Ahad, 24 Oktober 2021 / 17 Rabiul Awwal 1443 H

Opini

‘Islamisasi’ dan ‘Arabisasi’ Nama di Jawa

Fakta banyak orang Jawa menamai anaknya dengan nama Arab menunjukkan Islamisasi dan Arabisasi memang berjalin berkelindan satu sama lain, mustahil dipisah
Bagikan:

Oleh: Adif Fahrizal

HARI Jum’at 29 Mei 2015 lalu, bertempat di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, berlangsung sebuah diskusi yang mengambil tema “Islamization in Java. Contemporary Etnographic and Quantitative Data on Arabic Names”.

Diskusi ini diawali dengan presentasi hasil penelitian kuantitatif oleh Joel C. Kuipers antropolog asal Universitas George Washington Amerika Serikat. Dalam presentasi ini Kuipers memaparkan hasil penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun tentang nama-nama berbahasa Arab di kalangan masyarakat Jawa. Dari penelitiannya ini banyak fakta menarik yang berhasil digali.

Nama sebagai Penanda

Penelitian mengenai nama ini dilakukan dalam rangka memahami proses Islamisasi yang berlangsung di tengah masyarakat Jawa selama satu abad terakhir. Mengapa nama menjadi obyek penelitian? Dan apa kaitan antara nama berbahasa Arab dengan Islamisasi?

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa perubahan atau pergeseran dalam hal pemberian nama sesungguhnya bisa mencerminkan perubahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Dalam kaitannya dengan Islamisasi, diasumsikan bahwa semakin meningkatnya pengaruh Islam di tengah masyarakat Jawa bisa dilihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan nama-nama Arab.

Mengapa demikian? Dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim di Jawa bahasa Arab erat kaitannya dengan aktivitas ibadah, bahasa Arab juga merupakan bahasa Al Qur`an. Dengan demikian menyandang nama yang diambil dari bahasa Arab identik dengan -setidaknya harapan- menjadi Muslim yang taat.

Nama-nama Arab di Tiga Daerah Jawa

Untuk mengeksplorasi penggunaan nama Arab di Jawa, Kuipers dibantu asistennya yang terdiri dari para peneliti lokal mengumpulkan data nama yang tercatat dalam database kependudukan di tiga daerah di Jawa yaitu Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta), Lamongan, dan Lumajang (keduanya di Jawa Timur). Ketiga daerah itu dipilih sebagai sampel untuk mewakili tiga area kebudayaan Jawa yaitu Mataraman (Bantul), Pasisiran (Lamongan), dan Brang Wetan (Lumajang).

Kuipers beserta timnya mengumpulkan data nama yang tercatat dalam kurun waktu satu abad lebih yaitu dari tahun 1900-2010. Tim Kuipers lalu mengklasifikasikan nama-nama yang diperoleh ke dalam enam kategori yaitu nama Jawa murni, nama Arab murni, nama Barat murni, nama Jawa campuran, nama Arab campuran, dan nama Barat campuran.

Berdasarkan data-data yang telah diklasifikasikan tersebut dapat dianalisis bagaimana pergeseran yang terjadi dalam pola pemberian nama di kalangan masyarakat di ketiga daerah itu selama satu abad terakhir.

Hasilnya, Kuipers menemukan fenomena yang sama di ketiga daerah yang diteliti yaitu semakin berkurangnya penggunaan nama-nama Jawa murni dan meningkatnya penggunaan nama-nama Arab -baik nama Arab murni maupun campuran- dari masa ke masa.

Di Bantul yang mewakili daerah Mataraman ditemukan bahwa sampai dekade 1980-an nama-nama Jawa murni masih mendominasi, sebaliknya nama-nama Arab murni hanya sedikit jumlahnya. Namun memasuki dekade 1980-an sampai 2000-an nama-nama Arab murni semakin banyak ditemukan sementara nama-nama Arab campuran -dengan nama Jawa, Barat, atau keduanya- perlahan-lahan menjadi nama yang paling banyak ditemukan pada periode tersebut. Sementara itu di Lamongan dan Lumajang nama-nama Arab -murni dan campuran- sudah banyak ditemukan sejak awal abad lalu, melebihi nama-nama Jawa murni.

Memasuki dasawarsa 1990-an-2000-an nama-nama Arab semakin jamak ditemukan di kedua daerah ini sedangkan nama-nama Jawa murni hanya tinggal sedikit sekali. Satu hal yang menarik bahwa di ketiga daerah yang diteliti nama-nama khas Jawa dengan awalan “Su-” (seperti Sumarno, Sunarto (untuk laki-laki) atau Sumarni dan Sunarti (untuk perempuan)) sudah hilang sama sekali pada dekade 2000-an. Padahal di Bantul pada dasawarsa 1950-an-1970-an nama-nama berawalan “Su-” sangat jamak ditemukan bahkan boleh dibilang menjadi nama yang dominan. Sebaliknya nama “Muhammad” semakin lazim dijumpai di ketiga daerah itu pada dekade 1980-an-2000-an.

Temuan lain dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan standarisasi nama yang digunakan. Nama “Muhammad” misalnya, pada dasawarsa 1980-an-1990-an makin banyak ditulis dengan ejaan “Muhammad” sementara pada periode-periode sebelumnya ada sejumlah variasi dari nama “Muhammad” antara lain “Mohammad”, “Mochammad”, “Mohamad”, “Mochamad”, “Mochamat”, atau disingkat “Moch.”, “Moh.”, dan “Much.”.

Demikian pula dengan nama “Aisyah”, pada akhir abad ke-20 dan awal abad ini semakin banyak ditulis dengan “Aisyah” atau bahkan “A’isyah” sementara makin mundur ke belakang penulisan nama “Aisyah” lebih bervariasi antara lain “Aisah”, “Ngaisah”, atau bahkan tertukar dengan “Asiyah”.

Di sisi lain ada pula kecenderungan meningkatnya hibridisasi nama Arab, yaitu pencampuran nama Arab dengan nama Jawa atau -dalam kuantitas yang lebih rendah- Barat atau campuran ketiganya (Arab, Jawa, dan Barat) di ketiga daerah dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Perlu pula dicatat bahwa sepanjang periode yang diteliti nama-nama Barat di tiga daerah tersebut selalu sangat jarang ditemukan.* (Bersambung)

Penulis adalah mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gajah Mada

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Jokowi, Koalisi Rakyat atau Koalisi Asing?

Jokowi, Koalisi Rakyat atau Koalisi Asing?

Menggugat Peringatan Hari Kartini

Menggugat Peringatan Hari Kartini

Di Balik Kerusuhan Ciketing

Di Balik Kerusuhan Ciketing

Tinggalkan Tahun Baru-an, Cukuplah Islam sebagai Kebanggaan!

Tinggalkan Tahun Baru-an, Cukuplah Islam sebagai Kebanggaan!

Kejanggalan-kejanggalan dalam Kasus Terorisme

Kejanggalan-kejanggalan dalam Kasus Terorisme

Baca Juga

Berita Lainnya