Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Opini

Video Al Buthy dari Hizbullah, Audio-Visual Tidak Sinkron

video yang berasal dari kanal Wishal
Bagikan:

SYEIKH  Said Ramadhan Al Buthy telah wafat, tidak hanya meninggalkan karya dan banyak pendapat yang perlu dipelajari dan dikaji oleh generasi selanjutnya, namun juga meninggalkan pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada beliau yang berpotensi menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Termasuk dalam hal ini, beberapa cuplikan video yang menayangkan Syeikh Al Buthy, yang gencar disebarkan di dunia maya pasca peristiwa pembunuhan beliau.

Dari berbagai video yang diedarkan, salah satu video yang penulis tertarik untuk menelisik dan membahas saat ini adalah video yang berasal dari kanal Wishal,yang bertajuk “Al Buthy Berharap Menjadi Jari dari Jari-jari Hasan Nashrallah”.

Dalam video itu, disuguhkan tayangan talk show, di mana seorang host menyampaikan,”Kita akan menyaksikan cuplikan untuk Buthy, dimana dia berharap menjadi jari dari jari-jari Hasan Nasharallah yang telah membunuh dengan jari-jarinya itu saudara-saudara kita di Suriah.”

Kemudian, tampillah cuplikan gambar dimana terlihat Syeikh Al Buthy berceramah dan menyampaikan, ”Aku telah mengharap menjadi bagi Allah sama dengan jari Hasan Nashrallah dan setiap jari di dua tangannya adalah pasukan. (Sedangkan-pent) Aku tidak pernah berperang, dan tidak pernah diletakkan agar aku bertahan di parit pertempuran dalam rangka berjihad di jalan Allah agar aku bisa melepas panah yang digunakan untuk menembak oleh para sahabat Rasulullah…” Dengan pengulangan kalimat, ”Sama dengan jari Hasan Nashrallah,” dua kali.

Setelah cuplikan ditayangkan, seorang syeikh pun berkomentar mengenai Syeikh Al Buthy,” Benar apa yang dikatakan Syeikh Ali Ash Shabuni mengenai dirimu. Bahwa Allah telah menyesatkanmu dengan ilmumu. Adapun aku, ini dia, sesungguhnya aku mengetahui sebelumnya bahwa engkau bukan seorang yang berilmu, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan mereka tidak mengetahui banyak makna ilmu. Maka aku mengatakan Allah telah menyesatkanmu atas kebodohanmu. Apakah tidak layak bagimu mengatakan ‘Aku mengharap untuk menjadi jari dari jari-jari Abu Bakr dan Umar? Ataukah engkau takut Syi’ah mengkritikmu? Tidaklah sebagaimana engkau ketahui bahwa temanmu Hasan Nashrallah mengkafirkan Abu Bakr dan Umar serta mencela Aisyah? Kemudian engkau mengatakan bahwa engkau jari dari jari-jari takfiri ini atau engkau bodoh mengenai apa-apa yang ada dalam buku-bukunya. Tidakkah lebih layak bagimu membaca buku-bukunya mengenai aqidahnya, kecuali Hasan Nashrallah telah mentalak akidahnya secara umum dan terperinci. Dan betapa sayang, sungguh sayang atas laki-laki yang menyesatkan dan tersesat. Kita berdoa, kita berlindung kepada Allah darinya, dari kesesatan setelah petunjuk.”

Video Berasal dari Kanal Hizbullah

Sebelum membahas mengenai pengantar host atau pun komentar dari syeikh di atas, kita perlu membahas dulu cuplikan video tayangan Syeikh Al Buthy yang dijadikan obyek pembicaraan dalam kanal Wishal itu.

Ada hal yang menarik di sini, ternyata cuplikan yang disiarkan Wishal yang dikenal sebagai TV yang menyirakan ceramah agama itu berasal dari Al Manar, sebuah kanal TV Hizbullah yang berpaham Syiah. Perhatikan, logo Al Manar yang berwarna kuning terlihat samar-samar di bawah logo Wishal. Dan dengan kondisi yang demikian, maka ketajaman video sudah banyak berkurang dan terlihat buram hingga sulit dijadikan obyek untuk analisa.

Tidak Konsisten Antara Suara dan Mimik

Jika demikian, perlu merujuk kepada video yang lebih jelas, yakni video dari Al Manar (klik tulisan Al Manar) asal dari video yang ditayangkan Wishal. Dalam video yang disiarkan Al Manar ini disamping lebih jelas, juga lebih panjang durasinya. Nah, di video inilah terlihat dengan jelas beberapa kejanggalan.

Nah, apa saja kejanggalan yang terlihat? Penulis menemukan ada ketidak serasian antara mimik mulut dalam visual dengan suara di beberapa tempat namun ada keselarasan di tempat lain. Dalam video Al Manar yang berdurasi 29 detik ketidak singkronan itu bisa dilihat saat di awal, yakni saat suara yang muncul berbunyi, ”Qultu hadzal amsi, kuntu atamanna an akuna indallahi musawiyan liashbik…” (Aku telah mengatakan hal ini kemarin, aku telah mengharap bagi Allah sama dengan jari…) Namun begitu masuk ke kata selanjutnya, ”Hasan Nashrallah” ada kesinkronan antara suara dan mimik, di mana obyek terlihat mengangguk.

Ketidak sinkronan kembali mencolok terlihat setelah bunyi,”…mimma dharaba bihi ashabu Rasulillah Shallallahu Alaihi Wasallam.” (…dari apa-apa yang digunakan dengannya untuk menembak oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam …) Di mana ketika suara sudah terhenti, mimik obyek dalam video masih menunjukkan sedang berbicara. Bahkan ini juga terlihat jelas dalam video Wishal, meski kualitas ketajamannya gambarnya di bawah video aslinya, perhatikan di 00:47.

Memang bisa saja karena masalah teknis kadang suara terlambat atau mendahului video hingga terjadi ketidak sinkronan antara audio dan visual. Namun dalam kasus yang demikian itu ketidak singkronan akan terus konsisten, jika suara di depan maka ia terus di depan, jika suara di belakang maka ia terus di belakang. Nah, yang terjadi dalam video ini, ada kesinkronan, yakni saat penyebutan “Hasan Nashrallah”, namun dalam beberapa kalimat lainnya ada ketidaksinkronan.

Penulis tidak hendak menuduh pihak manapun telah melakukan editing atau rekayasa dalam video ini. Namun penulis menyampaikan bahwa video ini, sejak dari asalnya, yakni kanal Al Manar sudah bermasalah.Bersambung…

Penulis pemerhati dunia Islam dan pernah berpengalaman dalam penerjemahan film dokumenter Timur Tengah 

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kenapa Raja Salman Pilih Indonesia?

Kenapa Raja Salman Pilih Indonesia?

Pers dan Akhlak Jurnalistik

Pers dan Akhlak Jurnalistik

Memahami Literasi Sebagai Jantung Hati Pendidikan

Memahami Literasi Sebagai Jantung Hati Pendidikan

Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan

Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan

Antara PP Al-Mukmin, Gontor dan Ghazali Said

Antara PP Al-Mukmin, Gontor dan Ghazali Said

Baca Juga

Berita Lainnya