Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Mimbar

Islam yang Sempurna dan Moderasi Agama

KH Buya Syakur Yasin MA dalam diskusi bertema 'Moderasi Beragama Merajut Nasionalisme dan Toleransi Beragama' di Mabes Polri, Jakarta
Bagikan:

Oleh: Ubed Ahmad

Hidayatullah.com | ISLAM bukan agama yang sempurna alias agama yang  belum sempurna sebab tidak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian salah satu cuplikan penjelasan seorang narasumber dalam sebuah diskusi bertema ‘Moderasi Beragama Merajut Nasionalisme dan Toleransi Beragama’ di Mabes Polri, Jakarta yang disiarkan secara langsung lewat akun channel Youtube KH Buya Syakur Yasin MA pada 1 Juni 2021.

Dalam diskusi itu sebenarnya ada beberapa pernyataan kontroversial dari pembicara yang selama ini dikenal sebagai pengasuh salah satu pesantren di Jawa Barat itu. Di antaranya adalah :

  1. Bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah merasa BENAR.
  2. Bahwa KALIMAT TAUHID adalah Kalimat Persatuan bukan Kalimat Laa ilaaha illallaah.
  3. Bahwa Kalimat Laa iilaaha illallaah jadi Kunci Masuk Surga TIDAK MASUK AKAL.
  4. Bahwa ISLAM belum sempurna & tidak pernah sempurna.
  5. Bahwa setelah Wafat Nabi ﷺ ada KONFLIK BERDARAH berebut Kekuasaan antara Abu Bakar RA & Ali RA hingga terjadi pertumpahan darah sampai saat ini.
  6. Bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai “BRONDONG” saat kawin dengan Sayyidah Khadijah RA yang seorang IBU.
  7. Bahwa Sayyidah Khadijah RA pengikut NASRANI dengan bukti : Tidak mau dimadu (Anti Poligami) & Konsultasi ke Pendeta Nasrani (Waroqoh bin Naufal).
  8. Bahwa Sayyiduna Umar RA seperti HITLER & NAZI-nya yang mengusir habis Yahudi.
  9. Bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak membawa Agama Baru tapi membawa SEKTE BARU dari Agama Nasrani.
  10. Bahwa Agama memang Berbeda Tidak Sama, tapi Agama mana yang masuk Surga itu urusan Allah SWT, sehingga Umat Islam tidak boleh KLAIM SURGA.
  11. Bahwa Islam, Yahudi mau pun Nasrani asal beramal sholeh masuk Surga, sehingga tidak usah ada Agama yang KLAIM SURGA.
  12. Bahwa makna KAFIR adalah Gelap Mata, Hasud, Bakhil, Takabur, Tidak Bersyukur, dll, apa pun Agamanya. Jadi, KAFIR jangan dimaknai orang di luar Islam.
  13. Bahwa Malaikat BODOH dan Allah SWT berkata kepada para Malaikat : JANGAN BANYAK BACOT!.
  14. Bahwa Gambar YESUS ada di dalam Ka’bah serta dijaga dan dilindungi oleh Nabi Muhammad ﷺ. (Amanat IB HRS terkait Program Moderasi)

Narasumber tersebut memang digandrungi oleh beberapa kalangan yang cenderung berfikiran SePILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Maka sangat logis jika sang tokoh beberapa kali diundang dalam diskusi-diskusi yang  bertajuk moderasi beragama atau pluralisme dan yang serupa dengan hal-hal itu.

Habib Abubakar Bin Hasan Assegaf, tokoh Habaib dari Pasuruan, sempat menyinggung si tokoh tersebut lewat cuitan di akun Twitter miliknya,  “Buya Syakur ini sesepuhnya liberal, memang biasa bicara agama dengan main akal-akalan dan lihai bermain retorika. Hati2 jangan terkecoh, beliau cuma dijadikan pion dari program moderasi agama yang merupakan kelanjutan dari Islam Nusantara,” katanya lewat akun Twitter, @abubakarsegaf dikutip Republika di Jakarta, Senin (1/11).

Dari sekian pernyataan kontroversial di atas penulis ingin menanggapi salah satu pernyataan liar dari si tokoh tersebut yakni pernyataan bahwa Islam bukan agama yang sempurna, benarkah pemikiran itu. Bukankah ada hadis yang menyatakan bahwa,

الإسلام يعلو ولا يعلى عليه ». رواه البيهقي

“Islam itu tinggi (luhur) dan tidak ada yang lebih tinggi (luhur) darinya.(HR: Baihaqi)

Hadis tersebut adalah salah satu dalil yang bisa dijadikan hujjah untuk menyanggah pernyataan bahwa Islam bukan agama yang sempurna. Selain hadis yang sudah masyhur tersebut, ada pula dalil Al Qur’an yang tentunya semua umat Islam sudah tahu yakni

ayat terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ yaitu Surah Al Maidah ayat 3 yang menyatakan paripurnanya nikmat dari Allah kepada umat Islam.

Allah SWT berfirman,

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…

“…Pada hari ini telah Aku  sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Ku cukupkan nikmatku atas kalian dan Aku telah Ridho Islam sebagai agama kalian…” (QS:  Al Maidah : 03).

Dalam Kitab Tarjuman al Mustafid karya Syekh Abdur Rauf as Singkeli yang merupakan kitab tafsir Al Quran tertua di Nusantara, ada penjelasan mengenai Surah Al Maidah ayat ketiga tersebut yang berbunyi,  “Pada hari ini telah kusempurnakan bagi kamu agama kamu yakni segala fardhunya maka tiadalah turun segala hukumnya kemudian daripadanya daripada menyatakan halal dan haram dan telah kusempurnakan atas kamu segala nikmat-Ku dan telah ridholah Aku bagi kamu Islam itu akan agama.” (Tarjuman al Mustafid karya Syekh Abdur Rouf As Singkeli, hal 108).

Kitab itu menjelaskan bahwasanya setelah ayat ke tiga surah Al Maidah itu turun maka paripurna lah segala hukum fikih yang membahas halal dan haram. Dan juga sangat jelas bahwa Islam lah agama yang diridhoi Allah bagi manusia.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa surah Al Maidah ayat ke tiga itu merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini, karena Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi lain selain nabi mereka; semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepadanya.

Karena itulah Allah menjadikan beliau Nabi ﷺ sebagai Nabi terakhir yang diutus-Nya untuk manusia dan jin. Tiada halal selain apa yang dihalalkannya, tiada haram kecuali apa yang diharamkannya dan tiada agama kecuali apa yang disyariatkannya. Semua yang ia beritakan adalah benar belaka, tiada dusta dan tiada kebohongan padanya. Seperti yang disebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu:

{وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا}

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an), sebagai kali­mat yang benar dan adil. (Al-An’am: 115)

Yakni benar dalam beritanya, serta adil dalam perintah dan larangannya. Setelah Allah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, berarti telah cukuplah kenikmatan yang mereka terima dari-Nya. Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا}

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku­ridai Islam jadi agama bagi kalian.” (QS: Al-Maidah: 3)

Artinya, terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kalian, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhormat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maidah: 3); Yakni agama Islam. Allah SWT memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam tidak memerlukan tambahan lagi selamanya. Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Dia telah ridha kepadanya, maka Dia tidak akan membencinya selama-lamanya.

Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) menyatakan para ulama berbeda dalam memaknai ayat ini, sebagian ulama memaknai bahwa ayat ini merupakan isyarat akan wafatnya Rasulullah ﷺ sebab Allah mengutus Nabi sebagai rasul merupakan tugas, jika tugas sudah sempurna maka kewajiban akan berakhir.

Sedangkan menurut jumhur ulama, ayat ini juga menjelaskan paripurnanya tema fiqhiyyah, hal ini diindikasikan dengan redaksi sebelumnya, yakni terkait dengan pengharaman makanan yang untuk dikonsumsi serta pengharaman mengundi nasib. Setelah ayat yang menerangkan fikih selesai (pengharaman makanan dan mengundi nasib), Allah berfirman “alyauma yaisa alladzina kafaru min dinikum” (pada hari ini telah berputus asa orang kafir dari agama kalian), pertanyaannya mengapa orang kafir berputus asa dengan adanya agama Islam? Ini tidak lain karena mereka menganggap bahwa agama Islam telah merdeka dan argumentasinya telah jelas dan terang benderang.

Gus Baha juga menjelaskan bahwa agama Islam sudah sempurna, ibarat sebuah rumah, bagian-bagian rumahnya sudah lengkap dan detail; sudah memiliki aksesori, sudah ada pintu, jendela, kamar dan lain sebagainya, berbeda dengan agama lain yang masih memikirkan pondasi dan alat-alatnya. Agama Islam sudah membahas fikih secara detail, mulai dari halal dan haram, makruh, dan khilafiyah. Oleh karenanya Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ …

(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.”  (QS:  Hud [11]: 1).

Ayat tersebut menjelaskan tentang kesempurnaan ajaran fikih dalam agama Islam, contoh lain misalnya dalam masalah talak. Aturan pernikahan dalam agama Islam tidak hanya cukup di pra dan saat nikah saja, tetapi juga pasca nikah, misal kemungkinan talak. Hal ini bisa jadi tidak didapati dalam agama lain. Dalam Islam, konsep talak serta hukum-hukumnya sudah lengkap diatur dalam fikih.  

