Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

KAUST dan Kebangkitan Ilmuwan Muslim

Bagikan:

Oleh: Akhda Afif Rasyidi

Hidayatullah.com–Tepat pada tanggal 23 September 2009, telah diresmikan sebuah universitas baru berskala internasional di Arab Saudi yang dihadiri oleh puluhan perwakilan negara dari berbagai penjuru dunia. Universitas megah ini bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).

Terletak di dekat laut Merah, kota Thuwal, 80 km di sebelah utara kota Jeddah, KAUST menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan memiliki laboratorium berkelas dunia di lahan seluas 36 km2.

Di kompleks kampus juga tersedia berbagai fasilitas lainnya, seperti apartemen dosen dan mahasiswa, tempat hiburan, restoran, kafe, supermarket, pom bensin, serta fasilitas olahraga yang lengkap.

Kampus ini adalah realisasi terhadap visi jangka panjang Raja Abdullah, Raja Arab Saudi saat ini. Ia ingin menciptakan “Baitul Hikmah” (House of Wisdom) baru. Baitul Hikmah adalah sebuah tempat yang berperan sebagai perpustakaan, pusat riset, dan biro penerjemah di Baghdad pada abad 9 s.d. 13 Hijriah. Dibangun atas kerja keras Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, tempat itu telah menjadi motor kebangkitan intelektual muslim dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam dunia kedokteran, ilmu pelayaran, pertanian, dan astronomi.

KAUST menyimpan ambisi besar untuk menciptakan era baru dalam dunia sains dan teknologi. Tidak hanya bagi Arab Saudi, tetapi juga bagi regional jazirah Arab serta masyarakat dunia. KAUST memfokuskan dirinya dalam riset sains dan teknologi. Oleh karena itulah, KAUST hanya diperuntukkan bagi mahasiswa program master dan doktoral.

Dengan sembilan program studi dan kerjasama dengan universitas terkemuka dunia, KAUST menawarkan kesempatan yang sangat luas kepada mahasiswanya untuk mengembangkan riset yang sesuai dengan minat dan kompetensinya.

KAUST juga mencatatkan diri dalam sejarah pendidikan di Arab Saudi karena merupakan kampus pertama yang menggabungkan mahasiswa pria dan wanita dalam proses pendidikannya. Pada tahun akademik 2009 ini, tercatat 44 mahasiswa doktoral dan 330 mahasiswa master, yang mewakili 61 negara dan 161 universitas di dunia.

Untuk mendukung visi besarnya, telah direkrut 71 profesor yang telah memiliki reputasi paten, buku, jurnal, dan produk-produk ilmiah lainnya.

Peresmian kampus ini merupakan sebuah angin segar bagi dunia Islam pada khususnya. Setelah masa keemasan Islam yang melahirkan banyak ilmuwan muslim, Islam seperti tenggelam dalam begitu pesatnya prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Bahkan, terkesan kita malah menyingkir dari kompetisi peradaban, dan menyibukkan diri dengan kajian kitab agama.

Tentu saja, mengkaji ajaran Islam adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun, konsep ini lantas keliru ketika dilihat hanya sebagai perspektif hanya mempelajari ilmu qauliyah. Karena ketika perspektif kita terbelenggu seperti itu, sesungguhnya kita telah berlaku sekuler, memisahkan ilmu akhirat dengan ilmu dunia.

Padahal Allah telah mengingatkan kita tentang pentingnya setiap muslim untuk memperhatikan setiap ciptaan-Nya, sebagaimana terdeskripsikan jelas di QS Ali Imran ayat 190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dan karena mayoritas muslim mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi, peradaban dunia saat ini dikuasai oleh nonmuslim. Lihatlah bagaimana mereka mengendalikan jaringan komputer dan satelit di dunia. Lihatlah kedigdayaan mereka yang berhasil mengembangkan teknologi pengobatan modern. Bahkan, mazhab ekonomi, sosial, politik, dan budaya kita benar-benar berkiblat seutuhnya kepada mereka.

Kita sendiri hanya sanggup menjadi makmum. Lebih mengherankan lagi, ternyata kita sungguh bangga menjadi pengekor hasil karya mereka. Hanya segelintir bagian umat ini yang masih menyadari bahwa kita harus bangkit di tengah keterpurukan ini.

Ilmu agama serta ilmu sains dan teknologi adalah dua hal yang harus berjalan secara sinergis; dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan secara bersamaan. Dalam sebuah analogi, diumpamakan bahwa orang yang hanya memahami agama tanpa tahu ilmu lainnya, laksana orang lumpuh. Adapun orang yang menguasai ilmu sains dan teknologi, tapi tak paham agama, bagaikan orang buta. Maka Islam begitu indahnya, mengajarkan keseimbangan (tawazun) kepada pemeluknya. Menjadi muslim sejati adalah muslim yang mantap akidahnya, sholeh ibadahnya, cerdas pikirannya dan kuat jasmaninya.

Demikianlah generasi ilmuwan muslim telah memberikan teladannya. Ibnu Sina, pakar muslim dalam bidang kedokteran, geologis, astronomi, matematika, fisika, kimia, dan musik, adalah penghapal Al Quran sejak usia 10 tahun. Ada pula Ibnu Rusta, astronom muslim yang menggunakan dalil-dalil Al Quran untuk memperkuat argumentasi karyanya.

Demikian juga Katip Celebi, ahli hukum Islam hingga tafsir Al Quran, yang mengukuhkan dirinya sebagai pakar geografi dan sejarah. Bahkan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, telah diakui secara resmi oleh UNESCO.

Memang tidak mudah untuk meningkatkan ketertarikan umat ini menekuni pula dunia sains dan teknologi. Ada banyak faktor yang menghambat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan minimnya dukungan terhadap ilmu pengetahuan. Namun, tidak lantas kita boleh berdiam diri. Karena jika demikian, muslim prestasi yang kompeten dalam ilmu agama dan sains teknologi tidak akan pernah terlahirkan.

KAUST bisa menjadi sebuah pemicu dan pengingat bagi kita. Pemicu untuk lebih giat lagi menelurkan karya prestasi di bidang sains dan teknologi. Atau dapat juga menjadi pengingat. Karena memang selama ini kita lalai, terlalu disibukkan dengan berbagai isu politik, ekonomi, budaya dan sebagainya, sehingga investasi sains kita terbengkalai.

Cendekiawan muslim itu kini otaknya telah menjadi milik asing, diperas dan diberdayakan mereka. Bukan karena mereka enggan berkarya untuk bangsa dan agamanya. Tapi, sadar ataupun tidak, selama ini ternyata memang kita telah menelantarkannya.

Penulis adalah alumni jurusan Ilmu Komputer UI 2008. Kini mahasiswa program Applied Mathematics Master di KAUST.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

PAS, SePILIS dan Dakwah Jalur Politik [1]

PAS, SePILIS dan Dakwah Jalur Politik [1]

Kontroversi Dr Zakir Naik di Malaysia

Kontroversi Dr Zakir Naik di Malaysia

Pentingnya Uji Materi Pasal Zina dan Homoseksual

Pentingnya Uji Materi Pasal Zina dan Homoseksual

Merindukan Sosok Jenderal Hoegeng di Kepolisian

Merindukan Sosok Jenderal Hoegeng di Kepolisian

Islam dan Ambang Berakhirnya Peradaban dan Intelektualitas Barat

Islam dan Ambang Berakhirnya Peradaban dan Intelektualitas Barat

Baca Juga

Berita Lainnya