Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Mimbar

Selalu Ada Kesan di Balik Pesan

kesan di balik pesan
ilustrasi membalik halaman buku
Bagikan:

Setiap pesan yang disampaikan kepada kita selalu ada kepentingan atau kesan di dalamnya. Selalu ada maksud di balik pesan tersebut.

Hidayatullah.com |  SEORANG Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia berkata dalam sebuah grup diskusi bahwa dalam hidup, yang terpenting adalah pesan. Awalnya saya sempat meragukan pendapat itu.

Bukankah pesan tidak membuat seseorang menjadi kenyang? Tidak pula membuat seseorang lepas dahaganya?

Namun, kata Guru Besar tersebut, tanpa pesan, boleh jadi kita tak bisa makan dan minum. Bahkan, kita tak bisa melakukan apa pun secara sempurna. Kok bisa?

Jika kita ingin makan, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari informasi di mana adanya tempat makan. Tanpa informasi, kita tak akan bisa makan.

Saya mulai membenarkan pendapat Guru Besar itu. Bukankah informasi adalah pesan?

Lantunan suara azan pun adalah pesan bahwa sudah saatnya kita shalat.  Tanpa azan, kita bakal kesulitan mengetahui waktu shalat.

Bahkan, al-Qur’an sejatinya adalah kumpulan pesan dari Allah Ta’ala kepada Rasulullah ﷺ untuk disampaikan kepada umat manusia. Begitu juga hadits, merupakan pesan Rasulullah ﷺ untuk kaum Muslim. Tanpa itu semua maka tentu kita masih berada di zaman kegelapan.

Namun, setiap pesan yang disampaikan kepada kita selalu ada kepentingan di dalamnya. Selalu ada maksud di balik pesan tersebut.

Jika maksudnya baik, maka baik pula kesudahannya. Setidaknya, si pemilik pesan akan mendapat ganjaran kebaikan atas pesan yang ia sampaikan, demikian pula si penerima pesan.

Begitu pula sebaliknya, jika maksudnya jahat, maka keburukan yang akan diterima si penyampai pesan. Pun demikian dengan si penerima pesan, jika ia tak menyadari adanya kejahatan di balik pesan itu.

Seseorang menyampaikan informasi tentang tempat-tempat makanan yang enak di suatu kota, misalnya, tentu ingin membantu para pelancong yang mau mencari tempat kuliner lezat di kota tersebut.  Namun,  boleh jadi bukan sekadar itu maksudnya. Ia juga ingin mempromosikan tempat kuliner miliknya. Bahkan, secara halus, ia mau menggiring opini publik bahwa tempat kuliner miliknya sama kualitasnya dengan tempat kuliner lain yang lebih mewah.

Maksud dalam pesan bisa dilihat dari diksi yang dipakai si penyampai pesan, bisa juga dari fakta-fakta yang ia pilih (framing), atau fakta-fakya yang ia tonjolkan.

Sebagai contoh, lihatlah bagaimana tiga buah koran mengemas informasi dalam bentuk berita mengenai sebuah peristiwa yang terjadi di awal November 2005. Peristiwa tersebut adalah kasus pemerkosaan yang terjadi di hutan kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Media pertama, Kompas, yang terbit pada 2 November 2005, menulis judul Pelecehan Seksual di Hutan UI, Korban Masih Trauma. Media kedua adalah Harian Warta Kota di hari yang sama menulis berita dengan judul Pemerkosa Keliaran di UI. Media ketiga adalah Harian Non-Stop, juga pada hari yang sama, menulis berita dengan judul UI Sarang Pemerkosa.

Kita bisa melihat adanya kesan yang berbeda-beda dari pesan yang disampaikan oleh ketiga media tersebut meskipun peristiwanya sama. Ada yang terkesan memberikan empati pada korban, ada pula yang seolah-olah “menghukumi”  tempat kejadian sebagai kawasan yang harus dijauhi.

DI satu sisi, kita perlu berhati-hati melahap pesan-pesan yang datang kepada kita. Tak semua pemilik pesan tersebut orang baik. Ada juga orang jahat yang ingin menyebarkan fitnah, adu domba, atau ghibah.

Namun, di sisi lain, pemilik pesan pun harus berhati-hati. Bila tak pandai membuat pesan, boleh jadi kesan yang muncul berbeda dengan apa yang diharapkan.

Jangan salah menyusun kata. Jangan pula keliru menggunakan diksi. Menulis harus dengan sadar.  Sadar menyusun kata, sadar memilih diksi. Sebab, kemasan pesan menentukan kesan

Seorang anak, ketika ingin meminta makan kepada ibunya, akan berkata terus terang, “Ibu, saya lapar.” Namun seorang suami, tak akan berkata sevulgar itu. Ia akan berkata kepada isterinya, “Masak apa hari ini?” Maksudnya sama, tapi cara penyampaian berbeda.

Mari renungkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Cukuplah seorang dikatakan berbohong bila ia menceritakan setiap yang ia dengar.”  Wallahu a’lam.*/Mahladi Murni

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Kuasa di Atas Senjata

Kuasa di Atas Senjata

Jangan Retak Perahuku

Jangan Retak Perahuku

Kurikulum Pendidikan Kita dan ‘Mental Industri’

Kurikulum Pendidikan Kita dan ‘Mental Industri’

Tiga Langkah Menuju Akad Nikah

Tiga Langkah Menuju Akad Nikah

Membangun Stabilitas Negara menurut Al-Qur’an

Membangun Stabilitas Negara menurut Al-Qur’an

Baca Juga

Berita Lainnya