Dompet Dakwah Media

Tata Normal Baru: Pesan Implisit tentang Eksistensi Allah

Artinya kenormalan di suatu waktu akan direvisi oleh kenormalan lain di waktu selanjutnya

Tata Normal Baru: Pesan Implisit tentang Eksistensi Allah

Terkait

Hidayatullah.com | MEMAKAI masker, sering cuci tangan, dan selalu menjaga jarak dalam suatu perkumpulan, adalah sebuah “fardhu ain” baru yang kini diterapkan di seluruh dunia.  Hal itu adalah protokol dasar yang mulai diberlakukan di seluruh negara akibat pandemi global Covid-19.

Setelah “menyerah” kepada keganasan wabah yang berawal dari China itu, kini dunia diperkenalkan istilah kehidupan yang baru, yakni New Normal.  Alias Tata Kewajaran atau Kebiasaan yang baru. Sebuah kampanye global yang merupakan bentuk ikhtiari manusia zaman ini dalam upaya berdamai dengan Covid-19.

Namun Tata Normal Baru itu konon bukan merupakan harga mati. Sebab jika ada perubahan kondisional ihwal wabah tersebut, entah semakin membaik atau sebaliknya kian memburuk, maka WHO akan merombak kembali protokol Tata Normal Baru itu.

Mengenai tata normal baru ini, ada sebuah penjabaran menarik yang patut kita kaji.  Dalam karyanya yang termasyhur dan sering menjadi rujukan yang berjudul The Structure of Scientific Revolutions (1962), sejarawan sains Thomas Kuhn (1922-1996) membahas secara khusus mengenai apa yang disebutnya sebagai Paradigm Shifts.

Yakni ketika suatu pandangan dunia yang dominan tergantikan oleh pandangan dunia yang lain.  Kuhn menggambarkan kemajuan dalam sains sebagai proses variasi dan seleksi alam ala Charles Darwin.

Dia tidak mengatakan bahwa peningkatan ketelitian dan kekuatan dalam memprediksi yang dihasilkan oleh sejumlah teori-teori baru menunjukkan penggambaran realitas alam yang lebih baik dibanding teori-teori yang dianut sebelumnya.  Namun, mereka dipilih dari berbagai teori yang ada oleh komunitas ilmuwan karena improvisasinya dalam penggunaan instrumen dan kemampuannya memecahkan teka-teki dalam dunia sains.

Salah satu contoh Paradigm Shifts di dunia yang pernah menggoncang kemapanan teori global saat itu adalah Teori Heliosentris. Teori sains yang mengkoreksi teori sebelumnya yang kadung dianut secara pakem oleh mayoritas warga Eropa.

Teori Heliosentris yang menjelaskan bahwa bumi bukan pusat tata surya melainkan matahari, tentu membuat “guncangan besar” pada tatanan normal saat itu yang sudah berabad-abad menganut paham Geosentris yang mentahbiskan bahwa bumi adalah pusat tata surya.  Teori Geosentris Ptolemeus yang dianut masyarakat Eropa saat itu seolah sudah menjadi dogma baku di kalangan Gereja Katholik.

Sehingga siapapun yang menyelisihinya akan dicap sebagai bentuk pembangkangan (murtad) alias kufur dari ajaran resmi Gereja Katholik saat itu.  Terlepas apakah ilmuwan Muslim Al Sijzi yang sering dikutip oleh Al Biruni ataukah Nicolaus Copernicus yang pertama kali menyebarkan gagasan teori Heliosentris itu, yang jelas teori itu membuat gempar dunia Astronomi pada zaman tersebut.

Karena dianggap menyelisihi kenormalan dalam bidang astronomi yang dianut saat itu.  Teori Heliosentris bahkan meminta “tumbal” dengan dihukumnya beberapa ilmuwan besar Eropa, seperti Leonardo Da Vinci dan Galileo Galilei.

Dikisahkan bahwa berbagai riset yang dilakukan oleh Galileo mengarahkan dia menjadi penasihat bagi penelitian yang dilakukan oleh astronom Polandia, Nicolaus Copernicus (1473-1573).  Yang mana hasil penelitian Copernicus ternyata menunjukkan bahwa Matahari menjadi pusat dari alam semesta.

Kesimpulan ini bertentangan dengan keyakinan Gereja Katolik yang meyakini Bumi sebagai pusat alam semesta.  Sebagai ilmuwan, tentu Galileo mendukung fakta penelitian Copernicus.

Alhasil dia kemudian ditangkap dan dibawa ke Roma untuk menjalani inkuisisi, sistem pengadilan yang dibuat Vatikan pada 1542 untuk menegakkan hukum gereja.  Pada 22 Juni 1633, sidang Inkuisisi  menjatuhkan keputusannya terhadap Galileo.

Keputusan itu dibagi dalam tiga bagian utama.

  1. Galileo telah melakukan bid’ah karena meyakini matahari tidak bergerak dan menjadi pusat alam semesta serta bumi bukan pusat alam semesta dan justru mengitari matahari. Gereja Katolik memerintahkan Galileo untuk“mengharamkan, mengutuk, dan membenci” teori tersebut.
  2. Galileo dijatuhi hukuman penjara dan dia kemudian menjalani status tahanan rumah seumur hidup.
  3. Buku karya Galileo“Dialogue Concerning the Two Chief World Systems”yang menentang teori Geosentris dilarang dan pengadilan juga melarang publikasi hasil karya Galileo termasuk yang akan ditulisnya di masa depan.  Setelah menjalani hukuman tahanan rumah, Galileo tetap menerima tamu hingga saat dia jatuh sakit dan meninggal dunia pada 8 Januari 1642 dalam usia 77 tahun. https://internasional. kompas.com/read/2018/02/13/ 13193451/hari-ini-dalam- sejarah-galileo-galilei- diadili-gereja-katolik?page=2

Namun akhirnya pada 31 Oktober 1992, Paus Yohanes Paulus II menyatakan penyesalan terkait tindakan yang dilakukan Gereja Katolik terhadap Galileo tersebut.  Paus Yohanes Paulus II akhirnya mengumumkan bahwa Gereja Katolik telah melakukan kesalahan saat menghakimi pandangan keilmuan Galileo yang mendukung teori Heliosentris yang akhirnya kini dipercaya oleh mayoritas umat manusia.

