Kamis, 20 Januari 2022 / 16 Jumadil Akhir 1443 H

Mimbar

Jasa Ulama Terhadap NKRI

Eltaher
Delegasi Indonesia tiba di Mesir selama musim panas 1946, setelah deklarasi kemerdekaan RI. Delegasi dipimpin Haji Agus Salim, Wakil PM Indonesia pertama dan Menlu RI bertemu Mohamed Ali Eltaher dan "Dar Ashoura" di Kairo
Bagikan:

Jasa para ulama baik sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan tak dapat terhitung dengan jari-jemari manusia.

Oleh: Askar Patahuddin

Hidayatullah.com | ULAMA  adalah orang yang ahli dalam hal atau pengetahuan agama Islam. Pengetahuannya terhadap Al-Qur’an dan Al hadis membuatnya mulia dengan predikat tersebut. Bentuk kemuliaan tersebut Allah SWT tegaskan dalam QS. Fatir ayat 28 “… sesungguhnya yang paling takut kepada Allah hanyalah ulama.”

Posisi para ulama sangat besar, dalam hadis disebutkan sebagai pewaris para Nabi. Maka buruklah sebuah kaum yang tidak memiliki ulama, karena fungsi ulama dalam perbaikan masyarakat dan membangun negeri sangatlah besar.

Ulama adalah pelita di kegelapan umat, benteng dari penjajahan, dan tonggak bagi negeri yang ingin merdeka, serta ruh dalam mengisi kemerdekan. Kiprah ulama terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak dapat disangkakan lagi.

Kehadiran Ki Bagus Hadikusumo, Haji Agus Salim, Haji Abdul Wahid Hasyim, Haji Mohammad Yamin, dan lainnya telah berhasil mempersatukan Sabang sampai Merauke dalam bingkai NKRI. Puncak kemuliaan mereka ketika berupaya memperjuangkan piagam Jakarta berdasarkan: Ketuhanan, dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun karena keberatan rakyat dari Indonesia Timur atas masuknya tujuh kata dalam Preambule UUD yang enggan dengan hal tersebut, dengan ancaman melepaskan diri dari Indonesia, maka Soekarno menghapuskan frasa tersebut. Para ulama pun dengan ridha menerima keputusan tersebut.

Dalam hal jasa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, Inggris dan sekutu-sekutunya hingga Jepang. Sungguh para ulama terdepan memimpin kaum muslimin dan santri melakukan perlawanan.

Karena para ulama sangat paham bahwa penjajahan harus dihapuskan, dan setiap orang punya hak untuk merdeka.

Jasa para ulama baik sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan tak dapat terhitung dengan jari-jemari manusia. Hal ini ditegaskan oleh Lukman Hakim dalam bukunya “Utang Republik Kepada Islam”.

“Dalam setiap proses perjuangan menegakkan negara Indonesia, umat Islam tidak pernah absen. Hal ini bukan saja karena Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk negeri ini, juga oleh karena jika ada yang paling menderita akibat penjajahan atau akibat ketidakberesan pengelolaan negara, pastilah umat islam yang mayoritas itu. Maka umat Islam bukan saja bagian tidak terpisahkan dari negeri ini, tapi juga tulang punggung yang menjaga eksistensi negeri ini.” (Utang Republik Kepada Islam, Lukman Hakim).

Upaya melupakan jasa para ulama, tentu tak layak bagi negara yang merdeka dengan ‘kalimat takbir’, dengan darah para santri dan ulama yang tumpah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan peran mereka mengisi kemerdekaan, dan merajut Bhinneka Tunggal Ika.

Selayaknya kita tidak melupakan trio ulama patriot yakni Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir dalam menyusun Pancasila sebagai dasar negara yang berKetuhanan yang Maha Esa. Peran Kasman atas permintaan Mohammad Hatta agar Ki Bagus menerima rumusan Pancasila yang dijiwai dengan Piagam Jakarta. Itulah semua jasa para ulama terhadap NKRI yang seharusnya disyukuri, dan tidak dibalas dengan air tuba.

Sangat disayangkan tentunya, begitu banyak opini liar dari kaum yang tak tahu sejarah Indonesia, hingga tagar di twitter #bubarkanMUI terus disebarkan. Sosok Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Abdullah) selaku ketua MUI pertama yang telah mengeluarkan fatwa haram perayaan natal bagi kaum muslimin.

Buya Hamka telah merasakan jeruji besi penjara selama dua tahun empat bulan. Beliau ditahan karena dianggap melanggar UU Anti-Subversif Pempres No. 11. Buya Hamka dituding terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno dan Menteri Agama saat itu Syaifuddin Zuhri.

Namun kezaliman yang terima ia lalui dengan menulis tafsir al-Azhar 30 juz sehingga menjadi karya agung Hamka. Akhir kehidupan Soekarno berupaya wasiat untuk disalatkan oleh Buya Hamka sang Ulama Rabbani di zamannya.

Olehnya, kaidah kemenangan dan keteguhan iman para ulama terpatri kuat, telah terhujam dan tak pernah kering dari siraman ayat al-Quran dan Hadis Nabi ﷺ. Imam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada yang memusuhinya;

“Jika mereka memenjarakanku, maka itulah khalwat (kebersamaan) dengan Raab-ku; jika mereka mengusirku, maka itu adalah tamasya bagiku; dan jika mereka membunuhku maka itu syahid bagiku”.

Jiwa besar para ulama dan keyakinan di atas petunjuk Allah akan semakin meyakinkan umat, bahwa jalan ilmu dan dakwah menyampaikan risalah adalah ruh bagi ulama itu sendiri, dan itulah jalan para Nabi dan Rasul. Akhirnya kemenangan hanya kembali kepada para pengusung al-Haq, sebagaimana janji Allah dalam Qur’an Surah al-Isra ayat 81 “Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.”*

Mahasiswa Program PKU Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Ruh Ulama dan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’

Ruh Ulama dan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional dalam Perspektif Hukum Islam

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional dalam Perspektif Hukum Islam

Kasus Miras Oplosan, Di mana Perhatian Negara?

Kasus Miras Oplosan, Di mana Perhatian Negara?

Persatuan Umat Islam Sedunia Bukan Utopia

Persatuan Umat Islam Sedunia Bukan Utopia

Islam dan Singa yang Tertidur

Islam dan Singa yang Tertidur

Baca Juga

Berita Lainnya