Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Opini

Jejak Sekuler-Liberalisme di Tubuh Muhammadiyah

Bagikan:

Senarai pikiran ini diambil dari berbagai gagasan yang sudah dituangkan di berbagai media massa atau buku.

1. Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif

Pada tanggal 10 Agustus 2000, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafii Ma’arif, bersama Ketua PBNU dan Prof. Dr. Nurcholish Madjid membuat pernyataan bersama. Isinya: menolak masuknya Piagam Jakarta dalam pasal UUD 1945. Dalam beberapa ceramahnya, Syafi’i pernah menolak syari’at Islam karena tidak sesuai dengan konteks zaman.

2. Prof. Dawam Rahardjo

Sebagai tokoh yang dianggap sebagai intelektual muslim, Dawam Rahardjo melegalisasi dan memberikan pujian selangit terhadap buku yang berjudul, “Tempat dan Peran Yesus di hari Kiamat menurut Islam” yang ditulis seorang Pendeta Wienata Sairin MTH. Dalam kata pengantarnya dalam buku tersebut.

“Buku kecil karya Wienata Sairin yang berjudul Tempat dan Peran Yesus di hari Kiamat menurut ajaran Islam ini sangat menarik untuk dibaca”. “Buku ini cukup mewakili pandangan Islam”, katanya. Padahal didalam buku tersebut terdapat pelecehan dan penghinaan yang dilancarkan oleh Pendeta, dalam bukunya menuding bahwa Al-Qur’an sangat kontradiktif.

Dalam kata pengantar buku Pendeta Wienata, Dawam Rahardjo juga memasang badan sebagai tameng pembelaan terhadap doktrin kristen tentang ketuhanan yesus. Dengan kata lain, Dawam membela Trinitas.

Selain itu, Dawam dikenal sebagai pembela Aliran Sesat. Pada tahun 2000 dengan mengatasnamakan Muhammadiyah mengundang Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke 4 bagi Ahmadiyah (Golongan yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi selepas Rasululloh) di Jakarta.

Dalam situs www.Islamlib.com, Dawam mengatakan bahwa Ahmadiyah itu sama dengan kita jadi kita tidak bisa menyalahkan atau membantah akidah mereka, apapun akidah mereka itu .

Di Majalah TEMPO (edisi 12 Januari 2003, yang diberi judul “Islam Radikal Vs Islam Liberal”, Dawam membela Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla. Dawam mengatakan: “… menurut hemat saya, Ulil justeru mengangkat wahyu Tuhan di atas syariat.” Padahal, seperti disebutkan sebelumnya, Ulil menulis: “Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency) … Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” Bagaimana mungkin seorang tokoh Muhammadiyah membela-bela ucapan yang jelas-jelas salah?

3. Dr. Moeslim Abdurrahman

Tokoh Muhammadiyah asal Lamongan ini pernah mengeluarkan pikiran (agak melecehkan) dengan mengatakan, bahwa “Korban pertama dari penerapan syariat Islam adalah perempuan” .

Moeslim juga menghalalkan Natalan bersama. Dia mengatakan bahwa “Umat beragama harus bisa menciptakan sesuatu yang intensif dalam hubungan antar umat, umat kristen dapat menciptakan perayaan natal yang dapat dihadiri umat lain, itu bisa dilakukan jika perayaan tersebut tidak mengandung ritual. Dalam kaitan ini Moeslim mencontohkan tradisi mudik dan ketupat pada idul fitri yang dapat diikuti penganut agama manapun”.

“Dengan demikian, pada Natal nasional, misalnya, umat agama lain bisa datang tanpa merasa ada kesulitan. Ini berarti kita mempunyai tradisi atau event yang bisa dirayakan bersama.” (Kompas, Kamis, 18 Desember 2003).

4. Prof. Dr. Amien Abdullah

Dia adalah tokoh Muhammadiyah yang juga didukung banyak pihak untuk maju menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar di Malang bulan depan.

Amin lah orang yang mendesakkan gagasan agar studi Hermeneutika (studi kritik) terhadap Al-Qur’an agar diajarkan di kampus-kampus IAIN seluruh Indonesia.

Menurutnya, “Tafsir-tafsir klasik Al Qur’an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat.”

5. Dr. Abdul Munir Mulkhan

Dalam berbagai artikelnya di media massa, Mulkan secara nyata menolak “Klaim Kebenaran” (truth claim). “Dalam logika orang desa, kalau ada satu kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding salah atau sesat, nanti saya kawatir kesepian di surga, tidak ada temannya. Klaim-klaim kebenaran absolut seperti itu sesungguhnya lebih menunjukkan, barangkali dalam bahasa yang agak sarkastik, kurang menyadari bahwa hidup sosial tidak bisa sendirian. Di hutan sajapun tidak bisa hidup sendirian, mesti bersama hewan-hewan, pohon-pohonan dan semak belukar”, ujarnya.

