Kamis, 21 Oktober 2021 / 15 Rabiul Awwal 1443 H

Opini

Karena Muslimah lebih Mulia dari Sebatang Coklat

ANT
[Ilustrasi] Para Muslimah menolak acara Valentine's Day
Bagikan:

Oleh: Khairul Huda

PADA malam itu, tidak sedikit pasangan muda mudi yang berjalan beriringan dan bergandengan tangan. Mereka menikmati indahnya malam “hari kasih sayang” atau lebih kita kenal anak-anak muda “Valentine’s Day”.

Sebuah hari yang di gambarkan dengan seorang cupid atau dikenal dengan “the desire” (anak kecil bersayap dan membawa panah) dan hati yang merupakan salah satu organ tubuh manusia.

Cupid bersayap panah adalah putra Nimrod “the hunter”, Dewa Matahari. Disebut ‘Dewa Cinta’ karena ia rupawan, diburu para wanita, dan bahkan ia berzina dengan ibunya sendiri.

Adapun merah hati itu melambangkan sebuah pintu perzinaan terbuka lebar. Seakan mereka mendengar siulan serigala, padahal kita semua tahu bahwa serigala tidak bersiul.

Hiruk piruk kehidupan tidak sebagaimana biasanya, jalanan macet dan tempat-tempat hiburan pun semakin ramai. Berjuta pasangan muda mudi berjalan menuju tempat-tempat maksiat seakan mereka berjalan pada satu jalur yang sama tanpa sebuah komando. Dan pada hari itu, setiap lelaki seakan-akan menjadi pujangga cinta. Mereka yang tidak biasanya merangkai kata, membuat rangkain kata yang demikian indahnya.

***

Ya, 14 Februari adalah sebuah hari yang istimewa bagi para remaja yang sedang kasmaran dan dimabuk cinta. Tidak hanya anak-anak remaja biasa, bahkan tidak sedikit di kalangan remaja masjid atau Rohis yang juga terkena virus Valentine’s.

Di sadari atau tidak, pada malam itu ada sebagian dari aktivis Muslim yang ikut merayakannya. Sebuah perayaan yang di lakukan dengan bermacam cara, seperti telefonan, inboxan, begadang tanpa sebab dan bahkan sangat disayangkan bila sampai ketemuan dan tidur bersama.

Virus CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis) ini melambung tinggi tanpa di sadari.

“Will you be my Valentine”, merupakan sebuah ungkapan yang biasa diucap seorang lelaki kapada kekasihnya sambil memberi coklat.

Entah dari mana asalnya, pada hari itu sebatang coklat menjadi suatu hal yang sangat berharga. Ia bisa menggantikan rasa cinta pada seorang wanita, dan bahkan sebatang coklat tersebut menggantikan harga dirinya.

Bermula dari sebatang coklat pula, semuanya akan berubah.Termasuk rasa malu pun pada hari itu telah tiada.

Sebatang coklat bisa menggiring muda mudi masuk ke kamar-kamar penginapan untuk sebuah kemaksiatan. Tidak hanya di penginapan, bahkan di gua-gua pelosok desa pun juga tak luput dari tempat kemaksiatan.

Inilah rusaknya virus Valentine, menyeru manusia kepada kasih sayang namun faktanya kerusakan moral yang di inginkan.

Di Jabodetabek pada November 2012, 51% para remaji Indonesia sudah tidak perawan menurut penelitian BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana). Di Ponorogo 80% remaja putri pernah melakukan seks di luar nikah. Sebuah perbandingan yang sangat tinggi lima banding empat. (Dirilis oleh Ketua Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Jum’at, 17 Desember 2010).

Dan sangat mengejutkan lagi, sebuah prosentase yang di lakukan oleh LSCK PUSBIH (Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora) pada tahun 2002. Prosentase ini di berikan kepada para mahasiswi di Yogyakarta kota pendidikan, yang hasilnya 97,05% mengaku kehilangan keperawanannya dalam periodisasi waktu kuliahnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Jauhi virus Valentine’s Day

Sesungguhnya para Muslimah lebih mulia dari pada sebatang coklat. Para Muslimah yang taak di hadapan Allah dan agamanya jauh lebih cantik dari pada sekuntum bunga mawar.

Karenanya para remaja Muslim (khususnya para Muslimah)  sebaiknya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berusaha mengenalnya lebih dekat al-Qur’an, Al-Hadits serta seluruh mahkluk ciptaan Allah.

Di dalam sebuah hadits qudsi dikatakan,”Jagalah Allah, maka Ia akan menjagamu.” Itulah sikap remaja Muslim yang baik.
Menghadapi virus Valentine’s Day, sebaiknya remaja Muslim memiliki beberapa kiat.

Pertama, realisasikanlah rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata dengan mentaati setiap perintahnya dan menjauhi larangannya.  Sebagaimana syukurnya Nabi Daud As kepada Rabbnya.

Kedua, mempelajari sejarah datangnya hari Valentine’s Day, kemudian menimbang, berfikir, apakah itu sudah sesuai ajaran Islam. Jika tidak, tinggalkanlah.

Ketiga, melihat dengan mata terbuka betapa banyaknya kemaksiatan terbuka dan kerusakan moral  yang di lakukan pada hari itu. Jadi mengapa kita harus mengikutinya?

Keempat,  marilah bersama-sama mendakwahkan atau menyebarkan kepada umat manusia (setidaknya pada teman-teman terdekat di sekitar kita) akan bahaya yang di sebabkan oleh virus Valentine’s Day menurut tinjauan syar’i dan akal sehat.

Kelima, berserah diri dan bertawakal kepada Allah Subhanahu Wata’ala, setelah segala usaha yang di lakukan. Semoga apa yang kita lakukan menghasilkan banyak anak-anak remaja Muslim lain meninggalkan tradisi buruk yang tidak dibenarkan agama kita, Islam.Tugas kita hanya berusaha sedang Allah yang  menentukan hasilnya. Wallahu a’lam bish showab.*

Penulis adalah aktifis PII Kota Bekasi

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

pesantren hidayatullah

Pesantren Hidayatullah: Dari ’Sarang Laba-laba’ Hingga ‘Sarang Lebah’

Islam: Antara Toleransi dan Bertasamuh

Islam: Antara Toleransi dan Bertasamuh

Kamera Pengawas Israel ‘Lebih Berbahaya” dari Detektor Logam

Kamera Pengawas Israel ‘Lebih Berbahaya” dari Detektor Logam

Puisi Sukmawati, Teori Keadilan dan Penodaan Agama

Puisi Sukmawati, Teori Keadilan dan Penodaan Agama

Pandemi Wabah dan Gambaran Penguasa

Pandemi Wabah dan Gambaran Penguasa

Baca Juga

Berita Lainnya