Kontribusi Islam terhadap Agrikultur

Ketika para sejarawan berbicara tentang penyebaran Islam, mereka merujuk pada ekspedisi militer atau perdagangan, namun jarang tentang pertanian atau agrikultur.

Kontribusi Islam terhadap Agrikultur

Terkait

oleh Devdutt Pattanaik

 

Hidayatullah.com | Nabi Bansa adalah sebuah syair Bengal yang ditulis 300 tahun lalu yang menceritakan kisah para nabi Islam. Di sini kita diberitahu bahwa ketika Adam diusir dari Surga, dia jatuh ke Serendib, pulau di Sri Lanka, dan kemudian berjalan melintasi apa yang kita ketahui sekarang sebagai India, ke Makkah di mana dia akhirnya bertemu dengan Hawa.

Bersama-sama mereka membangun Ka’bah. Dan setelah mereka berdoa kepada Allah, mereka dikunjungi oleh malaikat Jibril yang mengajari mereka bagaimana menjadi suami dan istri, bagaimana membangun rumah dan bagaimana membajak tanah dan menunbuhkan gandum. Ketika para sejarawan berbicara tentang penyebaran Islam, mereka merujuk pada ekspedisi militer atau perdagangan, namun jarang tentang pertanian atau agrikultur.

Namun antara abad ke 8 dan ke 15, ‘koridor Islam’ antara Eropa dan Asia meningkatkan praktek pertanian di sepanjang Spanyol, Afrika Utara dan Asia Selatan. Mereka mengambil tebu dari India dan menyebarkan penanamannya ke bagian lain dunia. Mereka memperkenalkan kopi ke mana pun mereka pergi. Mereka mempopulerkan penggunaan kincir air Persia yang menggunakan tenaga hewan untuk mengairi pertanian.

Islam menyebar di pesisir India melalui pedagang laut. Kemudian menembus dataran utara India dan dataran tinggi Deccan melalui para panglima perang yang menjadi penguasa dan menarik pajak. Ketika Islam menetap di negeri itu, banyak pekerjaan yang diciptakan di istana para raja dan bangsawan. Ini mendorong banyak orang untuk memeluk agama Islam. Beberapa yang lain masuk Islam untuk menghindari membayar pajak Jizya. Secara umum diyakini bahwa banyak orang India dari strata sosioekonomi yang lebih rendah masuk Islam untuk membebaskan diri dari hierarki Hindu yang menindas. Namun ini tidak terlalu menyebar luas.

Bahkan, kedatangan pedagang, penjajah, imigran, serta Muslim hanya membuat 10-15% dari populasi yang memeluk agama Islam. Ini sangat berbeda di bagian lain dunia. Islam menyebar di seluruh Persia, sepenuhnya menggantikan keyakinan Zoroaster atau Majusi.

Islam menyebar ke Spanyol dan Afrika Utara, menggantikan sepenuhnya Kristen. Tetapi transformasi absolut ini tidak terjadi di India. Hindu dan Jainisme terus berkembang. Faktanya, 75-80% populasi masih mempertahankan keyakinan mereka sesuai Sensus India Inggris 1921. Konsentrasi Islam yang tinggi ditemukan terutama di dua wilayah. Salah satunya adalah Bengal Timur, yang akhirnya menjadi Bangladesh. Yang kedua adalah di bagian utara Sungai Indus, di Punjab, yang menjadi Pakistan.

Dua daerah dengan kepadatan Muslim yang tinggi ini muncul dengan cara yang sangat unik – melalui praktik pertanian yang dipopulerkan oleh para Sufi di antara komunitas-komunitas yang terpinggirkan sesuai penelitian mendalam yang dilakukan oleh sejarawan Richard Eaton. Sufisme di mana cinta dihargai lebih daripada hukum muncul di Iran pada abad ke-12.

Para Sufi datang bersama para Sultan ke India. Jika Sultan memiliki kekuatan politik, maka Sufi memiliki kekuatan relijius. Dukungan para Sufi sangat penting bagi Sultan jika mereka ingin mengendalikan rakyatnya. Sufi adalah pemimpin karismatik populer yang mendirikan pondok-pondok yang dikenal sebagai Khanekhaz. Mereka juga mendirikan sekolah yang dikenal sebagai Madrasa. Mereka menawarkan berbagai pelayanan seperti pengobatan dan dikatakan memiliki kekuatan magis.

Berbeda dengan ulama Muslim tradisional, mereka menyanyi dan menari, tetapi mereka menghormati al-Quran, Hukum Islam dan Hadits. Mereka adalah pria-pria berpendidikan. Mereka menyediakan layanan hukum. Mereka membawa seluruh revolusi budaya ke daerah tempat mereka tinggal. Hal ini terjadi terutama di wilayah Indus utara dan Delta Gangga. Di daerah Punjab, para gembala Jatt yang bermigrasi bermukim di sekitar komunitas Sufi ini.

Para Sufi membantu mereka membuat tanah gersang menjadi tanah yang dapat ditanami dengan memperkenalkan teknologi roda irigasi Persia (dikenal di India kuno sebagai ‘jala-yantra’ atau ‘ara-ghatta’). Sehingga, pertanian menyebar luas. Selama beberapa generasi, mereka yang mendapatkan manfaat dari pertanian memeluk agama Islam. Ini adalah transformasi budaya yang terjadi selama hampir 100 hingga 200 tahun. Di Bengal, delta sungai mengubah arahnya, bergerak ke barat.

Kesultanan Mughal mendorong orang-orang untuk mengubah hutan belantara di Delta Gangga yang sekarang dapat diakses menjadi lahan pertanian untuk memperluas basis pendapatan mereka. Para pemburu dan nelayan, praktisi kultus kesuburan lama, dan ritual tantra, yang berada di luar aliran mainstream Hindu, melakukan kontak dengan para Sufi yang mendirikan dargah dan masjid lokal kecil dan memperkenalkan mereka pada metode pertanian baru.

Penerima manfaat dari teknologi pertanian baru secara bertahap menjadi Muslim. Para mistikus lokal dan pengembara mengisahkan tentang Bon Bibi (dewi hutan) dan Satya Pir (orang suci sejati) yang memadukan okultisme Hindu dan Budha lokal dan ide-ide mistis dengan okultisme Islam dan kepercayaan mistis. Bentuk-bentuk Islam ‘India’ kemudian dibersihkan oleh para intelektual Muslim dan menjadikannya kurang lokal dan lebih mainstream (Persia) pada abad ke 19, menyusul munculnya pendidikan Eropa dan Gerakan Khalifah.

Reformasi dalam masyarakat Muslim ini oleh pemuda berpendidikan asing, mencerminkan gerakan reformasi dalam agama Hindu yang dipelopori oleh Raja Ram Mohan Roy. Ini akhirnya menyebabkan partisi atau pemisahan India, ketika Muslim yang berpendidikan asing dan para pemimpin Hindu melupakan cara lama kolaborasi dan lebih memilih kompetisi. Hari ini, di dunia di mana Islam dihubungkan dengan Minyak Arab, puritanisme, dan terorisme ISIS, hanya sedikit yang mengingat warisan pertanian Islam. Dan itu memalukan.*

Rep: Nashirul Haq

Editor: Insan Kamil

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !