Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Sikap Muslim terhadap Natal dan Tahun Baru [2]

Karyawan muslim menggunakan topi Santa [ilustrasi]
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Sastrawan Tarigan

Perayaan Natal dan Tahun Baru kini menjadi perayaan orang-orang Kristen dan dijadikan ibadah bagi mereka.

Lagi pula, jika ditinjau lebih jauh, Perayaan Natal dan Tahun Baru disemarakkan lebih menjadi lahan bisnis bagi para kapitalis, karena melihat pangsa pasar yang besar. Muslim menjadi salah satu target pasarnya.

Maka bagaimana sikap kita sebagai Muslim? Jika kita ikut melaksanakan perayaan ini ada beberapa implikasi yang akan terjadi.

Pertama, jika ikut-ikutan menggunakan atribut natal dan tahun baru maka kita akan dimasukkan sebagai golongan mereka. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Ahmad)

Kedua, jika kita ikut ibadah dalam ibadah mereka. Seperti berdo’a bersama ataupun ikut dalam perayaannya. Maka kita dilarang untuk mengikuti ibadah mereka. Karena hal itu termasuk kemusyrikan dan termasuk menyekutukan Allah.

Ketiga, jika kita mengucapkan selamat natal. Maka berarti dengan sadar diri kita mengakui bahwa Allah itu punya anak. Dan ini sangat batil dan membuat Allah murka. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” ( QS al-Maidah:73)

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً

dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.” ( QS Maryam:88-91)

Ketika kita mengatakan Selamat Hari Natal, yang artinya selamat atas kelahiran Tuhan. Maka ini adalah perkataan yang bisa menyebabkan kekafiran. Dan khawatirlah kita dengan ini Allah murka terhadap kita. Jangan berdalih dengan toleransi. Toleransi dalam hal kehidupan sosial kita diperbolehkan. Namun toleransi dalam hal ibadah dan akidah kita dilarang. Dengan tegas dikatakan, bagimu agamamuu, bagiku agamaku.

Jika dipaksa menggunakan atribut, beritahu bos kita bahwa hal itu dilarang dalam Islam. Jika tidak bisa juga, laporkan pada pihak yang memiliki wewenang Disnaker atau ke ormas Islam. Jika karena itu dipecat tak masalah, Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Terakhir, marilah kita renungi firman Allah ini,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isra’:36).*

Penulis meninat masalah agama

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Siapa yang Lebih Membahayakan NKRI?

Siapa yang Lebih Membahayakan NKRI?

Benarkah Kartini Pelopor Kebebasan Perempuan?

Benarkah Kartini Pelopor Kebebasan Perempuan?

Air  dan Tanggungjawab Kita di Akhirat

Air dan Tanggungjawab Kita di Akhirat

Teroris: Antara Perspektif Penindas dan Tertindas

Teroris: Antara Perspektif Penindas dan Tertindas

Sudirman, Berlian dan Juru Proklamasi

Sudirman, Berlian dan Juru Proklamasi

Baca Juga

Berita Lainnya