Dalam bukunya, “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar” , (Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2002, hal. 44), dengan membanggakan akalnya, Mulkan mengatakan, “Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama. Karena itu, semua manusia berpeluang masuk surga sesuai keagamaan dan kapasitasnya masing-masing, jika benar-benar memang percaya (iman, dan berminat).”

6. Sukidi

Kini ia sedang ‘nyantri’ di Ohio State University dan berguru pada tokoh-tokoh sekuler. Sukidi pernah menyamakan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan Islam.

Dalam buku “Teologi Inklusif Cak Nur,” Sukidi mendukung pikiran Nurcholis yang mengartikan Islam sebagai sikap pasrah. “Bangunan epistomologis teologis inklusif Cak Nur (Nurkholis Madjid) diawali dengan tafsiran Al-Islam sebagai sikap pasrah kehadiran Tuhan, kepasrahan ini menjadi ciri pokok semua agama yang benar. Inilah word view Al Qur’an bahwa semua agama yang benar adalah Al-Islam.”

Dengan kata lain, tulis Sukidi, “sesuai firman Tuhan ini, terdapat jaminan teologis bagi umat beragama, apa pun “agama”-nya, untuk menerima pahala (surga) dari Tuhan. Bayangkan betapa inklusifnya pemikiran teologi Cak Nur ini, ” ujarnya membanggakan kekeliruan Nurcholis Madjid.

7. Piet Hasbullah Khaidir

Dia adalah mantan Ketua Umum PP IMM 2001-2003, yang kini menjadi anggota presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

“Kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat”, katanya.

Majalah Syir’ah, majalah yang konon didanai The Asia Fondation, baahkan mengangkat pengalaman rohani Piet Hasbullah Khaidir tentang pernah pindah iman sebanyak tiga kali dari Budha, Katolik bahkan Atheis.

8. Dr. Tarmizi Taher

Dia adalah Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah, mantan Menteri Agama, dan Rektor Universitas Azzahra, Jakarta. Dalam Muktamar ke-45 bulan depan, dia juga dikabarkan akan maju sebagai Ketua PP.

Dalam opini berujudul, “Kerukunan Umat, Perspektif Ahmad Dahlan,” Suara Merdeka, (Sabtu, 23 April 2005), Tarmizi mengajak umat Islam berkawan dengan Barat dan misionaris Kristen. Dan mengatakan, seolah-olah KH. Ahmad Dahlan begitu akrab dengan kalangan pendeta.

“….Barat harus dimusuhi sebagai penjajah, namun harus dikawani sebagai peradaban. Agama Kristen yang dibawa para misionaris Barat harus dimusuhi sejauh ketika agama tersebut dipakai sebagai kedok imperialisme. Namun sebagai sebuah agama, K.H. A. Dahlan sangat menghormati para pemeluk agama Kristen. Hal ini ditunjukkan dengan pergaulannya yang amat luas, tidak sebatas sesama umat Islam. Sejarah mencatat bahwa beliau sangat akrab dengan para pastur dan pendeta.”

Hari Jumat (3 Juni 2005), di Harian Republika dia menulis dengan judul “Memetik Nilai-nilai Pluralisme dari KH Ahmad Dahlan”, penulis mencatut nama KH. Ahmad Dahlan, seolah-olah pendiri Muhammadiyah ini adalah tokoh pluralisme.

9. Andar Nurbowo

Dia aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Peneliti pada Center of Muhammadiyah Studies PP Muhammadiyah.

Dalam artikelnya “Kebangkitan Intelektual Muda Muhammadiyah” (Kompas, 17 November 2003), Nurbowo mengatakan, “Pengabaian semangat berpikir ini, tak ayal melahirkan kejumudan mayoritas kader dan aktivis Muhammadiyah. Ruang spiritual, meminjam EF Schumacher, yang seyogianya diisi tradisi refleksi kritis, justru dipenuhi sikap reseptif, tekstualis terhadap doktrin Islam. Al-Quran yang seharusnya dibaca secara kritis dan dikontekstualisasikan guna pemecahan krisis sosial, hanya diperlakukan sebagai kitab agung yang hanya dilantunkan dan dikidungkan.

Alih-alih mengajak berfikir liberal, Nurbowo melecehkan ibadah ritual kalangan Muhammadiyah yang lain; seperti meyakini memelihara jenggot atau dan cara makan Rasulullah.

“Figur mulia Muhammad sekadar dipahami dalam prespektif gestural-tekstualis, seperti cara makan nabi, memelihara jenggot, tanpa menelisik lebih dalam makna perjuangan nabi secara lebih luas. Cara ber-muhammadiyah seperti ini bahkan menodai cita awal Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan.”

10. Pramono U Tanthowi

Dia adalah pengurus DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dalam opininya di Kompas, Sabtu, 26 Januari 2002 berjudul, “Muhammadiyah dan Islam Liberal”, Tanthowo mengajak Muhammadiyah beralih pada gerakanb sekulerisme-liberal. Bahkan dia menjamin dengan beralih ke sekuler-liberal, Muhammadiyah lebih demokratis.

