Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

Opini

Yahudi dan Penghancuran Citra Para Utusan Tuhan

Bagikan:

Oleh: Muh. Nurhidayat

BELUM lama ini, Organisasi Konferensi Islam (OKI) melayangkan protes resmi secara keras terhadap penghinaan majalah Prancis Charlie Hebdo yang telah melecehkan Islam. Majalah ini, dengan sengaja memasang kartun Nabi Muhammad sebagai gambar sampulnya. Selain itu, media ini juga telah mengolok-olok syariat Islam.

Selain kartun Nabi Muhammad, di sampul depan Charlie Hebdo memelesetkan nama majalahnya menjadi ‘Charia Hebdo’, Syariah Hebdo. Di sampul belakang, ditampilkan kartun Nabi Muhammad dengan hidung berwarna merah, ditambah tulisan berbunyi, “Ya, Islam kompatibel dengan humor.”

Dalam sebuah pernyataannya, Sekjen OKI, Ihsanoglu mengatakan bahwa tindakan Charlie Hebdo tersebut keterlaluan dan melanggar kebebasan berekspresi.

Kemunculan kembali materi penerbitan yang mengandung pesan anti-Islam, menurut Ihsanoglu, menunjukkan fenomena islamofobia yang terus meningkat di Eropa, yang “dipicu oleh jurnalisme bermotivasi kebencian oleh organisasi-organisasi media tertentu, termasuk Charlie Hebdo.”

Sebelum ini, d KTT Luar Biasa di Makkah-Arab Saudi pada Desember 2005 lalu, puluhan negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) melayangkan protes resmi kepada pemerintah Denmark, yang enggan menghukum para pelaku pelecehan Nabi Muhammad SAW dalam karikatur yang dimuat koran Jyllands Posten edisi 30 September 2005.

Setelah protes OKI, pada awal 2006, kaum muslimin di berbagai kota seluruh dunia melakukan demonstrasi besar-besaran untuk mengecam Jyllands Posten dan puluhan media Barat lainnya yang ikut-ikutan memuat ulang kartun pelecehan tersebut.

Penghancuran citra (character assasination) atas Nabi Muhammad SAW melalui kartun sebenarnya merupakan dosa turun-temurun masyarakat Yahudi dan Nasrani terhadap para nabi dan rasul-Nya sejak ribuan tahun silam.

Sejarah mencatat bahwa Paulus dkk., para tokoh Yahudi yang hidup pada abad ke-1 masehi adalah pelopor penghancuran citra para utusan Tuhan melalui melalui ayat-ayat fiktif yang disisipkan dalam modifikasi Injil (Bibel).

Beberapa tersebut antara lain bisa dilihat sebagai berikut:

1. Nabi Adam AS

Paulus dkk. menyebutkan bahwa seluruh manusia menanggung dosa Nabi Adam AS dan istri beliau—orang Kristen menyebutnya Hawa, yaitu dosa memakan buah terlarang di dalam surga. (Roma 5 : 1)

Kedua kakek dan nenek kita juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun Adam AS dan istri beliau telah bertaubat dan Allah SWT telah memberikan amnesti/ampunan bagi mereka berdua. (QS. Al Baqarah : 37)

Lagipula, jangankan nabi-Nya, kita sebagai manusia biasa juga akan diampuni jika bertaubat karena Allah SWT maha pengampun. Tidak kurang dari 85 ayat di dalam Al Qur’an yang menegaskan bahwa Allah SWT maha penerima taubat atas kesalahan hamba-Nya.

Sebenarnya, fitnah dosa warisan di atas menunjukkan bahwa Paulus dkk. telah melakukan keteledoran. Mereka lupa untuk merubah beberapa ayat kitab suci Injil yang menegaskan tidak adanya konsep dosa warisan (Yehezkiel 18 : 20; Ulangan 24 : 16; Matius 16 : 27; Yeremia 31 : 29–30; dan Tawarikh 25 : 4). Al Qur’an pun memperkuat bukti bahwa seseorang tidak dibebankan dosa orang lain (QS. Al An’aam : 164 dan QS Al Israa’ : 15)

2. Nabi Nuh AS

Melalui Bibel, Paulus dkk. merusak citra Nuh AS dengan menuliskan bahwa utusan Tuhan yang telah berdakwah selama 950 tahun tersebut disebut sebagai orang pertama di dunia yang membuat miras, pernah mabuk-mabukan di dalam kemahnya hingga tidak sadar kalau—maaf—seluruh pakaian beliau terlepas. (Kejadian 9 : 20 – 22). Padahal Allah SWT membela reputasi rasul-Nya melalui Al Qur’an (QS. Ash Shaaffaat : 78–81 dan QS. Al Israa’ : 3)

3. Nabi Ismail AS

Nabi Ismail AS pun juga dirusak nama baiknya oleh Paulus dkk., dengan fitnahan bahwa beliau bukan anak dari Hajar, istri Nabi Ibrahim AS yang sah. (Kejadian 21 : 10).

Padahal setiap nabi dan rasul-Nya dipilih dari keluarga yang mulia di mata Allah SWT karena menjaga kehormatannya sehingga nasab mereka sangat jelas. Al Qur’an pun menegaskan tentang kemuliaan nasab Ismail AS. (QS Al An’aam : 86–87)
Selain itu, Paulus dkk. Juga memanipulasi sejarah bahwa anak tunggal Ibrahim AS yang dikurbankan bukanlah Ismail AS, melainkan Ishaq AS. (Kejadian 22 : 2).

Pelecehan ini pun membuktikan bahwa Paulus dkk. Juga teledor dalam memodifikasi Injil, yang menyatakan Ismail AS dilahirkan Hajar ketika Ibrahim AS berumur 86 tahun (Kejadian 16 : 6), dan Ishak dilahirkan Sarah sewaktu usia Ibrahim 99 tahun. (Kejadian 17 : 16)

Dengan demikian, mustahil anak tunggal yang dikurbankan Ibrahim adalah Ishaq AS, karena beliau lahir 13 tahun setelah Ismail. Allah SWT pun membela reputasi pengorbanan Nabi Ismail AS (QS. Ash Shaaffaat : 102)

4. Nabi Luth AS

Terhadap Nabi Luth AS, Paulus dkk. memfitnah beliau telah melakukan incest dan menghamili kedua puterinya sendiri (Kejadian 19 : 30–38). Allah SWT pun membela reputasi Luth AS sebagai hamba-Nya yang tinggi derajatnya (QS. Al An’aam: 86); serta shaleh, dan dirahmati (QS. Al Anbiyaa’ : 74 – 75).

5. Nabi Ya’qub AS

Nabi Ya’qub AS termasuk utusan Tuhan yang banyak dilecehkan Paulus dkk. Dalam Bibel, beliau difitnah berkonspirasi dengan ibu kandung untuk menipu ayah kandungnya sendiri (Kejadian 27 :1–46). Anak tertua Nabi Ya’qub AS–disebutkan bernama Ruben—melakukan pergaulan bebas dengan ibu tirinya yang bernama Bilha (Kejadian 35 : 22). Selain itu, anak beliau yang lainnya—disebutkan bernama Yehuda—menzinahi dan menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38 :13–19).

Padahal dalam Al Qur’an, Allah SWT banyak memuji keutamaan Nabi Ya’qub AS beserta keturunannya (QS. Al Anbiyaa’ : 72 dan QS. An Nisaa’ : 163)

6. Nabi Musa AS

Paulus dkk. pun memfitnah Nabi Musa AS telah diangkat sebagai Tuhan oleh Allah SWT ketika hendak diutus mendakwahi Raja Fir’aun (lihat Keluaran 7 : 1). Padahal beliau hanyalah manusia biasa yang diangkat senagai utusan-Nya. (QS. Az Zukhruf : 46)

7. Nabi Harun AS

Paulus dkk. juga menjadikan Nabi Harun AS sebagai sasaran pelecehannya dalam Bibel. Beliau dituduh sebagai orang yang telah menyesatkan Bani Israel dengan membuat patung sesembahan dari emas berbentuk anak sapi. (Keluaran 32 : 2 – 4)

Padahal yang membuat berhala anak sapi untuk disembah sebagian Bani Israel yang terjerumus dalam kesesatan adalah Samiri, seorang Yahudi dari suku Assamirah, yang juga merupakan kakek moyang Paulus dkk. Allah SWT pun secara panjang lebar menceritakan pengkhianatan Samiri dan membela nama baik Harun AS dalam Al Qur’an (QS. Thaahaa : 85–91; QS. Thaahaa : 95–97; QS. Ash Shaaffaat: 119–122; serta QS. Maryam : 53)

8. Nabi Dawud AS

Nama baik Nabi Dawud AS banyak dinista Paulus dkk. dalam Bibel. Beliau difitnah menjalin hubungan gelap dengan Batsyeba, istri Una—salah satu perwira kerajaan Dawud. Bahkan beliau juga difitnah membunuh Una agar dapat menikahi Batsyeba yang tengah mengandung akibat perselingkuhan tersebut (Samuel 11 : 2 – 27 dan Mazmur 51 : 1 – 2).

Selain itu, fitnah dalam Bibel juga menyebutkan bahwa beliau—maaf—senang melakukan pergaulan bebas dengan perawan-perawan muda meskipun beliau telah lanjut usia (Raja-raja 1 : 1 – 3).

