Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Reaksi Muslim terhadap “Hari Menggambar Nabi”

Bagikan:

SAYA akan menjadi orang pertama yang membela hak setiap orang mengungkapkan pendapat mereka, tak peduli bagaimana pendapat itu menyakitkan hati saya. Amerika telah menjadi maju karena orang-orang Amerika menghargai dan menghormati keragaman. Tapi kebebasan berekspresi bukan berarti keharusan untuk menghina atau menunjukkan sikap tak hormat terhadap keyakinan agama atau tokoh panutan orang lain.

Upaya penggambaran Nabi Muhammad terjadi baru-baru ini dalam sebuah episode animasi komedi situasi South Park di televisi kabel Comedy Central. Seorang kartunis di Seattle, Molly Norris, membuat sebuah poster kartun yang memuat gambar-gambar yang diklaim mirip dengan Nabi Muhammad. Tapi, ia segera menarik diri, dan mengatakan ia tak pernah bermaksud meluncurkan “Hari Setiap Orang Menggambar Muhammad”.

Di situs webnya, ia telah memposting sebuah pernyataan yang di antaranya berbunyi: “Saya TIDAK ‘mendeklarasikan’ 20 Mei sebagai ‘Hari Setiap Orang Menggambar Muhammad’. Poster-kartun itu, dengan ‘kelompok’ gadungan di belakangnya, mewabah di internet dan disikapi serius… Hujatan yang muncul dari orang-orang yang hanya ingin melukis gambar-gambar cabul, menghina kaum muslim yang tidak pernah melakukan apa pun yang mengancam hak kita berekspresi… Saya meminta maaf pada kaum muslim dan mendesak ‘hari’ ini dibatalkan.”

Jon Wellington, sang kreator halaman Facebook yang dipersembahkan untuk ‘hari’ tersebut, juga menolak dianggap telah memicu “postingan-postingan yang menghasut”. Ia mengatakan, “Saya malah geram begitu banyak orang yang memposting gambar Nabi dengan cara yang sangat menghina.”

Meskipun ada upaya yang tampak tulus dari Norris dan Wellington untuk tidak ikut-ikutan acara itu, orang-orang yang ingin menyerang muslim dan membenci Islam, terus melaksanakan seruan “menggambar Muhammad” di internet. Sebagian besar muslim meyakini bahwa penggambaran visual para Nabi tidaklah patut karena bisa menodai penyembahan kepada Allah semata dan bahkan menggiring ke penyembahan berhala, yang dilarang dalam Islam.

Lantas bagaimana muslim dan orang Amerika lainnya harus bereaksi terhadap upaya para penyebar kebencian dengan mengeksploitasi hak kebebasan berbicara dan mengubah 20 Mei menjadi sebuah perayaan penghinaan dan xenofobia?

Sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, harus dijelaskan dulu bahwa muslim Amerika menghargai kebebasan berbicara dan tidak punya hasrat untuk merintangi insting kreatif para kartunis, komedian atau siapa pun.

Muslim Amerika arus utama, termasuk organisasi saya, Council on American-Islamic Relations (CAIR), telah pula menolak keras segelintir orang dari kelompok ektremis yang tergabung dengan situs web RevolutionMuslim.com untuk mengancam para kreator South Park. Kelompok itu, yang asal-usul dan orang-orangnya dipertanyakan oleh banyak muslim, tidak punya kredibilitas di tengah komunitas muslim Amerika.

Saya, seperti banyak muslim, heran melihat media menyiarkan pandangan segelintir orang, dan mengabaikan ratusan masjid dan lembaga muslim yang punya banyak orang yang bisa menawarkan perspektif arus utama.

Selanjutnya, kita harus merujuk pada bagaimana Nabi Muhammad sendiri menanggapi hinaan kepada beliau.

Hadis-hadis menyebutkan sejumlah contoh di mana Nabi mempunyai kesempatan membalas mereka yang memakinya, tapi menahan diri melakukannya. Beliau bersabda, “Janganlah kamu berbuat jahat kepada mereka yang berbuat jahat kepadamu, tapi hadapilah mereka dengan maaf dan kebaikan.” Dan sebuah ayat dalam al-Qur’an meminta Nabi untuk “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (7:199).

Inilah pedoman yang harus muslim ikuti saat mengungkapkan keprihatinan terhadap penggambaran yang menghina Nabi Muhammad, atau nabi yang lain.

Alih-alih bereaksi negatif terhadap seruan mendukung “Hari Setiap Orang Menggambar Muhammad”, muslim Amerika – juga muslim di dunia – harus menggunakan 20 Mei, dan setiap hari yang lain, sebagai kesempatan untuk berhubungan dengan orang-orang dari agama lain untuk membangun kesalingmengertian dan penghormatan.

Cara menanggapi yang paling baik dan produktif terhadap kampanye seperti “Hari Setiap Orang Menggambar Muhammad” adalah memperbanyak komunikasi, bukan menguranginya – dan tidak dengan membatasi kebebasan mencurahkan gagasan dengan langkah-langkah seperti melarang Facebook.

Penelitian, termasuk jajak pendapat Gallup 2010 yang mengukur sikap AS terhadap muslim, telah menunjukkan bahwa prasangka anti-Islam berkurang ketika orang-orang berinteraksi dengan orang-orang muslim kebanyakan dan punya pengetahuan yang lebih banyak tentang Islam.

Karena itu, reaksi terbaik terhadap mereka yang mengolok-olok Nabi Muhammad (atau tokoh dan simbol agama apa pun) barangkali adalah menggelar “open house” di masjid bagi komunitas lokal, kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh muslim dengan melibatkan orang-orang dari agama lain, atau tulisan di surat kabar yang menggambarkan kehidupan, warisan dan karakter pribadi Nabi, yang bertolak belakang dengan fitnah sebagian orang terhadap beliau.

Kita semua akan mendapat manfaat jika masing-masing kita –entah Islam, Yahudi, Kristen, Budha atau Hindu — menunjukkan kelakuan baik yang diamanatkan oleh agama kita masing-masing.

*)Nihad Awad adalah Direktur Eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR), kelompok politik dan hak sipil Muslim Amerika. Artikel ringkasan ini diambil dari Kantor Berita Common Ground (CGNews)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

UU BNPT Tidak Visibel?

UU BNPT Tidak Visibel?

Soekarnoisasi Pancasila

Soekarnoisasi Pancasila

Bagaimana Islamofobia dan Fakta ‘Alternatif’ Membentuk Pemerintah Donald Trump [2]

Bagaimana Islamofobia dan Fakta ‘Alternatif’ Membentuk Pemerintah Donald Trump [2]

Kisah Tentang Bayi Ajaib

Kisah Tentang Bayi Ajaib

Ahmadiyah dan Bahaya Plagiator Agama

Ahmadiyah dan Bahaya Plagiator Agama

Baca Juga

Berita Lainnya