Atasi Islamofobia dalam Pemilu Amerika Serikat

Penelitian Brookings Institution dan Public Religion Research Institute, menemukan 47 persen orang Amerika mengatakan Islam tidak selaras dengan Amerika

Atasi Islamofobia dalam Pemilu Amerika Serikat

Terkait

oleh: Muqtedar Khan

ISLAM telah menjadi bagian penting wacana di Amerika jelang pemilu pusat 2012 dan para kandidat di mana-mana tampak ingin menegaskan pendapatnya tentang Islam guna meraup dukungan politik. Di seantero negeri, meningkatnya Islamofobia telah menyulitkan sebagian Muslim untuk membangun masjid dan mengamalkan Islam, meski hak mereka untuk melakukan itu telah termaktub dalam Amandemen Pertama Konstitusi AS.

Dalam persaingan nominasi presiden sekarang ini, beberapa kandidat mencitrakan Islam dan Muslim secara negatif demi melejitkan popularitas mereka di kalangan para warga yang mereka anggap memiliki rasa curiga terhadap Muslim ataupun Islam. Misalnya, jika dirinya terpilih, mantan kandidat presiden Herman Cain berjanji tidak akan menunjuk seorang Muslim pun dalam kabinetnya.

Ini mewakili tren belakangan ini. Pada 2010, beberapa kandidat anggota Kongres dari Partai Republik menggunakan rencana pembangunan pusat kegiatan Muslim Park51, yang dicap sebagai “masjid ground-zero”, dan ketakutan akan syariat Islam, untuk menggalang para pemilih. Dan para tokoh Kongres terpilih, seperti Peter King (R-NY), telah menggunakan penunjukan mereka di komite untuk membangun argumen bahwa Muslim Amerika sangatlah radikal, sebuah fakta yang berulang kali dibantah oleh beberapa survei dan laporan penelitian.

Namun, ada orang-orang di Partai Republik yang menghindari retorika ini, seperti kandidat presiden Mitt Romney dan Ron Paul, serta tokoh lain seperti Gubernur New Jersey, Chris Christie, yang menunjuk seorang Muslim, Sohail Mohammed, sebagai seorang hakim negara bagian meski ada banyak yang menentang.

Toleransi individu atau ketakutan terhadap kelompok berbeda tidak terbatas pada elit politik. Sebuah penelitian pada September 2011 yang diadakan oleh dua lembaga think tank, Brookings Institution dan Public Religion Research Institute, menemukan bahwa lebih dari 47 persen orang Amerika mengatakan Islam dan nilai-nilai Amerika tidaklah selaras dan kurang lebih sebanyak itu pula yang mengungkapkan ketidaknyamanan dengan Islam di Amerika.

Banyak kejadian telah menimbulkan rasa tidak suka terhadap Islam dan Muslim dalam benak sebagian orang Amerika: serangan 11 September 2001, “perang atas teror” selama satu dasawarsa berikutnya yang mencakup aksi militer Amerika di Irak dan Afghanistan, beberapa upaya serangan teroris oleh orang-orang Muslim di Amerika serta pemberitaan negatif tentang kejadian politik dan sosial di dunia Muslim. Manifestasi Islamofobia sekarang ini merupakan dampak dari rentetan yang sangat kompleks berbagai kejadian serta narasi yang muncul sebagai akibat dari kejadian-kejadian ini.

Namun, alih-alih menyerang Muslim, para pemimpin Amerika semestinya menunjukkan potensi mereka untuk menjalankan tugas memerangi intoleransi. Lagi pula, Amerika memang didasarkan pada cita-cita toleransi agama, pluralisme dan kebebasan berdemokrasi.

Tidak sulit untuk mencari contoh orang-orang Muslim Amerika yang berintegrasi dengan baik dan menjadi aset positif Amerika. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan oleh Gallup pada Agustus 2011 menunjukkan bahwa Muslim Amerika sangat terintegrasi dan menjadi warganegara yang loyal. Bahkan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa Islamofobia tidak mempengaruhi kesejahteraan ekonomi sebagian besar Muslim Amerika.

Saya mengerti mengapa beberapa kandidat presiden 2012 tergoda untuk mengeksploitasi intoleransi karena sikap negatif terhadap Islam di kalangan warga Partai Republik lebih tinggi dari tren nasional secara keseluruhan, menurut jajak pendapat Brookings pada September 2011. Tetapi ini juga sebuah peluang bagi para kandidat untuk memperlihatkan kalau mereka benar-benar negarawan, bahwa mereka mengerti semangat Konstitusi AS dan bahwa mereka bertekad bulat menjunjung tinggi konstitusi itu terlepas dari apa yang direkomendasikan oleh para penasihat strategi kampanye.

Para kandidat presiden tidak perlu menuruti pengikut bersikap paling rendah. Banyak para tokoh politik dan agama non-Muslim, baik yang awam ataupun ahli agama, telah terlibat dalam dialog antaragama yang sistematis dengan orang-orang Muslim dalam beberapa tahun belakangan. Banyak di antara mereka telah membela rekan Muslim mereka dan Muslim Amerika secara umum ketika kejadian Islamofobia terjadi, biasanya dalam bentuk penentangan pembangunan masjid atau tudingan salah kaprah atas tokoh-tokoh Muslim.

Jajaran tokoh konservatif juga dipenuhi oleh para tokoh yang sadar, seperti Gubernur Christie dan pastor Kristen penginjil Rick Warren, yang telah berhasil menjalin hubungan baik dengan Muslim Amerika.

Warren, yang memimpin sebuah gereja besar di California selatan, bicara pada konferensi tahunan Islamic Society of North America pada Juli 2011, kendati kehadirannya mendapat kritikan. Dalam konferensi tersebut, Warren menyeru Muslim dan Kristen untuk bekerja bersama-sama.

Para kandidat dari Partai Republik semestinya mencontoh para tokoh ini dan keahlian mereka. Dengan menunjukkan kemampuan sekelas negarawan dalam memerangi intoleransi, hasilnya akan bagus bagi kampanye para kandidat, serta bagi hubungan antaragama di Amerika pada umumnya.*

Dr. Muqtedar Khan ialah guru besar madya di University of Delaware dan seorang peneliti Institute for Social Policy and Understanding. Situsnya adalah www.ijtihad.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !