Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Mujahidin Dalam Konflik Suriah

Bagikan:

Oleh: Muhammad Zulfikar Rakhmat

HINGGA hari ini, ribuan penduduk Suriah masih merasakan penderitaan berkepanjangan akibat agresi militer yang dilakukan oleh bala tentara presiden Bashar al Assad.

Ratusan penduduk terbunuh setiap harinya dan banyak diantara mereka mengalami siksaan dan tindakan kekerasan serta kelaparan. Bagaimanapun juga, menyaksikan wanita dan anak-anak kecil menggeliat kesakitan dan mati di rumah sakit sungguh sangat bertentangan dengan hati nurani dan prinsip kemanusiaan.

Namun faktanya, banyak yang tidak peduli dengan konflik dan penderitaan yang dialami masyarakat Suriah. Penderitaan mereka tampaknya belum cukup mampu mendorong China, Rusia, ataupun Amerika Serikat untuk menghentikan Assad melakukan agresi militer terhadap rakyat Suriah. Ini adalah kenyataan pahit yang diterima oleh rakyat di sana.

Negara-negara Barat memang telah melakukan intervensi terhadap Suriah. Namun demikian, intervensi itu lebih dilakukan karena berkembangnya ISIS dan beredarnya video-video ISIS memenggal dan membakar beberapa orang Amerika, Inggris, dan Yordania.

Pemerintah-pemerintah Barat hanya terfokus pada ISIS tetapi mengabaikan fakta dan kenyataan bahwah sebenarnya rezim Assad-lah yang menjadi sumber konflik utama konflik Suriah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua masyarakat dunia hanya terfokus pada aksi Negara Barat memerangi tindakan brutal yang diduga dilakukan ISIS, namun mengabaikan peran para mujahidin dalam konflik Suriah.

Faktanya, para mujahidin diketahui telah membersihkan petak besar wilayah kekuasaan Assad. Di beberapa wilayah yang telah diduduki para mujahidin, penduduk beragama Kristen justru mendapat perlindungan yang baik. Tidak pernah terdengar ada hukuman yang dilakukan para mujahidin bagi wanita-wanita yang tidak menutup wajah mereka, dan juga tidak ada laporan sama sekali bahwa kelompok-kelompok minoritas dipaksa untuk meninggalkan wilayah-wilayah tersebut.

Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa bantuan pokok terhadap konflik Suriah didistribusikan secara merata kepada masyarakat yang membutuhkan. Para mujahidin baik lokal maupun asing berdiri di garis depan untuk melindungi penduduk sipil dari serangan tentara Assad.

Akan tetapi, mengapa cerita-cerita para mujahidin ini tidak diliput oleh awak media sebagaimana liputan yang dilakukan terhadap kelompok ISIS?

Jawabannya sangat sederhana. Tindakan para mujahidin ini tidak sesuai dengan narasi yang diinginkan oleh para negara-negara Barat.

Kelompok-kelompok mujahidin sangat tidak disukai oleh negara-negara Barat. Sejauh ini tidak ada bukti atau bahkan sangkaan bahwa mereka telah berpartisipasi dalam serangan atau sekedar berencana untuk melakukan serangan diluar konflik Suriah.

Dalam konteks mujahidin asing yang datang ke Suriah untuk menyelamatkan kaum sipil dari kekejaman presiden Assad, mereka sering ditampilkan sera negatif oleh awak media karena menyadari bahwa pertemuan besar para politikus barat dan tokoh-tokoh politik Suriah di hotel berbintang tidak akan membawa hasil apa-apa.

Mereka menyadari bahwa hanya peluru dan senjata yang mampu mendorong pasukan Assad dari wilayah utara Suriah, bukan para diplomat-diplomat Barat.

Kondisi ini persis sama dengan apa yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994. Walaupun beberapa negara di dunia telah melakukan upaya diplomatik untuk meredam genosida di Rwanda, kelompok Hutu terus saja melakukan pembantain hampir satu juta rakyat sipil Rwanda.

Di Rwanda, tidak ada satupun kekuatan militer yang mampu menghentikannya. Saya yakin, jika saat itu muncul kelompok yang mau menghentikan konflik disana layaknya kalangan mujahidin di Suriah seperti sekarang ini,  kelompok itu pasti akan diterima oleh masyarakat Rwanda.

Di satu sisi, fakta bahwa jika ada dari mujahidin ini telah melakukan tindakan kekerasan di Suriah memang sulit untuk ditolak. Namun logikanya, bukankan dari 100.000 orang pasti ada saja yang bertindak di luar kebijakan kelompok tersebut?

Penting untuk dicatat, kekerasan itu dilakukan atas tindakan perorangan, bukan atas dasar kebijakan kelompok.

Di sisi lain, jika kita berkaca pada tindakan yang dilakukan oleh ISIS, kekejaman itu merupakan bagian dari kebijakan kelompok ISIS.  Hal ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh para mujahidin dari kelompok-kelompok lain.

Kebijakan mereka sangat jelas, berada pada baris terdepan untuk mencapai objektif utama dari konflik Surah: menghapus rezim Assad dari Damaskus. Untuk mencapai tujuan ini, bahkan banyak dari mujahidin asing yang tidak peduli jika negara asal mereka memberikan sanksi atas keputusan mereka berperang di Suriah.

Saya memahami banyak pihak yang menuding bahwa para mujahidin tengah berjuang untuk berdirinya sebuah sistem politik yang tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi.

Kritik pun seharusnya juga dialamatkan pemerintahan Assad yang menganggap dirinya demokratis tetapi gagal melindungi hak-hak rakyat Suriah dan malah dengan tenangnya menyaksikan ratusan ribu dari mereka terbunuh sia-sia.

Bahkan Rusia, yang dianggap sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip demokrasi, justru memasok bom dan senjata kepada rezim Assad yang kemudian digunakan untuk menghabisi rakyat Suriah. Tidak hanya itu, China, yang juga dianggap sebagai negara demokrasi kedua terbesar di dunia diketahui telah memberikan dukungan politik kepada pemerintahan Assad.

Dalam pidato pengukuhannya tahun kemarin, Assad bahkan menyebut China sebagai salah satu partner strategis bagi stabilitas pemerintahan di Suriah.

Kemudian PBB, institusi internasional yang seharusnya menjadi pejuang demokrasi, justru menjadi organisasi yang sama sekali tidak demokratis di konflik Suriah. Negara-negara adidaya termasuk Amerika, Inggris, Prancis, China, dan Rusia memiliki hak veto terhadap segala resolusi yang diambil terhadap konflik Suriah. Andaikan pun mayoritas negara di dunia mendukung intervensi militer PBB di Suriah, dapat dipastikan beberapa negara ini akan mengguunakan hak veto nya, dapat dipastikan langkah itu akan menghadapi jalan buntu.

Bagaimanapun juga, Moskow memiliki kepentika geopolitik yang strategis di Suriah, terutama satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur Tengah yang terletak di Suriah. Sehingga, satu-satunya pihak yang dirugikan dari kepentingan negara asing di Suriah adalah masyarakat Suriah itu sendiri.

Meskipun media masa membicarakan secara negatif tentang para mujahidin, tetapi faktanya bagi masyarakat Suriah, para mujahidin adalah pahlawan.

Alasannya jelas, karena belum ada pahlawan-pahlawan lain yang datang untuk membantu para penduduk Suriah selain para mujahidin. Kenyataan ini seharusnya membuka mata kita semua, tentang siapa dalang dibalik konflik Suriah.*

Penulis adalah lulusan Universitas Qatar yang kini merupakan pelajar dan peneliti di Inggris

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Edukasi Reproduksi Berbasis Keimanan Tangkal Pemerkosaan

Edukasi Reproduksi Berbasis Keimanan Tangkal Pemerkosaan

Bersedekah di Malam Hari

Bersedekah di Malam Hari

Pilihan Anak Muda pada Anies Baswedan Sebagai Presiden, Tidaklah Mengejutkan

Pilihan Anak Muda pada Anies Baswedan Sebagai Presiden, Tidaklah Mengejutkan

Liberalisasi Islam dan Agenda Global Barat

Liberalisasi Islam dan Agenda Global Barat

Perlukah Kita dengan New Normal?

Perlukah Kita dengan New Normal?

Baca Juga

Berita Lainnya