Penjabaran Paradigm Shifts tersebut menarik jika kita kaitkan dengan situasi hari ini.  Dimana kita dapati bahwa tata normal baru hari ini pun telah mengkoreksi tata normal sebelumnya.

Dan bisa jadi kelak tata normal baru saat ini akan direvisi lagi oleh tata normal baru di masa datang.  Dulu menjadi kenormalan manakala orang tidak memakai masker, saling berkerumun di berbagai tempat, bisa beribadah bersama, makan bersama, nonton bola bersama, ngopi dan ngobrol bersama, yang semua itu bisa dilakukan tanpa harus saling menjaga jarak.

Namun saat wabah Covid 19 melanda, hal itu dikoreksi total dan diganti menjadi kenormalan baru yaitu harus memakai masker, dilarang berkerumun, tempat orang biasa berkerumun ditutup dan harus saling menjaga jarak, ini bisa disebut sebagai Paradigm Shifts  abad ini.  Dan jika kelak wabah ini berakhir maka tata normal hari ini bisa jadi akan dirubah lagi menyesuaikan keadaan.

Semua itu menandakan bahwa manusia beserta segala aturan yang mereka buat adalah bersifat dinamis yakni selalu berubah.  Bukan hanya peraturan dunia yang berubah-ubah, bahkan di dalam diri manusia sendiri selalu ada perubahan di tiap waktunya.

Artinya selalu ada penormalan baru atau tata normal baru dalam diri manusia tiap waktunya.  Para ilmuwan memberi gambaran seberapa cepat manusia mengalami perubahan,  bahkan mulai dari tingkat terkecil yaitu sel.

Perkiraaan itu dihitung dengan melacak radiasi atomik yang secara alami dibawa oleh manusia untuk menentukan usia sel.  Siklus penormalan baru di dalam diri manusia dan lingkungan sekitarnya yang berjalan tiap waktu adalah bukti bahwa manusia merupakan makhluk.

Eksistensi makhluk adalah bukti adanya Kholik yakni sang pencipta makhluk. Di dalam kitab Kifayatul Awam Fie Ma Yajibu Alaihim Min Ilmil Kalam karya As Syekh Muhammad Al Fudholi dijelaskan dalil mengenai keterkaitan antara keberadaan makhluk dan  Kholik (Allah),

وَادَّلِيلُ عَلیَ وُجُوۡدِهِ تَعَالیٰ حُدُوۡثُ الۡعَالَمِ أَيۡ وُجُوۡدُهُ بَعۡدَ عَدَمٍ,..

“Dan dalil atas wujudnya Allah Swt adalah barunya alam ini yakni wujudnya sesudah adam atau adanya alam ini sesudah tidak adanya.”

Tubuh manusia, lingkungan, dan semua yang ada di alam semesta ini setiap saat secara berkala selalu diperbaharui.  Dan pembaharuan itu akan diperbaharui oleh pembaharuan berikutnya.

Artinya kenormalan di suatu waktu akan direvisi oleh kenormalan lain di waktu selanjutnya.  Dan pembaharuan demi pembaharuan yang berkesinambungan ini adalah sifat khas dari makhluk yang senantiasa diperbaharui secara berkesinambungan (tasalsul / ُاَلتَّسَلۡسُل).

Maka makhluk di dalam  ilmu kalam (akidah) disebut sebagai Hadits (حَادِث) yang memiliki arti bersifat baru. Dan ٌحَادِث selalu membutuhkan kepada Muhdis (مُحۡدِثٌ) yang memperbaharuinya, lalu Muhdits tersebut membutuhkan Muhdits yang lain untuk mengupdate dirinya.

Maka dapat disimpulkan bahwa alam ini pasti memiliki Muhdits.

لِأَنَّ كُلَّ حَادِثٍ لاَ بُدَّ لَهُ مِنۡ مُحۡدِثٍ وَلاَ مُحۡدِثَ لِلۡعَالَمِ اِلاَّ اﷲُ تَعاَلیَ وَحۡدَهُ لاَ شَرِيۡكَ لَهُ

“…Karena setiap yang baru (hadits) pasti ada dzat yang menjadikannya baru (muhdits) dan tidak ada dzat yang menjadikan baru bagi alam ini kecuali Allah Swt yang maha esa dan tiada sekutu baginya.”(Kifayatul Awam Fie Ma Yajibu Alaihim Min Ilmil Kalam).

Walhasil, fenomena tata normal baru akibat pandemi wabah Covid 19 bisa dikategorikan sebagai Paradigm Shifts abad ini.  Dan ibrah terpenting dari fenomena tata normal itu adalah bisakah kita membaca pesan implisit yang diselipkan oleh Allah di baliknya.

Bahwasannya alam semesta yang terangkum dunia makrokosmos dan mikrokos mos di dalamnya adalah makhluk.

Dan makhluk membutuhkan Kholik yang menciptakan mereka.  Inilah contoh dalil aqli (akal) yang diselipkan oleh Allah Swt kepada kita untuk memperkuat argumentasi kaum beriman dalam menyatakan ke-eksistensi-an Tuhan di alam semesta ini. Wallahu A’lam Bis Showab.* Muhammad Syafii Kudo, santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: Rofi' Munawwar

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !