Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Hijrah pada Media Bertauhid

sydwalker.info
ilustrasi: Begini cara media Barat memandang Islam
Bagikan:

Oleh: Mochamad Fauzie

SEMUA yang berinteraksi dengan kita adalah sumber-sumber belajar. Ia bisa latar, orang (guru, teman, komunitas), buku, media massa, dan lain-lain.

Sumber-sumber belajar ini secara terstruktur atau tidak terstruktur akan membuat kita belajar. Belajar itu sendiri adalah proses perubahan tingkah-laku, sehingga terdapat korelasi yang signifikan antara pencapaian belajar dengan perilaku seseorang. Oleh sebab itu, belajar merupakan satuan-satuan kegiatan dalam sebuah kerangka besar yang disebut pendidikan, yang pengertiannya adalah: segala usaha untuk membentuk atau mengembangkan kepribadian yang meliputi aspek kognisi (pengetahuan). aspek psikomotor (unjuk kerja) dan afeksi (sikap; perilaku).

Bagaimana kepribadian seseorang itu terbentuk, sangat ditentukan oleh ‘teman-teman’ atau ‘wali-wali’ atau sumber-sumber belajar yang berinteraksi dengannya. Sumber belajar ini dapat dipilih, didesain atau dimanfaatkan untuk membelajarkan secara terarah, terkontrol, bahkan terukur, baik oleh si belajar atau pihak lain.

Membiarkan sumber-sumber belajar datang ke dalam hidup kita dan menggaulinya tanpa seleksi adalah tindakan jahil (tanpa pengetahuan), yang menyelisihi perintah Allah untuk memilih teman/wali. Itu sama saja menjadikan diri kita minimal keranjang sampah, dan lebih celaka dari itu: ‘kelinci percobaan’ dari pihak-pihak yang berusaha menggamangkan kita, bahkan memalingkan, dari tauhid.

Maka sekali lagi menjadi penting untuk setiap kali mencermati, mengevaluasi dan mengkalibrasi segenap sumber-sumber belajar kita, apakah mereka sebangun dan sejalan dengan tauhid atau tidak. Sekali lagi, di antara sumber belajar dengan kekuatan dahsyat hari ini, yang memungkinkan memasuki rumah dan kamar-kamar anggota keluarga kita adalah: Media massa.

Media dan tahuid

Akhir-akhir kita saksikan betapa media massa (baik TV/koran/majalah/online) begitu seronok menampakkan keberpihakan pada kebathilan. Baik terhadap institusi atau penokohan seseorang.

Bahkan banyak orang terpengaruh tipu daya media, hingga mengabaikan pandangan dan pesan-pesan para ulama negeri ini.

Seorang tokoh Muslim kulit hitam Amerika (Afro-Amerika) Malcolm X pernah berkata: “Media adalah entitas yang paling kuat di bumi. Mereka memiliki kekuatan untuk membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah, dan membuat yang bersalah menjadi tidak bersalah, dan itu adalah kekuasaan. Karena mereka mengendalikan pikiran massa.”

Begitulah, media massa bukan pabrik sandal atau panci yang tidak ada urusan langsung dengan pemikiran. Media adalah pabrik kata-kata; pabrik opini, ia berurusan dengan bagaimana mengkonstruk opini dan sikap publik.

Melanggan media massa tertentu bermakna kita memberi amanah kepada media yang bersangkutan untuk menyampaikan khabar dan nasihat (opini) kepada kita dan anggota keluarga kita.

Pertanyaannya adalah, dalam perspektif atau worldview apakah media itu menyusun khabar dan opini? Maka menjadi penting untuk mengetahui benar berbagai seluk-beluk yang menunjukkan siapa media massa tersebut: basis histori (bagaiman riwayat pendiriannya), basis teologi dan ideologinya, basis massa, basis modal dan, yang tidak kalah penting, rekam jejak media massa tersebut terhadap Islam/muslim – adakah ia secara latent cenderung mencuri kesempatan untuk mendiskreditkan atau menyerang Islam/Muslim?

Melihat tanda-tanda seperti ini sebenarnya sangat mudah dan cukup bisa dibedakan.

Jika sebangun dan sejalan dengan tauhid dan orang-orang yang bertauhid, tambahan lagi rekam jejaknya baik kepada Islam/muslim, maka ambillah, bahkan makmurkanlah media tersebut.

Tetapi jika sebaliknya, jangan ragu untuk mengeliminasinya dari area belajar kita, sekalipun ia tampak mempesona/menakjubkan, memberi citra status sosial atau intelektualitas tinggi yang sejatinya fatamorgana belaka. Bahkan jika Anda terlanjur bekerja di dalamnya, berpikirlah untuk hijrah. Apakah patut kita berada di ‘kapal perang’ yang ‘misil-misilnya’ menghantam saudara muslim? Apakah pantas kita mengais kemuliaan di sisi media yang penanya berlumuran airmata dan darah saudara Muslim?

Belum lagi kerusakan kepribadian yang tanpa kita sadari menimpa kita dan keluarga atas penetrasi perspektif syirik mereka dari waktu ke waktu sehingga menjadikan kita pribadi yang keras hati dan ngeyelan terhadap perintah dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi, Anda tidak perlu melakukan pengembaraan intelektual yang melelahkan untuk sampai pada kesimpulan yang terlambat di bibir liang lahat, bahwa media itu berpihak.*

Penulis adalah sarjana pendidikan dan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Orang Minangkabau Lebih Sadar Beragama

Orang Minangkabau Lebih Sadar Beragama

Mengenang Jasa Pahlawan atau Meneladaninya?

Mengenang Jasa Pahlawan atau Meneladaninya?

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Melacak Pluralisme Agama

Melacak Pluralisme Agama

Amerika dan “Kelinci Percobaan” di Timur Tengah

Amerika dan “Kelinci Percobaan” di Timur Tengah

Baca Juga

Berita Lainnya