Perlukah Membela Agama Islam?

Aksi Bela Islam yang terjadi tanggal 4 November 2016 merupakan akumulasi dari kemarahan warga yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Ahok

Perlukah Membela Agama Islam?

Terkait

Oleh: Alwi Alatas

 

BEBERAPA waktu terakhir ini beredar tulisan yang tersebar di beberapa media sosial dengan judul “Mungkinkah Menistakan Agama” dengan menyantumkan Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia sebagai penulisnya. Saya tidak tahu apakah tulisan ini betul-betul dibuat oleh Pak Sarlito atau tidak, karena sering beredar tulisan di internet yang mengatasnamakan seseorang, padahal sebetulnya dia tidak menulisnya. Saya berperasangka baik bahwa ini bukan tulisan beliau. Namun terlepas dari siapa yang membuat tulisan tersebut, berikut ini beberapa jawaban atasnya.

Tulisan itu dibuka dengan kata-kata berikut:

“Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela agama? Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?”

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan , orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam.”

Untuk menjawab pertanyaan di atas tidak cukup hanya dengan menggunakan logika, perlu juga melihat apa yang tertulis di dalam Al-Quran, terlebih jika kita seorang Muslim. Dan bagi yang bukan Muslim, setidaknya mereka bisa memahami mengapa kaum Muslimin tergerak untuk membela agamanya.

Baik orang-orang lemah maupun Tuhan (atau agama) sama-sama perlu dibela, walaupun sebab pembelaannya berbeda. Orang-orang kecil dan lemah dibela karena mereka tak berdaya untuk membela diri. Ini sesuai dengan ajaran Islam. Tuhan dan agama-Nya juga perlu dibela, karena alasan yang berbeda, bukan karena Dia lemah dan tak mampu menolong diri-Nya sendiri. Ini pun sesuai dengan ajaran Islam.

Jadi karena alasan apa Tuhan dan agama dibela? Pertama, karena hal itu diperintahkan oleh-Nya. Hal ini disebutkan di dalam Al-Quran:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ‌ۖ فَـَٔامَنَت طَّآٮِٕفَةٌ۬ مِّنۢ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآٮِٕفَةٌ۬‌ۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَـٰهِرِينَ (١٤)

‘Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”….’ (QS 61: 14)

Kata yang digunakan pada ayat di atas adalah ansharullah yang bermakna penolong atau pembela Allah. Jadi jelas bahwa hal ini diperintahkan oleh Allah, bukan direka-reka oleh kaum Muslimin. Tapi kalau Allah tidak memerlukan pertolongan kita, mengapa Dia perintahkan kita menolong-Nya? Jawabannya sama dengan jawaban atas pertanyaan berikut: “Jika Dia tidak memerlukan ruku’ dan sujud kita, mengapa Dia perintahkan kita menyembah-Nya?” Sebabnya adalah karena apa yang kita lakukan itu akan kembali faedahnya kepada diri kita sendiri. Kini kita akan lihat alasan lebih jauh mengapa kita perlu membela atau menolong (agama) Allah.

Kedua, agar menjadi jelas siapa yang membela agama-Nya dan siapa yang tidak. Ini seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran: “… dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS 57: 25)

Dan ketiga, agar hal itu menjadi jalan bagi kita untuk mendapat pertolongan dari-Nya, terutama di saat tidak ada pembela dan pelindung lain selain daripada-Nya.

“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47: 7)

“Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS 29: 22)

Saya cukupkan sampai tiga alasan ini saja. Semua ini sangat berarti bagi seorang Muslim, kecuali jika hatinya berpenyakit dan dipenuhi sifat munafik.

Tidak ada yang bisa memaksa jika seseorang berpandangan bahwa Allah dan agama-Nya tidak perlu dibela dan karenanya ia menolak untuk membela-Nya. Tapi ia tentu juga tidak mengharapkan pertolongan dan pembelaan dalam hal apa pun dari-Nya, termasuk saat ia nanti mati dan menghadap kepada-Nya.

Kemudian tulisan itu menyebutkan tentang survei Washington University (2011) serta Maarif Institute (2015) yang menunjukkan negeri-negeri serta kota berpenduduk non-Muslim sebagai lebih Islami dibandingkan yang berpenduduk Muslim. Maka berikut ini tanggapannya:

Pertama, kita tidak menolak bahwa dalam banyak hal kaum Muslimin dan negeri-negeri mereka masih sangat tidak Islami dan dikalahkan oleh negeri-negeri non-Muslim, khususnya dalam hal-hal yang bersifat muamalah. Ini hal yang perlu diperbaiki dan dibenahi oleh kaum Muslimin. Mudah-mudahan keadaan mereka menjadi lebih baik ke depannya.

Kedua, perlu diingat bahwa apa yang disebut sebagai Islami pada survei-survei di atas tidak mencakup semua aspek keislaman. Karena jika tauhid dimasukkan ke dalam survei, tidak mungkin negeri non-Muslim lebih baik daripada negeri Muslim. Kalau rukun Islam dimasukkan ke dalam survei, tidak mungkin negeri Muslim dikalahkan oleh negeri non-Muslim. Padahal rukun Islam adalah inti bangunan Islam. Jadi survei itu hanya melihat pada sebagian aspek dalam Islam saja, bukan keseluruhannya.

Kalaupun kita memilih untuk menyoroti aspek muamalah saja, bukan berarti kaum Muslimin selalu buruk dalam persoalan ini. Ambil saja contoh demonstrasi 4 November 2016 yang baru terjadi di Jakarta. Lautan manusia membanjiri empat penjuru jalan di kawasan patung kuda dan bahkan lebih dari itu. Komnas HAM menyebutnya sebagai demonstrasi terbesar pasca reformasi dan yang paling bermartabat. “…tidak ada kekerasan, ujaran kebencian, diskriminasi, nyaris tidak meninggalkan sampah, dan tidak ada fasilitas publik atau taman yang rusak” (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/04/og4c9e361-komnas-ham-aksi-4-november-demo-paling-bermartabat). Kalaupun sempat terjadi kerusuhan di malam hari, tidak ada kepastian bahwa para demonstran yang memulainya, dan ada kemungkinan terjadi penyusupan. Selain itu, FPI menunjukkan sikap terhormat dengan melindungi barisan polisi yang bertugas. Begitu pula kerusuhan di Penjaringan sama sekali tidak ada hubungan dengan demonstrasi yang dilakukan kaum Muslimin.

Berapa banyak pihak yang mampu melakukan aksi sebesar ini dan penuh martabat seperti ini? Tidak ada satu pun tempat ibadah yang disentuh ataupun kalangan agama dan ras lain yang diganggu. Mereka menunjukkan bahwa mereka mampu berdisiplin dan menjaga keamanan di tengah aksi sebesar itu.

Akhirnya tulisan itu menyebutkan prestasi dan kelebihan-kelebihan Ahok selama memimpin Jakarta, seperti menjadikan sungai di Jakarta lebih baik, sukses menggusur kalijodo, serta bersikap tegas terhadap bawahan yang tidak betul dalam bekerja. Maka kami jawab seperti di bawah ini.

Ahok tentu punya prestasi dalam kerjanya, tidak ada yang menafikan hal ini. Namun pada akhirnya, semua itu untuk kepentingan siapa? Apa yang dilakukan Ahok memperlihatkan secara kasat mata pembelaan yang terang-terangan kepada para pengembang dan pemilik modal serta sikapnya yang kasar dan brutal terhadap orang-orang kecil yang rumahnya  ia gusur. Kita menghendaki Jakarta yang lebih rapi dan indah, tetapi orang-orang yang diusir secara kasar itu adalah manusia, saudara-saudara kita se-Indonesia. Mengapa tidak gunakan cara baik-baik dan lakukan komunikasi dengan intensif dan sabar, seperti yang pernah dilakukan oleh Jokowi dalam penggusuran di Solo misalnya. Orang-orang kecil itu digusur tanpa belas kasihan, dipaksa tinggal di rusun-rusun yang jauh dari sumber mata pencaharian mereka, untuk kemudian menemui kesulitan dalam membayar sewanya dan akhirnya mungkin tergusur dengan sendirinya dari tempat itu tanpa ada pemberitaan signifikan dari media massa (https://m.tempo.co/read/news/2016/08/21/083797679/tak-bayar-sewa-138-kk-di-rusun-jatinegara-barat-kena-tegur). Padahal ada di antara orang-orang yang digusur itu yang sudah tinggal di rumah-rumah mereka lebih dari 50 tahun.

Antara Januari dan Agustus tahun 2015 saja ada 3.400 lebih kepala keluarga yang jadi korban penggusuran. Sepanjang tahun 2015, ada 20.000 korban pelanggaran HAM di Jakarta, sebagian besar terkait dengan kebijakan Pemprov DKI. Angka ini naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2013 dan 2014 (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151224060220-20-100191/relokasi-mimpi-buruk-bagi-korban-penggusuran-jakarta/).

Semua korban penggusuran itu adalah warga pribumi. Sementara ketika wali kota Jakarta Barat hendak menggusur beberapa bangunan yang melanggar aturan di Glodok, Ahok dengan sigap turun tangan dan melarang dengan tegas. “Lu jadi centeng ya?” cetusnya pada wali kota Jakarta Barat itu (https://m.tempo.co/read/news/2016/08/23/083798124/gusur-glodok-ahok-sebut-wali-kota-jakbar-mirip-centeng).

