Sabtu, 4 Desember 2021 / 29 Rabiul Akhir 1443 H

Mimbar

Para Penguasa Punya Hak untuk Didakwahi, Maka Tunaikanlah!

ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com | FIR’AUN adalah penguasa pada zamannya. Bahkan, ia tak sekadar memproklamirkan diri sebagai raja, tapi juga sebagai tuhan. Ia bebas membunuh dengan sesuka hatinya, termasuk membunuh semua anak laki-laki pada zaman itu karena khawatir mengancam kekuasaannya.

Namun, dakwah tetap harus sampai kepadanya. Ia juga berhak untuk memperoleh nasehat agar selamat dari siksa neraka. Di sisi lain, para juru dakwah, terlebih para Nabi dan Rasul, juga berkewajiban menyampaikan risalah kebenaran kepadanya, sehingga ketika kelak ia ditanya oleh Allah Ta’ala, “(Bukankah) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?” (Fatir [35]: 37), maka ia tidak akan menjawab, “Belum”.

Dan, Allah Ta’ala telah memberikan amanah dakwah ini kepada Musa Alaihissalam (AS) bersama saudara kandungnya, Harun AS. Musa AS langsung menjalankan tugas dakwah ini sekembalinya ia ke Mesir setelah 10 tahun tinggal di Kota Madyan. Atas pertolongan Allah Ta’ala, Musa AS berhasil menemui Fir’aun dan mengajaknya untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, Tuhan seluruh alam.

Terang saja, Fir’aun dengan segala kesombongannya menolak ajakan Musa AS. Ia bertanya, “Siapakah Tuhan seluruh alam itu?” (Asy-Syuara [26]: 23)

Musa AS menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu memercayai-Nya,” (Asy-Syuara [26]: 24)

Fir’aun kemudian berkata kepada orang-orang di sekitarnya seraya mengolok-olok Musa AS, “Apakah kalian tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?” (Asy-Syuara [26]: 25).

Musa AS tidak mempedulikan olok-olok itu. Ia terus saja memperkenalkan Allah Ta’ala kepada Fir’aun, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.” (Asy-Syuara [26]: 26)

Fir’aun lagi-lagi mengejek Musa AS dengan berkata, “Sungguh, Rasul kalian yang diutus kepada kalian (ini) adalah benar-benar orang gila.” (Asy-Syuara [26]: 27).

Musa AS terus saja berdakwah kepada Fir’aun, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika engkau mengerti,” (Asy-Syuara [26]: 28)

Fir’aun benar-benar murka dan mengancam Musa AS, “Jika engkau menyembah Tuhan selain aku, maka pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara,” (Asy-Syuara [26]: 29).

Musa AS tidak takut dengan ancaman ini. Ia bahkan balik bertanya kepada Fir’aun, “Apakah (engkau akan mengatakan seperti itu) sekalipun aku tunjukkan kepadamu suatu (bukti) yang nyata?” (Asy-Syuara [26]: 30).

Fir’aun mulai terpancing dan berkata, “Tunjukkan sesuatu (bukti yang nyata) itu, jika engkau termasuk orang yang benar!” (Asy-Syuara [26]: 31).

Atas petunjuk Allah Ta’ala, Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya. Tongkat itu tiba-tiba berubah menjadi ular yang besar. Tak cukup sekadar itu, Nabi Musa AS juga mengeluarkan tangannya dari dalam bajunya. Tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya.

Firaun tercengang mendapati peristiwa tersebut. Namun, apakah ia beriman setelah menyaksikan mukjizat tersebut? Tidak! Kesombongan Fir’aun justru mendorongnya untuk bersikukuh mengalahkan Musa AS. Ia berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa? Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan engkau yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) engkau, di suatu tempat yang terbuka.” (Ta-Ha [20]: 57-58).

Maka, di waktu yang telah ditetapkan, pada hari raya bangsa Mesir, di sebuah tempat terbuka, Fir’aun mengumpulkan semua tukang sihirnya dari segala penjuru Mesir.

Musa AS, dengan didampingi saudaranya Harun AS, berkata kepada para tukang sihir tersebut, “Celakalah kalian! Janganlah kalian mengada-adakan kedustaan terhadap Allah! Nanti Dia (akan) mencelakakan kalian dengan azab. Dan sungguh rugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (Thaha [20]:61).

Sebagian para penyihir mulai ragu untuk meneruskan pertarungan setelah mendengar ucapan Nabi Musa AS. Mereka merasakan adanya kebenaran dalam ucapan tersebut. Namun, sebagian lagi tetap bersikukuh untuk melawan Musa AS dan berusaha mempengaruhi para penyihir yang lain agar tidak terpengaruh ucapan Nabi Musa AS.

Musa AS kemudian berkata, “Lemparkanlah apa yang hendak kalian lemparkan,” (Asy-Syu’ara’ [26]: 43).

Maka para penyihir itu pun melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat yang mereka bawa seraya berkata, “Demi kekuasaan Firaun, pasti kamilah yang akan menang,” (Asy-Syuara [26]: 44).

Tali temali dan tongkat-tongkat itu seketika berubah menjadi ular-ular kecil.

Musa AS juga melemparkan tongkatnya. Atas kehendak Allah Ta’ala, tongkat itu berubah menjadi ular yang besar dan menelan semua ular-ular kecil dari tongkat dan tali yang dibawa para penyihir tadi.

Melihat itu semua, seketika para penyihir itu menjatuhkan diri dan bersujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” (Al-Araf [7]: 121-122). Begitulah bila Allah Taala menghendaki. Pagi para penyihir itu kafir, sore mereka telah beriman dengan sebenar-benarnya beriman kepada Allah Ta’ala. Terbukti, mereka tak takut menyatakan keimanannya di hadapan Fir’aun.

Lantas, bagaimana dengan Firaun? Apakah ia juga menyadari kekeliruan dan kesombongannya? Rupanya Allah Taala benar-benar telah menutup pintu hidayah bagi manusia laknat itu. Fir’aun tetap saja ingkar dan sombong meskipun bukti nyata telah tampak di depan matanya. Bahkan ia menghukum para tukang sihirnya yang telah beriman dengan cara memotongnya bersilang, tangan dan kaki, serta menyalibnya hingga wafat.

Apa yang terjadi dengan Nabi Musa AS dan para pengikutnya? Fir’aun mengejar mereka untuk dibunuh hingga tiba di tepi Laut Merah. Kita telah paham apa yang terjadi selanjutnya. Poin pentingnya adalah begitu besar risiko berdakwah kepada para penguasa. Mereka punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, sementara para juru dakwah selalu berada dalam posisi yang lemah.

Ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim AS sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an surat Al Baqarah [2] ayat 258. Adalah Namrud, raja pada masa itu. Ia juga tak sekadar memproklamasikan diri sebagai raja, namun juga tuhan. Ia terusik dengan dakwah yang dilakukan Nabi Ibrahim AS, terlebih kisahnya tentang api yang tak sanggup membakar pemuda itu.

Namrud kemudian meminta agar Ibrahim AS dihadapkan kepadanya. Setelah berhadap-hadapan, Namrud bertanya, “Siapakah Robb-mu yang engkau menyeru orang-orang kepada-Nya itu?”

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Ibrahim AS untuk berdakwah kepada penguasa itu. “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” jawabnya.

Namrud langsung menimpali, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.”

Ibrahim AS yang cerdas lalu berkata lagi, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.”

Namrud kebingungan. Hujjah mengena tepat ke sasaran. Dalil-dalil penguasa salim itu seketika runtuh. Dan, semestinya, Namrud langsung bersujud kepada Allah Ta’ala dan beriman. Tapi, Allah Ta’ala berkehendak lain. Hidayah tetap tak diberikan kepada Namrud sehingga ia tetap kafir dan sombong. Namun, tugas dakwah kepada penguasa telah ditunaikan meski tidak mudah. *

Rep: Mahladi
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

Pemuda Pasca Covid-19

Pemuda Pasca Covid-19

Berdakwah di Masjid, Berdakwah di Pasar

Berdakwah di Masjid, Berdakwah di Pasar

Kejahatan itu Lemah Maka yang Baik Jangan Takut

Kejahatan itu Lemah Maka yang Baik Jangan Takut

Dari Masjid, Membentuk Peradaban Dunia

Dari Masjid, Membentuk Peradaban Dunia

Tiga Langkah Menuju Akad Nikah

Tiga Langkah Menuju Akad Nikah

Baca Juga

Berita Lainnya