Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Opini

Sikap Muslim terhadap Natal dan Tahun Baru [1]

Karyawan muslim menggunakan topi Santa [ilustrasi]
Bagikan:

Oleh: Sastrawan Tarigan

SETIAP tahun sudah menjadi umum bahwa perayaan natal dan tahun baru senantiasa dilaksanakan, dan sudah menjadi hari libur nasional. Tak ada masalah dengan perkara ini, karena ia merupakan perayaan umat Kristiani. Yang menjadi masalah adalah Muslim ikut-ikutan dalam perayaan tersebut. Bahkan terkadang dipaksa untuk ikut dalam perayaan tersebut.

Sudah menjadi umum ketika menjelang natal di pusat-pusat perbelanjaan banyak kita jumpai pegawainya memakai topi santa claus, tak masalah jika ia Kristen. Namun nyatanya banyak yang ditemukan adalah wanita-wanita yang memakai jilbab yang menggunakan topi santa claus. Ini yang menjadi masalah.

Adapun Santa Claus (Sinterklas) sendiri tidak ditemukan sedikit pun kisahnya dalam Alkitab. Ia berasal dari mitologi Yunani, tentang kisah Dewa Odin yang naik rusa kutub yang mendarat di atas cerobong asap rumah, lalu memberikan hadiah, dan identik dengan memberikan melalui kaos kaki. Hal ini diakui sendiri oleh orang Kristen. Adapun kisah tentang Uskup Santo Nicholas yang ditarik rusa kutub untuk membagi-bagikan hadiah, ini pun hanya mitos. Yang pada intinya bisa ditarik kesimpulan santa claus ini banyak diwarnai mitos dan tidak ada kepastian sumbernya.

Berikutnya tentang perayaan natal itu sendiri, bahwa benarkah hari lahir Yesus itu tanggal 25 Desember? Mari kita lihat apa yang disebutkan Alkitab.

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.

Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud — supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuan, di kota Daud. ( Lukas 2:1-11).

Kalangan Kristen meyakini, Yesus lahir ketika gembala-gembala yang menjaga ternak pada waktu malam. Jika itu terjadi di bulan Desember, maka kondisi kota Betlehem sangat dingin. Maka kemungkinan terjadinya adalah sebelum itu. Ada yang menyebutkan sekitar bulan Oktober. Dan jelas Alkitab tidak memberikan pasti tanggalnya. Jadi soal kelahiran saja masih berselisih.

Pada abad ke 4 lebih tepatnya tahun 325 Masehi, ketika terjadi Konsili Nicea di masa kaisar Konstantin yang beragama pagan. Salah satu hal yang dilakukan ketika itu adalah, mengkristenkan apa-apa yang ada di agama pagan. Salah satunya adalah perayaan 25 Desember yang merupakan hari titik balik matahari pada musim dingin yang biasa dilakukan pemujaan dewa matahari oleh orang-orang pagan.

Pada masa natal juga terdapat berbagai atribut lain, seperti pohon natal dan lain sebagainya. Adapun pohon natal yang biasa dilambangkan dengan pohon cemara yang sisi-sisinya akan digantungkan apel, melambangkan penebusan yang akan datang. Dan untuk pohon sendiri, sudah lama digunakan sebagai bentuk pemujaan di zaman pra-Kristen.

Begitu banyak mitos dan percampuran dengan ritual-ritual kaum pagan yang terjadi dalam perayaan natal ini. Maka tak heran jika tak semua Kristen merayakan perayaan ini. Bagi mereka yang mengetahui hakikat perayaan ini, maka ia tidak merayakan perayaan natal. Karena menurut mereka ini tidak bersumber dari Alkitab.

Selanjutnya bagaimana dengan Tahun baru Masehi? Perayaan memperingati tahun baru telah lama dikenal di dunia, dan berasal dari kaum pagan. Adapun perayaan tahun baru sekarang kemungkinan besarnya berasal dari perayaan yang dilaksanakan oleh Kaisar Julius pada tahun 46 SM, untuk merayakan hari dewa Janus yang dari namanya lah kata bulan Januari diambil. Pada perayaan ini orang berpesta dan melakukan hal-hal yang amoral. Adapun orang-orang Kristen melaksanakan ibadah pada tahun baru, sebagai refleksi rohani mereka. Dengan berdo’a pada malam tahun baru, dan pergi ke gereja pada pagi hari ditanggal 1 Januari atau dihari minggunya.

Dewasa ini, perayaan tahun baru juga tidak jauh-jauh dari itu. Bahwa perayaannya dilaksanakan dengan hura-hura, bahkan tidak sedikit terjadi kasus perzinahan di malam tahun baru. Orang-orang berpesta pora, hanya untuk satu malam. Dan mirisnya banyak di dalamnya adalah Muslim.* (Bersambung)

Penulis meninat masalah agama

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Persatuan Islam Menghadapi Ancaman Asing

Persatuan Islam Menghadapi Ancaman Asing

Covid-19: Ajang Pembuktian Siapa Pemimpin Sesungguhnya

Covid-19: Ajang Pembuktian Siapa Pemimpin Sesungguhnya

Dunia Islam di Bawah Pengaruh China

Dunia Islam di Bawah Pengaruh China

Seperti Bukan Kyai Ma’ruf Saja Wapresnya

Seperti Bukan Kyai Ma’ruf Saja Wapresnya

Pergaulan Remaja Tanpa Batas, Salah Siapa?

Pergaulan Remaja Tanpa Batas, Salah Siapa?

Baca Juga

Berita Lainnya