Senin, 29 Maret 2021 / 15 Sya'ban 1442 H

Opini

Cerdas Membaca Berita di Zaman Fitnah [2]

ilustrasi: sydwalker.info
Bagikan:

sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Abu Ilmiah

Sementara itu, Syeikh Munir Muhammad Al-Gadhban dalam bukunya “Al-Manhaj Al-Haraki Lis Sirathin Nabawiyah” menekankan agar umat Islam memiliki perhatian terhadap media informasi karena menurutnya karakter perang dunia dewasa ini adalah perang informasi.

“Masing-masing dari kedua kubu biasanya menghindari konfrontasi bersenjanta secara langsung, tetapi serangan mereka terus berlanjut melalui media massa.”

Lebih lanjut, Al-Gadhban menegaskan bahwa nasihat, ceramah, artikel, kisah-kisah, analisis politik, analisis berita, materi berita, dan mars-mars perjuangan, memiliki peran serius dan penting dalam realitas sekarang ini. Itu belum yang tersaji di radio, televisi, koran, majalah, buku, video, dan online.

Terakhir, penting bagi publik mengetahui apa yang ditulis oleh Deddy Mulyana dalam pengantarnya pada buku karya Eriyanto yang berjudul “Analisis Framing Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media.”

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Pascasarjana Unpad Bandung itu menuliskan, “Melalui penggunaan bahasa sebagai sistem simbol utama, para wartawan mampu menciptakan, memelihara, mengembangkan, dan bahkan meruntuhkan suatu realitas. Maka, ketika menyimak suatu wacana dalam surat kabar atau TV, terkadang kita tanpa sadar digiring oleh definisi kita mengenai realitas sosial atau memperteguh asumsi yang kita miliki sebelumnya.”

Tragedi Mina, jelas telah dijejali opini dan framing oleh mereka yang menyebut media massa. Tidak sedikit media besar bahkan media mainstream menggunakan asumsi-asumsi.

Sementara pembaca dan publik hanya merujuk pada apa yang disajikan media. Bisa jadi ada keteledoran tapi bisa jadi tidak. Faktanya, jika public pernah pergi ke Tanah Haram, usaha pembangunan Dua Tanah Suci terus dilakukan seolah pembangunannya dilaksanakan selama 2 x 24 jam, tanpa henti. Semua dilakukan atas nama memuliakan tamu-tamu Allah.

Buang di Tempat Sampah

Tak sedikit media massa, khususnya para redaktur, menulis di balik meja, tidak tahu peta dan lokasi kejadian. Terutama kalangan penulis/wartawan Barat –selama ia bukan Islam, sampai hari kiamat, mereka tidak akan bakal bisa menginjakkan kakinya di Tanah Haram—maka kecil kemungkinan bisa memotret masalah pengelolaan haji langsung dari tempatnya.

Masalahnya, kritik dan tulisan para penulis /wartawan media Barat ini kemudian diterjemahkan oleh media-media lokal, seolah penulis Barat ini lebih tahu urusan haji, di mana tiap tahun rata-rata 3 sampai 4 juta manusia datang berziarah dari berbagai penjuru duniam, yang butuh perhatian super ekstra ketat.

Selain itu, ritual haji sudah ada sebelum Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ritual yang sudah ada ribuan tahun, tepatnya dipelopori Nabiullah Ibrahim AS.

Seorang blogger yang tinggal di Jogjakarta menulis dengan sangat cerdas. Jika 1 orang jamaah membutuhkan 20 liter air bersih untuk standar minimal MCK di luar zam-zam, maka sehari di Makkah memerlukan sekitar 20 liter x 4 juta orang atau sekitar 80 juta liter air.

Bagaimana menyediakan 80 juta liter air setiap hari untuk keperluan MCK jamaah haji, padahal lembah hijaz dikenal tidak memili sumber air selain zam zam?

Semua sumber air bersih untuk kebutuhan MCK adalah laut merah, yang disuling, itupun harus dialirkan sejauh 60 KM. Namun pernahkah terdengar keluhan jamaah umroh atau haji kekurangan air, atau tandon yang kosong? Bandingkan dengan PDAM macet seperti di negara kita yang dikenal kaya hutan dan air ini?

