Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Sejumlah Premis dan Keganjilan “Bom Ulil”

Bagikan:

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

SEPEKAN ini, kabar perihal paket bom dibeber media, dan menciptakan keresahan. Tentu saja, siapapun akan resah pada kabar paket-paket yang memancing maut itu. Termasuk saya. Tetapi, lepas dari rasa khawatir itu, saya merasakan kasus ini dimulai dengan sebuah keganjilan.

Tidak hendak menunding bahwa ini didalangi oleh kelompok tertentu, atau dengan motif apa, tiba tiba saja paket berisi bom itu berseliweran di berbagai tempat. Tetapi, memang ada perasaan ganjil yang terselip ketika menyimak berita perihal ini.

Awal mula kabar ini datang dari Kantor Berita Radio (KBR) 68-H, Jakarta. Sebuah radio yang awalnya didirikan oleh Komunitas Utan Kayu (KUK) yang beralamat di jalan Utan Kayu No.68H, Jakarta Timur. Di lokasi, di mana radio ini mukim, ada pula sejumlah lembaga yang masih merupakan bagian dari KUK, antara lain Galeri Lontar, Jurnal Kebudayaan Kalam (beserta Toko Buku Kalam), Teater Utan Kayu (TUK), Institut Studi Arus Informasi (ISAI), dan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Sebuah paket yang berisi buku dikirimkan oleh seseorang yang tertulis beralamat di Ciomas, Bogor, kepada koordinator JIL, Ulil Abshar Abdalla. Paket ini ternyata bom yang kemudian meledak ketika berusaha dijinakkan seorang perwira polisi. Saya tak akan mengulang kelengkapan cerita ini sebab telah banyak ditulis media.

Pada hari yang sama, Senin, 14 Maret 2011, kantor JIL—bukan KBR 68-H seperti yang disebut media—disatroni paket bom. Ada empat tempat termasuk rumah artis Ahmad Dhani. Hanya saja paket bom di rumah Ahmad Dani baru ketahuan dua hari setelahnya. Selanjutnya, paket bom itu makin bertambah. Kecemasan dan ketakutan merebak laksana wabah.

Keganjilan Paket untuk JIL

Pada beberapa kasus peledakan yang pernah terjadi, dan berhasil dibongkar polisi, tudingan serta merta mengarah pada kelompok Islam Fundamentalis. Beberapa kasus, khususnya yang sudah berhasil diungkap kepolisian, harus diakui bahwa jaringan macam itu adalah aktor tunggal. Tetapi dalam termonologi “perang” kepentingan seperti ini, semua pihak juga patut dicurigai memiliki motif dalam terms supremasi dan rencana global.

Benarkah bom paket yang beredar sepekan ini adalah ulah kelompok fundamental Islam? Belum tentu. Sebab tidak hanya Islam yang memiliki kelompok fundamentalis. Agama atau keyakinan lain pun memiliki kelompok kelompok seperti ini. Termasuk kelompok fundamentalis Kristen (KKK dan Black Mason), dan kelompok fundamentalis Yahudi (Zionis dan David Star Ordo) dan pendukungnya, yang kerap diidentifikasi sebagai Judaism Conspiracy.

Lalu di mana letak keganjilan yang saya maksud? Bom paket yang terbungkus rapi bersamar mirip buku yang diperuntukkan Ulil Abshar Abdalla ini cukup aneh. Bagaimana prosesnya hingga si penerima menyadari bahwa paket tersebut adalah bom? Itulah pertanyaan yang mengantar keganjilan tersebut.

Premis pertama. Semuanya seolah-olah sudah disiapkan. Sejumlah indikator bisa dilihat, antara lain; paket itu adalah pembuka dari rentetan kejadian berikutnya; Ulil tidak masuk pada hari Senin (hari dimana umumnya semua orang merasa harus masuk kerja); paket itu dikatakan sudah lebih dulu diterima resepsionis (apa sebabnya si resepsionis menduga paket itu adalah bom, padahal dalam footage siaran televisi jelas sekali terlihat paket itu terbungkus rapi dan terlihat sukar dibuka oleh Kompol Dodi); Mengapa Kompol Dodi bersikeras membuka paket itu (tidak menunggu tim Gegana, seperti yang seharusnya dalam Protap penanganan bom); sasaran bom adalah sejumlah individu dan lembaga yang selama ini mendukung kebebasan beragama dan penentang Ahmadiyah?