“Bagi Muhammadiyah, lebih baik langsung berperilaku liberal, demokratis, dan pluralis, daripada banyak bicara liberalisme, demokrasi dan pluralisme, tetapi sebaliknya berperilaku antiliberal, antidemokrasi dan antipluralisme.”

11. Pradana Boy

Dosen Univeritas Muhammadiyah Malang yang juga masih berstatus sebagai Mahasiswa The Australian National University (ANU), ini juga dikenal membangga-banggakan kaum orientalis.

Dalam opininya “Orientalisme dan Dialog Antarkitab” di Republika, Pradana justru meragukan Al-Qur’an dan mengajak umat Islam lebih kritis terhadap kitab suci itu, layaknya para kaum orientalis.

“Tetapi, pandangan semacam ini tampaknya belakangan mulai berubah. Lahirnya kesadaran untuk mengkaji Islam secara lebih dekat dan munculnya pengkajian Islam dengan pendekatan yang lebih akademis, telah melahirkan pandangan yang cukup positif terhadap Al-Qur’an. Hal itu ditandai dengan lahirnya sejumlah karya sarjana-sarjana Kristen yang berusaha memotret Al-Qur-an dengan pandangan yang lebih objektif. Di antara karya yang bisa disebut adalah Islamic Revelation in the Modern World karya W Montgomery Watt; Religion and Revelation-nya Keith Ward; The Event of the Qur’an, The Mind of the Qur’an, Muhammad and The Christian, Readings in the Qur’an dan Returning to Mount Hira yang secara berturut-turut ditulis pada tahun 1971, 1972, 1986, 1988 dan 1994 oleh Kenneth Cragg, seorang biarawan Anglikan.

Lahirnya karya-karya ini bisa disebut sebagai gelombang baru hubungan Islam Kristen dalam konteks pengakuan Al-Qur’an di hadapan umat Kristiani. Di luar kekurangan dan kelebihannya, usaha-usaha untuk mempersepsi Al-Quran dengan cara yang lebih sophisticated semacam ini, pada tataran yang lebih jauh justru akan menjadi jalan bagi upaya untuk menemukan common platform kitab suci agama-agama dunia yang selama ini sering menjadi persoalan,” tulisnya.

12. Ahmad Fuad Fanani

Dia aktifis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Di koran Republika, berjudul “Menghindari Kejumudan Penafsiran Islam”, Fanani menganggap aneh orang yang masih percaya terhadap doktrin “Islam agama paling benar.”

“Banyak yang mengganggap dan mempercayai, bahwa Islam yang otentik dan paling benar adalah Islam yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad semasa hidup.” Kita bertanya: “Apakah ada orang lain, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, yang memahami dan mempraktikkan Islam lebih baik dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw? Bukankah kuam Muslim pasti meyakini, bahwa Nabi saw adalah uswatun hasanah; contoh yang baik?.

13. Zakiyuddin Baidhawy

Koordinator Program Pengembangan Toleransi, Pluralisme dan Multikulturalisme pada Center for the Study of Culture and Social Change ini adalah dosen di Universitas Muhammadiyah Solo (UMS). Dia juga anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukoharjo (2000-2005), dan presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Seperti halnya yang lain, dia juga mengurung pluralisme agama, dan menganggap Islam bukan satu-satunya agama yang benar.

Tokoh-tokoh diatas adalah sekelumit dari fenomena yang terjadi ditubuh Muhammadiyah sekarang. Sebab seseungguhnya masih banyak tokoh Muhammadiyah lain yang ikut terjangkit ‘virus’ membahayakan itu.

Anehnya, gagasan-gagasan mereka itu sudah dipublikasikan ke berbagai media masaa dan buku-buku. Dan tentu saja, mereka didukung penuh dan dana besar-besaran dari pihak asing, terutama funding-funding dari Amerika Serikat (AS).

Dengan sekelumit contoh tokoh dan aktifis Muhammadiyah itu, penting kiranya bagi kita untuk menentukan nasib bagaimana Muhammadiyah ke depan? Tetap kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah atau pindah pada paham Sekuler-Liberal? Andalah yang menentukan. (Opini ini ditulis, Choirul Hisyam, mantan aktivis dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo dan disempurnakan oleh Hidayatullah.com).

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Islam dan Subhat Paham Gender

Islam dan Subhat Paham Gender

Saatnya memahami Islam dan Muslim Amerikaagar membedakan antara agama Islam dan perbuatan sekelompok Muslim

Saatnya memahami Islam dan Muslim Amerikaagar membedakan antara agama Islam dan perbuatan sekelompok Muslim

Aisha Weddings: Antara Pernikahan Usia Muda vs ‘Kondomisasi’

Aisha Weddings: Antara Pernikahan Usia Muda vs ‘Kondomisasi’

Dari “Teroris Bali”, BNPT dan Kuda Troya Asing

Dari “Teroris Bali”, BNPT dan Kuda Troya Asing

Dua Zaman dari Gontor hingga “Arab Spring” (1)

Dua Zaman dari Gontor hingga “Arab Spring” (1)

Baca Juga

Berita Lainnya