Bagaimana pula menyediakan 12 juta liter air zamzam setiap hari untuk kebutuhan wudhu dan minum 4 jamaah?

Bahkan untuk BAB, 4 juta manusia, jika seorang jamaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair, jumlahnya diperkirakan mencapai 20 ton (kotoran padat) dan 40 ton (kotoran cair). Namun selama puluhan tahun penyelenggaraan haji, tidak kita dengah ada penyakit akibat sanitasi yang mampet atau masalah MCK bermasalah.

Jika pernah ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, pemerintah Saudi membagi 3 shift tenaga pembersih agar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap bersih dan nyaman. Bahkan banyak petugasnya berasal dari Sukabumi, kita bisa mengajak ngobrol soal ini jika dimudahkan ke Tanah Suci.

Bahkan yang mengejutkan, beberapa hari ini muncul tokoh-tokoh liberal yang dikenal anti Arab, anti gerakan Islam, tiba-tiba mengusulkan pengelolaan haji. Jika tidak jeli memilih, kita bisa tertipu nasehat-nasehat ‘busuk’ yang dibungkus retorika.

Kadang, yang menjadi masalah justru kita sendiri. Dua kali kasus kebakaran hotel tempat jamaah haji di Indonesia, dimungkinkan karena keteledoran jamaah haji kita sendiri. Banyak kebiasaan-kebiasaan buruk di Tanah Air dibawa ke negeri orang.

Kasus pertama kebakaran yang terjadi di pemondokan jemaah haji Indonesia, tepatnya di pemondokan 502 di Hotel Gawhara Taljawar di kawasan Raudhah, Kota Makkah, Arab Saudi. Kedua, kebakaran di sebuah kamar di Hotel Sakkab Al Barakah, Aziziah, Mekah. Kebakaran terjadi akibat penghuni kamar lupa mematikan penanak nasi (rice cooker) ketika berangkat umrah, sehingga api menghanguskan seluruh isi kamar 801 Lantai 8 Pemondokan 403 itu. Ini menandakan banyak hak harus dibenahin dari kita sendiri, umat kita.

Tanpa bermaksud membela, secara profesional, urusan haji pasti Arab Saudi lebih baik dan lebih paham dibanding kita. Karena mereka sudah melewati pengalaman ini ribuan tahun. Jika ada orang mengajak, mengarahkan –seolah-olah—dengan kita kelola bersama itu lebih baik, mungkin usulan yang bisa kita dengarkan, tetapi bukan berarti baik atau benar.

Sebagai penutup, ada tiga cara kita memperlakukan media masa. Pertama, jadikan media sebagai sekedar informasi. Kedua, sebagai informasi sekaligus rujukan.

Untuk yang pertama, Anda bisa menggunakan logika dan akal Anda lebih cerdas jika ada hal yang tidak masuk akal dan perlu dipertanyakan. Untuk media model pertama ini jumlahnya ribuan –bahkan dipelopori media-media besar—dia hanya cukup masuk kepala, jangan boleh masuk dihati.

Untuk media kedua, Anda bisa memilih media yang memberikan informasi, yang mengabarkan dan menulis secara adil, berdasarkan kebenaran Al-Quran dan Sunnah. Yang ini boleh jadi rujukan dan panduan.

Selain itu, Anda boleh saja membuangnya di tempat sampah.*

Penulis adalah pelanggan media-media Islam

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sexual Consent; Bertentangan dengan Nilai Indonesia

Sexual Consent; Bertentangan dengan Nilai Indonesia

Prof. Mahfud MD, dan Kerancuan Berpikir Bukan Definisi Al-Ghazali

Prof. Mahfud MD, dan Kerancuan Berpikir Bukan Definisi Al-Ghazali

Menelusuri Pemikiran Orientalis

Menelusuri Pemikiran Orientalis

10 Catatan untuk Menteri Agama

10 Catatan untuk Menteri Agama

Kontes Miss World: Aroma Bisnis Berkedok Wisata

Kontes Miss World: Aroma Bisnis Berkedok Wisata

Baca Juga

Berita Lainnya