Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Afghanistan Tak Ada Libur Musim Dingin

Bagikan:

Ketika musim dingin tiba, gerilyawan Taliban dan para pendukungnya bersembunyi di perbatasan Pakistan atau tinggal diam di rumah masing-masing menyamar sebagai rakyat biasa. Sementara pasukan NATO dan Amerika Serikat lebih banyak berjaga-jaga di sekitar pangkalan. Maka pada musim dingin, Desember sampai Maret, jumlah korban di kedua belah pihak biasanya menurun drastis. Begitu pula korban rakyat sipil yang tak berdosa.

Data dari lembaga pemikir neo-konservatif Amerika Serikat, the Brooking Institution, di setiap musim dingin sejak 2001 sampai 2008, korban jatuh di pihak NATO selalu menurun menjadi satu digit saja.

Afghanistan memang khas. Negeri itu bergunung-gunung, diselimuti salju tebal, menjadikannya medan perang yang amat berat di musim dingin. Tentara kolonialisme Inggris atau Uni Soviet – kini tentara NATO dan Amerika Serikat – yang pernah menduduki negeri ini, pasti pernah merasakannya. Itulah sebabnya dua pihak yang sedang bertempur di Afghanistan seakan memiliki kesepakatan tak tertulis: meliburkan perang di musim dingin.

Tapi musim dingin kali ini beda. Kedua pihak seakan membatalkan semua liburan. Data yang ada menunjukkan, Desember lalu kematian tentara Amerika justru meningkat 6 kali lipat dibanding Desember tahun sebelumnya. Serangan rudal yang diluncurkan pesawat tanpa awak milik Amerika Serikat, banyak menimbulkan korban di kalangan gerilyawan maupun rakyat biasa yang tak berdosa. Singkat cerita, musim dingin di bulan Desember sama sekali tak mengurangi intensitas pertempuran dan jumlah korban yang jatuh.

Senin, 18 Januari lalu, misalnya, Kabul, ibukota Afghanistan, sempat kalang-kabut oleh serangan gerilyawan yang nekat. Tak kepalang tanggung, pagi itu 5 gerilyawan menyerang Pashtunistan Square, kawasan paling elit di Kabul, tak sampai 50 meter dari pintu gerbang Istana. Selain Istana, di kawasan ini terletak kantor Departemen Kehakiman, Bank Sentral, dan Farashga Market, tempat belanja terbaik di negeri itu. Serangan itu kemudian dihadapi ratusan pasukan khusus Afghanistan, dibantu NATO.

Dua di antara gerilyawan meledakkan diri dengan bom, sedang tiga temannya bertempur sampai mati. Di tengah serunya pertempuran, di tempat terpisah sekitar seperempat mil dari situ, seorang gerilyawan lain meledakkan bom bunuh diri dengan menggunakan sebuah mobil ambulans. Membunuh 3 tentara Afghanistan.

Serangan mematikan ini menyebabkan sejumlah tentara dan penduduk sipil terbunuh, selain tewasnya gerilyawan penyerang. Farashga Market terbakar. Tapi lebih dari itu, rakyat Kabul dibikin kaget oleh serangan itu. Selama berjam-jam setelah serangan, jalan-jalan di Kabul sunyi-sepi. Banyak orang mengalami shock, mereka sudah tak percaya pemerintah mampu menjaga keselamatan penduduk, sekali pun mereka tinggal di ibukota.

Serangan ini menunjukkan tak ada lagi tempat yang aman dari jangkauan gerilyawan. Selama ini pasukan Amerika dan NATO dipusatkan di luar kota, terutama di kawasan selatan, karena memang di sanalah pusat kekuatan kaum gerilyawan. Tapi belakangan ini, Kabul pun tak lagi aman. Setidaknya selama bulan-bulan terakhir, ibu kota sudah tiga kali diserang, termasuk serangan terakhir di tengah musim dingin ini.

Sebelumnya, Senin, 10 Januari lalu, setidaknya terjadi tiga insiden terpisah yang menyebabkan terbunuhnya 6 tentara NATO (3 di antaranya tentara Amerika Serikat). Pukulan paling berat diterima Amerika ketika 30 Desember lalu, tujuh agen CIA, badan intelijen Amerika Serikat, terbunuh oleh sebuah serangan bom bunuh diri di pangkalan militer Amerika di Provinsi Khost, pusat kendali operasional pesawat tempur tanpa awak (drone) Amerika Serikat untuk Afghanistan. Salah satu korban, seorang wanita, adalah orang kedua CIA di Afghanistan, dan sekaligus komandan pangkalan itu.

Provinsi Khost terletak di timur Afghanistan, berbatasan dengan Pakistan. Dari sinilah pesawat tanpa awak dikendalikan remote control dan dipersenjatai rudal menyerang gerilyawan di perbatasan, bahkan merasuk sampai wilayah hukum Pakistan.

Di kawasan ini beroperasi gerilyawan Mujahidin dipimpin Jalaluddin Haqqani yang legendaris. Haqqani dulu, di tahun 1980-an, bekerja sama dengan CIA untuk mengusir penjajah Uni Soviet dari Afghanistan. Haqqani terkenal amat ditakuti tentara Soviet. Pada tahun 1991, kelompoknya menduduki Kota Khost, Ibukota Provinsi Khost. Inilah kota pertama yang diambil-alih gerilyawan Mujahidin dari tangan pemerintahan Najibullah, boneka Uni Soviet.

Haqqani disebut-sebut sebagai orang yang memperkenalkan serangan bom bunuh diri di Afghanistan. Kelompok Mujahidin lainnya yang kini melawan tentara Amerika Serikat dan sekutunya dipimpin Gulbuddin Hekmatyar, juga veteran pejuang yang dulu terlibat mengusir pasukan Uni Soviet dari Afghanistan.

Di kawasan selatan Afghanistan, suasana memanas oleh isu SARA, setelah 9 Januari lalu, pasukan NATO merobek-robek kitab suci Al-Quran di Distrik Gamsir, Provinsi Helmand. Ketika itu, sejumlah pasukan NATO dan Afghanistan sedang melakukan operasi.

Sebagai negara Islam, Undang-Undang Afghanistan mengancam hukuman mati untuk penghinaan terhadap Al-Quran maupun Nabi Muhammad SAW. Maka insiden tadi segera merebak melalui cerita dari ke mulut, dan menyebabkan terjadi demonstrasi oleh sekitar 2000 penduduk Gamsir.

Demostrasi menuntut penindakan terhadap tentara NATO yang menghina Al-Quran itu, berubah menjadi arena pembantaian oleh pasukan NATO dan Afghanistan. Penembakan terjadi dan dipastikan 6 demonstran sipil terbunuh.

Letnan Nico Melendez, jurubicara NATO di Gamsir membantah pasukan NATO merobek Al-Quran. Ia pun membantah pasukan NATO melepas tembakan kepada demonstran. Ia mengatakan mereka menembak gerilyawan bersenjata yang menunggangi demostrasi. ‘’Tuduhan itu amat serius, dan kami mendukung upaya melakukan investigasi terhadap masalah itu,’’ kata Melendez (The New York Times, 12 Januari 2009).

Di Paris, Selasa, 11 Januari lalu, jurubicara militer mengumumkan seorang kapten Angkatan Darat Prancis tewas di rumah sakit. Kapten itu terluka ketika sehari sebelumnya disergap gerilyawan di Lembah Alasay, di timur Kabul, Ibukota Afghanistan. Seorang teman kapten yang terluka itu tewas seketika di tempat penyergapan.

Dari berbagai peristiwa ini – termasuk meningkatnya frekuensi serangan pesawat tanpa awak ke basis gerilyawan – yang paling menggegerkan adalah terbunuhnya 7 anggota CIA di Khost. Dari jumlah anggota CIA yang terbunuh, peristiwa ini nyaris menyamai pengeboman Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut, Libanon, pada 1983.

Ketika itu, sebuah truk bermuatan bom menabrak Kedutaan menyebabkan gedung itu berantakan. Banyak orang terbunuh, termasuk 8 anggota CIA yang bertugas di Stasiun Beirut. Peristiwa ini, antara lain, menyebabkan Amerika Serikat akhirnya memutuskan menarik pasukannya dari Lebanon.

Akibat Langkah-langkah Obama

Bom bunuh diri di Khost amat memalukan dunia spionase Amerika Serikat yang selama ini dicitrakan – antara lain melalui film Hollywood – sangat canggih dan perkasa. Ternyata, betapa mudahnya Humam Khalil Abu-Mulai al-Balawi, seorang dokter asal Jordania, memasuki markas CIA , lalu meledakkan bom yang dililitkan di tubuhnya.

Ketika itu, kedatangan al-Balawi memang ditunggu oleh 13 operator CIA. Ia dianggap telah digarap CIA bekerja sama dengan intelijen Jordania, GID (General Intelligence Directorate). Melalui pertemuan pada hari itu akan digali lebih jauh berbagai informasi tentang pemimpin Al-Qaidah Usamah bin Ladin dan wakilnya, Ayman Al-Zawahiri. Kedatangan Balawi ke markas CIA itu diantar oleh agen GID, Kapten Sharif Ali bin Zeid, tanpa mengalami pemeriksaan yang berarti. Karena itu bom yang melilit di tubuh Balawi bisa lolos dengan mudah.

