Sabtu, 16 Oktober 2021 / 9 Rabiul Awwal 1443 H

Opini

Pemuda, Budaya Sampah dan Peran Pemerintah

Bagikan:

Oleh: Hj. Herlini Amran, MA.

BANGSA Indonesia dikenal memiliki akar sejarah yang jelas, dari asal usul budayanya yang beranekaragam, bahasanya yang banyak, tertulis dan difahami oleh seluruh rakyatnya. Rasa kasih-sayang, gotong royong, semangat kolektifitas serta rasa kesopan-santuan layaknya adat ketimuran, itulah bagian dari kultur Indonesia yang dikenal sejak dahulu.

Lebih-lebih ketika masuknya Islam di bumi Nusantara, adat-istiadat itu menjadi lebih maju dan lebih berakhlaq. Para ulama zaman dahulu bahkan sangat berhati-hati menerima masuknya budaya asing. Karenanya, budaya seperti perayaan Hari Valentine’s tidak tercatat sejarah dan tidak pula pernah dijadikan kebanggakan bangsa Indonesia. Boleh dibilang, budaya ini lebih tepat disebut bencana.

Anehnya, saat ini, di mata anak-anak muda, budaya  seperti ini cepat mewabah. Saling memberikan ucapan selamat, saling mengungkapkan rasa cinta, romantika dan segala ketulusan dengan  berbagi cinta, berbagi coklat, dengan gaya dan berbagai acara yang mereka buat.

Akibat ketidak-tahuan pemuda yang akan menjadi agent of changes  tentang sejarah dan latar belakang dari budaya Valentine ini berakibat terbuainya berbagai fatamorgana. Padahal jika kita mengulas lagi budaya ini, tak lebih sebagai budaya sampah dari Barat. 

Empat Pilar

Menengok lagi sejarah lahirnya Hari Valentine, sesungguhnya, budaya ini  jauh dari akar sejarah banga Indonesia. Yang ada, justru dengan perayaan seperti ini hanya melecehkan dan merendahkan nilai-nilai moral (empat pilar bangsa Indonesia) bahkan melanggar HAM (Hak  Asasi Manusia). Pelanggaran ini sudah begitu jelas di mata masyarakat, dalam hal ini pemerintah dan masyarakat harus berperan penting melakukan pengontrolan dan perbaikan terhadap masyarakat, terutama generasi pengganti bangsa ini.

Sejarahnya menyebutkan, lahirnya budaya ini tak lepas dari kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Kematian pendeta Valentine adalah sebagai rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi Cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Kemudian pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. 

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Awalnya, pada 1415 M, ketika The Duke of Orleans di penjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Prancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Sesuai perkembangan, siasat pemimpin gereja katolik itu nampaknya berhasil dengan sukses. Dengan diadakannya upacara kasih sayang tersebut jadi semacam rutinitas ritual yang bagi mereka akan terus dirayakan oleh orang-orang Kristiani, strategi mereka untuk mendapatkan kesan bahwa itu adalah kegiatan yang harus dijalankan, mereka membungkusnya melalui hiburan-hiburan atau pesta-pesta yang pada saat itu nampaknya sudah amat sangat memprihatinkan.

Karena dengan cara tersebut, banyak remaja-remaja yang terjebak pada pola perayaan awal hari kasih sayang. Seperti melakukan hubungan seks sesuka hatinya. Gonta-ganti pasangan semaunya. Semua yang mereka lakukan itu sebenarnya bukan lagi didasari oleh kasih sayang, akan tetapi hawa nafsu belaka. Inilah yang kini ikut merasuki anak-anak muda Indonesia.

Melihat pelanggaran nilai-nilai moral dan nilai sosial budaya bangsa oleh kegiatan Hari Valentine ini, sudah seharusnya pemerintah tegas memberikan perlindungan dalam bentuk penyadaran dan informasi terkait masalah-masalah pelanggaran yang dilakukan oleh calon penerus bangsa ini. Demikian juga masyarakat harus memberikan peran yang besar terhadap kebobrokan moral generasi yang semakin brutal dan tidak terkendali ini.

Sudah sangat jelas, budaya ini adalah budaya sampah dari Barat yang tidak ada sejarahnya di Indonesia dan sangat tidak tepat dilakukan di Indonesia. Sebab adanya budaya seperti ini,  justru banyak pelanggaran yang di dalamnya dilakukan anak-anak muda kita.

Gaya hidup yang berlebihan dan yang tidak punya nilai, hanya akan merusak moral generasi kita. Bukan saja akan memberikan dampak buruk, seperti pergaulan bebas, pintu masuknya AIDS/HIV, ajang narkoba dan akan banyak gadis hamil di luar nikah.

Sebagai generasi calon pemimpin bangsa yang intelek dan bermoral, kita harus bisa memilih dan memilah kegiatan apa yang harus dan perlu dibudayakan dikalangan anak-anak bangsa ini.  Sudah menjadi sebuah tanggung jawab semua anak-anak bangsa untuk ikut terlibat dalam menjaga moral bangsa yang benar. Sehingga tidak terjadi kegiatan-kegiatan yang kemudian akan merusak moral calon penerus bangsa.

Peran Bersama

Tentu disayangkan jika pemerintah tidak ikut campur dalam urusan seperti ini. Adalah langkah lebih bijak, jika pemerintah ikut membuat kebijakan terkait terhadap moral generasi bangsa. Disamping itu masyarakat juga harus memberikan peran besar terhadap pergaulan yang melanggar nilai – nilai sosial masyarakat. Juga peran orangtua yang tidak kalah penting.

Kurangnya perhatian pemerintah, mengakibatkan pemuda geneasi kita tidak mampu mengendalikan diri dalam memfilter dan melawan budaya Barat. Akibatnya, lambat-laun, tradisi budaya atau sering disebut kearifan lokal bangsa kita cepat atau lambat tergerus budaya asing.

Hal lain adalah peran keluarga (khususnya orangtua)  untuk mendidik anaknya tentang aqidah, sejarah dan budaya yang sesungguhnya. Sebab dari pintu keluarga-lah semuanya bermula. Jika di rumah dia lurus dan baik, kelak dipastikan akan juga menjadi pemuda yang tak tergoyahkan  dan silau oleh budaya-budaya asing.

Penulis adalah Anggota Komisi IX DPR RI, artikel lain bisa dilihat situs www.herliniamran.com

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menggugat Peringatan Hari Kartini

Menggugat Peringatan Hari Kartini

Negeri Mafia dan Para Don

Negeri Mafia dan Para Don

RUU Ormas dan Klaim “Bertentangan dengan Pancasila”

RUU Ormas dan Klaim “Bertentangan dengan Pancasila”

Antara Geliat Belajar dan Geliat Dunia Malam ABG

Antara Geliat Belajar dan Geliat Dunia Malam ABG

10 Hari Terakhir Mursy

10 Hari Terakhir Mursy

Baca Juga

Berita Lainnya