Masjid, Politik dan Kebangkitan Islam

Nah, sekarang, ketika politik umat Islam mulai bangkit banyak yang mencurigainya. Meski sejatinya mereka takut jika umat Islam bangkit.

Masjid, Politik dan Kebangkitan Islam
Hidayatullah.com/Rias
Pengajian Politik Islam (PPI) di Masjid Al Azhar

Terkait

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

“JANGAN bicara politik di dalam masjid. Karena masjid tempat ibadah.”

Berapa banyak orang mengatakan demikian. Bahkan, politisi pun ada yang mengatakan begitu. Apakah pernyataan tersebut salah? Penulis katakan, itu salah total bahkan menyesatkan banyak orang. Dan jika ada umat Islam yang mengatakan demikian, pasti dia berada di satu keadaan di antara dua: dia menipu orang lain atau dia tertipu.

Kenapa penulis katakan tertipu? Karena dapat dipastikan dia tidak memahami makna ibadah dengan baik. Atau, dia alergi mendengar kata ‘masjid’. Atau, dia sendiri sedang melakukan politisasi masjid, agar orang takut bicara politik di dalamnya. Padahal, orang lain bicara politik dengan bebas di rumah ibadahnya. Maka, tolong jangan selewengkan fungsi masjid dan fungsi politik.

Islam dan politik sejatinya tak dapat dipisahkan. Bahkan politik dalam Islam sesuatu sangat inheren. Karena kata siyāsah itu sendiri maknanya ‘mengatur’: mengatur dan memenej urusan umat Islam. Maka ada istilah politik Islam. Tapi sekarang umat Islam semacam ditakut-takuti untuk bicara politik di dalam masjid. Seolah-olah politik itu kotor, busuk, dan menyimpang.

Di dalam kitab al-‘Ubūdiyyah, Imam Ibn Taimiyyah (661-728 H) menyatakan bahwa makna ‘ibadah’ itu adalah:

“Satu nama yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, berupa ucapan, pekerjaan, baik zahir maupun batin. Maka, shalat, zakat, puasa, haji, berkata benar, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, menyambung silaturrahim, menepati janji, amar makruf-nahi munkar, berjihad menghadapi orang kafir dan kaum munafik, berbuat baik kepada tetangga, kepada anak yatim, kepada orang miskin, kepada ibnu sabil, kepada hamba sahaya, dan kepada binatang, berdoa, zikir, membaca, dan lainnya, semuanya adalah ‘ibadah’.

Begitu pula dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, kembali pada-Nya, mengikhlaskan ketundukan kepada-Nya, sabar atas hukum-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha atas keputusan-Nya, tawakal kepada-Nya, berharap rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya, dan lain-lain, merupakan ibadah kepada-Nya.” (Lihat, Imam Ibn Taimiyyah, al-‘Ubūdiyyah (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1997 M), hlm. 4)

Nah, misalnya, jika dalam aksi dan kegiatan politik diwarnai dengan berbagai hal di atas, maka politik dapat bernilai ibadah. Paling penting, misalnya, adalah amar makruf nahi munkar. Jika ini berjalan dengan baik, maka politik di negeri ini akan “sehat walafiat”. Maka, salah memahami makna ibadah menyebabkan keliru menyampaikan dan mengamalkannya.

Itu sebabnya, ibadah di dalam Islam mencakup semua lini kehidupan: mulai dari adab makan dan minum, buang air, sampai cara membangun negara, mengatur pemerintahan, mengurus harta, masalah perdata dan pidana, sampai hubungan internasional ketika kondisi damai maupun perang. (Syekh Yusuf al-Qaradhawi, al-‘Ibādah fī al-Islām (Kairo: Maktabah Wahbah, 1416 H/1995 M), hlm. 51).

Kemudian, Islam dan politik memiliki hubungan yang erat. Memisahkan Islam dengan politik sama dengan “memisahkan gula dengan manisnya”. Mustahil, bro! Itu sebabnya para ulama sejak dahulu selalu mengulas fikih politik atau politik Islam. Sehingga yang memisahkan Islam dengan politik, kata Syekh al-Khidhr Husain, salah seorang Grand Syekh Al-Azhar, sama dengan melakukan penyesatan. (Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Meluruskan Dikotomi Agama dan Politik, Terj. Khoirul Amru Harahap (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), hlm. 84).

Nah, sekarang, ketika politik umat Islam mulai bangkit banyak yang mencurigainya. Meski sejatinya mereka takut jika umat Islam bangkit. Sehingga, lahirnya kebangkitan Islam di lapangan pikiran dan politik dengan bentuknya yang dapat mencerminkan seluruh neraca kekuatan, tampaknya telah menjadikan pihak asing dari Barat dan Timur –yang mengantisipasi gerakan Islam– mengadakan beberapa seminar dan muktamar untuk mempelajari fenomena Islam yang dianggap berbahaya ini. Mereka mengerahkan segala kemampuan dan mengeluarkan sejumlah besar dana untuk missinya itu. (Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Menyatukan Pikiran Para Pejuang Islam, Terj. Ali Makhtum Assalamy (Jakarta: Gema Insani, cet. II, 1414 H)1994 M), hlm. 84-85).

Dari sana kita jadi paham mengapa banyak yang alergi kita kita membicarakan politik di dalam masjid. Karena mereka takut umat Islam akan bangkit dan memimpin dunia. Wajar saja jika banyak dari orang kafir dan kaum munafik “kebakaran jenggot”, kejang-kejang, stres, bahkan mengintimidasi masjid-masjid yang dinilai mampu membangkitkan umat.

Jika para pemikir dan tokoh Barat, seperti: Dr. V. Fitzgerald, A. Nallino, Dr. Joseph Schacht, R. Strothmann, D.D. Macdonald, Sir. Thomas Arnold, dan Hamilton Gibb (Syekh al-Qaradhawi, Menyatukan Pikiran Para Pejuang Islam, 89-90) menyatakan bahwa tak mungkin memisahkan politik dengan Islam, lalu para politisi di negara ini dasarnya apa menolak masjid sebagai tempat membicarakan politik? Pasti dasarnya adalah ‘kebencian’ kepada Islam dan umatnya.

Mereka memang sedang panik, marah, dan emosi tingkat dewa. Maka dimunculkanlah fitnah dan tuduhan tak berdasar. Termasuk kaitan antara masjid dengan Pilpres. Padahal, di zaman Nabi hingga zaman para ulama salaf, masjid tempat berpolitik juga. Yaitu politik yang lurus dan benar menurut aturan agama Islam.

Maka, kata Syekh al-Qaradhawi, di antara fungsi masjid adalah tempat membicarakan masalah keumatan. Termasuk politik.

Nah, dengan adanya pengawasan terhadap masjid-masjid, mengingatkan kita kepada Dr. Mohammad Natsir yang mengatakan,
“Jika kita beribadah, akan dibiarkan. Jika kita berekonomi, kita mulai diawasi. Dan, jika kita berpolitik, maka akan ditumpas ke akar-akarnya.”

Maka, mari pahami politik dengan baik. Kemudian, hayati apa fungsi masjid. Sehingga kita amat bangga jika fungsi masjid kembali ke asalnya: sebagai tempat berbagai bentuk aktivitas Muslim, termasuk politik. Kalau ini berjalan, maka umat Islam akan bangkit.*

Penulis alumni Al Azhar tinggal di Medan

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !