Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Menjernihkan Potret Buram Pendidikan Indonesia

Bagikan:

oleh: Rina Andriana, S.Pd

SEMINGGU ini kita semua dikagetkan dengan serangkaian kejadian yang menyangkut sepak terjang remaja kita. Belum lama ini, pihak kepolisian Garut, Jawa barat mencokok dua anggota geng motor Brigez yang menjadi tersangka pemerkosaan terhadap seorang gadis berusia 17 tahun.

Di Jakatar, hari Kamis (26/04/2012), usai menjalani ujian nasional (UN), sejumlah pelajar terlibat tawuran massal. Mereka saling serang dengan menggunakan bambu, ikat pinggang berkepala besi, dan senjata tajam lainnya. Tawuran juga terjadi di Cipinang Muara, Duren Sawit. Warga mengejar para pelajar yang hendak tawuran hingga ke arah pemukiman.

Sementara di Jatinegara, warga berhasil membubarkan tawuran yang hampir terjadi. Seorang siswa berhasil diamankan oleh polisi akibat membawa senjata tajam jenis golok di dalam tas.

Miris, sedih, pilu, menghiasi perasaan kita saat menyaksikan berbagai fenomena yang menimpa dunia pendidikan saat ini. Lihat saja fakta kecurangan UN kemarin, Kemendikbud menrima 585 pengaduan kecurangan UN SMA, SMK (mediaindonesia.com,23/4).

Murid-murid semakin “lihai” untuk melakukan kecurangan, sisi lain pengawas tidak terlalu peduli bahkan ditemukan ada yang tidur saat mengawas. Penentuan batas nilai kelulusan menjadikan pihak yang terkait melakukan kecurangan, menghalalkan segala cara demi kelulusan. Fenomena ini selalu kita dengar setiap tahun, seolah menjadi suguhan rutin saat UN. Hal lain yang menyesakkan bagi kita adalah ditemukannya LKS yang berisi cerita vulgar dan tidak layak dikonsumsi oleh pelajar sekolah. Masya Allah.

Generasi narkoba, freesex, aborsi, geng motor, tawuran, masih mewarnai dunia pendidikan kita. Belum lagi siswa sekolah yang bergaya hidup mewah, hura-hura, cinta mode, konsumeristik dan individualistik. Rela mengeluarkan uang berjuta-juta demi menonton boyband favoritnya baik lokal ataupun impor. Menangis dan histeris bahkan sampai pingsan saat kehabisan tiket atau tidak bisa bertemu idolanya. Pun konser-konser musik lokal seolah wajib untuk didatangi langsung. Menjadi ritual yang biasa bagi remaja Indonesia. Parahnya orangtua mereka pun mendukung dan merasa bangga saat anaknya muncul di televisi dengan berjingkrak-jingkrak. Inilah sekilas potret buram pendidikan Indonesia yang tidak lain merupakan buah dari penerapan sistem pendidikan saat ini. Sebetulnya ini seperti fenomena gunung es, yang tidak terlihat jauh lebih banyak.

Mengurai Masalah

Masalah pendidikan Indonesia ibarat benang kusut yang terus bertambah. Sehingga penting bagi kita untuk mengurai benang kusut tadi sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi negeri ini. Kualitas pendidikan sangat terkait dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Diakui atau tidak, saat ini Indonesia tengah menerapkan sistem Kapitalisme.

Walhasil sistem ekonomi, politik, sosial, termasuk pendidikan semua bercorak kapitalistik. Penerapan sistem pendidikan kapitalisme pastinya akan menghasilkan generasi yang materialistik, individualistik dan konsumeristik. Kapitalisme selalu mengukur segala sesuatu dengan materi, tidak peduli apakah itu dunia pendidikan atau bukan. Menjadikan kesenjangan kaya dan miskin semakin melebar. Sehingga muncul istilah “orang miskin dilarang sekolah!”

Hal ini karena biaya pendidikan yang melangit dan susah dijangkau oleh si miskin. Selain itu, karena dorongan materi (uang) para penulis buku pun tidak lagi memikirkan apakah bahan ajar yang ditulisnya bisa merusak pola pikir siswa atau tidak. Selagi masih bisa menghasilkan uang maka sekalipun itu merusak pola pikir siswa, tapi tetap dilakukan.

Gaya hidup serba bebas yang bersumber dari sistem kapitalisme pun mendorong siswa untuk bergaya hidup mewah. Belum lagi para guru yang mengajar untuk mengejar jumlah jam demi mendapatkan sertifikasi karena gaji yang tidak mumpuni terutama guru honorer. Sehingga orientasi guru tidak lagi mendidik dan mewujudkan generasi cemerlang, akan tetapi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inilah sistem pendidikan Kapitalisme, dunia pendidikan kita dikomersilkan dan menjadi ajang bisnis yang subur. Sungguh kompleks dampak penerapan sistem Kapitalisme ini. Kepribadian siswa dilaburkan hanya demi meraup keuntungan.

