Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Mimbar

Merdeka

merdeka
Bagikan:

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | MERDEKA berarti bebas dari belenggu. Dulu, bangsa kita dibelenggu oleh bangsa asing. Akibatnya, kita tidak bebas. Waktu kita dibatasi, usaha kita dihentikan, kekayaan kita direbut, bahkan sekadar berpendapat saja kita tak boleh.

Sekarang, belenggu itu sudah berhasil kita lepaskan. Kita telah MERDEKA.

Namun, belenggu itu tidak hanya satu, tapi banyak. Belenggu dari pendudukan bangsa asing memang telah kita lepaskan. Tapi belenggu yang lain, belum. Malah, ada belenggu yang belum berhasil kita lepaskan sampai sekarang.

Belenggu ekonomi, misalnya. Sampai sekarang kita masih tergantung kepada bangsa lain. Utang luar negeri kita sudah mencapai Rp 6 ribu triliun. Itu berarti, bila ingin kita lunasi, maka seluruh rakyat Indonesia harus urunan Rp 24 juta per orang. Berat, berat!

Bila sebuah negara perlu MERDEKA, maka sebagai pribadi, kita juga perlu MERDEKA, bebas dari belenggu. Ada banyak hal yang bisa membelenggu pribadi kita. Himpitan ekonomi, misalnya. Atau, ancaman keselamatan.

Belenggu-belenggu seperti ini bisa membuat kita tertekan. Kita ingin melepasnya, namun sulit. Sementara tekanan terasa menghimpit. Tidur tak nyenyak, makan tak kenyang. Bahkan, sebagian orang lebih memilih jalan pintas.

Sadarkah kita bahwa kunci untuk membuka belenggu tersebut bukan berada pada persoalan yang membelenggu kita, namun pada kesiapan hati kita menghadapinya? Sebab, sehebat apa pun kita berusaha menyelesaikannya, persoalan yang baru akan segera muncul. Tak akan ada habisnya.

Tak ada manusia yang tak dirongrong oleh masalah. Tak peduli apakah ia kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, semua akan menemui persoalan yang membelenggu.

Allah Ta’ala telah berfirman, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam kesusahan.” (Al-Balad [90]: 4). Tafsir ayat ini, menurut Ibnu Jarir, adalah kesusahan menghadapi urusan hidup.

Namun, Islam telah memberi solusi atas kesusahan tersebut. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 153, “Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Senada dengan hal itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran.”

Jadi, solusi atas seluruh kesulitan adalah kesabaran. Hanya saja, kesabaran yang tanpa cacat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman.  Rasulullah ﷺ menyebutkan hal ini dalam sabdanya, “Kondisi seorang mukmin begitu mengagumkan. Semua keadaan merupakan kebaikan. Tidak akan ditemukan hal semacam ini kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapat kenikmatan, ia bersyukur, dan kondisi ini adalah kebaikan untuknya. Jika ia ditimpa keburukan, ia bersabar, dan kondisi ini juga kebaikan untuknya.” (Riwayat Muslim)

Bahkan, bagi para penyeru kebaikan, masalah adalah “sahabat” yang mendampinginya sehari-hari. Ibnul Qayyim berkata, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zaadul Ma’ad, “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, maka Allah kirimkan obat ujian dan cobaan sesuai keadaannya, sehingga saat dirinya telah dibersihkan dan diperbaiki dengan ujian itu, maka Allah menyiapkan untuknya posisi tinggi di dunia, yaitu mengabdi kepada-Nya, serta memberinya pahala tertinggi di akhirat,  yaitu melihat wajah-Nya dan dekat dengan-Nya.”

Perkataan ini senada dengan ungkapan Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya, “Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agaman ya. Bila ia kuat maka akan ditambah ujian baginya. Bila ia lemah dalam agamanya, akan diringankan ujian baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi ujian  sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.”

Allah Taala telah berfirman dalam al-Qur’an surat Al-‘Ankabut [29] ayat 2 dan 3, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”

Inilah hal yang harus disadari oleh seorang hamba. Jika seorang hamba telah menyadarinya, lalu menerima semua ujian dengan perasaan ikhlas semata berharap ridha Allah, kemudian ia mampu bersabar atas semua cobaan tersebut sembari terus berikhtiar mencari jalan keluar, maka jadilah ia manusia yang MERDEKA. Hatinya tak akan terbelenggu lagi.

Lalu bagaimana dengan sebuah negara? Apa yang harus dilakukan agar sebuah negara tidak “terjajah” lagi? Jawabnya, kurang lebih sama: Bersabar dan berjuang, sebagaimana dulu Rasulullah ﷺ bersabar dan berjuang menegakkan Madinah! Wallahu a’lam.*

Penulis wartawan, pengurus MUI Pusat

Rep: Mahladi
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Apa Beda Muslimah Palestina dengan Muslimah Lain?

Apa Beda Muslimah Palestina dengan Muslimah Lain?

Dakwah untuk Generasi Merunduk

Dakwah untuk Generasi Merunduk

Membangun Kembali Kepingan Peradaban Islam yang Hilang

Membangun Kembali Kepingan Peradaban Islam yang Hilang

Menolak Permen Nadiem

Menolak Permen Nadiem

Api Spirit Islam Kian Berkobar

Api Spirit Islam Kian Berkobar

Baca Juga

Berita Lainnya