Kekhawatiran Sikap Anti-Muslim di Eropa

Debat mengenai penggunaan simbol keagamaan terhadap Islam, terutama penggunaan jilbab, hanyalah tanda yang cenderung tumbuh terutama terhadap imigran muslim, ujar Alaa Bayoumi dikutip Middle East Online

Terkait

Sebagaimana diketahui, dalam melepaskannya, tanggal 18 Desember kemarin, Laporan Tahunan kelima kebebasan beragama internasional, menunjukkan suatu peningkatan menakutkan di dalam bentuk sikap anti-muslim sikap di beberapa negara-negara Eropa, mencakup Amerika.

Di Inggris misalnya, di mana sekitar 1,6 juta orang Islam Berada, sebuah lembaga hak azasi manusia Islam Yang berbasis di London Melaporkan setidaknya 344 peristiwa kekerasan anti-muslim yang terjadi semenjak peristiwa 9/11, mencakup ditikamnya seorang wanita orang Islam di negara itu.

Sejak Juni 2002, warga muslim Britania telah melaporkan adanya berbagai sergapan, tindakan merusak, dan serangan terhada masjid, sebagian dikabarkan termotivasi oleh hal negatif dan efek media massa yang tidak bertanggungjawab. Sebagai contoh, pada bulan Juni 2003 gelombang anti-muslim terjadi di masjid Birmingham tidak lama sesudah laporan tidak bertanggungjawab televisi BBC seolah-olah yang mempertunjukkan adanya perekrutan pelaku boom bunuh diri di masjid Birmingham.

Di Italia, sekitar sejuta rumah warga muslim dikabarkan terancam,setelah beberapa pemimpin religius dan politis, termasuk Perdana Menteri Itali Silvio Berlusconi, telah mendukung perasaan anti-Islam yang mana, imigran Islam dilukiskan sebagai “ancaman” di Italia.

Pada bulan September 2001, Berlusconi dikabarkan membakar gerakan anti-Islam dengan mengatakan peradaban Islam lebih rendah dari Barat. Pada suatu konferensi pers di Berlin, Berlusconi pernah mengatakan, “Kita harus sadar akan keunggulan dari peradaban kita, suatu sistem yang telah menjamin kesejahteraan, rasa hormat akan hak azasi manusia -yang teramat kontras dengan negara-negara Islam– menghormati hak politis dan religius, suatu sistem yang mempunyai pemahaman nilai-nilai keaneka ragaman dan toleransi nya.”

Tak urung, ucapan Berlusconi yang dianggap sangat anti-Islam ini membuat marah orang Islam di seluruh penjuru dunia.

Menurut laporan AS, pembatasan status kebebasan religius menjadi kunci kedua yang menyebabkan gelombang diskriminasi dan anti-muslim di Eropa.

Pada tanggal 18 bulan Desember kemarin, Yohanes Hanford, Duta Besar AS untuk kebebasan religius internasional, mengkritik Perancis mengenai cara berpendirian nya pada isu orang Islam , menyangkut hak dan kebebaran para wanita-wanita muslimah memakai jilbab.

“Semua orang harus bisa mepraktekkan agama mereka dan kepercayaan mereka dengan damai tanpa gangguan dan campur tangan pemerintah, sepanjang mereka melakukan tanpa intimidasi dan provokasi dari yang lain di dalam masyarakat?. Kami akan mengamati ini secara hati-hati, dan ini pasti suatu perhatian penting pada waktu ini,” ujar Hanford.

Debat atas lambang religius –terutama menyangkut hal berjilbab wanita muslim– telah memperhebat di Perancis sejak Presiden Perancis Jack Chirac mengusulkan, pada bulan Desember lalu suatu hukum yang mengutuk lambang religius di sekolah-sekolah negeri di Perancis dan mengatur mereka di tempat kerja.

Islam adalah agama kedua terbesar ci Perancis dengan perkiraan 4 hingga 5 juta penganut, atau sekitar 7 hingga 8 persen populasi penduduk Perancis.

Perdebatan menyangkut jilbab juga terjadi di Jerman pada bulan Juni 2002 setelah pengadilan membuat undang-undang di tahun 1998 yang melarang para guru muslim di sebelah Selatan Baden-Wuerttemburg memakai jilbab di kelas.

Di Spanyol, orang Islam, Yahudi, dan Protestan mengeluh bahwa pemerintah hanya lebih mengakui Katolik, agama yang dominan baik dalam hubungan politik dan dukungan keuangan.

“Para pemimpin Protestan, orang Islam, dan masyarakat Yahudi? melanjutkan untuk menekan pemerintah atas perlakuan khusus terhadap agama Katholik. Perhatian mereka meliputi mepembiayaan, memperluas pengecualian pajak, meningkatkan akses media, dan lebih sedikit pembatasan atas pembukaan tempat beribadat baru” ujar sebuah laporan. Sebagai contoh, Federasi Kesatuan Islam Spanyol ( FEERI), sebuah organisasi Islam Spanyol, memprotes atas sikap pemerintah yang membatasai konstruksi mesjid baru, terutama untuk lokasi bangunan di area metropolitan.

Menurut FEERI, di Spanyol, populasi warga Islam di negara itu telah ditaksir mendekati jumlah satu juga orang.

AS juga telah menyatakan perhatian nya dan beberapa pemerintah juga boleh menggunakan peperangan atas Terorisme untuk mengendalikan kebebasan religius. Pada bulan Desember, Duta Besar AS, Hanford, memperingatkan bahwa “negara-negara sudah menargetkan pengikut religius, bahkan di bawah kedok kampanye anti-terrorism, dan memandu beberapa ke arah kekerasan dan radikalisme.” Jika perhatian Hanford ternyata benar, maka orang Islam di seluruh penjuru dunia mungkin adalah target utama pengekangan seperti itu pasca 9/11.

International Religious Freedom Report 2003, telah membuat suatu pekerjaan sangat dibutuhkan menyangkut monitoring status hak beragama orang Islam di Eropa. Untuk menyudahi hal penting pekerjaan nya, Deparlu AS perlu mendiskusikan penemuan dari melaporkan dengan para pemimpin Eropa dan kelompok hak azasi kemanusiaan internasional lain. Perlu juga membuat konferensi internasional untuk mendiskusikan status hak beragama orang Islam di Eropa dan di tempat lain untuk memastikan bahwa peperangan atas terorisme tidak akan digunakan sebagai pelindung dengan tanggung jawab menyakititi muslim di manapun di dunia. Pasti, konferensi seperti itu akan jadi sangat menolong untuk peperangan melawan terorisme.

*Alaa Bayoumi, seorang penulis asal Arab yang tinggal di Washington D.C dikutip dari Midle East Online

Rep: Ahmad Sadzali

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !