Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Opini

Muslim Indonesia di Bawah Tirani Media?

Bagikan:

Oleh: Sarah Larasati Mantovani

SECARA tidak sengaja, belum lama ini saya membaca artikel tulisan Andy Budiman berjudul “Dilema Media di Era Kebangkitan Agama Tersandera Tirani Mayoritas” di sebuah media online di Jerman, Qantara.de. Meski agak lama, namun artikel ini tetap menarik dijawab.

Andy, yang juga pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), ini berusaha memutar balikkan fakta dengan cara menuduh bahwa media sekarang terbelenggu oleh mayoritas Islam. Menurutnya, media tidak mampu berbuat apa-apa ketika kaum ‘minoritas’ mengalami tirani secara terus menerus dari pihak ‘mayoritas’.

Sekedar diketahui, SEJUK , diluncurkan di Jakarta Media Center, dengan menggelar diskusi bertema ”Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010” mendatangkan tokoh-tokoh paham liberal (JIL); Ulil Abshar Abdalla, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace Siti Musdah Mulia dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Endy M Bayuni.

Dalam tulisannya, Andy Budiman menulis ‘kebangkitan kembali agama di Indonesia’ yang dinilai penuh dilema. Dilema, karena di balik kebangkitan Islam di Indonesia kini sedang dibelenggu sikap konservatif.

Sayang, dibalik tulisannya yang mengada-ada ini, justru tidak ‘menyehatkan’ di saat umat beragama berusaha menjalin kerukunan dengan taat pada hukum yang berlaku.

Simak saja, pada alinea kedua di sub judul “Media di tengah kebangkitan agama”, Andy Budiman mengutip James Madison dalam Federalist Papers yang menulis: “Bahaya penindasan dalam demokrasi datang dari kelompok mayoritas.” Ia juga mengamini pendapat Alexis de Tocqueville yang mengingatkan bahaya bernama tirani mayoritas.

Patut dipertanyakan di sini, mayoritas mana yang dimaksud oleh James Madison dan Alexis de Tocqueville yang dikutip oleh Andy tersebut? Padahal, jika agama mayoritas yang dimaksud itu adalah Islam, maka hal ini bertentangan dengan database agama-agama dunia dan laporan Majalah TIME.

Jika kita mau melihat kembali data secara global, justru jumlah umat Islam kalah dengan populasi Kristen. Jumlah penganut agama terbesar di dunia masih ditempati oleh Kristen di peringkat pertama dengan jumlah penganut sekitar 2,25 miliar.

Sedangkan menurut laporan Majalah TIME yang berjudul Christianity’s Surge in Indonesia yang ditulis oleh Hannach Beech (26/4/2010) bahwa jumlah umat Kristen di Asia meledak menjadi 351 juta pengikut pada tahun 2005, naik dari 101 juta pada tahun 1970 (Berdasarkan proyeksi Database Agama-Agama Dunia tahun 2005, jumlah orang Kristen di dunia sekitar 2,25 miliar.

Studi baru berdasarkan laporan berjudul “Mapping the Global Muslim Population”, yang dilakukan Pew Forum on Religion & Public Life, saat ini ada sekitar 1,57 miliar orang Muslim di dunia. Jumlah itu merupakan 23 persen dari total penduduk dunia yang mencapai 6,8 miliar).

Oleh sebab itu, dalam konteks global siapakah yang disebut mayoritas dan minoritas?

Yang lebih menggelikan lagi, Andy Budiman juga mengutip berita fitnah kasus Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama & Berkeyakinan (AKKBB) tahun 2008, di mana ada seorang wartawati yang bangga berfoto dengan Munarman, Komandan Laskar Islam kala itu.

“Ketika tragedi Monas pecah dua tahun silam, seorang wartawati pulang ke ruang redaksi dan memamerkan foto dirinya bersama Munarman, Komandan Komando Laskar Islam, yang saat itu ditahan karena melakukan kekerasan terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama & Berkeyakinan (AKKBB). Wartawati itu dengan bangga menyebut bahwa Munarman adalah pahlawan Islam,” tulisnya.

Mungkin maksud Andy, haram bagi si wartawati menfigurkan sosok Munarman. Di mana saat itu media maenstrem seolah bersepakat “mendudukan” FPI dan Munarman sebagai sosok “penjahat’ berjuluk pelaku kekerasan agama.

