Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Film Anti-Islam dan Perlawanan Cerdas Kaum Muslim

Bagikan:

Oleh: Aditya Abdurrahman

BEREDARNYA film “Innocence of Muslims” menjadi bukti bahwa dari tahun ke tahun, Barat tidak pernah takut menghina dan melecehkan Islam. Meskipun umat Islam akhirnya bergejolak, memprotes dan melawan pihak yang bertanggungjawab terhadap perilisan film tersebut, tetap saja aksi-aksi itu tidak memberikan dampak besar terhadap counter perang pemikiran yang dilakukan Barat.

Malah jika respon yang dilakukan umat Islam tidak cerdas, justru akan memperburuk citra Islam di mata dunia. Menguatkan persepsi bahwa memang benar Islam itu agama yang sadis, jahat, dan tidak berprikemanusiaan.

Dalam upaya melancarkan serangan ghazwul fikri, Barat tidak pernah melupakan media film sebagai alat untuk mencitrakan buruk Islam. Dahulu di Belanda, film Fitna yang disutradarai oleh Geert Wilder tahun 2008-an juga sempat memicu kecaman diberbagai penjuru dunia. Di sana Wilder hanya butuh 17 menit saja untuk memutar balik ayat Al-Quran dengan merepresentasikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, teror, anti-semitisme, dan sadis terhadap perempuan. Respon umat Islam ketika juga sama: demonstrasi dimana-mana untuk mengecam beredarnya film Fitna yang memfitnah umat Islam.

Reaksioner umat Islam

Reaksi umat Islam terhadap film-film yang menghina Islam selama ini selalu ditunjukkan dengan menggalang aksi protes diberbagai penjuru dunia yang mayoritas muslim. Bahkan baru-baru ini aksi protes di Libya dan Mesir sampai merenggut korban jiwa. Di Yaman, protes umat Islam dilakukan dengan cara membakar bendera Amerika, menghancurkan kedutaan Amerika dengan melempari batu dan membakar lima mobil yang menerobos gerbang utama komplek kedutaan.

Memang sebagai seorang Muslim tidak boleh diam begitu saja melihat musuh-musuh Islam leluasa melecehkan Rasulullah Saw dan syariat yang dibawanya. Bahkan jika ada seorang muslim yang diam saja melihat agamanya diinjak-injak oleh musuh, berarti perlu dipertanyakan kembali tentang keimanan orang tersebut. Dalam kata lain, pemahaman prinsip al-wala’ wal bara’-nya telah cacat. Maka bereaksi MARAH adalah sebuah kewajiban bagi siapapun yang mengaku sebagai Muslim.

Namun, reaksi marah yang bagaimanakah yang benar?

Banyak di antara umat Islam yang belum memahami bahwa reaksi-reaksi berlebihan ketika memprotes film-film penghina Islam tersebut memang menjadi tujuan dari para pembuatnya. Semakin keras reaksinya, maka semakin kuat bukti bahwa memang Islam adalah agama kekerasan, sadis dan syarat dengan terorisme.

Gambaran-gambaran demonstrasi brutal yang dilakukan oleh umat Islam di berbagai perjuru dunia akan dengan mudahnya di-capture oleh wartawan-wartawan Barat, mengemasnya dalam bentuk berita aktual yang siap untuk disiarkan di negara mereka masing-masing lengkap bersama dengan narasi pembenaran tentang citra Islam yang buruk.

Sangat mudah bagi media-media Barat untuk melakukan itu semua. Dalam sekejap saja, opini buruk tentang Islam justru akan lebih cepat terbentuk dibandingkan dengan opini tentang jahatnya si produser film-film anti-Islam tersebut.

Dalam ilmu komunikasi, hal ini dikenal dengan kemampuan media dalam mencitrakan buruk suatu pihak hingga pihak tersebut serba salah dalam bersikap. Jika mereka bereaksi keras, justru membenarkan bahwa isu itu memang benar. Tapi disisi lain, jika pihak yang disudutkan itu diam saja, tetap saja akan membuat orang lain berpikir, “Nah kan, mereka tidak menyangkal. Berarti memang benar seperti itu gambaran dalam film tersebut.”

Kita harus mengambil pelajaran empat tahun yang lalu, ketika Geert Wilder justru melejit popularitas dirinya gara-gara film anti-Islam yang dibuatnya itu. Bahkan konon malah membuat dirinya terpilih dalam pemilu di negaranya. Reaksi keras yang dilakukan umat Islam seolah justru ‘membantu’ dirinya menjadi lebih populer. Pengunduh film Fitna di internet semakin membludak. Lagi-lagi keuntungan ada di pihak musuh.

Respon kita seharusnya lebih cerdas

Media film adalah media yang memiliki pengaruh luar biasa dalam membentuk persepsi di benak audiens-nya. Di Amerika, film bisa menggantikan posisi orangtua maupun para pendidik di sekolah dalam mengajarkan segala hal yang dibelum diketahui oleh anak-anak.

Oleh karenanya, film sudah sejak ratusan tahun yang lalu dijadikan alat Barat untuk memenangkan kepentingan-kepentingannya. Bagi produsen-produsen film di Barat, film bukan hanya sekedar industri hiburan semata namun syarat dengan muatan ideologis.
Jika kita mau jeli, ada ratusan film yang diproduksi Hollywood digunakan untuk mencitrakan buruk dunia Arab (baca: Islam).

Jack Shaheen, dalam bukunya berjudul Reel Bad Arab mengatakan bahwa ada lebih dari 900 judul film sejak 1896 hingga saat ini yang sengaja dibuat untuk mewajahburukkan orang-orang Arab. Ini berarti masalah film “Innocence of Muslims” bukanlah isu baru bagi Barat. Bagi mereka ini hal biasa. Sampai kapanpun, jika bentuk perlawanan muslim masih sekedar dalam bentuk aksi demonstrasi atau aksi fisik yang destruktif tetap dilakukan, itu justru membantu mereka dalam pembenaran citra Islam yang buruk yang sedang mereka bangun dalam berbagai cinema.

Kita pasti tidak ingin dikenal sebagai umat yang hanya bisa “menggertak sambal” saja. Pedas, tapi cuma sebentar. Setelah aksi, besoknya hilang tak berbekas. Tetap saja tidak ada perubahan. Sedangkan musuh-musuh Islam bermain di ranah yang lebih intelek.

Strateginya disusun dengan sangat rapi. Maka respon yang cerdas, seharusnya tidak dengan melakukan tindakan destruktif. Perlawanan yang cerdas adalah dengan mengimbangi kemarahan kita dengan semangat mempelajari dan membangun media Islam. Meski tidak melarang rasa marah ketika Nabi kita dihina, sebaiknya pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Film harus dilawan dengan film. Hegemoni harus di-counter hegemoni juga. Pencitraan harus dilawan dengan pencitraan. Selanjutnya tinggal Allah Ta’ala yang memberi kemenangan. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah Pimred undergroundtauhid.com dan dosen jurusan komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mengenal Millah Abraham Lebih Dekat [3]

Mengenal Millah Abraham Lebih Dekat [3]

Belajar  Dari Musharraf Dan Saakashvili

Belajar Dari Musharraf Dan Saakashvili

20 MEI Hari Kebangkitan untuk Siapa?

20 MEI Hari Kebangkitan untuk Siapa?

Jangan Ada Jarak dengan Dakwah

Jangan Ada Jarak dengan Dakwah

Menjustifikasi Kematian “Teroris”

Menjustifikasi Kematian “Teroris”

Baca Juga

Berita Lainnya