Sabtu, 25 September 2021 / 17 Safar 1443 H

Opini

Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan

Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya
Bagikan:

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

SALAH satu produk dari sekularisasi pemikiran adalah pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu pengetahuan tidak dikaitkan dengan agama. Agama tidak mendapatkan tempat dalam proses pengetahuan. Akibatnya adalah, agama tidak menjadi parameter untuk mengukur benar dan salahnya suatu pengetahuan. Inilah salah satu wujud liberalisasi pemikiran.

Liberalisasi pemikiran dan agama cenderung menggiring kepada penistaan dan desakralisasi agama. Sebab, sekularisasi membenci ajaran agama. Seseorang yang membenci agama hatinya terkotori oleh hawa nafsu dan jauh dari Allah. Bentuk-bentuk penghujatan itu bervariasi, mulai menghujat al-Qur’an hingga melegalkan perkawinan sejenis. Jika diamati, penistaan-penistaan terhadap ajaran Islam lebih terkesan emosional, mengumbar nafsu kebencian daripada kesan akademik dan intelek.

Banyak di antara hujatan aktivis liberal yang telah terekam media. Ada yang pernah mengatakan bahwa al-Qur’an telah mengalami copy-editing yang dilakukan sahabat. Wujud al-Qur’an bukan murni kalamullah. Seorang aktivis menulis bahwa Islam adalah ajaran oplosan, campuran berbagai ajaran agama-agama. Ada cendekiawan muda yang menista keagungan Allah sambil mengatakan “Memuja matahari itu jauh lebih penting dari memuja selainnya. Dia selalu memberi kita pagi yang indah ini”.

Jadi, Liberalisasi dan sekularisasi sesungguhnya tidak menididik intelektual kaum Muslim, tapi membuka kran pemikiran yang tidak bermoral. Problemnya kembali kepada hati dan pikiran yang tidak bersih dari konsep-konsep pemikiran asing. Karena mereka berdiri menentang hukum Allah. Kadangkala umat Islam tidak tersadar mendukung kampanye sekularisasi. Oleh sebab itu, hati dan pemikiran yang sekular harus diobati dengan membersihkan dari hawa nafsu, untuk lebih dekat kepada Allah.

Bulan suci Ramadlan merupakan momentum tepat untuk membersihkan virus-virus pemikiran. Ramadlan merupakan ‘madrasah’ untuk membersihkan hati manusia dan membakar (ramadl) kotoran dosa dan nafsu. Ia juga disebut bulan ilmu. Di bulan suci ini Allah subhanahu wa ta’ala  untuk pertama kali menyeru manusia untuk membaca (iqra’) melalui ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam. Pembersihan hati diproses melalui aktifitas keilmuan.

Bulan ini layaknya madrasah yang dipersiapkan untuk mencetak individu-individu beradab (insan adabi). Suasana bulan suci dengan semarah ibadah dan mengaji sangat mendukung untuk melakukan proses islamisasi pemikiran. Masyarakat muslim biasanya lebih taat ibadah pada bulan ini. Kemaksiatan juga relatif berkurang. Oleh karena itu, aktifitas ini melibatkan pemikiran sekaligus hati. Karena dalam Islam, ilmu harus dikaitkan dengan iman. Proses pembersihan ini dapat disebut ‘Islamisasi’. Islamisasi adalah pembebasan jiwa dan pikiran manusia dari unsur kebudayaan dan ajaran yang berlawanan dengan Islam.

Jiwa yang Islami menurut Syed Naquib al-Attas adalah jiwa yang akal dan bahasanya tidak terkungkung oleh mitos, animisme dan budaya sekularisme. Setelah dilakukan pembersihan terhadap unsur asing itu, maka jiwa dan pikiran dimasuki unsur-unsur Islam. Mengembalikan hati untuk kembali beriman, membersihkan pemikiran untuk patuh kepada syariat Allah. Di bulan Ramadlan, umat Islam dilatih melawan hafwa nafsu. Terutama nafsu yang menentang hukum Allah.

Islamisasi pemikiran berarti memperbaiki iman. Ilmu yang dimiliki seorang Muslim harus berdimensi iman. Mindset pemikiran harus ditimbang dengan keyakinan asas dalam Islam, seperti faham tentang Allah, konsep manusia, konsep hidup, konsep jiwa dan faham-faham kunci lainnya. Karena berdimensi iman, maka epistemologi Islam selalu bertaut dengan teologi secara dinamis.

Problem-problem pemikiran seperti maraknya ideologi pluralisme, feminisme, relativisme, sekularisme, dan lain-lain merupakan problem keyakinan. Keyakinan dan hati yang rusak tidak mampu mengontrol pemikiran dan prilakuknya untuk menentang hukum Allah.

Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Dengan demikian, langkah mengislamkan pemikiran yang pertama-tama perlu dilakukan adalah dengan mengikuti petunjuk riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu) seperti yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin. Keyakinan-keyakinan materialistik dalam hati harus dibersihkan. Sebab, hati dan pikiran itu mengontrol dan membentuk perilaku. Beradab atau bi-adabnya perilaku dipengaruhi oleh bersih dan kotornya jiwa.

Jadi, Ramadlan adalah ‘madrasah’ untuk mengislamkan jiwa dan pikiran. Jiwa dan pikiran yang Islami,  yaitu yang bersih, selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai Islam dan kebenaran.

Ramadlan sengaja menjadi tempat untuk mencetak jiwa-jiwa Islami, bukan jiwa yang sekular. Perbanyaklah ibadah, sering-seringlah mengikuti kajian ilmu. Sekali-kali jangan beri kesempatan nafsu untuk menguasai jiwa selama bulan puasa. Jika seusai Ramadlan jiwa kita tetap sekular, maka kita gagal beribadah puasa Ramadlan. Maka, siapkanlah diri sejak sekarang.*

Penulis adalah Pengurus MIUMI Jatim

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Islam, Pancasila, dan Gerakan Dakwah

Islam, Pancasila, dan Gerakan Dakwah

Belajar dari Pemimpin Besar

Belajar dari Pemimpin Besar

Sidang Offline Akhirnya

Sidang Offline Akhirnya

Myelin, Formula Anti Korupsi Perspektif Islam dan Manajemen

Myelin, Formula Anti Korupsi Perspektif Islam dan Manajemen

Keuangan Syariah: Alternatif Kestabilan Ekonomi Masyarakat di Saat Pandemi 

Keuangan Syariah: Alternatif Kestabilan Ekonomi Masyarakat di Saat Pandemi 

Baca Juga

Berita Lainnya