannya tersendiri yang sangat besar. Tidak hanya bagi setiap orang tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Saya khawatir, banyak orang yang menggunakan kata-kata tanpa merasakan beban yang terkandung di dalamnya.

Sungguh, sesiapa yang bermain dengan kata-kata sejatinya ia sedang bermain dengan sebuah dunia”.*

Pengajar pada FPBS Univeritas Pendidikan Indonesia

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !