Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Opini

Menerka Tangan Gaib di Balik Serangan pada Charlie Hebdo (1)

Adakah keterlibatan intelijen, termasuk CIA, dalam serangan terhadap Charlie Hebdo?
Bagikan:

VERSI resmi yang diterima oleh banyak orang dan disebarkan merata ke seluruh dunia adalah serangan terhadap Charlie Hebdo dilakukan oleh teroris Islam (?) karena kemarahan terhadap ulah majalah mingguan satir tersebut yang memperolok Islam dan Nabi Muhammad SAW. Versi ini lantas diterima sebagai kebenaran, maka kemudian Islam dilihat sebagai sesuatu yang jelek dan memicu Islamophobia.

Tapi tunggu dulu! Perlu kita mencoba melihat hal ini dari aspek, hal, dan sudut lain.

Kalau kita lihat, insiden serangan terhadap kantor Charlie Hebdo sebenarnya memperlihatkan lebih banyak karateristik ” false flag operation” (operasi rekayasa). Kita meyakini serangan terhadap kantor majalah satir itu dilakukan oleh penyerang profesional dan berdisiplin tinggi, yang lazimnya terkait dengan pasukan khusus yang sangat terlatih; sementara tersangka yang dituduhkan, diduga, dan dibunuh, lebih tampak tidak profesional dan tidak terlatih.

Jadi peristiwa dalam serangan ini menampakkan dua pelaku yang berbeda. Boleh jadi serangan itu dilakukan oleh manusia lain yang sangat profesional dan terlatih, tetapi kemudian lepas bebas. Sedang yang ditangkap dan dibunuh sekadar kambing hitam yang tidak tahu apa pun yang terjadi.

Apakah kita masih percaya bahwa pihak Muslim yang melakukannya? Seorang pengamat, Dr Paul Craig Robert menjelaskan, jika penyerangnya kelompok Muslim, mereka akan bersedia mati saat melakukan sesuatu serangan; tetapi dua profesional yang menyerang Charlie Hebdo berusaha melarikan diri dan mereka berhasil. Lebih hebat lagi identitas “penyerang atau kemudian dikatakan sebagai teroris” diketahui melalui identitas pribadi yang tercecer di dalam mobil saat digunakan melarikan diri.

Tindakan identitas pribadi yang tercecer ini tidak konsisten dengan tingkat profesionalisme serangan yang dilancarkannya. Ia mengingatkan kepada alibi paspor yang ditemukan tidak musnah secara ajaib (!) dalam reruntuhan dua menara WTC saat serangan 11 September 2001. Temuan itu yang kemudian dipakai untuk mengungkap identitas penyerang 9/11.

Begitu pula dalam kasus serangan Paris tersebut. Kesimpulan yang diterima, identitas diri yang tertinggal di dalam mobil yang digunakan untuk melarikan diri adalah milik dua bersaudara Kouachi. Kemudian polisi menyatakan, keduanya telah tertembak mati, dan tidak ada informasi lebih lanjut tentang mereka. Sementara siapa “penyerang profesional”nya telah dilupakan.

Ada persoalan di sini, bagaimana dua bersaudara yang tidak memiliki latar belakang agama kuat dapat menjadi ekstremis dan melancarkan serangan. Apa bisa diterima, dua bersaudara yang dibesarkan di panti asuhan milik pemerintah di kota Rennes menjadi teroris dan dibunuh? Apakah tidak lebih sekadar sebagai kambing hitam!

Fakta penting yang mendukung kesimpulan ini adalah laporan mengenai tersangka pelaku serangan ketiga, Hamyd Mourad, yang diduga sebagai pengemudi mobil ke dua bersaudara tersebut. Tatkala mengetahui namanya tersebar di media sosial, pemuda ini kemudian menyerahkan diri kepada aparat keamanan. Tetapi kemudian ia pun dibunuh dengan alasan seorang teroris.

Boleh jadi pemuda malang ini ada alibi kokoh tidak terlibat dalam serangan. Maka ia bisa menjadi perusak versi resmi “serangan rekayasa” ini. Jika ia tetap dibiarkan hidup, pemerintah akan terpaksa menjawab keliru terhadap tuduhan kepada Hamyd, tetapi betul untuk tuduhan kepada dua bersaudara Kouachi. Alternatif lainnya, Hamyd dapat dipaksa membuat pengakuan yang mendukung cerita resmi.

Media-media Amerika dan Eropa pun telah mengabaikan fakta terhadap pemuda berusia 18 tahun yang telah menyerah diri ini. Media hanya menyebut, pemuda itu ditembak mati karena dugaan sebagai teroris. Kalau toh ada yang memberitakan anak muda ini menyerahkan diri, tetapi alasan menyerahkan diri tidak pernah disebutkan. Laporan yang ada hanyalah menyatakan, ia merupakan tersangka ketiga serangan atas Charlie Hebdo. Tidak ada media utama di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa “tersangka ketiga” ini menyerahkan diri karena punya alasan kuat tidak tersangkut. Berita media AS sekadar menjadi judul berita tanpa isi.*

Ditulis oleh Iman Hakim, dimuat pada laman FMT News. Sebagian tulisan diedit untuk penyesuaian kebahasaan.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Tiga Tahun Tragedi Mavi Marmara – Freedom Flotilla (2)

Tiga Tahun Tragedi Mavi Marmara – Freedom Flotilla (2)

Muhammadiyah dan Gerakan TBC

Muhammadiyah dan Gerakan TBC

Memilih Guru Tepat Agar Tidak Ikut Aliran Sesat [2]

Memilih Guru Tepat Agar Tidak Ikut Aliran Sesat [2]

Pancasila dan Penistaan Agama

Pancasila dan Penistaan Agama

Ujaran dan Peradaban

Ujaran dan Peradaban

Baca Juga

Berita Lainnya