Premis kedua. Dalam psiko-war, keganjilan ini tidaklah aneh. Semua pihak yang terlibat dalam perang kepentingan memiliki potensi yang sama untuk saling menyerang, baik berupa serangan langsung atau menyerang kredibilitas kelompok lain dengan rumor dan dugaan yang berpangkal dari kejadian yang sengaja dipicu kelompok bersangkutan. Bingung?

Sederhananya begini. JIL bisa dianggap berpotensi merencanakan dan melakukan tindakan itu untuk mendiskreditkan kelompok kelompok penentangnya dengan membonceng opini publik terhadap kejadian yang mereka ciptakan sendiri. Cara ini sangat akrab dalam psiko-war sebagai metode untuk menggiring opini publik terhadap posisi sebuah kelompok atas kelompok lainnya yang sedang bertentangan. Cara ini pun sangat akrab dalam pola spionase (dan kontra-spionase Zionis) dan sering kita lihat dipraktekkan sejak kasus pembunuhan 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich (1972) yang dikenal sebagai Black September, hingga perselisihan Israel-Palestina kini.

Penyerangan bersandi operasi Berim Ikrit, yang ditujukan buat atlet-atlet Israel itu, menurut keterangan resmi diotaki oleh Mohammed Daud Odeh (Abu Daud), seorang petinggi di sayap militer Fattah, organisasi bersenjata PLO. Abu Daud mengorganisir satu grup dengan misi menyerang semua atlet Israel pada penyelenggaraan Olimpiade Munich, Jerman.

Dalam sebuah penyergapan di sebuah kamar hotel, grup Fattah hanya berhasil menewaskan 11 atlet, dan juga tujuh official lainnya. Serangan itu membuat marah otoritas Israel yang kemudian memerintahkan satu tim agen Mosaad untuk mengejar para penyerang “sampai dimana pun”. Untuk misi balasan ini, Mossad sampai-sampai mengerahkan semua sumberdaya mata-mata (personal dan lembaga) mereka yang tersebar di seluruh dunia.

Operasi balasan ini tidak berhasil sepenuhnya, sebab otak penyerangan itu sendiri tidak bisa disentuh Mossad. Ini aneh, menurut Victor Ostrovsky, seorang mantan agen Mossad, yang menulis dua buku mengenai teror Zionis terhadan musuh-musuhnya.

Bagaimana mungkin Mossad tidak bisa membekuk Abu Daud yang hanya berjarak beberapa mil dari Israel, sementara para penyerang yang sudah lari menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan mudah mereka tangkap. Victor sendiri membenarkan bahwa Abu Daud adalah bagian dari operasi rahasia untuk membangun kebencian dunia terhadap orang Palestina dan Arab-Islam. “Walaupun untuk tercapainya misi itu, Zionis harus mengorbankan 18 orang,” kata Victor Ostrovsky.

Pola-pola Perancangan dan Teror Zionis

Pada tahun 1954, pemerintah Israel menggelar sebuah operasi teror rahasia terhadap semua kepentingan Amerika Serikat di Mesir, dengan sandi Operation Suzannah. Tujuan Operasi ini adalah untuk membunuh warga Amerika dan meledakkan berbagai instalasi Amerika di Mesir.

Rencana Israel adalah meninggalkan barang bukti yang keliru bahwa rejim Mesir adalah pelaku sabotase ini sehingga Amerika segera berdiri di belakang Israel untuk berperang dengan Mesir.

Agen-agen Zionis berhasil meledakkan sejumlah kantor pos dan perpustakaan Amerika di Kairo dan Alexandria. Nahas, ketika akan meledakkan bioskop Metro-Goldwyn-Mayer Theater, bom agen Mossad meledak lebih awal. Karena kejadian ini, baik Mesir dan Amerika dapat mengungkap dan menghentikan plot operasi Zionis ini pada tahap-tahap awal. Peristiwa ini dikenal sebagai Lavon Affair, sebab digerakkan oleh petinggi Mossad yang juga menjabat sebagai Menlu Israel, Pinhas Lavon.

Apakah metode Zionis ini sama dengan peristiwa paket bom untuk JIL dan serentetan teror paket bom lainnya?

Melihat metodenya, ada kemiripan. Tetapi untuk menjawab soal kepastian pelaku, tentu saja kita harus menunggu hasil penuntasan penyelidikan aparat Kepolisian. Tetapi kita bisa membangun dugaan dari berbagai kemungkinan yang berangkat dari berbagai pertanyaan yang muncul atas beberapa keganjilan.

Mengapa sasaran paket bom ditujukan pada semua entitas yang selama ini mendukung Ahmadiyah dan yang menolaknya, atau penerima dana dari organisasi donor Zionis (dan yang berafiliasi dengannya)?

Dari pihak kelembagaan, ada Jaringan Islam Liberal (JIL) yang oleh banyak pihak dicurigai sebagai organisasi yang selama ini menerima dan menyalurkan kucuran besar dana dari lembaga-lembaga donor bentukan Zionis, untuk membiayai program-program pro-neoliberalisme dan kapitalisme di Indonesia. Dan, Ahmadiyah yang juga dianggap berbagai kalangan sebagai perpanjangan tangan politik pemerintah Inggris yang kuat afiliasinya dengan Zionis-Israel (terbentuknya negara Israel adalah atas mandat Inggris untuk menindaklanjuti keinginan orang Yahudi yang telah lama berdiaspora di Eropa, khususnya Inggris); Ahmadiyah sebagai alat pada politik pemecah belah oleh Inggris, dianggap masih melakukan misi lamanya.

Dari pihak perorangan, ada Japto Soelistyo Soerjosoemarno, S.H. adalah penggagas organisasi Pemuda Pancasila, sebuah organisasi yang dahulu yang dikenal luas sebagai kino partai Golkar. Japto kemungkinan besar diincar karena ibunya, Dolly Zegerius , adalah keturunan Yahudi. Lalu ada pimpinan DPR RI, Taufik Kurniawan, yang dikenal cukup vokal menentang Ahmadiyah dan meminta pemerintah agar membubarkan Ahmadiyah. Komjen Gories Mere, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, yang sering dinilai berperan di Densus 88 dalam menangkapi aktivis Islam. Ahmad Dani yang bahkan namanya pernah termuat di sebuah buku “Fakta dan Data Yahudi di Indonesia” yang mengaitkan dirinya dengan Yahudi dengan memasukkan pesan-pesan Zionisme dalam lagu-lagunya.

Melihat polanya, dapat dimungkinkan bahwa semua rentetan kejadian ini ditunggangi oleh kepentingan asing, dalam sebuah operasi rahasia berskala kecil, dengan tujuan untuk menyebarkan kecemasan dan ketakutan (teror). Secara sistematis, pola dan rencana yang berujung pada rentetan kejadian teror bom itu, hendak menunjukkan kefalidan dugaan bahwa pola klasik Zionis-Israel memang berulang; menyerang sendiri kepentingannya (sekaligus kepentingan Islam) untuk membangun dasar pembenar bahwa tindakan pihak Islam-lah yang akan membuat integritasnya hancur. Buntutnya, lahirnya distorsi dan sikap antipati pada organisasi ke-Islaman, atau masyarakat Islam pada umumnya.

Adalah menarik membaca amatan AC. Manulang, yang dikutip dari harian Pos Kota. Pengamat intelijen AC Manulang menilai ada upaya pihak asing yang bermain dengan cara mengobok-obok Islam di Indonesia. Pihak asing ini berkepentingan dengan neoliberalisme dan kapitalisme dengan menggunakan tangan-tangannya sendiri untuk memecah belah Islam agar tidak bersatu. Mereka menghidupkan opini bahwa Islam berbahaya.

“Mereka mengobok-obok dengan memainkan orang-orang di Indonesia sendiri agar terus-menerus terpecah-pecah,” katanya menganalisa. Kalau Islam di Indonesia lemah, lanjutnya, maka kekuatan untuk negeri ini mudah diperdaya, ekonomi dan kekayaan dikuasai mereka.

Menurut AC Manulang, di mana-mana saat ini Islam sedang dilemahkan, sebab kalau bersatu bisa membentuk satu kekuatan internasional yang luar biasa besar. “AS, Israel, Australia merasa terancam oleh bersatunya Islam,” katanya.
Kini siapa saja bisa menilai dan membangun premis sendiri-sendiri perihal adanya anasir asing yang melancarkan propaganda dengan menyebar ketakutan dan kecemasan.*

Penulis adalah Jurnalis, dan penulis novel “Unabomber: Gadis Kecil di Elliot House”

Foto ilustrasi diambil dari Kaskus

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Intropeksi kasus Penyadapan: Masihkan Kita menjadi Negara yang Berdaulat?

Intropeksi kasus Penyadapan: Masihkan Kita menjadi Negara yang Berdaulat?

Media dan Pekerjaan Rumah Terbesar Umat Islam

Media dan Pekerjaan Rumah Terbesar Umat Islam

Bersedekah di Malam Hari

Bersedekah di Malam Hari

Ketentuan Pidana Zakat di Aceh

Ketentuan Pidana Zakat di Aceh

vaksin Israel

‘Kehalalan’ Vaksin MR dan Rendahnya Cakupan ASI

Baca Juga

Berita Lainnya