Selasa, 25 Januari 2022 / 21 Jumadil Akhir 1443 H

Mimbar

Nabi Isa menurut Islam

nabi isa
Bagikan:

Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi

Hidayatullah.com | DI  dalam Al-Qur’anu’l-Karīm Allah Subhānahū wa Ta‘ālā menyebutkan bahwa Dia telah mengutus banyak rasul. Diantara mereka ada yang diceritakan kepada Nabi Muhammad ﷺ ada juga yang tidak diceritakan kepada beliau (QS: an-Nisā’ (4):164, 40:78).

Menurut Rasulullah, jumlah nabi dan rasul adalah 124.000 orang. Yang menjadi rasul 313 orang. Dan yang disebutkan dalam Al-Qur’ān, dan wajib diimani, berjumlah 25 orang.

Dimulai dari nabi Ādam hingga nabi Muhammad ‘alayhimus-salām ajma‘īn. Dan beriman kepada nabi dan rasul Allah merupakan rukun Iman dalam akidah Islam.

Maka, siapa yang mendustakan salah satunya berarti mendustakan Al-Qur’ān. Nabi dan rasul diutus oleh untuk melakukan dua tugas utama: memberi kabar-gembira dan memberi peringatan (Qs.4:165). (Lihat, Hisyām al-Kāmil Hāmid Mūsā, Fath al-‘Allām: Syarh Manzhūmat ‘Aqīdat al-‘Awwām (Mesir: Dār al-Manār, 1434 H/2013 M), 52, 54, 59, 60-95).

Dan diantara rasul-rasul Allah itu ada yang disebut dengan ulū’l-‘azmi, yang berjumlah lima orang, yaitu: Nabi Muhammad, nabi Nūh, nabi Ibrāhīm, nabi Mūsā dan nabi ‘Īsā ‘alayhimus-salām. Dan di dalam Al-Qur’ān ditegaskan bahwa para nabi dan rasul itu tidak boleh dibeda-bedakan (QS:2:285). Dan hanya Al-Qur’ān yang menegaskan demikian.

Perihal Nabi ‘Īsā

Perihal nabi Isa ‘alayhis-salām dalam Islām posisinya sangat jelas dan tegas. Dan sikap ini sangat bertolak-belakang dengan kaum Nasrani.  Di dalam Islām, nabi ‘Isā adalah ‘Abdullāh (hamba Allah) yang diberi al-Kitāb (al-Injīl, Qs.19:).

Kelahirannya adalah mukjizat, karena hanya melalui seorang ibu (Maryam) tanpa disentuh seorang laki-laki pun. Tapi, itu mudah bagi Allah. Dan apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi (Qs. 19:20-21).

Bukan Anak Allah, Bukan Allah

Dalam keyakinan Kristen nabi Isa adalah “anak Tuhan”. Menurut Islām, keyakinan ini adalah batil. Karena Allah tidak memiliki istri maka tidak memiliki anak (QS: al-Jinn: 3; 17:111).

Baik keyakinan Kristen menegaskan yang dari bahwa nabi ‘Īsā adalah anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, sesungguhnya ini keyakinan batil. Jika demikian, maka dapat dipastikan bahwa ini adalah jalan kaum paganis (penyembah berhala). Sehingga mereka meyakini bahwa nabi ‘Īsā adalah “anak Tuhan” sekaligus  “Tuhan” itu sendiri (Qs. 9:3).

Paganisme tersebut telah pun menyebar di banyak umat; dimana penganutnya meyakini bahwa Allāh memiliki anak laki-laki dan anak perempuan yang disembah selain Allah (Qs. 21: 26-28). (Lihat, Syekh Yūsuf al-Qaradhāwī, Haqīqah at-Tawhīd (Kairo: Maktabah Wahbah, 1426/2006), 7).

Hormatilah Nabi ‘Īsā

Dalam Islām, Allāh mewajibkan umat Islām untuk mempercayai dan memuliakan para nabi dan rasūl Allāh. Juga mereka diperintah oleh Allāh untuk mempercayai Kitab Suci Al-Qur’ān, Zabūr, Taurāt dan Injīl dan seluruh Wahyu Allāh yang diturunkan kepada nabi-nabi dan rasūl-Nya (QS: 2:136,285; 3:84; 4:153).

Dan cara menghormati nabi ‘Īsā dengan mendudukkannya sebgai ‘hamba’ Allāh dan rasūl-Nya, yang mendapat Wahyu Allah berupa Injīl (QS: al-Hadīd: 26-27).

Selain itu, konsep “Juruselamat” dalam Kristen tidaklah tepat jika disematkan kepada nabi ‘Īsā ini. Padahal ini bukan ajaran Tuhan, melainkan ajaran Paulus seperti yang disampaikan oleh L. Tiemersma dalam karyanya ‘Tafsir Galati’. (Lihat, H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Perbandingan Agama  Kristen dan Islam (Medan: Firma “Islamiyyah”, cet. II, 1394 H/1974 M), 38).

Ketegasan Islām dalam mengoreksi kekeliruan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap nabi ‘Īsā sudah terjadi amat lama. Segala yang dinisbatkan kepada nabi ‘Īsā adalah ajaran sesat yang sudah dimasukkan orang ke dalam agama Tuhan yang suci.

Diantara doktrin-doktrin itu adalah: kepercayaan tentang dosa warisan, dogma penebusan dosa, kematian Yesus di tiang salib; keesaan Tuhan yang memiliki tiga oknum (Bapa, Anak dan Roh Kudus), dan yang lainnya. Keyakinan dan ajaran ini semua tidak benar.

Maka, pemahaman seperti ini harus dibersihkan. Karena ini mencederai posisi dan kedudukan nabi ‘Īsā ‘alayhis-salām.

Itulah cara menghormati dan memuliakan nabi Isa. Jika ini tidak dilakukan maka selamanya kita tidak mengasihi dan tidak menghormati nabi yang mulia ini. Wallāhu a‘lamu bis-shawāb.[]

Pengajar di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah (Medan) dan Penulis buku  ‘Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia’, ‘Islam vs Pluralisme Agama’, dan ‘Fiqih Peradaban’

Rep: Ahmad
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Bias Pemberitaaan Omran Daqneesh

Bias Pemberitaaan Omran Daqneesh

Cerdas Menyikapi Konspirasi Melemahkan Islam

Cerdas Menyikapi Konspirasi Melemahkan Islam

Penyebab Kerusakan Negara dan Jalan Keluar Wujudkan Kebaikan

Penyebab Kerusakan Negara dan Jalan Keluar Wujudkan Kebaikan

Dakwah untuk Generasi Merunduk

Dakwah untuk Generasi Merunduk

pantangan pemuda

Sukses Kuliah Ya Sukses Berdakwah”

Baca Juga

Berita Lainnya