Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Opini

Dari Spiritualis Menuju Materealistis

Bagikan:

Oleh: Muhammad Saad

BEBERAPA hari menjelang lebaran, ada fenomena unik yang terjadi dimasyarakat kita dalam mempersiapkan kedatangan hari kemenangan tersebut. Mulai dari renovasi ekterior dan interior rumah sampai permak habis dandanan dirinya. Hampir tidak ada satupun toko pakaian yang tidak dikunjungi orang, semuanya laris manis diserbu pembeli bak kacang goreng suguhan hari raya.

Di sebuah kota di Jawa Timur, ada kebiasaan menyambut hari lebaran yang menurut penulis cukup ekstrim. Ketika persiapan hari besar umat Islam itu, ada satu kebiasaan bagi perempuan-perempuannya berlomba memakai perhiasan sebanyak-banyaknya. Seolah-olah orang yang paling mulia dan paling dihormati saat itu adalah mereka yang memakai perhiasan yang paling banyak. Tidak perduli hal itu memakan anggaran yang besar dan tidak perduli pula perhiasan itu pantas atau tidak ketika dikenakan.

Mereka bersaing membeli perhiasan sebanyak-banyaknya. Entah dari mana uang yang diperoleh, yang penting bisa memenuhi standar orang “mulia”. Bagi orang yang ekonominya kelas menengah ke atas, tanpa susah payah merogoh kocek jutaan rupiah guna membeli perhiasan sebanyak-banyaknya.

Bagi orang dengan ekonomi menengah, mereka memutar otak bagaimana sekiranya dengan uang yang pas-pasan dapat memperoleh perhiasan sebanding dengan si kaya. Maka mereka membeli emas dengan kualitas rendah, atau bahasa gaulnya emas muda.
Dengan begitu, emas yang didapat akan berimbang jumlahnya dengan si kaya tanpa menguras uang.

Beda lagi dengan si miskin, jangankan untuk membeli perhiasan, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka pontang-panting untuk memenuhinya. Akan tetapi mereka tetap ngotot “fastabiqul khoirot” ala kehidupan kota. Golongan ekonomi ke bawah ini mempunyai trik sendiri untuk bisa bersaing. Jika dirasa mereka memiliki harta semisal motor, televisi dan lainnya maka tanpa ragu-ragu mereka membarter, guna mendapatkan perhiasan. Namun bila tidak memiliki dimana sama sekali, maka mereka dengan sembunyi-sembunyi membeli emas imitasi, agar dianggap mampu membeli perhiasan.
Fenomena di atas inilah yang sangat menggelitik pikiran penulis. Apa sebenarnya yang terjadi pada pola pikir masyarakat kota dan bagaimana dampak dari fenomena ini?

Dari Spiritualis menuju Materialis

Tanpa disadari mindset masyarakat modern ini telah bergeser dari polapikir yang spiritualistis menjadi materialistis. Agama yang merupakan salah satu pilar pokok yang menompang kehidupan keluarga, pada mulanya sebagai satu-satunya sistem yang paling tinggi kemudian berubah menjadi salah satu bagian dari sistem-sistem lain yang ditawarkan dari hasil produk globalisai. Ironsinya problem ini tidak lagi hanya mewabah pada level teori namun juga pada level praktis.

Tidak dapat dipungkiri problem paling berat yang dihadapi masyarakat sekarang ini adalah penyakit “masyarakat modern”. Di era modern seperti sekarang ini tantangan berbagai godaan menyelusup dan menyusup ke dalam kehidupan rumah tangga melalui teknologi komunikasi dan informasi yang cukup canggih. Sejak kecil, anak-anak tanpa disadari telah dijejali dengan berbagai kebudayaan yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama melalui media ini.

Adalah budaya global yang didominasi oleh budaya Barat, kini telah menghegemoni seluruh kehidupan masyarakat, dan yang lebih dahulu terkena dampak dari hegemoni globalisasi adalah masyarakat kota.

Salah satu praduk dari globalisasi yang menjangkiti masyarakat kota adalah budaya materialistik. Sebagaimana diketahui bahwasannya pandangan materialistis adalah cara pandang yang mengedepankan kehidupan yang terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan duniawi sesaat, seingga aktifitas yang dijalankan hanya berkutat pada permasalahan dunia seperti lapangan pekerjaan, pemenuhan kebutuhan jasad, pemuasan gaya hidup dll.

Ketika budaya materialistis telah masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, maka manusia merubah mindset-nya yang semula agama dan tradisi kultur menjadi dasar pola-pikir, ke hal-hal yang bersifat duniawi. Kemulyaan bagi mereka hanya milik orang-orang yang memiliki harta benda, tingginnya derajat hanya bagi mereka yang memiliki kesempurnaan fisik semata, sedangkan meraih ilmu bukan untuk kearifan dan taqarrub kepada Sang pencipta, namun untuk meraih posisi dan harta. Disinilah letak pangkal kerusakan kehidupan. Bagaimana tidak, hidup akan menjadi sebuah medan pertempuaran guna meraih kekuasaan dan kehormatan.

