Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Hijrah dari Krisis Kepemimpinan [2]

ilustrasi
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Ilham Kadir

Inti permasalahan bukan terletak pada kuantitas, melainkan usaha dan kerja keras, orang Romawi bekerjasama dengan masyarakat dan saling memberikan respon. Mereka membantu orang-orang miskin, dan memberikan pertolongan dan perlindungan. Romawi adalah bangsa yang mencari solusi, selalu mengkaji, meneliti, menganalisa, lalu keluar dari petaka dan masalah yang menimpa.

Kelemahan umat Islam dewasa ini adalah ketidakmampuan dalam berinteraksi lalu memberikan pengaruh pada bangsa lain, bahkan untuk bangsa dan negaraa sendiri pun pemimpin tak kuasa memberikan pengaruh pada masyarakatnya, dan pada tahap tertentu, dalam tatanan sosial kemasyarakatan, dan dalam unit terkecil, sebuah kepala keluarga, tak mampu membangun komunikasi dengan anggota keluarganya, bahkan dalam institusi pendidikan, seorang guru sudah kehilangan wibawa dari anak didiknya, dan pemimpin perusahaan kehilangan kepercayaan dari para staf dan karyawannya, bahkan menteri membangkang pada presiden dan wakilnya.

Jadi, pada dasarnya krisis kita adalah kelemahan bahkan ketidakberdayaan dalam memberikan pengaruh dan pembetukan pola pikir, meluruskan nilai-nilai yang rusak lalu menggantikannya dengan nilai-nilai yang benar. Itulah krisis. Padahal, kita memiliki unsur-unsur untuk memberi pengaruh. Kita memiliki kualitas yang banyak, metode, dan juga fitrah, namun hanya seperti buih di lautan, atau eceng gondok di rawa yang tumbuh subur, tak berakar, dan terombang-ambing oleh aliran sungai.

Ketiga. Krisis Kesadaran. Kesadaran akan nilai kepemimpinan dan bahwa kepemimpinan merupakan beban yang berat dan amanah yang dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Umar ibn Khattab berkata, Demi Tuhan! Aku tidak bisa salat dan tidur dengan tenang. Sungguh aku membaca sebuah surah dalam al-Qur’an, namun aku tidak tahu apakah aku ada di awalnya atau di akhirnya, karena kesusahanku memikirkan manusia sejak aku menerima berita ini, yaitu sejak aku memangku jabatan Amirul Mu’minin.

Ketika kesadaran akan nilai sebuah kepemimpinan telah sirna, maka cinta kedudukan dan jabatan serta usaha saling memperebutkannya pun akan menguasai hati manusia, dan berlomba-lomba untuk menjadi penguasa dengan cara apa pun, termasuk curang dan menipu. Hal ini akan berakibat pada hilangnya energi dan potensi dengan sia-sia dalam segala aspek, dan tatanan sosial kemasyarakatan akan rusak dengan lahirnya tipe pemimpin gila kuasa. Maka kita pun seakan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tidak tepat, atau memang orang yang salah pada posisi yang salah, sama dengan mengangkat orang yang jahil dan mengabaikan mereka yang cerdas dan mampu menjadi pemimpin panutan.

Lemahnya mental dalam diri kita adalah bagian dari masalah umat saat ini. Kelemahan dalam mendiagnosa diri sendiri, mengenal identitas kita, hingga tak mampu mengenal Tuhan dengan baik.

Karena itu kita butuh langkah-langkah yang tetap dan terarah untuk keluar dari kisis yang menimpa umat diakibatkan oleh hilangnya karakter pemimpin yang dapat menjadi wakil Tuhan di muka bumi, khalifatullah fil ardhi bukan musuh-musuh Allah yang terdiri dari setan dan iblis (junudu iblis).

Umar ibn al-Khattab selalu meminta perlindungan dengan berdoa, “Ya Allah. Aku berlindung kepada-Mu dari semangatnya orang fasik dan lemahnya orang bertakwa, ada yang bertanya, Apakah Anda yakin bahwa sebuah negara yang makmur bisa hancur? Ya, jika orang-orang jahat menguasai orang-orang baik, ” jawab Umar. (Ibnul Qayyem, al jawab al-kafi liman sa’ala ‘an ad-Dawa’ asy-Syafi’).

Tahun baru Hijriyah ini yang bertepatan dengan 14 Oktober 2015 adalah tahun kepemimpinan sebab rakyat Indonesia akan menghelat pemilihan Kepala Daerah serentak di ratusan kabupaten dan kota.

Kita semua berharap agar dikaruniai pemimpin yang berkarakter Nabi, menegakkan keadilan, membela yang lemah, hukum tak pandang bulu, membangun daerah dan bangsa dengan ilmu bebasis riset dan penuh dengan nilai-nilai ketuhanan. Selamat Tahun Baru Islam 1437 Hijriyah!

Penulis kandidat doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Cerdas Membaca Berita di Zaman Fitnah [1]

Cerdas Membaca Berita di Zaman Fitnah [1]

Myelin, Formula Anti Korupsi Perspektif Islam dan Manajemen

Myelin, Formula Anti Korupsi Perspektif Islam dan Manajemen

Mengapa Syiah  Menggunakan Istilah Takfiri-Wahabi?

Mengapa Syiah Menggunakan Istilah Takfiri-Wahabi?

Membaca Arah Koalisi PKS

Membaca Arah Koalisi PKS

Sejarah Sertifikasi Halal di Indonesia [2]

Sejarah Sertifikasi Halal di Indonesia [2]

Baca Juga

Berita Lainnya