Seperti yang terjadi kemudian, setelah bertemu dengan 13 agen CIA di markas itu, Balawi tak menyiakan kesempatan, bom langsung ia ledakkan. Kapten Sharif Ali ikut tewas bersama 7 agen CIA. Dikabarkan sang kapten masih kerabat Kerajaan Jordania.

Balawi pernah ditangkap GID beberapa tahun lalu karena blog-nya di internet dianggap mendukung Al-Qaidah. Pada waktu itulah dokter ini mulai digarap GID dan belakangan CIA. Ternyata semua itu ia rencanakan dengan baik dengan sebuah tujuan sendiri yang tak diketahui GID maupun CIA.

Setelah peristiwa itu, istri al-Balawi seorang wartawan dan penulis Turki, Defne Bayrak, mengungkapkan kepada pers bahwa sesungguhnya, sebagaimana dia sendiri, suaminya adalah seorang yang sangat anti-Amerika Serikat. Jadi peristiwa bom bunuh diri di Khost itu memang sudah lama direncanakan al-Balawi. “Saya bangga dengan suami saya. Saya harap Allah menerima pengorbanannya, dan ia menjadi seorang martir,’’ kata Bayrak kepada wartawan di Istambul.

Tapi baiklah, yang sekarang menjadi pertanyaan, mengapa musim dingin kali ini tak mengurangi konflik di Afghanistan? Kenapa korban malah bertambah banyak? Semua ini tak lain dari dampak peningkatan jumlah pasukan Amerika Serikat di Afghanistan yang merupakan kebijakan Presiden Barack Obama begitu ia menjabat Presiden Amerika Serikat, tahun lalu.

Sejak memerintah, Obama sudah meningkatkan jumlah pasukannya dua kali lipat. Selain itu mulai tahun ini ia akan menambah lagi 30.000 pasukan di Afghanistan. Dengan itu Amerika ingin melakukan tekanan kepada gerilyawan Taliban maupun Mujahidin.

Dalam laporannya Agustus lalu kepada Presiden Obama, Jenderal Stanley A. McChrystal, Komandan Senior tentara Amerika di Afghanistan, menyebutkan bahwa Amerika Serikat harus memperlihatkan bahwa peperangan ini bukan musiman, melainkan terus-menerus sepanjang tahun guna membantu pemerintah Afghanistan mendapatkan dukungan rakyat. Artinya, di mata sang jenderal, perang ini tak kenal liburan musim dingin seperti yang terjadi selama ini.

Batalnya libur musim dingin tahun ini bagi gerilyawan pun tak ada masalah. Apalagi sejak dua tahun belakangan ada perubahan dalam taktik perang kaum gerilyawan. Kalau dulu mereka mengandalkan serbuan-serbuan ofensif, kini mereka mengandalkan aksi-aksi gerilya, bom bunuh diri, jebakan ranjau di jalan, dan terutama penggunaan bom pinggir jalan alias IED’s (improvised explosive devices).

Data dari www.icasualties.org, semacam LSM yang mengamati perang ini, menunjukkan bahwa di tahun terakhir, 60% kematian pasukan Amerika maupun NATO, disebabkan bom pinggir jalan (IED’s), meningkat drastis dibandingkan tahun 2007 yang 42%.

Nah, bagi gerilyawan menanam bom maupun dinamit, lebih gampang dilakukan di jalan-jalan berselimut salju. Artinya, mereka lebih diuntungkan kalau perang tak diliburkan di musim dingin. “Mereka tak bisa menganggap kami lemah, dan kami tak akan mundur di musim dingin,’’ kata Hafizullah Hafi, Komandan Taliban di Provinsi Kandahar melalui wawancara telepon (The New York Times, 12 Januari 2010).

Bagi pasukan NATO maupun Amerika, peningkatan jumlah korban jatuh di musim dingin ini, bisa menimbulkan problem menakutkan: jumlah rakyat penentang perang di negara mereka akan bertambah banyak saja. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies (IPS) dan kolumis www.hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

“Blasphemy”

“Blasphemy”

Jokowi, Koalisi Rakyat atau Koalisi Asing?

Jokowi, Koalisi Rakyat atau Koalisi Asing?

Membangun Paham Positif dan Memperkokoh Kalimah Sawa’

Membangun Paham Positif dan Memperkokoh Kalimah Sawa’

Duta Islam di Selandia Baru

Duta Islam di Selandia Baru

Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah?

Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah?

Baca Juga

Berita Lainnya