Sabtu, 17 Juli 2021 / 7 Zulhijjah 1442 H

Mimbar

M. Natsir di Antara Moral dan Politik

Mohammad Natsir
Bagikan:

Oleh: Taufik Abdullah

Hidayatullah.com | JIKA sejarah boleh direnungkan, terasalah betapa kekalahan paling dramatis, bukanlah yang terjadi pada diri Mohammad Natsir dan kawan-kawannya. Kekalahan paling tragis terjadi ketika “Bapak Bangsa dan Pemimpin Besar Revolusi” yang sejak muda telah berjuang bagi kemerdekaan bangsa, menemukan dirinya ditolak oleh bangsa yang dicintainya.

Kekalahan yang tidak kurang tragisnya ialah ketika “Bapak Pembangunan” yang telah “mengubah peta Indonesia” harus menerima kenyataan bahwa kehadirannya tak diinginkan lagi dan perilakunya dijadikan sebagai contoh dari perbuatan yang tidak pantas.

Bagaimana Natsir? Seperti apakah penilaian yang harus diberikan kepada seseorang yang menentang pelanggaran konstitusi tetapi ternyata kalah dalam pertarungan politik?

Masa honeymoon dalam kehidupan politik ternyata hanya terjadi ketika keharusan konstitusi relatif masih diikuti oleh pemegang kekuasaan. Seketika hal itu telah dilanggar, Natsir, sang moralis, ternyata tidak punya pilihan lain.

Sebagai pemikir, Mohammad Natsir memperlihatkan kejernihan dan ketajaman berfikir yang mempesona. Dengan bahasa yang teratur dan tersusun baik, pilihan kata yang tertib, sistematika berfikir yang rapi; siapapun akan mengakui juga bahwa ia adalah seorang pemikir yang cemerlang, betapapun mungkin perbedaan pandangan tidak selamanya bisa terelakkan.

Sebagai politikus dan pejuang politik, karirnya menunjukkan betapa tidak mudahnya ia terbebas dari dilema antara keharusan politik dengan tuntutan moral. Seketika ia memilih keharusan moral –memang ia tidak pernah bisa mempunyai pilihan lain– maka kemungkinan kekalahan dalam pertarungan politik pun telah menghadang.

Maka bisakah dielakkan sebuah pertanyaan yang menyesakkan dada?

Apakah perwujudan moralitas dalam pilihan politik adalah sesuatu yang sebaiknya dilupakan saja, ataukah sesuatu yang semestinya dihargai sebagai contoh dari perbuatan yang bisa memenuhi “kepuasan kultural bangsa”. Dan “pahlawan” secara teoritis adalah ia yang telah memberikan contoh perilaku yang sejalan dengan idealisme kultural yang dianut bangsa.

Pahlawan adalah ia –sebagaimana juga dikatakan oleh seorang pemikir– yang telah memberikan kepuasan kultur bagi bangsanya.*

Diambil dari “Natsir dalam Lintasan Sejarah Bangsa” dalam 100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah, 2008

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Catatan Suara Umat untuk Presiden Jokowi

Catatan Suara Umat untuk Presiden Jokowi

Masa Depan Pendidikan Nasional Pasca Pandemi Covid-19

Masa Depan Pendidikan Nasional Pasca Pandemi Covid-19

Jangan Patahkan Revolusi Jilbab

Jangan Patahkan Revolusi Jilbab

Hidup Bahagia Minim Biaya

Hidup Bahagia Minim Biaya

Ustadz Muinudinillah Basri yang Kukenal

Ustadz Muinudinillah Basri yang Kukenal

Baca Juga

Berita Lainnya