Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Opini

Stop Cetak Uang, Kita Milik China

Bagikan:

oleh: Amran Nasution

Hidayatullah.com–Semula hanya ditunda 5 hari, tapi akhirnya Presiden Barack Obama batal datang ke Indonesia bulan ini. Seperti diumumkan Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs, Rabu, 17 Maret 2010 waktu setempat, perjalanan reformasi Undang-Undang Pemeliharaan Kesehatan (Health Care Bill) di DPR Amerika Serikat merupakan agenda terpenting Presiden Obama saat ini.

Direncanakan akan ada pemungutan suara di DPR dalam beberapa hari mendatang. “Presiden memutuskan akan menyaksikan langsung pertarungan ini,’’ kata Gibbs. Maka kunjungan Obama ke Indonesia diundur sampai Juni mendatang.

Orang yang paling kecewa dengan gagalnya rencana ini, tentu Presiden SBY. Soalnya kedatangan Obama tampaknya akan mengerek popularitas SBY yang sekarang lagi hancur-hancuran akibat skandal Bank Century yang merugikan negara Rp 6,7 triliun.

Belakangan SBY tambah terpuruk ketika perusahaan konsultan dari Hongkong, PERC, mengumumkan hasil surveinya bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat korupsi paling tinggi di Asia-Pasifik. Tahun ini tingkat korupsi melonjak dibanding tahun sebelumnya, mengakibatkan korupsi di Indonesia lebih parah dibanding Kamboja atau Vietnam, apalagi Thailand dan Malaysia.

Padahal dalam kampanye lalu, SBY menjadikan isu pemberantasan korupsi sebagai salah satu keberhasilan 5 tahun pemerintahannya. Dengan survei PERC sudah jelaslah bahwa keberhasilan pemberantasan korupsi di Indonesia hanya sebuah khayalan yang menipu rakyat.

Tapi di mata sementara orang Indonesia, Obama punya tempat tersendiri. Ia sempat menghabiskan 4 tahun masa kecilnya di Jakarta, mengikuti ibunya yang menikah dengan pemuda Indonesia, setelah bercerai dengan ayahnya, seorang lelaki Kenya, Afrika. Keberagaman keluarganya –nenek dari jalur ayahnya sampai sekarang hidup di Kenya sebagai muslim– selalu diingatkan Obama ketika mengunjungi negeri Muslim seperti Turki atau Mesir.

Amerika, menurut Obama, telah diperkaya oleh muslim. Banyak orang Amerika memiliki muslim di antara keluarganya. ‘’Saya tahu, karena saya adalah salah satu di antara keluarga itu,’’ katanya berpidato di depan Parlemen Turki, April 2009.

Masih harus diikuti, apakah Presiden Obama bisa menolong Presiden SBY dari keterpurukan bila ia kelak datang ke Indonesia. Soalnya, Profesor William Liddle, pengamat Indonesia paling senior dari Ohio State University, Amerika Serikat, menulis di KOMPAS, 10 Maret lalu, bahwa Presiden Obama maupun Presiden SBY sekarang sama-sama berada dalam krisis.

Obama sedang bermasalah karena reformasi pemeliharaan kesehatan yang diperjuangkannya secara all-out dilihat sebagai ancaman terhadap kebebasan memilih bagi rakyat Amerika Serikat. ‘’Obama dicurigai merongrong hak dan kemampuan warga Amerika untuk hidup selaku masyarakat bebas,’’ tulis Liddle. Maksudnya, undang-undang ini ditafsirkan mewajibkan warga Amerika Serikat memiliki asuransi kesehatan, sesuatu yang bagi sementara orang dianggap melanggar asas kebebasan.

Sementara itu Presiden SBY dituding lebih berpihak ke pasar bebas dan kapitalis asing, daripada kepada negara dan rakyatnya, dalam mengangkat para pejabatnya serta pilihan kebijakan ekonominya.

Masalah itu menimbulkan tekanan kepada keduanya karena mencerminkan aliran budaya politik yang berakar dalam di masyarakat masing-masing. Akibatnya, kewibawaan kedua presiden diguncang keras di awal masa jabatannya tanpa jalan keluar yang jelas.

Liddle lebih optimistis Obama bisa mengatasi krisis yang sedang dihadapinya dibanding SBY. Walaupun sesungguhnya, belakangan ini Amerika Serikat tambah terpuruk saja. Terakhir, Pemerintah Amerika Serikat baru saja dipermalukan Israel di panggung internasional.

Coba. Hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendarat di Israel, Selasa, 9 Maret lalu, pemerintah Israel mengumumkan telah mengeluarkan izin membangun 1600 rumah di kawasan Jerusalem Timur.

Pengumuman itu seakan melemparkan kotoran ke wajah Joe Biden. Kenapa tidak? Jerusalem Timur bersama Tepi Barat dan Gaza, oleh dunia internasional telah dirancang sebagai calon negara Palestina merdeka, dengan Jerusalem Timur sebagai ibukota.

Tapi nyatanya orang Yahudi atas izin pemerintah Israel terus membangun pemukiman di sana. Di Ramat Shlomo, misalnya, kini terdapat sekitar 18.000 rumah Yahudi. Itu salah satu sebab mengapa upaya perdamaian Arab – Israel selama ini selalu gagal.

Setahun ini pemerintahan Obama – melalui utusan khusus untuk Timur Tengah, George Mitchell – kembali merintis jalan damai. Hasilnya: sehari sebelum kunjungan Joe Biden ke Israel, telah diumumkan pemerintah Amerika Serikat bahwa perundingan damai tak langsung antara Israel dengan Palestina akan dimulai lagi.

Maka kedatangan sang Wapres dimaksudkan sebagai simbol keberhasilan pemerintahan Obama membawa Israel dan Palestina kembali ke meja perundingan. Nyatanya pemerintah Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melempari wajah pemerintah Obama dengan telur busuk.

Pemerintah Amerika Serikat marah besar. Departemen Luar Negeri mengumumkan Jumat lalu bahwa Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton menelepon Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama 43 menit, menyampaikan kekecewaan dan protes Amerika Serikat atas perilaku Israel. Kecaman terhadap Israel juga datang dari Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs dan Penasehat Senior Gedung Putih David Axelrod. Axelrod, misalnya, menuduh perbuatan pemerintah Israel itu adalah permusuhan.

Apa yang terjadi menunjukkan betapa Israel sama sekali tak menghargai pemerintah Amerika Serikat. Padahal selama ini – terutama setelah Perang Dunia II — negeri Yahudi itu amat tergantung pada Amerika Serikat. Sudah puluhan tahun Amerika menyuapi Israel dengan berbagai bantuan, termasuk persenjataan dan duit (dalam bentuk hibah), sedikitnya 3 milyar dollar setiap tahun.

Dengan bantuan itu Israel muncul sebagai negara dengan persenjataan paling tangguh dan juga salah satu negara makmur secara ekonomi di Timur Tengah. Ingat: dengan perlindungan Amerika Serikat, Israel menjadi satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Dan demi melindungi Israel pula, Amerika Serikat mati-matian menghadang proyek nuklir Iran.

Sebetulnya, seperti ditulis Profesor John Mearsheimer dari University of Chicago dan Profesor Stephen Walt dari Harvard University di dalam buku The Israel Lobby And U.S. Foreign Policy (Farrar, Straus and Giroux, New York 2007) dengan segala bantuan itu, Israel mestinya tak bisa bertingkah seenaknya. Bantuan 3 milyar dollar setiap tahun adalah sangat besar, dan menurut kedua profesor tadi, menyebabkan ekonomi Israel maju pesat. Kini tingkat kemakmuran Israel setara Korea Selatan atau Spanyol.

Nyatanya Israel sering bertindak sesuka hati. Berkali-kali Israel jalan sendiri tanpa mengindahkan Amerika Serikat dalam soal Timur Tengah. Bahkan berkali-kali terbongkar negeri itu menginteli Amerika Serikat – terutama menyangkut sistem persenjataan dan teknologi. Dan kini Israel malah berani mempermalukan seorang Wakil Presiden Amerika Serikat di pentas politik internasional.

Jika Pemerintah Israel sering bertindak semau gue tanpa ada hukuman berarti dari Pemerintah Amerika, menurut buku tadi, karena kuatnya lobi Israel di Amerika Serikat. Seperti terbukti selama ini, tak satu pun Presiden Amerika Serikat yang berani melawan lobi Isreal, tentu termasuk Presiden Obama yang pemerintahannya sekarang sedang menghadapi krisis.

Apalagi seperti ditulis Jackson Diehl, wartawan The Washington Post, di korannya edisi 8 Maret lalu, Presiden Barack Obama nyaris tak punya kawan. Ia beda dengan Presiden George Bush dulu yang dikenal berhasil membangun pertemanan dekat dengan sejumlah pemimpin dunia, terutama dengan Perdana Menteri Inggris waktu itu, Tony Blair.

Tapi Obama, seperti ditulis Diehl, punya masalah dalam berhubungan dengan Nicolas Sarkozy (Presiden Perancis), Angela Merkel (Kanselir Jerman), dan Gordon Brown (Perdana Menteri Inggris). Padahal semua negara di atas adalah sekutu terdekat Amerika Serikat. Kalau dengan pemimpin negeri sekutu saja Obama bermasalah, entah bagaimana dia bisa dekat dengan Presiden SBY.

Lebih Rendah dari Vietnam dan Honduras

Tampaknya semuanya bersumber dari kegagalan pemerintahan Obama di dalam negeri. Betapa parahnya kondisi sekarang, bisa dilihat dari polling terbaru yang diumumkan 8 Maret lalu, bahwa 60 persen responden Amerika Serikat percaya negeri mereka sedang berjalan ke arah yang salah. Mayoritas responden berpendapat Partai Demokrat yang memerintah sekarang sama saja dengan Partai Republik, pemerintahan lalu yang telah kalah dalam Pemilu. Polling dilakukan oleh Democratic Corps, sebuah institusi dari Partai Demokrat, bekerja sama dengan Third Way, lembaga nirlaba yang progresif.

Dengan hasil polling ini–bila tak terjadi perubahan signifikan–-dominasi Partai Demokrat yang menguasai DPR dan Senat, akan mengalami ancaman serius dalam pemilihan umum sela (midterm) November mendatang.

Merosotnya pamor Obama di mata rakyat dimulai dari talangan (bailout) sekitar 75 milyar dollar untuk bank yang terkena masalah kredit perumahan (mortgage), lalu dilanjutkan dengan ‘’menghamburkan’’ 787 milyar dollar untuk paket stimulus. Program reformasi pemeliharaan kesehatan tadi ditaksir akan berbiaya 940 milyar dollar. Semua itu akan menyebabkan defisit APBN negeri itu akan melonjak-lonjak. Untuk lima bulan pertama tahun fiskal 2010 saja, defisit sudah mencapai 655 milyar dollar.

Dari mana pemerintah dapat uang untuk menutupinya? Antara lain, terutama dengan menjual obligasi ke luar negeri, khususnya ke China, Timur Tengah, dan Jepang. Atau dengan kata lain: menimbun utang. Tak aneh jika dalam berbagai demo oleh para aktivis di sana, selalu ada poster berbunyi: ‘’Stop printing money’’ (Stop cetak uang) dan ‘’China owns us’’ (Kita milik China).

Celakanya, walau sudah menghamburkan hampir satu trilyun dollar untuk paket talangan dan stimulus, kondisi ekonomi belum juga cerah, terutama pengangguran masih terasa menyesakkan dada. Selama lebih setahun resesi ekonomi menimpa, sudah jutaan rakyat Amerika Serikat kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, dan kehilangan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Stimulus diberikan kepada bank-bank besar, dengan bunga nyaris 0 persen. Sementara bank mengenakan bunga kartu kredit pada masyarakat sebesar 20 sampai 30%. Semuanya kemudian oleh banyak anggota masyarakat dirasakan tak adil. Atau lebih tepatnya, seperti dikatakan poolster terkenal, Scott Rasmussen: sekarang ini 75% rakyat Amerika Serikat sedang marah.

Betapa tidak? Bob Herbert, kolumnis surat kabar The New York Times melalui tulisannya 9 Maret lalu, mencoba menjelaskan kenapa rakyat marah atau setidaknya kecewa kepada Obama dan Partai Demokrat-nya. Sekarang umumnya rakyat merasakan ancaman pengangguran: sulitnya mencari pekerjaan atau sulitnya mempertahankan pekerjaan (untuk tak di-PHK). Ditaksir sejak resesi terjadi sampai sekarang sudah hilang 11 juta kesempatan kerja.

Sementara itu, pemerintahan Obama menumpahkan hampir seluruh perhatiannya ke reformasi Undang-Undang Pemeliharaan Kesehatan (Health Care Bill), salah satu masalah yang jadi materi kampanye Obama dulu (dan menjadi sebab kegagalannya berkunjung ke Indonesia).

Betul, masalah itu penting. Sungguh keterlaluan kalau ternyata terdapat sekitar 32 juta rakyat Amerika Serikat tak punya asuransi kesehatan. Dalam 5 tahun mendatang, jumlah itu akan jadi 40 juta orang.

Artinya, mereka akan kesulitan berobat bila sakit, padahal Amerika salah satu negara maju di dunia. Inilah hasil sistem kapitalisme tak terkendali yang diterapkan dua priode pemerintahan Presiden George Bush, yang menyebabkan kesenjangan sangat curam di tengah masyarakat. Orang-orang kaya dunia berkumpul di Amerika, tapi untuk diketahui saja harapan hidup rata-rata orang kulit hitam di New Orleans lebih rendah dibanding rata-rata penduduk dunia ketiga seperti Vietnam atau Honduras.

Artinya, program kerja pemerintahan Obama tentang Undang-Undang Pemeliharaan Kesehatan itu memang diperlukan – terutama untuk kalangan masyarakat miskin Amerika Serikat. Tapi dalam kondisi sekarang, rakyat belum sempat memikirkan masalah itu. Mereka sedang terjerat oleh ketidakpastian akan pekerjaan atau usahanya. Ketidakpastian itu lama kelamaan berubah menjadi kemarahan. Jadi yang sedang terjadi di Amerika Serikat sekarang: rakyat butuh pekerjaan, tapi Obama memberi mereka health care bill.

Dalam kunjungan ke Indonesia nanti, Presiden Obama akan berpidato kepada 1,5 milyar umat Islam dunia, sebagaimana ia lakukan di Turki (April 2009) dan Mesir (Juni 2009). Di Turki, ia tegaskan bahwa Amerika Serikat tak sedang berperang dengan Islam. Sambutan kepadanya di Ibu Kota Turki, Ankara, luar biasa.

Pernyataannya di atas ditafsirkan bahwa Amerika akan menghentikan perang terhadap Islam yang dikobarkan Presiden Bush. Maka di depan Parlemen Turki, nama Obama disebutkan dengan lengkap: Barack Hussein Obama. Ia disambut seakan saudara yang telah lama hilang. ‘’Wellcome Hussein,’’ begitu headline koran liberal Turki, Taraf, menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat itu.

Di Mesir, dua bulan kemudian, lebih seronok lagi. Selama 55 menit Obama berpidato di Cairo University – di kampus ini 75 tahun lalu, tokoh penting Islam, Sayyid Qutb, dilantik sebagai Sarjana Pendidikan – beberapa kali terdengar teriakan hadirin: ‘’I love you, I love you’’. Seakan menyambut teriakan itu, Obama pun berkata bahwa Amerika Serikat tak akan pernah berperang dengan Islam. Ia menyebut nama Palestina seakan sebuah negara dan pendudukan Tepi Barat (oleh Israel) harus segera diakhiri.

Ternyata sudah lebih setengah tahun berselang, belum terlihat perubahan konkret dari apa yang dipidatokan Obama di Turki mau pun Mesir. Jangankan menciptakan perdamaian, Obama malah menambah terus jumlah pasukannya di Afghanistan, menyebabkan peperangan meningkat, begitu pula jumlah korban yang jatuh.

Amerika Serikat juga campur tangan ke negeri kecil semacam Yaman dan Somalia, memusuhi Iran dan Syria, atau seenaknya mengacak-acak teritorial Pakistan dengan alasan memburu teroris. Dengan kata lain, war on Islam atau perang melawan Islam yang dulu diproklamasikan Presiden Bush, masih terus berlangsung di zaman Obama.

Oleh karena itulah agaknya, suasana hati rakyat Indonesia menjelang kedatangan Obama tak seoptimistis masyarakat Turki dan Mesir. Malah di berbagai kota pecah demo menantang kedatangan Obama. Hanya Presiden SBY dan orang-orangnya yang kelihatan sibuk menyambut Obama.

Detasemen 88 Anti-teror Polri sibuk menguber dan menembak mati sejumlah orang yang mereka tuduh sebagai teroris. Operasi-operasi dengan keras tampaknya dilakukan untuk memberi rasa aman kepada Presiden Amerika Serikat itu, selain untuk memberi bukti bahwa Presiden SBY memang serius melawan terorisme.

Yang lain yang tampak sibuk adalah para aktivis LSM. Mereka meminta Obama menekan Presiden SBY dalam kasus terbunuhnya aktivis HAM Munir. Salah satu di antara mereka, Rafendi Djamin, malah sempat menemui Obama ke Washington.

Para pengurus LSM itu rupanya menganggap Indonesia adalah negara jajahan Amerika Serikat. Artinya, di mata mereka Obama lebih berkuasa dari Mahkamah Agung Indonesia yang telah memutus perkara itu. Karenanya Obama bisa mengubah vonis yang ada. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Permen Manis Bernama Dialog Antaragama

Permen Manis Bernama Dialog Antaragama

“Terompet Al-Quran dan Kebenaran Islam [1]

“Terompet Al-Quran dan Kebenaran Islam [1]

Pernyataan Indonesian Muslimah Network Atas Larangan Berjilbab

Pernyataan Indonesian Muslimah Network Atas Larangan Berjilbab

Pancasila, Antara Ideologi ‘Terbuka’ dan ‘Tertutup’

Pancasila, Antara Ideologi ‘Terbuka’ dan ‘Tertutup’

Hamka: Hilang Belum Berganti

Hamka: Hilang Belum Berganti

Baca Juga

Berita Lainnya