Padahal, dalam artikel opininya di hidayatullah.com (10/06/2008), Amran Nasution, mantan wartawan TEMPO menulis, bahwa tanpa pengecekan, koran TEMPO memuat foto mencolok Munarman mencekik seseorang yang disebutnya sebagai anggota AKKBB, padahal Munarman saat itu sedang mencegah anggotanya sendiri yang berbuat anarkis.

Jika semua kliping koran kasus itu di buka, hampir bisa ditemukan, semua koran-koran besar dan media online telah keliru memasang foto dan berita salah ini. Namun, tak pernah kami temukan, kata “maaf” atas kesalahan ini, baik sehari, seminggu sampai beberapa tahun peristiwa ini terjadi.

Artinya apa? artinya, meski media-media besar dan media maintream telah mempublikasikan berita yang salah, mereka tetap ogah meminta maaf. Maklum, FPI dan Munarman, adalah kelompok radikal, dan tidak layak dibela, apalagi meminta maaf padanya.

Ini belum termasuk kasus “pria bersenjata yang menodongkan pistol” dari rombongan AKKBB yang dinilai pemicu bentrokan terjadi, yang akhirnya diabaikan media dan polisi. Sebab, dalam banyak tulisan dan reportasenya, media saat itu, lebih suka menggiring opini agar FPI, Munarman dan Habib Rizieq Shihab segera ditangkap.

Sedang si ‘pria bersenjata’ yang ikut rombongan AKKBB itu tak pernah disentuh hukum dan ditelusuri oleh media-media mainstream, hingga kasus ini ditelan massa.

Apa yang dikemukakan, Andy secara tidak adil telah mengabaikan fakta-fakta tersebut.

Siapa mentirani siapa?

Entah apa maksud dan tujuan artikel ini, tapi yang jelas Andy Budiman seperti ingin memperlihatkan bahwa media dan wartawan Indonesia sekarang ini sedang di bawah “tirani” umat Islam yang disebutnya mayoritas. Padahal jika kita mau melihat kembali, bukankah umat Islam yang selama ini menjadi korban tirani media dan minoritas?.

Kemudian pada saat umat Islam berusaha untuk membela agamanya dari penistaan dan penodaan agama, umat Islam dianggap telah melanggar hak konstitusional orang lain.

Contohnya, seperti yang terjadi pada kasus Ahmadiyah, saat saya menyaksikan acara Suara Anda: Suara Konstitusi tentang Pancasila di Metro TV, pada tanggal 27 April lalu, dengan pembicara Mahfud MD (Ketua Hakim MK), Yudi Latief (Penulis buku Negara Paripurna) dan Lukman Hakim (Wakil Ketua MPR).

Saat membicarakan tentang Pancasila sila pertama, Metro TV kembali menayangkan tentang Ahmadiyah dan isu “Operasi Sajadah” yang dilakukan oleh TNI terhadap Ahmadiyah, di tayangan itu pula Metro mengomentari bahwa Ahmadiyah telah dipenggal Hak Konstitusinya oleh para kepala daerah yang mengeluarkan Perda pelarangan terhadap aktivitas Jemaat Ahmadiyah, padahal di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sudah jelas bahwa setiap orang mempunyai hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan.

Tapi ternyata menurut Undang-Undang Dasar, hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan tersebut tetap tidak boleh mengganggu hak orang lain (lihat pasal 28J ayat 2 tentang HAM).

Jadi, sebenarnya siapa men-tirani siapa?

Dilema Umat Islam

Sesungguhnya, yang mengalami tirani adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. Hal ini tentu sangat aneh, ‘minoritas’ mentirani ‘mayoritas’. Bahkan, umumnya, media menjadi tirari baru kepada umat slam. Madia massa maenstrem, juga kerap ‘mengkadali’ umat Islam, bahkan kadang bersikap licik. Tapi itulah kenyataannya dan kenyataan ini berusaha dibalik oleh Andy.

Pada alinea ketiga, di sub-judul “Dalam Belenggu Mayoritas”, Andy Budiman juga menuliskan:

“Warga Kristen Indonesia berdemonstrasi di Jakarta terhadap semakin meningkatnya kekerasan bersifat keagamaan, yang terutama terjadi di Jawa Barat. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas belakangan bahkan dijalankan aparatur pemerintahan secara sistematis.”

Kalau benar adanya, kenapa Andy tidak mengungkap juga kasus kekerasan dan pemurtadan yang dialami oleh umat Muslim di Ambon? Akibat kekerasan SARA banyak masjid yang hangus dan ratusan rumah Muslim Ambon yang terbakar, sehingga mengakibatkan puluhan warga Muslim terluka dan beberapa di antaranya ada yang meninggal.

Sebagai seorang jurnalis, seharusnya Andy bisa bersikap adil, sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia pasal 5 bahwa setiap wartawan harus menyajikan berita secara berimbang dan adil.

Apa yang dimaksud sistematis yang dimaksu Andy?

Tuduhannya seperti ini selain sebuah provokasi murahan juga bisa sebuah fitnah yang tak layak disampaikan oleh seorang berprofesi wartawan yang biasanya sangat hati-hati menyampaikan fakta.

Dari berbagai tulisannya, Andy Budiman juga nampak menampik fakta sejarah bahwa dari sejak Orde Lama hingga reformasi, aparatur pemerintah justru masih banyak menzalimi umat Islam dan belum memihak secara adil.

Apakah Andy lupa, bahwa dari sejak Republik ini lahir, umat Islam juga mengalami dilema dan diskriminasi dalam beragama. Pada jaman Orde Lama, tujuh kata “Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya” pernah di hapus dari Piagam Jakarta, selain itu tujuh kata tersebut pernah tercantum dalam Pancasila sila Pertama tetapi kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan alasan yang hingga kini masih kontroversi bahwa pihak Kristen akan memisahkan diri dari Negara Indonesia.

Kemudian, seperti dilansir dari republikaonline (10/07/2011), umat Islam juga baru-baru ini mengalami diskriminasi, dimana hal ini terjadi pada siswa muslim di Sebuah SMP Negeri Selat Kuala Kapuas, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang dilarang untuk memakai jilbab oleh sekolah tersebut.

Yang terbaru, umat Islam yang ingin menjalankan syari’at Islam secara kaffah juga sudah dituduh yang bukan-bukan, seperti dicap fundamentalis, anti Pancasila dan “teroris”. Tapi apakah dengan tuduhan itu Islam dan melakukan kekerasan? Yang terjadi justru masyarakat sering menjadi korban stigma pers yang buru-buru menyebut seseorang dengan tuduhan ‘kelompok radikal’ atau ‘teroris’.

Jadi siapa tirani minoritas?

Memang, tidak mudah bagi wartawan dan media untuk menulis dan memuat berita dengan jernih dan sesuai dengan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), apalagi yang berhubungan dengan SARA. Sedangkan bagi penikmat berita sendiri apalagi yang awam rasanya sangat sulit untuk membedakan mana berita yang benar karena kebanyakan media sekarang memuat berita hanya ingin menaikkan rating ataupun oplah, tidak perduli dengan akibat yang ditimbulkan dari yang diberitakannya tersebut.

Sudah cukup rasanya bagi umat Islam dibelenggu oleh berita-berita yang tidak adil dan tidak berimbang. Memang tidak mudah bagi wartawan untuk menulis dengan jernih di masa kebangkitan agama meski sudah menggunakan istilah “Aliansi Jurnalis untuk Keberagaman”. Setidaknya, tulisan Andy Budiman telah memberikan saya pelajaran berharga, bagaimana Islam dan Rasulullah Muhammad bisa berlaku adil, bahkan terhadap musuh yang paling ia benci sekalipun.

Penulis adalah seorang jurnalis muda, tinggal di Jakarta

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pluralisme Agama

Pluralisme Agama

Waspadalah Ketika Umat Jauh dari Masjid

Waspadalah Ketika Umat Jauh dari Masjid

Hamid Fahmy: “Kontradiksi”

Hamid Fahmy: “Kontradiksi”

Musik dalam Islam: Bolehkah?

Musik dalam Islam: Bolehkah?

Islam, Politik dan Annus Mirabilis

Islam, Politik dan Annus Mirabilis

Baca Juga

Berita Lainnya