Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Empat Dasar Lahirnya Film Tak Bermutu seperti “Innocence of Muslims”

Bagikan:

oleh: Ali Mustofa

PENGHINAAN terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam kembali terjadi kesekian kalinya, pihak anti Islam melakukan pelecehan terhadap Nabi kita. Kali ini muncul sebuah film berjudul “Innocence of Muslims” garapan Sam Bacile, Sutradara asal Israel yang kini tinggal di California, Amerika Serikat.

Bacile menjelaskan, film berdurasi dua jam ini telah menghabiskan biaya produksi US$ 5 juta (Rp 48 miliar). Seluruh dana tersebut ditanggung renteng oleh lebih kurang 100 donatur Yahudi. Dalam film tersebut, Bacile menggambarkan Nabi Muhammad adalah seorang penipu, hidung belang, dsb.

Sebuah tuduhan yang jauh dari kenyataan, kalau tidak mau disebut bodoh. Hanya orang-orang yang hati dan pikirannya terkunci saja yang menuduh Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai penipu. Sedang orang-orang yang menjadi saksi hidup beliau, bahkan orang-orang kafir Quraisy sekalipun di masa itu berkenan memberinya gelar “Al-Amin’, atau orang terpercaya. Sebuah gelar yang tidak ada satu pun perguruan tinggi di dunia ini yang berani mengeluarkan gelar tersebut.

Pun hanya orang-orang yang kalbunya dibisiki bisikan setan saja yang mengatakan Muhammad sebagai orang yang memiliki kelainan seksual. Sebab tidak ada ceritanya bahwa Rasulullah melakukan penyimpangan seksual. Keputusannya untuk beristri lebih dari satu tidak semata-mata berdasar hawa nafsu, melainkan didasari petunjuk dari Allah, untuk kepentingan dakwah, mempererat kekerabatan dengan sahabat-sahabat terdekatnya, dsb.

Fakta membuktikan, beliau Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah orang yang paling lembut terhadap istri, orang yang paling baik memberlakukan istrinya. Beliau mencontohkan sekaligus memerintahkan kaum Muslim mantaati perintah Allah Swt “Dan bergaulah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir ibnu katsir, menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama.”

Penyebab

Beredarnya film ini akhirnya memunculkan reaksi keras umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Mereka mengutuk pembuatan film berdurasi dua jam itu. Pergolakan hebat terjadi di Libya, Mesir, dan beberapa negara lain, mereka menggelar unjuk rasa besar-besaran. Di Libya, kaum Muslim yang geram tersebut akhirnya menyerbu kedutaan AS di Libya. Sedangkan di Indonesia, hampir seluruh elemen umat Islam memprotes keras film tersebut.

Pihak anti Islam tak henti-hentinya melakukan pelecehan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, mulai dari pembuatan film, mencetak buku, hingga melukis karikatur sosok mulia panutan umat Islam tersebut. Ada beberapa penyebab (dasar) kenapa perbuatan yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu marak. Di antaranya ialah:

Pertama: Kebencian orang-orang kafir kepada Islam dan kaum Muslim. Penyebab pertama ini merupakan sunatullah, dimana mereka tidak senang pada umat Islam dan akan berusaha sekuat tenaga membuat umat Islam keluar dari agamanya alias murtad.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah : 120).

Kedua: Berusaha menghadang pesatnya perkembangan dakwah Islam di seluruh dunia. Sebagaimana diketahui, meski banyak tudingan-tudingan miring terhadap Islam justru perkembangan jumlah penduduk Islam justru semakin bertambah, termasuk di dunia barat.

Menurut Data World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, bahwa jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah sekitar 1,2 milyar (1.226.403.000 jiwa), tahun 2007 sudah mencapai lebih dari 1,5 milyar (1.522.813.123 jiwa).Artinya, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang, setara dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Carl Ellis, peneliti terkemuka masalah keagamaan di AS dan penulis buku “The Changing Face of Islam in America, menyatakan, “Populasi warga Muslim di AS mengalami pertumbuhan 6 persen. 80 persen di antaranya berasal dari penganut kristen yang baru masuk Islam. Sementara 20 persennya lagi berasal dari kaum Muslim imigran”. Dia menambahkan, “Jika Islam terus mempertahankan persentase pertumbuhannya itu, maka hingga 17 tahun lagi, jumlah warga Muslim di kota-kota besar AS akan melebihi jumlah warga Kristen”.

Melalui pembuatan film berjudul “Innocence of Muslims”, ataupun bentuk lain penghinaan terhadap rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam inilah mereka berupaya memberikan gambaran negatif pada Islam, dengan berharap macetnya dakwah Islam.

Namun hal itu hanya akan sia-sia, justru dakwah Islam menjadi pesat meski selalu dipojokkan. Lihat saja contohnya ketika pemerintahan Amerika Serikat dikomandoi G.W. Bush pasca tragedi 9/11 menyematkan gelar teroris pada umat Islam, ternyata 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS at-Tawbah: 32).

Ketiga: Menghambat perjuangan penegakkan ideologi Islam. Pembuatan film ini memiliki tujuan politis yakni berupaya menghambat kembalinya penerapan ideologi Islam. Hal ini diakui sendiri oleh Bacile dengan mengatakan “Ini adalah film politik. Amerika Serikat kehilangan banyak uang dan pasukan dalam perang Irak dan Afganistan, namun kami sedang bertempur melawan ideologi.” (tempointeraktif.com, 12/09).

Seperti diketahui, Bacile merupakan warga AS, negara kampiun ideologi kapitalisme, ia sadar betul dominasi negaranya terancam dengan tanda-tanda tegaknya negara super power khilafah Islamiyah. Padalal, sifat sebuah ideologi yang berkuasa adalah mempertahankan dominasinya. Sedangkan AS menggunakan cara hard power dan juga soft power dalam mempertahankan hegemoninya.

Hard power sebagaimana yang dilakukannya di Iraq, Afghanistan dengan cara melakukan invasi miiter. Sedangkan Soft Power ialah dengan kampanye Islam moderat, kampanye sekulerisme, pluralisme, liberalisme. Termasuk salah satu uslubnya ialah dengan membuatan film “Innocence of Muslims”. Tampak disini Bacile ingin membantu perang ideologi ini. Walaupun pemerintahan AS mengaku tidak terlibat dalam pembuatan film, namun mereka tidak mencegah pemutaran film tersebut.

Keempat: Lemahnya kaum Muslim. Pihak anti Islam seperti tidak ada jeranya atas kelakuan-kelakuannya dalam menghina Islam, hal ini menunjukkan umat Islam dalam kondisi lemah, disepelekan oleh orang-orang kafir tersebut. Maka Islam harus bangkit dengan cara kembali pada ideologi Islam. Yakni melalui penerapkan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai negara khilafah. Dengan itu, maka kekuatan umat Islam menjadi luar biasa, baik secara geo-politik, geo-ekonomi, maupun militer, sehingga tidak disepelekan lagi.

Kita layak marah, mereka harus tahu, bahwa apa yang dilakukan mereka tidak akan mampu mempengaruhi kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Seorang utusan Allah, sebagaimana Musa yang telah diberi wahyu kitab Taurat, sebagaimana Isa binti Maryam yang telah diberi Injil. Dialah Nabi dan Rasul penutup zaman dimana seharusnya risalah Islam yang dibawanya diikuti oleh seluruh umat. Sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah.

Mereka harus tahu, kita begitu mencintainya, melebihi cinta pada diri ini, ataupun keluarga-keluarga kita. Apapun bisa kita perbuat demi Allah dan Rasul-Nya. Namun kemarahan yang bagaimana yang perlu kita lakukan? Itulah yang harus kita pikirkan dengan lebih cerdas.*

Penulis Direktur Riset Media Surakarta

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Provokasi, Sekali Lagi Provokasi! [2]

Provokasi, Sekali Lagi Provokasi! [2]

Saatnya Membebaskan Aceh dari Rokok

Saatnya Membebaskan Aceh dari Rokok

Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya

Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya

Jenderal AH Nasution dan Pelajar Islam Indonesia

Jenderal AH Nasution dan Pelajar Islam Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya