Selasa, 30 November 2021 / 24 Rabiul Akhir 1443 H

Mimbar

Maulid Nabi dan Revolusi Akhlak

Bagikan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR: Al-Baihaqi).

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidayatullah.com | SEMUA  umat Islam tentu sudah tidak asing dengan sabda Rasulullah ﷺ yang sering dinukil oleh para mubaligh, da’i dan para ustadz baik di mimbar-mimbar Masjid maupun podium di luar Masjid tersebut.

Hadis yang menjelaskan misi besar diutusnya Rasulullah ﷺ itu selaras dengan keadaan moral umat manusia dan khususnya bangsa Arab pra Islam saat itu yang sedang berada di puncak kebobrokan akhlak atau yang masyhur disebut dengan istilah Jahiliyah. Istilah jahiliah dalam bahasa Indonesia bermakna kebodohan.

Namun apakah bangsa Arab saat itu benar-benar berada dalam kebodohan dalam arti tidak mengerti ilmu sama sekali. Ternyata tidak demikian maksudnya.

Jahiliyah di sini disematkan karena bobroknya moralitas bangsa Arab kala itu. Dalam masalah ilmu keduniawian, bangsa Arab masyhur terkenal sebagai ahli beberapa ilmu seperti ilmu perbintangan (nujum), perdagangan internasional, dan ilmu syair (bahasa).

Di dalam Al Qur’an dijelaskan mengenai keahlian bangsa Arab Quraisy kala itu dalam hal perdagangan internasional,

يلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS: Al Quraisy : 1-4).

Mereka memiliki kehebatan dalam berniaga bahkan dalam kondisi (musim) yang berbeda sekalipun, yakni berdagang ke negeri Yaman saat musim dingin dan berniaga ke negeri Syam kala musim panas.

Dalam hal lain, bangsa Arab kuno terkenal memiliki ilmu yang bisa jadi di zaman ini sudah punah, seperti ilmu ‘arrafah yang merupakan ilmu untuk memprediksi masa depan ataupun peristiwa yang akan datang.

Ilmu ini adalah penggabungan antara ilmu astrologi, astronomi, meteorologi, geografi, dan juga sejarah. Perpaduan dari ilmu-ilmu itulah yang membuat seorang ‘arraf mampu memprediksi masa depan, waktu-waktu yang tepat untuk melakukan perdagangan, maupun mengenali akibat baik atau buruk suatu rencana. Konon, salah satu orang yang cukup mahir menguasai ilmu ini adalah Adnan kakek buyut Nabi Muhammad ﷺ. (Mu’jam Lisan Al-Arab fi Al-lughah, karya Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu Fadhl (Ibnu Manzhur)

Disebutkan pula bahwa jauh sebelum Islam diturunkan di Jazirah Arab, sastra telah berkembang pesat di kalangan masyarakat Arab jahiliah. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, sastra jahiliah merupakan bagian dari budaya masyarakat Badui dan didominasi oleh syair.

Dari beberapa keahlian khas bangsa Arab pra-Islam itu dapat disimpulkan bahwa mereka bukanlah bangsa bodoh. Namun mengapa istilah jahiliyah disematkan kepada mereka, tidak lain karena berbagai kehebatan tersebut tidak dibarengi dengan ketinggian akhlak.

Bangsa Arab adalah bangsa yang dikenal suka mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup, berperang antar kabilah, minum khamr, dan berjudi.

Dan dalam pandangan Islam hal tersebut adalah  bentuk kebodohan. Meskipun dalam perkara kebobrokan akhlak bukan hanya bangsa Arab yang mengalaminya, karena fakta sejarah menunjukkan bahwa hampir semua peradaban dunia saat itu mengalami degradasi moral yang merata, terutama dua imperium adidaya saat itu yakni Romawi dan Persia.

Di tanah Persia ada sebuah aliran bernama Mazdakisme yang menghalalkan perempuan dan harta benda dan menjadikan keduanya sebagai milik bersama masyarakat, sebagaimana mereka berserikat dalam memiliki air, api, dan rumput. Tentu saja aliran ini mendapat sambutan luar biasa dari para pengumbar nafsu.

Negara adidaya lainnya adalah Romawi yang didominasi semangat kolonialisme. Negara itu juga tenggelam dalam perselisihan keagamaan, yaitu antara penguasa Romawi di satu pihak dan kaum Kristen Suriah serta Mesir di pihak lain.

Romawi mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialismenya untuk menyebarkan dan mengembangkan Kristen sekaligus mempermainkannya sesuai dengan hasrat nafsu dan ketamakan mereka.

Dari sisi akhlak, bangsa Romawi pun tak kalah bejatnya dari bangsa Persia. Kemaksiatan, kekejian, dan kezaliman merajalela di seluruh pelosok negeri disebabkan berlimpahnya pemasukan negara dan berlipat gandanya setoran pajak.

Peradaban lainnya, yaitu Yunani, tenggelam dalam lautan takhayul dan mitos yang dituturkan dari mulut ke mulut. Kecenderungan itu mematikan potensi besar bangsa itu dan tidak membuahkan hasil yang bermanfaat.

Situasi serupa berlangsung di belahan dunia lainnya, yaitu di kawasan Hindustan. Sebagaimana dituturkan Syekh Abu Al-Hasan An-Nadwi, para penulis sejarah Hindustan sepakat bahwa fase terendah negara itu dari sisi keagamaan, moral, dan sosial ada di zaman itu.

Kemunduran peradaban itu bermula dari awal abad ke-6 M. Hindustan dan negara-negara kecil di sekitarnya tenggelam dalam kemerosotan moral dan sosial. Seperti itulah keadaan bangsa-bangsa dengan peradaban mereka di masa kemunculan dan perkembangan Islam. (Dr. Ramadhan Said Al Buthi, The Great Episodes Of Muhammad Saw, (Jakarta, Penerbit Noura Books, 2015), hal. 29-30)

Berdasarkan jejak rekam sejarah peradaban dunia kala itu, dapat disimpulkan bahwa dunia secara global benar-benar berada dalam kondisi jahiliyah. Bangsa Romawi (Rum) dan Persia (Kisra) yang demikian maju dalam menghasilkan produk seni dan arsitektur serta militer nyatanya tidak sebanding dengan keadaan moral yang ironisnya berada pada titik nadir terendah. Dengan kata lain, peradaban mereka maju dalam bentuk fisik semata (dhohir) dan bobrok dalam sisi batiniahnya.

Dan dalam keadaan kegelapan akhlak umat manusia itulah Nabi Muhammad ﷺ diwujudkan secara jasadiyah dari yang semula masih berbentuk Nur Muhammad yang secara estafet berada di dalam sulbi dan rahim manusia-manusia mulia di zamannya mulai dari masa Nabi Adam Alaihis Salam hingga ke Sayyidina Abdullah Bin Abdul Mutholib dan Sayyidah Aminah.

Di dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah banyak disebut bahwa detik-detik kelahiran Nabi Muhammad ﷺ banyak diiringi berbagai keajaiban. Salah satu yang terkenal adalah padamnya api sesembahan kaum Majusi di Persia yang selama seribu tahun tidak pernah padam.

Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dijelaskan, beberapa penanda isyarat kelahiran Muhammad ﷺ sangat istimewa dan tidak biasa. Antara lain runtuhnya 14 balkon Istana Kisra Anusyirwan (Raja Persia).

Selanjutnya adalah padamnya api yang disembah penganut agama Majusi atau Zoroaster. Api Majusi yang telah menyala hampir seribu tahun dikisahkan tak pernah padam, hingga jelang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Satu peristiwa besar yang juga diabadikan dalam Al Qur’an surah Al Fiil saat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah dihancurkannya pasukan bergajah Raja Abrahah oleh Allah SWT melalui kerikil Neraka yang dibawa oleh para burung Ababil karena hendak merobohkan Ka’bah dengan tujuan agar manusia tidak berziarah lagi ke Ka’bah dan berpaling  ke gereja super megah yang dibangunnya di Yaman saat itu. Kemudian dikisahkan juga bahwa beberapa berhala di sekitaran Ka’bah juga jatuh tersungkur saat lahirnya Nabi Muhammad ﷺ.

Revolusi Besar

Dari beberapa peristiwa besar itu ada satu benang merah yang bisa diambil yakni kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah seperti sebuah revolusi besar yang sangat dibenci dan ditakuti oleh para pemuja syahwat duniawi. Lihat bagaimana api sesembahan kaum Majusi Persia padam, iblis menangis dan Abrahah beserta serdadunya dilumat habis, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah cikal bakal revolusi akhlak yang kelak lebih disempurnakan saat beliau menerima risalah kerasulan.

Kerusakan akhlak parah seperti menyembah berhala, memperbudak sesama manusia, menindas kaum perempuan, menuhankan nafsu, dan sebagainya akan dirombak total oleh risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Dan indikasi awal terhadap itu semua nyata jelas dengan berbagai peristiwa-peristiwa besar di awal kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Maka pada momen bulan kelahiran Nabi ini hendaknya setiap umat Islam semakin memperbanyak membaca sholawat kepada Rasulullah ﷺ. Membaca sirah beliau dan meniru akhlak beliau.

Di dalam Al Qur’an disebutkan,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS:  Al Ahzab : 21)

Karena beliaulah satu-satunya insan yang dipuji oleh Allah sebagai manusia yang paling agung akhlaknya. Allah SWT berfirman,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

”Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.” (QS Al-Qolam [68]: 4).

Di dalam kitab Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa disebutkan,

وقد قال وهب بن منبه : قرأت في أحد وسبعين كتابا ، فوجدت في

جميعها أن النبي صلى الله عليه وسلام  أرجح الناس عقلا ، وأفضلهم رأيا.

Wahab Bin Munabbih berkata, “Aku telah membaca 71 kitab lalu aku dapati di seluruh kitab itu bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling unggul akalnya dan paling utama pendapatnya.” (Qodhi Iyadh bin Musa Al Yahsubi, Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa; (Jainatu Dubai Al Dauliyatul Lil Qur’anil Kariem), hal. 112)

وفي رواية أخرى : فوجدت في جميعها أن الله تعالى لم يعط جميع الناس

من بدء الدنيا إلى انقضائها من العقل في جنب عقله صلى الله عليه وسلام إلا كحبة رمل بين

رمال الدنيا

Di dalam riwayat yang lain Wahab Bin Munabbih berkata, “Aku menemukan di dalam semua kitab itu bahwa sesungguhnya Allah SWT tidaklah memberi daripada perkara akal kepada seluruh manusia mulai dari awal penciptaan dunia hingga di akhir masa dunia kelak  dibandingkan akal Nabi Muhammad ﷺ kecuali seperti butiran pasir di antara pasir-pasir dunia.

Akhlak dan akal Nabi Muhammad ﷺ yang sempurna adalah sebuah keunggulan tertinggi dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menandinginya. Sebab Allah sendiri yang memujinya seperti yang tertera dalam surah Al Qolam di atas. Bahkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ditanya bagaimana akhlak Nabi, beliau menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al Qur’an. (HR: Ahmad).

Bukti cinta seseorang kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah banyak bersholawat kepadanya, meniru akhlaknya, dan menghidupkan sunahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

من أحيا سنتي عند فساد أمتي كان له أجر شهيد . رواه البيهقي

“Barangsiapa yang menghidupkan sunahku tatkala kerusakan menimpa umatku, maka ia memperoleh pahala orang mati syahid. (HR: Imam al-Baihaqi).

Rasulullah  ﷺ juga bersabda:

من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة  .

“Barang siapa yang menghidupkan sunahku maka dia telah mencintaiku, barang siapa yang mencintaiku  maka dia akan bersamaku di surga. (HR: Imam Tirmidzi).

Sabdanya yang lain,

مَنٌ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِيٌ عِنٌدَ فَسَادِ اُمَتِيٌ فَلَهُ اَجٌرُ مِائة شَهِيٌدٍ

“Barangsiapa berpegang teguh kepada sunahku ketika rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus orang mati syahid.” (HR: Imam al Baihaqi)

Wal hasil mari jadikan momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ ini sebagai titik awal revolusi akhlak kita. Yang tentunya kita terapkan terlebih dahulu bagi diri sendiri, kemudian keluarga kita dan tentunya rentetan berikutnya ke dalam lingkungan sekitar kita.

Jika masing-masing individu menerapkan revolusi akhlak ini bagi dirinya sendiri maka kondisi negara ini Insyaallah juga akan lekas membaik karena sudah diisi individu-individu rakyat dan pelayan rakyat yang berakhlak baik.

Mengapa harus  revolusi akhlak, sudah sedemikian daruratkah kondisi akhlak bangsa kita saat ini? Jika kita mampu jujur pada nurani, tentu jawabannya adalah iya.

Bagaimana tingkat korupsi merata, menggila, dan terstruktur dari tingkat kekuasaan tertinggi hingga terendah adalah salah satu bukti nyata bobroknya akhlak pejabat kita hari ini. Belum lagi ketimpangan hukum dan ketidakadilan sosial yang kian gamblang terlihat di mata masyarakat.

Maka tidak ada jalan lain untuk membenahinya melainkan dengan cara melakukan revolusi akhlak secara menyeluruh. Dan prototipe akhlak mulia yang bisa kita tiru satu-satunya adalah akhlak Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Ketika Semua Orang Telah Menjadi Wartawan

Ketika Semua Orang Telah Menjadi Wartawan

Menanamkan Keteladanan

Menanamkan Keteladanan

Wakaf  untuk Layanan Kesehatan Syariah

Wakaf untuk Layanan Kesehatan Syariah

Antara Siyono dan Guantanamo

Antara Siyono dan Guantanamo

Ahok dan Pengingkaran Keberagaman

Ahok dan Pengingkaran Keberagaman

Baca Juga

Berita Lainnya