What’s Next, Setelah Lebaran Usai?

Ramadhan yang penuh berkah mereka bajak menjadi "festival" untuk menjajakan produk

What’s Next, Setelah Lebaran Usai?

Terkait

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | LEBARARAN kali ini memang terasa berbeda. Banyak ke-khas-an yang sudah mentradisi di tanah air yang kali ini mesti rela terlalui.

Mudik kini dilarang, sungkeman kepada orang tua di kampung juga terhalang, halal bi halal dengan kerabat secara fisik tidak bisa karena kampung-kampung diberi portal yang menghadang, bahkan sholat Ied di beberapa wilayah pun ada yang dilarang.  Semua karena alasan pandemi Covid 19 yang masih mewabah di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Namun di balik bencana, pasti Allah selipkan hikmah yang menyertainya. Ramadhan yang sepi tahun ini nampak hendak mengingatkan kita bahwa Allah Swt bisa tetap “ditemui” meski dalam sunyi.

Di zaman yang mana manusianya serba berburu viral ini kita hampir terlupa bahwa manusia sesekali juga membutuhkan “kesunyian” di dalam hidupnya. Bahkan para salaf saleh menjadikan beberapa bagian waktu dalam kesehariannya untuk “menyepikan diri”

Biasanya di sebagian malam para salaf saleh memiliki waktu khusus untuk menyepikan diri dari hiruk pikuk dunia. Mereka berkhalwat dengan TuhanNya dalam sepinya itu.

Rabiah Al Adawiyah bahkan selalu bersedih manakala waktu pagi telah datang.  Menurutnya, di sepanjang malam hari dia bisa “bermesraan ria” berdua saja dengan Allah Swt, seakan-akan Allah Swt adalah miliknya pribadi.

Dan bagi para solihin, waktu malam terutama di sepertiga akhir memang merupakan “hari raya”.

Sebab ada hadis yang menyatakan,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun (turunnya cahaya kasih sayang; lihat : Fath al-Bâry, juz III, halaman 31) pada setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni.” (HR: Bukhari-Muslim).

Para Solihin merasa “memiliki” Allah seutuhnya di waktu sunyi malam di saat jutaan manusia lainnya terlelap. Sedangkan di pagi hari di saat semua manusia terjaga, Allah menurut Rabiah Al Adawiyah sudah kembali menjadi milik semua manusia alias tidak khusus miliknya dan para solihin saja.

Di sinilah makna kesunyian yang bisa kita ambil hikmahnya. Bahwasannya terkadang hiruk pikuk duniawi ini telah melalaikan kita dari mengingat Allah Swt.

Sehingga kemesraan antara kita dan Allah Swt makin lama makin pudar. Nah, momen wabah yang mensunyikan Ramadhan dan lebaran kali ini bisa jadi salah satu bentuk cinta Allah agar kita menguatkan kembali kemesraan kita denganNya yang mulai merenggang itu.

Hakikat Idul Fitri

Dikisahkan bahwasannya Amirul Mukminin Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kwh pernah suatu hari di hari lebaran didatangi beberapa orang. Orang-orang tersebut terkaget manakala mendapati di hari lebaran ternyata di rumah Sayyidina Ali hanya tersaji makanan berupa roti kering kualitas rendah yang merupakan konsumsi kalangan jelata.

Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau berkata bahwa Idul Fitri bagi beliau bukanlah perkara baju baru atau makanan enak. Bagi sang Pintu Ilmu itu, tiap hari adalah Idul Fitri selama beliau tidak melakukan maksiat kepada Allah Swt dan ketakwaan beliau selalu meningkat kepada Allah Swt.

قال أمير المؤمنين الامام علي كرم ﷲ وجهه: ليس العيد لمن لبس الجديد، وإنما العيد لمن أمن الوعيد

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kwh berkata, “Bukanlah hari raya idul fitri itu bagi orang yang berbaju serba baru, idul fitri hanyalah bagi orang yang percaya kepada hari pembalasan.”

Senada dengan Sayyidina Ali, Imam Hasan Al Bashri sang pemimpin kaum soleh di zamannya juga berkata,

قال الحسن البصري: كل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد

Berkata Imam Hasan Al Bashri, “Setiap hari yang mana Allah tidak didurhakai adalah merupakan hari raya.” (Latho’iful Ma’arif halaman 278).

Ada pula maqolah masyhur yang menyebutkan,

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعاته تزيد

“Bukanlah lebaran itu bagi orang yang berbaju baru akan tetapi idul fitri adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

ليس العيد لمن تزين باالملبوس والمركوب ولكن العيد لمن غفر له الذنوب

“Bukanlah idul fitri itu bagi orang yang menghias dirinya dengan pakaian dan kendaraan baru. Akan tetapi Idul Fitri adalah bagi orang yang diampuni dosanya.”

Inilah sebenarnya hakikat lebaran yang kini mulai tersamar dari pandangan kaum Muslimin. Karena diakui atau tidak hari ini umat Islam telah diperdaya sedemikian rupa oleh para musuh Islam.

Nilai sakral ritualitas ibadah mereka kian dibajak menjadi seremonial belaka. Ramadhan yang penuh berkah mereka bajak menjadi “festival” untuk menjajakan produk mereka.

Diskon belanja baju, makanan, tempat wisata yang dilabeli berkah Ramadhan laris manis diburu umat Islam.  Sedangkan esensi Ramadhan yang hendak menjadikan kita kembali ke fitrah kian lama kian buram.

Maka wajar jika kini lebih banyak penikmat suasana Ramadhan daripada pelaku ibadah di bulan Ramadhan. Lebih banyak pemburu diskon belanja daripada pengejar obral pahala di bulan Ramadhan.

Dan ketika digaung-gaungkan slogan kembali ke fitrah di hari kemenangan, maka kita bisa bertanya kepada diri sendiri, kembali ke fitrah yang mana dan menang dari siapa? Wallahu A’lam Bis Showab.*.

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: ~

Editor: Rofi' Munawwar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !