Ahad, 14 Februari 2021 / 2 Rajab 1442 H

Opini

Ketulusan Mencintai Rasulullah

Bagikan:

Oleh: Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh *)

Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menuturkan kisah seorang sahabat Nabi Saw; Zaid bin ad-Datsinah yang menjadi tawanan dan terancam dibunuh. Saat itu, sang pembesar kaum kafir Quraisy; Abu Sufyan bin Harb berkata; “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad yang akan kami penggal lehernya, kemudian engkau dibebaskan kembali pada keluargamu?” Dengan yakin, Zaid menjawab; “Demi Allah, aku tidak akan rela jika saat ini Muhammad berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumah bersama keluargaku”. Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang yang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!”

Catatan sejarah itu hanyalah salah satu bukti kedudukan agung Muhammad Saw dan ketulusan cinta yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabatnya. Kedekatan hubungan para sahabat dengan nabinya menempatkan cinta mereka kepada beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Keragaman Cara Mencintai Rasulullah

Sebagaimana hari ini, sebagian kaum muslim telah menunjukkan berbagai apresiasi cinta mereka terhadap sang junjungan rasul tercinta. Kecintaan kepada Rasulullah sesungguhnya bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Salah satunya adalah membaca shalawat dan salam penghormatan kepada beliau yang sekaligus menjadi perintah kepada orang beriman, karena Allah dan para malaikat-Nya pun senantiasa bershalawat untuknya. (QS 33:56). Dalam riwayat Muhammad bin Abdurrahman, Rasulullah bersabda, ”Setiap kali umatku mengirim salam kepadaku, sesudah aku tiada, Jibril menyampaikannya kepadaku lalu ku jawab: Wa’alaihissalam; semoga keselamatan dan kesejahteraan Allah juga tetap kepadanya.

Kecintaan pada Rasul juga dilakukan dalam bentuk lain yang bersifat komunal (jama’i). Kedatangan bulan Rabiul Awwal dijadikan sebagai momentum utama untuk memperingati kelahiran manusia teragung sepanjang sejarah umat manusia tersebut. Berbagai simbol kecintaan pun digiatkan dengan menggelar berbagai acara dan kegiatan di sekolah, masjid dan instansi, bahkan sampai menjadi hari libur nasional. Tenaga, waktu, pikiran dan harta, mereka korbankan sebagai bentuk ‘ketulusan cinta’ mereka kepada Rasulullah.

Gemuruh cinta Rasulullah itu tampak menggema saat kita menyaksikan makin banyaknya perkumpulan spiritual dan majelis-majelis zikir yang melantunkan sanjungan kepada Rasulullah, dan mengingatkan umat Islam untuk tetap berpegang teguh pada ajaran dan sunnahnya yang mulia. Sebagian halaqah cinta Rasul itu dilakukan dalam bentuk zikir bersama sambil diiringi tabuhan hadrah, pembacaan kitab syair maulid, seperti al-Barzanji, Diba’ Syaraful Anam, Al-Burdah, Al-Habsyi, Simthud Durar, dan lain-lain yang umumnya berisi deskripsi sosok Rasulullah Saw dalam gambaran yang lebih detil. Pemandangan ini terasa lebih menggugah hati, karena ternyata para penggerak majelis-majelis zikir itu adalah para pemuda Islam yang penuh semangat keagamaan tinggi dan diharapkan mampu mempertahankan kebesaran agama Islam ini.

Bid’ah dan Spiritualisme Modern

Di sisi lain, maraknya aktifitas keagamaan yang dilambangkan sebagai bentuk cinta Rasulullah, dipandang skeptis oleh sebagian umat Islam. Secara garis besar ada dua alasan utama yang melatari pandangan tersebut; Pertama, dari segi teologis, majelis zikir dan sejenisnya adalah amalan yang menyimpang dari Islam (bid’ah), karena telah keluar dari pengertian zikir itu sendiri. Majelis zikir, seperti diungkapkan Imam al-Qurthubi adalah majelis ilmu dan nasehat, yaitu majelis yang menguraikan firman-firman Allah, Sunnah Rasul-Nya dan keterangan para salafus shaleh serta imam-imam ahli zuhud yang terdahulu, jauh dari kepalsuan dan kebid’ahan yang penuh dengan tujuan-tujuan yang rendah dan ketamakan.” (Fiqh Sunnah 2/87). Kedua, tumbuhnya majelis-majelis zikir, shalawatan, training spiritual dan sebagainya lebih banyak memperlihatkan faktor sosialnya daripada faktor spiritualnya. Di Jakarta, misalnya, menjamurnya majelis zikir sebagian besar pesertanya adalah rakyat kecil yang sebenarnya terjebak pada formalisme zikir, bukan pada pemaknaan spiritual. Agak sulit dimengerti—menurut pandangan ini—peserta zikir yang pergi beramai-ramai ternyata menjadi salah satu penyebab kemacetan jalan-jalan protokol di Jakarta disamping attitude tidak baik lainnya. Fenomena ini justru malah mengarahkan analisis pada frustrasi sosial masyarakat akibat lilitan kemiskinan dan ketidakpuasan pada penguasa. Training-training spiritual yang merebak juga masih sangat terkesan elit dan eksklusif yang lebih cenderung menonjolkan ‘kelas sosial’ para pesertanya. Ini sama sekali bukan potret kekeringan jiwa dan praktik spiritualisme masyarakat modern yang muncul sebagai efek dari kesejahteraan materi dan kepuasan duniawi yang berlebihan. Lebih tepat fenomena ini disebut sebagai “pelarian sesaat” dari himpitan kehidupan yang semakin sulit di negeri ini.

Gejala spiritualisme masyarakat modern memang muncul sebagai konsekuensi dari semakin menguatnya sekularisme yang menihilkan aspek spiritualitas. Di Barat, gejala ini kemudian berkembang menjadi fenomena New Age yang ditandai dengan menguatnya keinginan masyarakat Barat untuk memuaskan dahaga spiritual mereka. Lalu mereka mencari apa saja yang bisa memuaskan dahaga spiritual itu. Ada yang menemukan Budhisme, Konfusianisme, mistisisme Kristen, atau bahkan sekadar ajaran-ajaran meditasi yang tidak memiliki akar agama sama sekali.

Perdebatan Agama yang Tidak Produktif

Dalam konteks keindonesiaan, fenomena spiritualisme sebagai salah satu bukti kecintaan terhadap Rasulullah, seyogianya dilihat dengan pendekatan lain yang jauh lebih toleran dan akomodatif. Perayaan Maulid Nabi Saw, misalnya, pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Saat itu, umat Islam berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara Salib Eropa, yakni Prancis, Jerman, dan Inggris. Adalah Salahuddin al-Ayyubi yang yang mengeluarkan instruksi bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi, peringatan seperti itu tidak pernah ada. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi. Ternyata, peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa.

Semangat kebangkitan Islam dan pencerahan ummat inilah yang dapat dijadikan inspirasi para pegiat dakwah untuk membuat inovasi-inovasi baru dalam berdakwah. Karena itu, tidaklah arif menyalahkan majelis zikir dan tasawuf yang tengah digandrungi sebagian umat Islam. Para sahabat Nabi juga melakukan zikir bersama sesudah shalat subuh. Riwayat Ibnu Abbas atau Salman Al-Farisi menyebutkan bahwa para sahabat berhimpun bersama, duduk bersama. Bahkan, Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk hadir di majelis zikir, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. ”Bila kalian melewati tamu surga, hendaklah kalian mampir.” Ketika sahabat bertanya, ”Apa itu tamu surga”, beliau menjawab, ”Halaqah zikir atau majelis-majelis zikir.”

Bagaimanapun, membiarkan perdebatan tentang keragaman spritualisme ummat adalah sesuatu yang tidak produktif dan lebih banyak melemahkan kekuatan ummat. Karena kita masih harus dihadapkan dengan persoalan pemahaman dan penghayatan keagamaan ummat yang bersemangat dalam aktifitas spiritual tetapi tidak mampu berbuat banyak dalam penyelesaian masalah-masalah ummat; kebodohan, kemiskinan dan pengangguran. Lebih dari itu, seringkali, spiritualisme itu rentan ‘ditunggangi’ oleh hawa nafsu. Dan, salah satu hawa nafsu yang sukar terdeteksi adalah, seperti apa yang disebut Erich Fromm, keterikatan manusia pada situasi sesaat yang berada di sekelilingnya. Dalam bahasa Nasruddin, sufi dari Khurasan, manusia sering terjebak pada ‘pakaiannya’, termasuk terjebak dengan pemahaman agama yang keliru dan tidak membumi. Pakaian adalah sesuatu yang binding (mengikat) dalam jiwa manusia. Jika manusia melakukan sikap yang binding dengan dunia sekelilingnya, jiwanya akan terkungkung dan kebebasannya terbelenggu. Binding dalam kaitan ini bisa saja merupakan cinta terhadap sesuatu yang sepantasnya tidak harus dicintai. Cinta kepada harta, benda-benda antik, jabatan, kelompok, dan etnis (‘ashabiyyah), juga pandangan keagamaan kita yang tidak sadar membelenggu jiwa, sehingga mudah menyalahkan pandangan lain yang berbeda. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah menyatakan, ”Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan menjadi hambanya.” Tetapi kita tidak perlu menjadi hamba untuk cinta yang tidak hakiki dan memilih ‘meninggalkan’ cinta Rasulullah. Padahal beliau telah berwasiat; “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” Apa yang diperlukan ummat hari ini adalah patriotisme Zaid bin ad-Datsinah yang ditunjukkan dengan kerelaan kita untuk tulus mencintai Rasulullah Saw, tanpa harus melukai keharmonisan ukhuwwah sesama ummat Islam. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah dosen STEI Tazkia & Sekjen Andalusia Integrated Islamic Centre, Sentul City Bogor

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Muhsin: Deklarasi yang Prematur

Muhsin: Deklarasi yang Prematur

Ki Hajar Dewantara, Pesantren dan Pendidikan Kita [2]

Ki Hajar Dewantara, Pesantren dan Pendidikan Kita [2]

Siapa Menuding SARA, Terpercik Muka Sendiri

Siapa Menuding SARA, Terpercik Muka Sendiri

Mimpi Harun Masiku

Mimpi Harun Masiku

Profesor Usil, dan Tanggapan Simpati Susi Pudjiastuti

Profesor Usil, dan Tanggapan Simpati Susi Pudjiastuti

Baca Juga

Berita Lainnya