Menjernihkan yang Buram

Berbicara tentang menjernihkan potret buram, pastilah berbicara tentang solusi. Tentunya siapapun tidak menginginkan fenomena ini terus terjadi. Perlu ada solusi real untuk mengubah kondisi ini karena bagaimanapun pendidikan merupakan elemen yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. Kejayaan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi yang membangunnya. Kualitas generasi berkorelasi pada mutu pendidikannya.

Jika pendidikan yang diterapkan berkualitas, maka akan mewujudkan generasi yang berkualitas juga, pun sebaliknya.

Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Kesempurnaan Islam ini terbukti mampu mengubah generasi yang ummi (buta huruf) dan jahiliyah (bodoh/rusak) menjadi generasi utama dan pelopor kemajuan kehidupan. Bahkan mampu membangun generasi yang khas yang menyinari hampir seluruh bangsa di dunia dan kejayaannya bertahan lebih dari sepuluh abad. Peradaban Islam yang mulia dengan sistem pendidikannya, mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan handal dan cerdas seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Imam Syafi’i dan Muhammad Al Fatih. Inilah sistem pendidikan Islam yang terjamin kualitas dan sudah terbukti keberhasilannya. Kualitas pendidikan yang bagus mewujudkan generasi-generasi seperti itu.

Sistem pendidikan Islam menjadikan akidah Islamiyah sebagai dasarnya. Karena itu keimanan dan ketakwaan juga akhlak mulia akan menjadi fokus yang ditanamkan pada anak didik. Halal haram akan ditanamkan menjadi standar. Dengan begitu anak didik dan masyarakat nantinya akan selalu mengaitkan peristiwa dalam kehidupan mereka dengan keimanan dan ketakwaannya.

Jika pendidikan berlandaskan kepada aqidah Islam, maka setiap anak didik akan selalu merasa diawasi oleh Allah setiap saat sehingga tidak akan terjadi kecurangan, karena dirinya takut dengan sanksi dari Allah Subhanahu Wata’ala kelak.

Saat tujuan hidup sudah terhujam kuat pada setiap individu maka setiap generasi akan melakukan aktifitas yang sesuai dengan Syariat Islam dan melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dan bisa mendatangkan pahala.

Mereka akan berfikir ulang jika melakukan freesex, mengkonsumsi narkoba, tawuran ataupun geng motor. Dengan sistem pendidikan Islam, maka akan mengantarkan generasi kita kepada derajat ketakwaan yang lebih tinggi dan menebar kemashlahatan bagi manusia. Adapun tujuan dari pendidikan Islam yang pertama yaitu mewujudkan generasi berkepribadian Islam. Artinya pola pikir dan pola sikap setiap anak didik dan gurunya senantiasa distandarkan pada Islam. Semua problem kehidupan berupaya diselesaikan dengan Islam.

Tujuan pendidikan yang kedua adalah membentuk generasi berjiwa pemimpin. Islam yang sempurna akan mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuangkannya demi tegaknya Syariat Islam di muka bumi. Hal ini yang akan menumbuhkan tanggungjawab dan kepemimpinan dalam diri setiap generasi. Setiap generasi akan paham dengan firman Allah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melaika untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya:107) dan setiap generasi memahami betul bahwa hidup adalah amanah dan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, sesuai dengan sabda Rasul: “Dan amir itu adalah pemimpin yg mengurusi urusan umat, dan dia bertanggungjawab dengan segala urusannya.” (HR Muslim).

Tujuan pendidikan yang ketiga yaitu mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam. Hal ini akan mendorong setiap generasi untuk menghasilkan karya dan penemuan-penemuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentunya negara akan memfasilitasi hal ini.

Inilah gambaran sistem pendidikan Islam, sistem yang agung yang berasal dari Pencipta dan mampu menjernihkan potret buram pendidikan Indonesia. Sistem pendidikan ini sejatinya hanya dapat diterapkan dalam suatu negara yang mampu menerapkan Islam secara kaffah. Khilafah Rasyidah Islamiyah, institusi yang bisa mewujudkan sistem pendidikan yang jernih dan cemerlang. Saatnya satukan langkah untuk menegakkan Khilafah Islamiyah. Dan ingatlah dengan seruan Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS al-Anfal [8]: 24).Wallahu a’lam.

Pengajar SMA Mutiara 2 Bandung

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pentas Politik Ahok di Panggung Hukum

Pentas Politik Ahok di Panggung Hukum

Kisah Sutan, Gusdurian dan Fanatik yang Buruk

Kisah Sutan, Gusdurian dan Fanatik yang Buruk

Gadis Charger, Mungkin Saudari Anda Mau Kerja?

Gadis Charger, Mungkin Saudari Anda Mau Kerja?

Masjid Al Aqsha, Jangan Hilang Fokus

Masjid Al Aqsha, Jangan Hilang Fokus

Cerdas Membaca Berita di Zaman Fitnah [1]

Cerdas Membaca Berita di Zaman Fitnah [1]

Baca Juga

Berita Lainnya