Ahad, 28 Maret 2021 / 15 Sya'ban 1442 H

Opini

Tantangan Ibadah TKW/BMI Muslim di Hong Kong

Bagikan:

Oleh: Mimi Jamilah Mahya

IMPIAN untuk mengais rizki di Hong Kong adalah dambaan setiap Buruh Migran Indonesia (BMI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW )Indonesia, karena di negeri inilah mereka mendapatkan udara bebas berlibur dan mengekspresikan gaya hidup modern di kota metropolitan.

Impian ini mereka bayangkan saat melihat teman-teman mereka yang pulang kampung, yang telah menyerap budaya Hong Kong dengan pakaian yang serba fashionable, seperti berpakaian ketat dan mini, berambut pirang, berjaket kulit dan berkaca mata hitam.

Sesampainya di Hong Kong rupanya impian tak semulus kenyataan yang mereka alami. Selain menunggu masa training di PT selama berbulan-bulan, setelah di Hong Kong pun mereka harus beradaptasi dengan majikan yang baru. Beradaptasi dengan karakter majikan, dengan bahasa, dan budaya, serta yang paling penting mereka beradaptasi dengan sulitnya melaksanakan ibadah.

Untuk berwudhu di kamar mandi saja, mereka dipantau oleh majikan. Mereka tidak boleh sering bolak-balik ke toilet. Karena mereka menganggap bahwa bayar airnya mahal. Dan juga karena salah satu budaya mereka adalah beristinja dengan tissu, bukan dengan menggunakan air. Maka penggunaan air sangat dibatasi. Begitulah penuturan beberapa pengalaman teman-teman BMI, yang sering curhat dan bercerita kepada kami.

Selain sulitnya berwudhu, mereka juga tidak dibolehkan melaksanakan shalat. Selain mereka mengganggap takut membuang waktu, majikan mereka juga beralasan takut kalau Tuhan yang mereka sembah akan bertengkar dengan Tuhan yang kita sembah.

Ditambah lagi umumnya orang Hong Kong takut kalau melihat pakaian serba putih, seperti mukena. Karena pakaian putih identik dengan kematian. Bahkan pernah ada satu cerita, saking takutnya seorang bobo (nenek) melihat pembantunya memakai mungkena, maka sang bobo (nenek) tersebut langsung meninggal karena terkejut.

Kesulitan lain yang juga mereka hadapi adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Alasan orang Hong Kong melarang pembantunya berpuasa karena takut kalau mereka tidak bertenaga dan tidak bisa bekerja, takut jatuh sakit atau bahkan takut kalau mereka meninggal karena tidak makan. Jika pembantu sakit itu akan merepotkan mereka. Jika mereka meninggal, mereka takut disalahkan atau dituduh.

Kendala lain adalah jilbab. Meski jilbab telah berkibar di hari Ahad di beberapa tempat sekitar Hong Kong, namun masih ada para BMI yang juga tidak diperbolehkan mengenakan jilbab saat ingin keluar rumah.

Biasanya mereka membawa baju muslimah dari rumah, dan kemudian memakainya di dalam toilet masjid. Begitupun saat pulang mereka akan menggantinya lagi dengan pakaian pendek.

Untuk menangani kesulitan ibadah seperti ini, biasanya teman-teman mencuri-curi waktu, bahkan melaksanakan shalat di toilet, atau mereka biasanya merapel shalatnya di waktu tengah malam, saat pekerjaan rumah telah selesai.

Kami sendiri senantiasa berusaha memotivasi mereka untuk dapat melaksanakan shalatnya dengan cara menjamaknya, jika tidak, melaksanakan shalat dalam keadaan dharurat atau terdesak, dengan segala kemungkinan yang mereka dapat usahakan.

Adapun untuk berpuasa, KJRI dan Islamic Union (IU) telah bekerja sama untuk membuat surat keterangan tentang pentingnya puasa Ramadhan bagi kaum Muslim untuk dapat disosialisasikan kepada pihak majikan masing-masing. Itulah di antara tantangan yang dihadapi oleh TKW Muslim di Hong Kong saat ini.

Menurut data, jumlah TKI Indonesia di Hongkong tahun ini sekitar 146.000 orang. Jumlah tersebut menjadi tenaga kerja asing terbanyak di Hongkong, disusul Filipina dengan 130.000 orang. Yang menarik, mayoritas TKW beragama Islam. Nah, ditunggu peran pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan seperti MUI, Muhammadiyah, NU dan Ormas lain ikut berperan dalam urusan ibadah ini.*

Penulis adalah pekerja da’wah, kini mengajar dan memberikan pelayanan konsultasi agama di Masjid Ammar Wanchai & Islamic Union of Hong Kong

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Aroma Mitos dalam Pidato Megawati [1]

Aroma Mitos dalam Pidato Megawati [1]

Politik Ambang Batas dan Emosi Rakyat Indonesia

Politik Ambang Batas dan Emosi Rakyat Indonesia

Kita Merdeka di Zaman “Kegelapan”

Kita Merdeka di Zaman “Kegelapan”

Takwa, Qurban dan Kepemipinan [2]

Takwa, Qurban dan Kepemipinan [2]

Menjadi Oposisi

Menjadi Oposisi

Baca Juga

Berita Lainnya