Senin, 29 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Mimbar

Pantangan Bagi Pemuda

pantangan pemuda
Bagikan:

Pesan penting yang sangat baik diambil ialah bahwa ada pantangan bagi pemuda yang sebenarnya adalah antonim dari keharusan bagi pemuda yang telah diteladankan oleh sejarah.

Oleh: Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Hidayatullah.com — KETIKA matahari 27 Oktober terbenam, setiap tahun usai 1928, bangsa ini bicara tentang pemuda, ya, Sumpah Pemuda. Pesan penting yang sangat baik diambil ialah bahwa ada pantangan bagi pemuda. Pantangan itu sebenarnya adalah antonim dari keharusan bagi pemuda yang telah diteladankan oleh sejarah.

Dalam konteks Indonesia, kaum muda kala itu melihat bahwa identitas kesukuan dan kebangsaan harus dilebur, sehingga tidak ada lagi konflik karena bahasa, pakaian, makanan dan lain sebagainya.

Tujuan harus difokuskan, yakni bersatu membangun bangsa Indonesia, berbahasa satu berbahasa Indonesia. Itu penting dilakukan jika tidak mau terus menerus menjadi bangsa yang mudah dijajah, dipecah belah dan diperbudak oleh bangsa lain.

Jadi, inilah esensi dari peringatan Sumpah Pemuda yang harus dipahami dan menjadi energi kaum muda masa kini. Jika tidak, maka peringatan Sumpah Pemuda tak lebih dari sebatas seremoni dan diri tak memiliki arah serta energi untuk maju.

Evaluasi Kemerdekaan

Mengingat sudah cukup panjang perjalanan bangsa Indonesia, yakni 76 tahun merdeka, maka adalah hal yang wajar jika momentum Sumpah Pemuda dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi kemerdekaan.

Hal ini karena pemuda memang harusnya hidup di atas nilai dan prinsip kemerdekaan, sehingga meraih kebebasan sejati. Bebas dari “pemujaan” atas budaya asing, bebas dari keterbelakgana berpikir, bebas dari pragmatisme yang mengoyak persatuan, dan bebas dari jeratan pemikiran orang yang mengadu domba anak negeri.

Langkah di atas sangat relevan mengingat Sumpah Pemuda adalah bagian dari golden moment yang harus dirawat dan dijadikan pijakan untuk hadirkan energi besar bagi bangsa dan ngera.

Pemuda harus mau meneladani pengorbanan dan perjuangan para pahlawan bangsa. Di saat yang sama hadir sebagai inspirator peradaban kini dan nanti. Itulah inti dari Sumpah Pemuda yang tak boleh terputus dan padam, yakni merawat cita-cita Indonesia merdeka, Indonesia hebat dan Indonesia yang berpengaruh di dunia.

Pantangan

Berdasarkan uraian di atas maka seorang pemuda pantang untuk tidak punya visi, tidak mau beraksi dan tidak mau bersinergi. Sinergi artinya mau kerjasama dalam bentuk win-win yang dihasilkan melalui kolaborasi dari masing-masing pihak yang terlibat dalam kerjasama tanpa ada perasaan kalah atau dikalahkan.

Pantang anak muda hidup dengan egoismenya. Pantang anak muda malas untuk silaturrahim dan mengembangkan kapasitas diri. Pantang bagi anak muda tidak meneladai heroisme kaum muda masa lalu. Seperti kata Tharafah bin Al-Abd yang begitu heroik.

“Ketika suatu kaum bertanya, ‘Siapakah pemuda itu?’ Aku menduga akulah yang mereka maksud. Karena itu aku tidak bermalas-malas tidak pula menjadi orang yang bodoh. Akulah seorang pemuda tegas yang kalian kenal. Seorang pemberani, ibarat ular yang siap menerkam siapa saja yang dihadapi.”

Artinya, sosok pemuda pantang jadi pecundang, berpangku tangan dan diam dalam proses-proses perubahan. Sebaliknya sosok muda harus cerdas, kuat energik, tidak mau kehilangan momentum dan ia terus mau untuk bergerak cepat dan bertanggungjawab. Nah, siapakah yang siap jadi pemuda seperti ini?

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Pendidikan Membentuk Insan Adabi

Pendidikan Membentuk Insan Adabi

Alumni Sekolah Tinggi Luqmanul Hakim adakan Reuni Akbar Virtual

Alumni Sekolah Tinggi Luqmanul Hakim adakan Reuni Akbar Virtual

Belajar Tawazun dalam Menilai Keadaan

Belajar Tawazun dalam Menilai Keadaan

Yuk! Menjadi Keluarga Al-Quran [1]

Yuk! Menjadi Keluarga Al-Quran [1]

Wanita Mulia Bersama Islam

Wanita Mulia Bersama Islam

Baca Juga

Berita Lainnya