Seharusnya hari raya Idul Fitri adalah moment untuk menjadikan diri setiap insan Muslim manusia yang Fitri dari dosa-dosa baik yang berhubungan dengan Ilahi atau haqul adami. Selama sebulan diberikan keistimewaan melaksanakan perbaikan diri dengan bertaqarrub serta memohon ampunan kepada Allah SWT. Singkatnya Bulan ramadhan memberikan fasilitas kemudahan bagi personalitas muslim menjadi hamba yang dicintai oleh Rabb-nya.

Idul Fitri pada hakikatnya perintah sunnah merayakan ungkapan rasa syukur atas kemenangan jihad akbar melawan hawa nafsu duniawi selama satu bulan. Seseorang tidak dikatakan kembali kepada fitrah bila selesai puasa Ramadhan mentalnya masih memandang duniawi sabagai tolok-ukur dan tujuan akhir dari kehidupan. Apa lagi yang terjadi adalah sampai pada tingkat perlombaan pamer yang kemudian berakibat pada saling merendahkan satu sama lain.

Ironisnya, akibat virus materialism, prilaku demikian di kota telah menjadi tradisi, yang kemudian tradisi tersebut telah merubah mindset masyarakatnya menjadi sebuah paradigma baru yang kemudian dilestarikan turun-temurun. Bila hal ini terjadi, maka paradigma yang berkembang tersebut berubah menjadi sebuah ideologi yang memiliki kebenaran.

Padahal, Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Nilai-nilai dan prinsip Islam yang telah dilanggar antara lain;

Pertama, Islam tidak menghendaki ummatnya merayakan hari raya dengan simbolik, bermewah-mewahan, Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini. Hal ini dapat kita lihat dalam hadis Rasul yang artinya, “Bahwa hari raya ‘Idul Fitri bukanlah untuk mereka yang berpakaian serba dan mewah tapi Idul Fitri itu bagi mereka yang ketaatan dan kepatuhannya semakin meningkat.”

Kedua, bermewah-mewahan dengan memamerkan harta dan benda adalah salah satu pernuatan dosa besar yang disebut dengan riya’.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa riya merupakan syirik kecil, walaupun dia syirik asghar (kecil), akan tetapi dosanya lebih besar dibandingkan pembunuhan dan perzinahan, karena dia merupakan kesyirikan, dan kesyirikan dosanya lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar selain syirik. Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Sa’ad bin Abu Fudhalah Al-Anshari salah seorang sahabat Nabi -alaihishshalatu wassalam-, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ, نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ

“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir pada hari kiamat-yang tidak ada keraguan dalamnya-, maka akan ada seorang penyeru yang menyeru, “Barangsiapa berbuat syirik dalam suatu amalan yang dia kerjakan untuk Allah, hendaknya dia meminta balasan pahalanya kepada selain Allah tersebut. Karena sesungguhnya Allah Maha tidak membutuhkan sekutu.” (HR. At-Tirmizi no. 3079, Ibnu Majah no. 4193, dan Ahmad no. 17215, serta dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 482).

Ketiga, yang lebih berbahaya ialah, keyakinan atas kebenaran tradisi tersebut berubah menjadi paradigm, yang kemudian membentuk sebuah ideologi. Sudah fitrah manusia cenderung membela ideologinya karena dianggap memiliki kebenaran. Padahal dalam kacamata Islam, prilaku bermewah-mewahan dalam lebaran adalah sebuah kesalahan. Adalah sebuah kesalahan fatal bila melakukan perbuatan salah yang dianggap benar. Dalam pandangan Islam hal ini bisa berakibat terjerumus dalam dosa kekafiran karena menganggap perbuatan dosa sebagai kebenaran.

Tradisi lebaran di kota itulah yang kini menjadi salah satu dari sekian fenomena pergeseran nilai-nilai dari masyarakat kota. Dampak dari dari pergeseran nilai tersebut telah masuk kedalam dimensi keimanan. Hal ini sangat berakibat fatal karena bisa menjebak manusia dalam perbuatan dosa bahkan tidak menutup kemungkinan terjerembab pada kekafiran. Wallahu A’lam bi showwab

Penulis adalah Alumni PP. Aqdamul Ulama’ Pasuruan, Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Uluwiyyah Mojokerto

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Jilbab Halal”: Menebar Bujuk Rayu dan Rasa Takut [1]

“Jilbab Halal”: Menebar Bujuk Rayu dan Rasa Takut [1]

Homo dan Pelecehan Dunia Pesantren

Homo dan Pelecehan Dunia Pesantren

Hukuman Mati di Saudi: Antara Perlakuan TKW dan Keluarga Kerajaan [1]

Hukuman Mati di Saudi: Antara Perlakuan TKW dan Keluarga Kerajaan [1]

Indonesia-Malaysia dan “Adu Domba” Media

Indonesia-Malaysia dan “Adu Domba” Media

Ormas Tidak Terdaftar Tidak Boleh Berkegiatan?

Ormas Tidak Terdaftar Tidak Boleh Berkegiatan?

Baca Juga

Berita Lainnya