Ahok dahulu pernah mengatakan bahwa ayat konstitusi kedudukannya di atas ayat suci, seolah ia sangat menjunjung tinggi hukum di atas apa pun juga. Namun pada kasus penggusuran di Bukit Duri, Ahok sama sekali tidak menghormati hukum dan konstitusi. Ia tetap menggusur warga walaupun proses hukum terkait kasus tanah itu masih berjalan di pengadilan (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160928134727-20-161781/komnas-ham-penggusuran-bukit-duri-melanggar-hukum/).

Ada banyak korban pada kasus-kasus penggusuran di Jakarta dan mereka adalah orang-orang lemah, miskin, dan tertindas. Mengapa penulis artikel di atas tidak membela mereka di dalam tulisannya? Bukankah, sebagaimana yang dinyatakannya sendiri, mereka termasuk yang perlu dibela?

Selain itu, penggusuran-penggusuran yang dilakukan itu untuk kepentingan siapa? Untuk kepentingan rakyat? Rakyat yang mana?

Dalam kasus penggusuran Pasar Ikan, LBH Jakarta menyebutkan bahwa penggusuran di Jakarta bukan “untuk kepentingan warga Jakarta secara keseluruhan, melainkan untuk kepentingan bisnis semata.” Selain itu, ada upaya Pemprov DKI untuk mengusir warga miskin dari Jakarta (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/04/12/o5hekl383-lbh-jakarta-penggusuran-warga-pasar-ikan-untuk-kepentingan-siapa).

Begitu pula rencana reklamasi di Pantai Utara Jakarta yang prosesnya melabrak sejumlah aturan dan ada skandal suap di dalamnya (https://www.tempo.co/read/fokus/2016/05/04/3306/reklamasi-jakarta-melanggar-aturan). Ahok termasuk yang paling ngotot proyek itu harus terus berjalan. Walhi Jakarta menduga ada kaitan antara reklamasi dan penggusuran di kawasan tertentu, dan ada kepentingan pengembang di balik penggusuran-penggusuran tersebut (http://www.jawapos.com/read/2016/05/12/27997/walhi-cium-ada-kepentingan-pengembang-reklamasi-di-balik-penggusuran/2).

Kalau prestasi seorang pemimpin hanya dilihat dari keberhasilan merapikan tata kota serta administrasi pemerintahan, maka mengapa tidak kita undang Belanda untuk menjajah Indonesia sekali lagi? Pemerintah kolonial Belanda juga dulu memiliki banyak prestasi, mulai dari pembangunan jalan, rel kereta api, serta dalam kemajuan ekonomi. Mengapa dulu kita perlu bersusah payah dan berkorban mengusir penjajah dari negeri ini? Toh mereka punya banyak prestasi dalam membangun negeri ini.

Ada beberapa hal lain yang akan terlalu panjang jika disebutkan semuanya di sini. Sekadar menyebutkan sekilas, Ahok kerap berkata kasar dan tidak pantas di ruang publik. Ia diduga terlibat beberapa kasus korupsi seperti pada kasus Rumah Sakit Sumber Waras, reklamasi Pantai Utara Jakarta, dan beberapa kasus lainnya. Ia selalu menyalahkan pihak lain dan hampir tidak pernah mengakui kesalahan dan minta maaf. Ahok juga berkali-kali ditolak dan diusir warga saat sedang berkunjung ke kawasan tertentu. Orang Indonesia biasanya sangat penyabar. Kalau mereka sampai berkali-kali mengusir gubernurnya, bukankah sudah seharusnya si gubernur melakukan introspeksi diri dengan sungguh-sungguh. Bagaimana dia bisa memimpin Jakarta dengan baik jika dibenci oleh banyak warganya sendiri?

Akhirnya, seperti yang ditulis oleh Denny JA baru-baru ini demonstrasi atau Aksi Bela Islam yang terjadi tanggal 4 November 2016 merupakan akumulasi dari kemarahan warga yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Ahok.

Penistaan Al-Quran yang dilakukan oleh Ahok adalah puncak dari berbagai tingkah polah gubernur yang telah menzalimi dan menyakiti hati masyarakat. Kasus penistaan Al-Quran ini dipandang sudah sangat melewati batas. MUI sendiri menyatakannya sebagai bentuk penistaan. Kasus ini tidak hanya menimbulkan kemarahan Muslim di Jakarta, tetapi juga di kota-kota dan negeri-negeri lain. Kemarahan ini akan terus membesar dan bisa berdampak buruk bagi Indonesia, kecuali sumber masalahnya dibereskan: Ahok segera dihukum atas perbuatannya.

Jadi, apakah kita perlu membela (agama) Allah? Jawabannya adalah ya, perlu. Agar perbuatan ini menjadi saksi bahwa kita tidak diam dan kita memilih untuk berada di pihak-Nya; agar kelak kita pun layak untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Dan supaya setelah ini tidak ada lagi warga lemah dan miskin yang digusur secara zalim oleh si ‘Gubernur Podomoro’.*

Penulis Kandidat Doktor IIUM

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !