Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Opini

Nasehat “Terakhir” Adi Sasono

Muhammad Abdus Syakur/hidayatullah.com
Adi Sasono pada acara Silatnas Hidayatullah 2013 di Balikpapan.
Bagikan:

Oleh: Suhardi Sukiman

 

TAK disangka, silaturrahim ke kantor Coop Indonesian Foundation di bilangan Sudirman pada September 2015 tahun lalu menjadi pertemuan terakhir kami dengan almarhum Adi Sasono yang juga pendiri yayasan tersebut .

Kedatangan kami menyampaikan undangan kepada almarhum untuk menjadi pembicara seminar kepemudaan yang kami gelar sekaligus memanfaatkan kesempatan menggali ilmu dan meminta nasihat beliau yang, bagi kami, merupakan figur ayah dengan kedalaman ilmu dan segala kebersahajaan di usianya yang semakin senja.

Sambutan beliau menerima kami ketika itu luar biasa. Meski terpaut usia cukup jauh, rombongan kami yang anak-anak muda diperlakukan layaknya kolega seusia yang lama tak bersua.

Almarhum menerima kami dalam kondisi sehat bugar. Duduknya tegak di ruangan biasa beliau menerima tamu. Senyum khasnya selalu terlontar mengiringi seloroh dalam rangkaian wejangan-wejangan yang disampaikannya. Pun begitu langgam suara datarnya terdengar fasih. Tidak ada kurang sama sekali.

Qadarullah, pamitan beliau pergi lebih dulu karena sebuah urusan di tengah kami sedang santap siang yang sengaja dihidangkannya pada kami usia pertemuan siang itu, rupanya menjadi ucapan pamitan beliau pergi selamanya.

Adi Sasono, Pejuang Ekonomi Kerakyatan Berpulang

Adi Sasono meninggal dengan tenang di Jakarta pada Sabtu (13/8/2013) petang setelah sebelumnya sempat dilarikan ke RS Mayapada di Lebak Bulus, karena sempat mengalami sakit .

Pemuda Harapan Bangsa

Kami mencatat betul pesan-pesan yang beliau sampaikan. Berkesempatan bertemu orang sekaliber almarhum tentu merupakan momen spesial yang sayang untuk disia-siakan. Kami lebih banyak mendengar. Diam, menyimak penuturannya yang kalem namun tetap lugas.

Mantan Menteri Koperasi dan UKM era Kabinet Reformasi ini mengingatkan bahwa anak muda merupakan harapan bangsa. Almarhum meminta pemuda membangun semangat kemandirian. Karenanya, dalam pertemuan itu, beliau mendorong kaum muda terus berfikir kreatif demi untuk kemaslahatan bangsa.

Ia menegaskan, masa depan kita tergantung kita, bukan tergantung orang lain. Begitupun bangsa tercinta ini yang menggantungkan masa depannya di pundak para pemuda hari ini.

Adi Sasono mengemukakan bahwa tantangan masa depan bangsa ini terletak pada keinginan yang dilatari kerelaan menjalin kesepahaman dan menguatkan integrasi gerak anak-anak bangsa. Sehingga, kemudian, berbagai upaya pihak lain untuk memecah belah kita bisa dienyahkan.

Seringkali gaduhnya kita di muka publik boleh jadi memang karena ada kalangan oportunis sengaja mendesain situasi demikian. Kita terus diadu domba, sebab cara ini terbukti mustajab mendera bangsa ini berada dalam kungkungan penindasan bangsa lain hingga berratus tahun lamanya.

Penjajah Belanda yang datang ke Indonesia yang berjumlah “hanya” 200.000 sebagaimana statistik tahun 1930, dan saat itu rakyat kita sudah 60 juta. Tapi, kenapa Belanda bisa menjajah kita. Karena politik devide et impera. Kita  dipecahbelah. Akhirnya kita malah saling bertarung sendiri. “Kita dijajah karena kalah pinter,” ujar Adi Sasono ketika itu.

Tak ketinggalan Adi Sasono pula menyorot masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia yang dipandang dapat saja berekses negatif terhadap stabilitas nasional. Jika ditilik dari logika investor, hal itu memang masuk akal. Namun hal itu bukan gejala umum yang jika dibiarkan bisa menjadi umum.

Masuknya pekerja asing ke Indonesia dianggap Adi Sasono sebagai kasus yang harus diwaspadai tidak bisa diterima sebagai sebuah gejala umum.

Adi Sasono Pernah Dijuluki ‘Robin Hood van Java’

Ketergantungan pada pihak luar sejatinya dapat dieliminir sebab kita punya semua syarat untuk menjadi bangsa yang mandiri. Namun, faktnya, realita yang ada jauh panggang dari api.

Dalam soal ketergangungan pada mata uang asing misalnya seperti dolar. Kata Adi Sasono, kita menjadi sakit kepala karena dolar naik sebab dalam komsumsi kita ada komponen impor yang seharusnya tidak perlu.

Padahal sejak zaman Majapahit kita tidak pernah impor. Bahkan kita bisa mandiri bahkan mampu membangun armada dahsyat waktu itu dan jadi penguasa di Asia Tenggara. Begitu pula di masa kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh.

Menurut almarhum, ketergantungan pada asing tersebut sejatinya dapat diurai dengan kembali kepada semangat dasar ekonomi kita yaitu meningkatkan ekonomi domestik yang membuat posisi perdagangan internasional hanya rangkaian ujungnya saja.

Teladan Pemimpin

Pesan almarhum Adi Sasono tersebut barangkali bukan tuah yang relatif baru, namun tidak berarti kemudian diabaikan. Dari beragam aspek apa yang selalu dikemukakan almarhum itu sangat tepat dijadikan medium reflektif dalam meraktualisasi kegembiraan nasionalisme kita.

Bertepatan dengan Dirgahayu Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-71 tahun ini yang baru saja kita rayakan, maka kiranya tepat spirit kemerdekaan Adi Sasono  menjadi momentum pelecut kembali pada kewarasan kolektif berbangsa dan bernegara kita.

Anak-anak muda bangsa Indonesia bagaimanapun perlu menginternalisasi nilai-nilai heroisme yang telah dilakoni almarhum Adi terutama komitmennya pada apa yang disebut Keith B Richburg sebagai “advokasi agresif” dengan gerakan ekonomi rakyat demi menjungkal hegemoni ekonomi kaum kapitalis borjuis.

Dan, yang tak kalah penting bagaimana terus menggelorakan semangat keswadayaan nasional yang memuat kiprah-kiprah penguatan ketahanan nasional dengan mendukung semaksimal mungkin dispersi pembangunan negeri pertiwi yang merata berlandas pada falsafah kebhinnekaan yang Pancasilais.

Uraian yang mencoba mengetengahkan serak risalah sebagian kecil gagasan almarhum Adi Sasono ini perlu terus digali dan dikembangkan sebagai khazanah intelektual untuk meninggikan martabat bangsa. Karena, tentu tak elok semarak kesyukuran nasional yang kita peringati hari ini hanya menyisakan euforia lalu kemudian tenggelam tanpa makna.

Himpun pemikiran tak kalah mendasar lainnya yang dikemukakannya sekaligus penutup catatan ini, adalah optimisme beliau memandang Indonesia yang menurutnya punya segalanya untuk melawan ketergantungan terhadap asing.

Sebutan ‘Indonesia’s Most Dangerous Man’ yang disematkan kepada almarhum oleh The Washington Post edisi 2 Maret 1999 dan media asing lain jelas merefleksikan ketegangan loyalitas pada nasionalisme berhadapan dengan kekuatan kaum komelarat komersial. Dan, almarhum Adi telah menunjukkan pada bangsa ini bahwa kita memiliki semua syarat menjadi negeri berdaulat dan berkemandirian.

Setidaknya ada dua haluan fundamental untuk mereduksi ketergantungan pasa asing tersebut lalu kemudian kita berdiri tegak di atas prinsip relasi interdependensial. Pertama, keswadayaan nasional. Dan, kedua, kita harus membangun kemandirian.

Akhirnya, untuk menguatkan keduanya kita perlu menyiapkan sumber daya manusia yang selain siap tarung, juga tinggi cintanya pada pertiwi yang nasionalismenya tak sebatas melodi. Disinilah momentum kebangkitan kita. Selamat HUT Dirgahayu RI ke-71, Merdeka!

Penulis adalah Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dilema Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia

Dilema Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia

Mau Tahu Isi Pertemuan Anies-Prabowo? Nih Bocoran Analisanya

Mau Tahu Isi Pertemuan Anies-Prabowo? Nih Bocoran Analisanya

Fe-minus

Fe-minus

Merevolusi Paradigma “New Normal” Dalam Perspektif Islam

Merevolusi Paradigma “New Normal” Dalam Perspektif Islam

Miss World: Sebuah Penipuan!

Miss World: Sebuah Penipuan!

Baca Juga

Berita Lainnya