Mengenai Surah Al Maidah ayat tiga tersebut di dalam kitab Shofwatut Tafasir juga disebutkan,

أي أكملت لكم الشريعة ببيان الحلال و الحرام (وأتممت عليكم نعمتي) بالهداية والتوفيق (اليوم أكملت لكم دينكم)

إلى أقوم طريق (ورضيت لكم الإسلام دينا) أي اخترت لكم الإسلام دينا من بين الأديان وهوالدين المرضي الذي لا يقبل الله دينا سواه

(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian) yakni Aku telah sempurnakan bagi kalian syariah Islam untuk menjelaskan yang halal dan haram. (Dan aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku) dengan petunjuk (hidayah) dan bimbingan (taufiq) kepada jalan yang selurus-lurusnya. (Dan Aku ridho bagi kalian Islam sebagai agama) yakni Aku memilihkan bagi kalian Islam sebagai agama (terpilih) diantara agama-agama lainnya dan Islam adalah agama yang diridhoi yang Allah tidak menerima agama lain selain Islam.” (Syaikh Muhammad Ali Al Shobuni, Shofwatut Tafasir, (Darul Qur’anil Karim, Beirut) Jilid 1 hal. 327-328).

Allah sendiri yang memilihkan agama Islam ini kepada orang beriman dan telah meridhoinya sebagai agama terpilih dan tidak ada agama lain yang diterima di sisi Nya melainkan hanya Islam. Di dalam Tafsir Jalalain disebutkan mengenai Islam lah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah SWT dalam surah Ali Imron ayat 19 yang berbunyi,

{ إِنَّ الدّينَ } المرضيّ { عَندَ الله } هو { الإسلام } أي الشرع المبعوث به الرسل المبني على التوحيد وفي قراءة بفتح «إنّ» بدل من أنه الخ بدل اشتمال { وَمَا اختلف الذين أُوتُواْ الكتاب } اليهود والنصارى في الدين بأن وحَّد بعض وكفر بعض { إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ العلم } بالتوحيد { بَغِيّاً } من الكافرين { بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بآيات الله فَإِنَّ الله سَرِيعُ الحساب } أي المجازاة له

“(Sesungguhnya agama) yang diridai (di sisi Allah) ialah agama (Islam) yakni syariat yang dibawa oleh para rasul dan dibina atas dasar ketauhidan. Menurut satu qiraat dibaca anna sebagai badal dari inna yakni badal isytimal. (Tidaklah berselisih orang-orang yang diberi kitab) yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam agama, sebagian mereka mengakui bahwa merekalah yang beragama tauhid sedangkan lainnya kafir (kecuali setelah datang kepada mereka ilmu) tentang ketauhidan disebabkan (kedengkian) dari orang-orang kafir (di antara sesama mereka, siapa yang kafir pada ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah cepat sekali perhitungan-Nya) maksudnya pembalasan-Nya.” (Tafsir Jalalain, Surah Ali Imron : 19).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dibuktikan bahwasannya pandangan yang menyatakan bahwa Islam bukan agama sempurna atau agama yang belum sempurna adalah sebuah bentuk keliaran berfikir yang berangkat dari cara berfikir yang liberal. Haruskah pemikiran liberal seperti itu dijadikan sebagai sebuah acuan berpikir dalam program moderasi beragama bagi para ASN dan aparat di negeri ini.

Ahlus Sunnah, Liberalisme dan Moderasi Agama

Indonesia sebagai negeri Ahlussunah Wal Jamaah yang bercirikan nilai tawasuth (pertengahan) yang menolak nilai ekstrimisme di satu sisi dan liberalisme di sisi yang lain. Negeri-negeri Ahlus Sunnah banyak memiliki stok ulama mumpuni dan otoritatif yang masih berfikiran lurus yang bisa menjadi murabbi bagi para aparatur di berbagai lembaga dan institusi negara.

Hal ini menjadi penting dan harus menjadi perhatian serius sebab menyangkut nilai-nilai akidah. Dan cukuplah term tawasuth yang digunakan bukan istilah moderasi agama karena keduanya memiliki makna yang berbeda.

Berdasarkan jejak rekamnya, istilah moderasi sudah terlalu sering dijadikan tumpangan dari program liberalisme agama. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Nahdliyyin, tinggal di Bangil Pasuruan

Baca juga:

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Wanita Mulia Bersama Islam

Wanita Mulia Bersama Islam

Kurikulum Pendidikan Kita dan ‘Mental Industri’

Kurikulum Pendidikan Kita dan ‘Mental Industri’

Hantu Komunisme, Tuhankan Paham Marxisme Berorientasi Materialisme

Hantu Komunisme, Tuhankan Paham Marxisme Berorientasi Materialisme

Dalam Islam, Tiada Sukses Tanpa Ujian

Dalam Islam, Tiada Sukses Tanpa Ujian

Berjilbab Menunggu ‘Hidayah’ Datang?

Berjilbab Menunggu ‘Hidayah’ Datang?

Baca Juga

Berita Lainnya