Penghancuran citra juga dialamatkan melalui fitnah atas putera-putera Dawud AS. Paulus dkk. mengumbar cerita dusta bahwa anak lelaki beliau—disebutkan bernama Absalom merusak kehormatan 10 orang ibu tirinya sendiri (Samuel 16 : 21 – 23). Lebih menyakitkan lagi, fitnah dialamatkan kepada seorang anak lelaki beliau lainnya—disebutkan bernama Amnon telah—maaf—memperkosa saudari kandungnya sendiri. (Samuel 16 : 7 – 14)

Padahal Allah SWT telah memuji beberapa keutamaan Nabi Dawud AS pada sekitar 19 ayat dalam Al Qur’an, yang salah satunya adalah, “…Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS. Shaad : 17)

9. Nabi Sulaiman AS

Paulus dkk. telah melecehkan Nabi Sulaiman AS dengan keji, dengan ayat fiktif yang menyatakan bahwa beliau memiliki 300 orang istri yang sah dan 700 orang gundik. Bahkan dituduhkan kalau beliau tidak mau tunduk kepada Allah SWT karena lebih mementingkan 1.000 orang wanitanya. (Raja-raja 11 : 13)

Beberapa ayat Al Qur’an mengokohkan citra Nabi Sulaiman AS, satu di antaranya adalah, “Dan Kami karuniakan kepada Daud, (anaknya yang bernama) Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shaad : 30)

10. Nabi Isa AS

Nabi Isa AS dan ibunda beliau (Maryam) adalah utusan Tuhan yang mengalami penodaan citra paling banyak dan paling sadis dari Paulus dkk. Beliau difitnah sebagai—maaf—anak haram (Matius 1 : 18 dan Lukas 2 : 1 – 8).

Beberapa ayat suci Al Qur’an (QS. Maryam : 16 – 22) pun menjawab fitnah keji tersebut dengan firma Allah SWT yang membela kehormatan Isa AS dan Maryam. Bahkan pada surah yang lain, Allah SWT menegaskan, “…Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina).” (QS. An Nisaa’ : 155–156)

Tuduhan keji atas Isa AS juga dilontarkan Paulus dkk. dalam Bibel yang menyatakan bahwa beliau—maaf—seorang yang emosional dan bodoh (Markus 11 : 12 -14). Fitnah ini dijawab Allah SWT dengan firman yang membela utusan-Nya sebagai hamba yang cerdas dan shaleh ( (QS. Ali ‘Imran : 45–46)

Pelecehan tersadis yang dilakukan Paulus dkk. dalam Bibel adalah ketika menyatakan bahwa Nabi Isa AS sebagai anak Allah SWT. Yohanes 5 : 7–8; Yohanes 10 : 34–36; Matius 3 : 16–17; Lukas 3 : 38; serta beberapa ayat fiktif lainnya).

Dalam kasus ini, Paulus dkk. secara otomatis juga menyerang kehormatan Allah SWT, Dzat yang tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sekutu bagi-Nya (QS. Al Ikhlash : 1 – 4; QS. Al Maa’idah : 72; QS. Al Maa’idah : 116 – 117),
Berdasarkan data-data di atas, jelaslah bahwa pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW saat ini melalui media massa Barat, pada dasarnya adalah rangkaian dari upaya penghancuran citra para utusan Tuhan yang dilakukan secara keji oleh orang-orang Yahudi sejak 21 abad silam, yang banyak melakukan penyusupan di tengah-tengah umat Nasrani. Apalagi Yahudi secara realitas saat ini mendominasi media massa cetak maupun elektronik di seluruh dunia, terutama negara-negara Barat yang mayoritas warganya Nasrani.

Untuk menghentikan konspirasi jahat Yahudi dalam menghancurkan citra Nabi Muhammad SAW dan para nabi/rasul lainnya melalui media massa, umat Islam juga wajib menguasai media massa. Lantas, bagaimana caranya agar dapat menguasai media massa di tengah kuatnya dominasi Yahudi internasional atas sarana komunikasi cetak dan elektronik seperti sekarang ini?

Jawabannya sangat mudah! Kaum muslimin dapat memulai belajar untuk tidak lagi membeli/berlangganan media cetak pro-Barat, baik yang diterbitkan di negara-negara Barat, maupun yang diterbitkan di negara-negara muslim seperti Indonesia. Selain itu, umat Muhammad SAW juga tidak aktif mengakses/belangganan siaran media elektronik Barat maupun media elektronik lokal/nasional yang dimodali pengusaha penyokong Yahudi, seperti jaringan media milik George Soros dan Rupert Murdoch.

Selanjutnya, umat Islam secara mandiri perlu membangun jaringan media massa sendiri. Jaringan tersebut dapat dibangun dengan memperkuat media massa Islam yang telah ada maupun membuat jaringan media Islam yang baru. Memang membutuhkan modal yang banyak dan SDM yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk itulah diperlukan ukhuwah dan kerjasama strategis antara ulama, umara, dan umat Islam di seluruh dunia. Wallahua’lam.*

Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Ichsan Gorontalo

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

ISIS, Iraq dan Syam: Mengapa bukan Indonesia atau Singapura? [2]

ISIS, Iraq dan Syam: Mengapa bukan Indonesia atau Singapura? [2]

Di Negara Piramida, Pageblug Rasa The Purge

Di Negara Piramida, Pageblug Rasa The Purge

Merdeka Antara Upacara dan Realita

Merdeka Antara Upacara dan Realita

PKS Kembali ke Khittah? [2]

PKS Kembali ke Khittah? [2]

Tsunami dan Spontanitas Arab

Tsunami dan Spontanitas Arab

Baca Juga

Berita Lainnya